
Satu minggu yang lalu...
Malam itu, Melisa yang baru saja kembali ke rumah. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Hah... Hari ini melelahkan sekali," gumam Melisa.
**** begitu, ada hal yang ia suka ketika pulang kerja di malam hari. Yaitu bisa menghubungi Satria.
Setiap hari Melisa tak pernah absen untuk melakukan panggilan video dengan Satria. Entah rasanya ada saja hal yang ingin ia ceritakan tentang hari-harinya pada Satria.
Di negaranya dan negara tempat Satria berada memiliki perbedaan waktu empat jam. Jika di tempat Melisa malam hari pukul sepuluh, maka di tempat Satria baru pukul enam sore.
"Satria sedang apa ya? Apa dia sudah kembali ke asramanya?" Melisa memeriksa ponselnya. Namun belum ada pesan apapun dari Satria.
Biasanya sebelum Melisa menghubungi, Satria sudah mengirim pesan terlebih dahulu. Yang memberi tau bahwa Satria sudah selesai berkegiatan.
Namun malam itu, belum ada pesan apapun dari Satria.
Sambil menunggu pesan dari Satria, Melisa memilih untuk menyiram badannya dengan air hangat. Agar rasa lelahnya bisa hilang sedikit.
Namun saat hendak mengambil handuk di balkon kamarnya, tak sengaja tangan Melisa menyenggol pot tanaman dan membuatnya jatuh lalu pecah.
Prang...
Melisa terkejut, ia tak menyangka akan membuat kegaduhan di malam hari.
"Hah... Ada-ada saja," Melisa akhirnya membersihkan terlebih dahulu pecahan pot yang berhamburan.
"Ini kan pemberian mamah satu tahun yang lalu," gumam Melisa.
Ia ingat, tahun lalu saat baru menikah. Natasya menghadiahinya sebuah pot berisi tanaman hias. Natasya tau bahwa putrinya itu sangat menyukai tanaman.
Seketika Melisa jadi merindukan ibunya.
"Apa kau bahagia sekarang mah? Tinggal dengan orang yang kau cintai dan hidup nyaman dan tentram di pinggiran kota? Hah... Aku juga ingin sepertimu," ucap Melisa sambil membayangkan dirinya saat menikah dengan Satria nanti dan hidup bersama hingga tua di sebuah pedesaan.
Sementara itu, di asrama tempat Satria berada. Satria masih sibuk mengerjakan tugas-tugas kuliahnya. Bersama dengan beberapa teman, mereka berdiskusi tentang materi yang mereka pelajari siang tadi.
Setelah beberapa saat, mereka akhirnya selesai dengan tugas mereka. Satria merapihkan buku-buku dan meletakkannya di meja belajar. Dan tak sengaja tangannya menyenggol bingkai foto yang ia letakkan di meja belajar itu.
Prang...
Kacanya pecah. Itu adalah foto saat hari pertama Satria kuliah dulu. Foto bersama Natasya dan Mia.
Jantung Satria berdegup kencang, ada firasat tak enak yang ia rasakan saat itu.
Satria lalu mengambil ponselnya, ia mencoba menghubungi Natasya namun tak ada jawaban.
"Tidak diangkat, apa ibu baik-baik saja? Semoga ini hanya perasaanku saja," gumam Satria.
Akhirnya Satria mengirim pesan pada Melisa.
__ADS_1
Maaf, aku baru selesai mengerjakan tugas. Apa kau sudah pulang? Aku merindukanmu.
Setelah mengirim pesan Satria lalu merapihkan serpihan kaca yang bertebaran di lantai. Menyimpan foto yang sudah ia keluarkan dari bingkainya.
Tak lama Melisa pun membalas pesan Satria.
Aku juga merindukanmu. Aku mau menelpon, apa kau sudah tidak sibuk?
Seperti biasa, Melisa akan bertanya dulu sebelum menghubungi Satria.
Namun bukannya membalas, Satria memilih untuk menghubungi Melisa lebih dulu. Ia melakukan panggilan video seperti biasa.
"Satria..." Nampak wajah Melisa yang berseri di sebrang sana.
"Hai Mel, bagaimana pekerjaanmu hari ini?"
"Seperti biasa, melelahkan. Namun hari ini tak ada sesuatu yang berarti, semua berjalan seperti biasanya. Membosankan," keluh Melisa.
"Bersyukurlah, perlu kau tau hidupmu yang membosankan itu bisa saja impian bagi sebagian orang," nasihat Satria.
"Ya, aku tau... Satria, apa kau tak merindukan mamah?"
"Baru saja aku menjatuhkan foto saat hari pertama aku masuk kuliah. Lihatlah, bingkainya sampai pecah," Satria memperlihatkan pada Melisa pecahan kaca di tempat sampah yang baru saja ia bersihkan.
"Bagaimana bisa? Aku juga tak sengaja memecahkan pot tanaman hias yang diberikan mamah tahun lalu," Melisa terkejut karena Satria juga mengalami hal yang sama seperti dirinya.
"Apa ini sebuah pertanda?" Lanjut Melisa.
"Aku baru saja menelpon ibu sebelum menghubungimu, namun tidak diangkat."
"Kamu benar, Mel... Menurutmu apa aku pulang dulu ya?"
"Kenapa?"
"Entah mengapa aku sangat merindukan ibu," jawab Satria dengan wajah sedih.
"Aku juga, kalau begitu kapan kau akan pulang?"
"Mungkin minggu depan, minggu ini aku masih ada banyak tugas dan lagi sedang ada ujian akhir semester."
"Baiklah, kalau kau pulang nanti aku akan mengantarmu ke tempat mamah."
"Kau tau dimana mereka tinggal?"
"Tentu saja, aku kan yang mengantar mereka saat mereka pindah."
"Oh ya? Syukurlah, kalau begitu jangan beri tau mereka kalau aku akan pulang."
"Kenapa?"
"Aku mau memberi mereka kejutan."
__ADS_1
"Baiklah."
Mereka pun meneruskan obrolan mereka, hingga satu jam ke depan. Membahas berbagai hal mulai dari cerita sehari-hari hingga hal yang tak penting pun mereka bicarakan.
Itu karena Melisa terus saja merasa rindu meski sudah setiap hari melihat wajah Satria melalui panggilan video.
...***...
Satu minggu berlalu, sesuai rencana Satria pulang tanpa memberi kabar pada Natasya dan Steve.
Pesawat yang dinaiki oleh Satria tiba sore hari. Melisa mempercepat pekerjaannya agar bisa menjemput Satria di bandara.
Hingga pukul empat sore, Melisa sudah beranjak meninggalkan kantor. Ia tak sabar ingin segera berjumpa dengan Satria.
Satu tahun adalah waktu yang sangat lama baginya untuk menahan rindu, tak berjumpa dengan kekasihnya.
Saat Melisa tiba di bandara, pesawat yang membawa Satria baru saja mendarat. Setelah melewati petugas imigrasi, Satria akhirnya bisa bertemu dengan Melisa.
Mereka berdua saling berpelukan melepas rindu yang selama satu tahun ini mereka pendam.
"Kita mau langsung ke rumah mamah?" Tanya Melisa.
"Boleh, apa tempatnya jauh dari sini?"
"Lumayan, sekitar lima jam perjalanan."
"Jauh juga. Kalau begitu kita harus berangkat dari sekarang agar bisa tiba di sana malam hari," ucap Satria.
"Baiklah, ayo!"
Mereka bergegas menuju parkiran, kali ini Melisa yang mengendarai mobil karena Satria baru saja sampai. Melisa khawatir Satria merasa kelelahan dan tak akan bisa fokus menyetir.
Setelah tiga jam perjalanan, mereka memutuskan untuk beristirahat. Mengisi perut mereka yang sudah lapar.
Namun ternyata setelah makan, mereka malah mengantuk.
"Kita tidur saja dulu sebentar, nanti tengah malam kita lanjutkan lagi perjalanannya," usul Satria.
"Baiklah, entah mengapa setelah makan aku malah merasa sangat mengantuk."
"Wajar saja, itu karena kau lelah setelah seharian bekerja."
Mereka akhirnya memutuskan untuk tidur selama beberapa jam di dalam mobil, sebelum kembali melanjutkan perjalanan yang masih membutuhkan sekitar dua jam perjalanan lagi.
Hingga tengah malam tiba, ponsel keduanya kompak berdering. Menandakan ada sebuah pesan yang masuk. Dan itu dari Steve.
Satria yang sudah terbangun membuka ponselnya, dan membaca pesan masuk itu.
"Mel..." Satria membangunkan Melisa.
"Mmm?" Melisa menggeliat, meregangkan tubuhnya.
__ADS_1
"Lihat ini," Satria menunjukkan isi pesan yang dikirim Steve padanya.
Melisa tak bisa berkata apa-apa setelah membaca pesan itu, jantungnya berdebar semakin cepat. Satria dan Melisa hanya bisa saling menatap dengan wajah yang terkejut.