Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Bertengkar


__ADS_3

"Bukankah kalian?"


"Ya, kami memang tak saling berhubungan selama masa kuliah. Kami melakukannya setelah kami lulus."


"Setelah lulus?"


Bagaikan disambar petir, kebenaran yang dikatakan oleh Melisa tepat menghujam jantungnya.


"Mmm..."


"Berarti saat itu, kita sudah..." Dion tak sanggup melanjutkan kata-katanya.


"Mmm..."


"Bagaimana bisa Mel?" Dion menatap nanar ke arah Melisa.


Melisa memalingkan wajahnya, ia tak mau melihat ekspresi wajah itu. Melisa khawatir ia akan merasa bersalah pada Dion, padahal ia melakukan semua itu karena memang tak memiliki perasaan apapun pada Dion.


"Mel, segitu tak kamu anggapnya aku Mel?"


"Maaf," hanya itu kata yang keluar dari mulut Melisa. Ia tak tega rasanya jika harus menjelaskan panjang lebar mengenai alasannya melakukan itu.


"Tapi aku tunangan kamu Mel, aku berhak marah kan? Aku berhak menghajar Satria kan?" Dion terlihat berapi-api.


"Jangan kamu lakukan itu!"


"Kenapa? Kamu mau menghalangiku?"


"Tentu saja!"


Dion terdiam sejenak.


"Hubungan kalian tak akan berjalan lancar. Ayahmu pasti akan membunuh Satria!" Aura di tubuh Dion sudah berubah. Dia bukan lagi Dion yang Melisa kenal.


"Jika kalian menyentuhnya, maka jangan harap kalian bisa melihatku lagi!"


Melisa yang emosinya kembali tersulut segera keluar dari mobil Dion.


Dion mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Ia tak berhasil meredam amarahnya sendiri. Dion memukul setir yang ada dihadapannya.


Dion Melihat Melisa yang berjalan menjauh di depannya. Ada perasaan sesal di hati Dion, seharusnya mereka tak bertengkar. Ini pertama kalinya Dion berada di situasi seperti ini dengan Melisa.


Dion kembali menjalankan mobilnya dengan perlahan, ia menyusul Melisa yang sudah mulai jauh keberadaannya.


"Mel, maafkan aku!" Ucap Dion saat mobilnya sudah sejajar dengan langkah kaki Melisa.


Melisa mengabaikan Dion dan terus berjalan.


"Mel, ayolah! Walaupun kita harus mengakhiri hubungan ini, tapi aku tak mau bertengkar denganmu," Dion memelas.


Melisa menghentikan langkah kakinya, ia menoleh ke arah Dion.


"Asal kamu tau Dion, kamu tak berhak menghajar Satria!"


"Kenapa? Aku tunangan kamu Mel," Dion menyesal dengan ucapannya barusan. Ia seharusnya diam saja.


Melisa menyeringai.


"Tunangan itu cuma status, kamu bahkan bukan siapa-siapa bagiku!"


Mendengar itu, Dion sudah tak sanggup menahan emosinya. Ia ikut turun dari mobil dan berjalan mendekati Melisa.


"Apa kamu bilang?"


"Pertunangan kita hanya status, bagiku kamu bukan apa-apa," Melisa mengulang ucapannya.


Dion memejamkan matanya, ia berusaha agar tak semakin tersulut emosinya.


Namun Melisa tak mau bekerja sama, ia justru semakin ingin membuat Dion marah.


"Perlu kamu tau, sekalipun kita menikah nanti, di hatiku hanya ada Satria!"


"Dan kalian akan tetap berhubungan meski kau sudah menjadi istriku?"


Melisa berjalan semakin dekat dengan Dion.

__ADS_1


"Tentu saja! Karena aku tak pernah bisa melupakan belaian Satria saat di atas ranjang, dan bahkan sangat ingin mengulangnya," bisik Melisa.


Plak...


Dion menampar pipi Melisa, namun sedetik kemudian ia menyesali perbuatannya.


"Maafkan aku Mel," Dion terlihat panik.


"Pergilah," ucap Melisa dengan suara yang hampir tak terdengar.


"Maaf Mel, aku..."


"Pergi!"


Dion akhirnya terpaksa pergi meninggalkan Melisa seorang diri di jalan yang sepi itu.


Setelah Dion pergi, Melisa merasa lututnya sangat lemas. Sepertinya pertengkaran kali ini sudah menguras energinya terlalu banyak.


Melisa terduduk sejenak di pinggir trotoar. Ia menatap langit malam yang tak berbintang. Sepertinya malam ini akan turun hujan.


Melisa mengambil ponselnya, ia menghubungi Satria.


"Halo Mel?" Terdengar suara Satria di ponsel Melisa.


"Satria..."


"Ya?"


"Aku merindukanmu," ucap Melisa dengan suara yang lemah.


Satria terdiam sejenak.


"Kamu dimana?"


"Entahlah," Melisa melihat sekeliling. Ia tak tau kini ia berada dimana? Di sekitarnya hanya ada pepohonan dan jalan yang entah menuju kemana?


"Kamu sudah pergi dari rumah ibumu?"


"Mmm..."


"Entahlah, mungkin sudah sekitar sepuluh menit," jawab Melisa.


"Baiklah, tunggu di sana. Aku akan ke tempatmu sekarang juga!"


Satria sepertinya sudah tau keberadaan Melisa, ia mematikan sambungan teleponnya dan mengambil sepeda motornya lalu bergegas pergi menuju tempat dimana Melisa berada kini.


Tak butuh waktu lama, Satria sudah tiba di tempat dimana Melisa berada. Satria melihat Melisa yang terduduk di atas trotoar dengan pandangan dan raut wajah yang lelah.


"Mel..."


Satria turun dari motornya dan menghampiri Melisa. Ia membuka jaketnya dan meletakkannya di tubuh Melisa, agar Melisa tak kedinginan.


Melisa menoleh ke arah Satria.


"Aku sudah mengatakannya pada Dion," ucap Melisa.


"Mengatakan apa?"


"Kita sudah tidur bersama."


Satria terdiam. Ia memperhatikan wajah Melisa, dan Satria menemukan pipi Melisa yang memerah.


"Dion menamparmu?"


Melisa mengangguk.


"Kenapa?" Satria tentu saja merasa sangat marah, ia tak menyangka Dion bisa dengan mudah melakukan kekerasan pada Melisa.


"Karena aku lebih memilih kamu dibanding dia," jawab Melisa.


"Hanya karena itu?"


Melisa mengangguk.


Satria mendesah, ia mengusap wajahnya dengan kasar.

__ADS_1


"Lalu, kemana Dion sekarang? Setelah menamparmu dia pergi begitu saja?"


"Aku yang mengusirnya," jawab Melisa dengan suara yang lemah.


"Dan dia tetap pergi?"


Melisa mengangguk.


Satria tentu saja merasa sangat marah.


Lalu tiba-tiba ponsel Melisa kembali berdering.


Melisa menatap layar ponselnya. Ada nama ayahnya tertera di sana. Melisa diam saja, ia enggan mengangkatnya.


"Kenapa tak dijawab?"


"Kamu mau menjawabnya?"


Satria mengernyitkan dahinya.


"Ini, terimalah!" Melisa menyodorkan ponselnya.


Satria lalu mengambil ponsel Melisa dan menjawab panggilan masuk itu.


"Halo?" Sapa Satria.


Gunawan yang terkejut karena bukan suara Melisa yang ia dengar, seketika terdiam.


"Halo?" Sapa Satria lagi.


Gunawan tetap terdiam, sejenak ia berpikir siapa yang menerima panggilan tersebut?


Satria lalu mematikan sambungan telepon, karena tak ada jawaban apapun dari sebrang sana.


"Kenapa dimatikan?"


"Tidak ada jawaban."


Lalu ponsel kembali berdering. Satria kembali menerimanya.


"Halo?"


"Dimana Melisa?"


"Di sampingku," jawab Satria sambil menoleh ke arah Melisa.


"Bagaimana bisa? Dia bersama Dion tadi."


"Dion dengan tidak bertanggung jawabnya meninggalkan Melisa di pinggir jalan," jawab Satria sambil menahan emosinya.


"Cepat antarkan dia pulang!"


Satria menatap Melisa.


"Kalau aku tak mau?"


"Maka kau akan celaka!"


"Kau mengancamku? Apa tak cukup dengan membunuh kedua orang tuaku?"


"Hahaha... Apa kau pikir aku membunuh mereka? Kau salah Satria, mereka mati karena keinginan mereka sendiri. Kau pun jika ingin menyusul mereka akan segera ku kabulkan."


Satria mengepalkan tangannya, melihat itu Melisa memegang tangan Satria.


Satria menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Kalau begitu, kau tak akan bertemu dengan putrimu lagi!" Satria mematikan ponsel Melisa. Ia lalu membuangnya ke semak-semak.


"Ayo sekarang kita pulang!" Ajak Satria.


"Pulang kemana?"


"Ke rumah kita!"


Satria menggandeng tangan Melisa dan mengajaknya pulang.

__ADS_1


Melisa menurut saja, ia kini sudah naik di atas motor. Meski ia sendiri tak mengerti dimana rumah yang dimaksud Satria.


__ADS_2