Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Perjalanan (part 2)


__ADS_3

Keesokan harinya, hari ketiga bulan madu Satria dan Melisa.


Setelah sarapan pagi, Satria dan Melisa sudah keluar dari hotel. Kali ini Satria akan mengajak Melisa jauh ke tempat yang biasa di bilang ujung dunia.


Perjalanan akan memakan waktu yang cukup lama untuk sampai di tempat tujuan. Satria memesan dua tiket kereta, dan kereta itu akan berangkat tepat pukul delapan pagi.


Melisa dan Satria berlarian di stasiun, karena hampir saja mereka ketinggalan kereta.


"Hah... Hah... Hah... Untung saja kita bisa sampai tepat waktu," ucap Satria sambil terengah-engah.


Melisa yang sedang mengatur nafasnya tak berkomentar apapun.


Ini memang salah mereka yang bangun kesiangan, sehingga mereka harus terburu-buru mengejar kereta yang akan segera berangkat.


"Perjalanan kita akan sangat lama, kamu kalau mengantuk tidur saja dulu," usul Satria.


"Memangnya berapa lama?"


"Di tiket yang tertera, kira-kira kita akan tiba pukul empat sore hari."


"Jauh juga ya?"


"Iya, tapi kamu lihat kereta ini. Ada beberapa gerbong yang merupakan tempat hiburan. Jadi nanti kita tidak akan bosan."


"Kamu pernah ke tempat ini sebelumnya?" Tanya Melisa penasaran.


"Mmm... Aku pernah dua kali ke tempat ini. Pertama kali saat kunjungan bersama dosen-dosen di kampus, lalu yang ke dua aku seorang diri ke sana."


"Oh ya? Kapan?"


"Saat bu Natasya meninggal. Setelah kembali ke negara ini, entah mengapa aku merasa sangat sedih. Saat itu sedang libur kuliah, dan teman ku memberi saran untuk aku pergi ke ujung dunia."


"Kenapa harus pergi ke ujung dunia?"


"Nanti kamu lihat sendiri, tempat seperti apa itu."


Satria tersenyum, ia membelai rambut Melisa dengan mesranya.


"Aku benar-benar tak menyangka akan mengajakmu ke tempat ini," ucap Satria.


"Memang sebelumnya kamu tak ada niat untuk mengajakku ke sana?"


Satria tertawa.


"Tempat ini memang sangat indah, tapi entah mengapa rasanya sangat sedih jika kamu berada di sana. Rasanya semua kenangan yang menyakitkan dan menyedihkan perlahan bermunculan."


"Dan kamu menangis di sana?"

__ADS_1


Satria menoleh ke arah Melisa, ia tak menyangka malah itu yang ditanyakan Melisa.


"Tentu saja, kamu jangan kaget jika melihat banyak orang yang menangis di sana."


"Kalau begitu kenapa kamu mengajakku ke sana?"


"Karena aku ingin kamu melupakan rasa sakit dan sedih mu. Di sanalah tempat yang cocok untuk membuang semua itu."


Melisa mengangguk paham.


"Aku tau, aku bukan laki-laki sempurna. Mungkin akan ada banyak hal yang tidak kamu sukai dariku. Tapi hanya inginkan satu hal dalam kehidupan rumah tangga kita, aku ingin selalu melihat senyummu," lanjut Satria.


Melisa memang sangat manis saat tersenyum, namun sayang senyum itu tak mudah ia keluarkan. Terlebih untuk orang-orang yang baru mengenalnya.


Hanya ada tatapan dingin dan tak bersahabat yang akan mereka rasakan untuk orang-orang asing yang tak mengenal Melisa dengan baik.


Meski Satria senang karena senyuman itu memang hanya untuknya, namun ia tetap ingin merubah image Melisa yang seorang gadis dingin menjadi wanita yang jauh lebih ramah dan ceria.


Mungkin hal itu pasti akan menjadi hal yang sulit bagi Satria, namun setidaknya ia akan mencobanya. Mulai dari membuang segala kesedihan dan kesakitan yang pernah Melisa rasakan.


"Kamu mau makan sesuatu?" Tanya Satria.


Melisa mengangguk.


"Tunggu di sini sebentar ya, aku akan membeli makanan di gerbong sebelah," pinta Satria.


Melisa melihat keluar jendela kereta. Ia mengagumi pemandangan luar biasa yang ia lihat dari dalam kereta. Melisa tak menyangka ternyata negara tempat ia pernah mengenyam pendidikan selama empat tahun di sana, ternyata memiliki tempat-tempat indah seperti ini.


Ada sedikit rasa sesal dalam hati Melisa, kenapa ia dulu tidak melihat lebih jauh dan hanya sibuk berkutat dengan hal-hal yang ada di sekitarnya saja.


Satria sudah kembali dengan membawa beberapa bungkus makanan dan juga dua botol minuman.


"Kamu lihat apa?" Tanya Satria.


"Aku baru sadar, ternyata ada banyak tempat indah di negara ini," jawab Melisa.


"Kamu benar, tak hanya di negara ini. Semua tempat di dunia ini ada banyak sekali tempat-tempat yang menakjubkan."


"Suamiku..."


"Mmm...?"


"Maukah kamu membawaku ke tempat-tempat indah itu?"


Satria menatap Melisa dengan heran.


"Aku sungguh ingin melihat lebih banyak lagi tempat-tempat indah di dunia ini. Ayo kita luangkan waktu untuk mengunjungi tempat-tempat itu satu persatu," pinta Melisa.

__ADS_1


Satria tersenyum, ia membelai lembut rambut Melisa.


"Baiklah, ayo kita luangkan waktu untuk pergi ke sana."


Melisa merasa sangat senang sekali, ia memeluk Satria dengan sangat erat.


Setelah melalui perjalanan panjang, kereta yang mereka tumpangi akhirnya tiba di tempat tujuan.


Satria menggandeng tangan Melisa, dan tangan satunya ia pakai untuk membawa koper yang berisi pakaian dan berbagai perlengkapan mereka.


"Apa dari sini masih jauh?" Tanya Melisa.


"Tidak, kita hanya perlu naik taksi. Dan akan sampai dalam beberapa menit," jawab Satria.


Keluar dari stasiun, Satria memanggil sebuah taksi untuk mengantar mereka ke tempat yang biasa disebut dengan ujung dunia itu.


Melisa tak sabar ingin segera sampai di sana.


"Sepertinya sedang tidak terlalu ramai," ucap Satria saat mereka tiba di lokasi tujuan.


"Memang biasanya ramai?"


"Dua kali aku ke tempat ini, dan selalu saja ramai."


"Mungkin karena mereka tahu aku akan datang, jadi mereka tak jadi datang," bisik Melisa.


Satria tertawa.


"Mana ada yang seperti itu? Sudahlah, ayo!"


Satria kembali menggandeng tangan Melisa, mengajaknya untuk masuk lebih dalam lagi. Hingga tibalah mereka di ujung tebing yang di tepinya ada batas yang terbuat dari beton.


Di sana banyak sekali orang yang duduk dan menatap ke arah lautan lepas.


"Ayo kita ke sana!" Satria mengajak Melisa untuk ke tempat yang tidak terlalu ramai.


"Sampai... Lihatlah, hamparan laut luas itu dan sebentar lagi kita bisa menyaksikan matahari terbenam," bisik Satria.


Melisa melihat ke hamparan laut lepas, angin yang tidak terlalu kencang, suara deburan ombak, kicauan burung, dan juga suara angin yang menerpa membuat Melisa tanpa sadar menitikkan air matanya.


Benar kata Satria, entah mengapa seketika ia ingat dengan semua hal yang pernah terjadi dalam hidupnya. Semua seperti sebuah film yang diputar dengan kecepatan berkali-kali lipat. Bayangan tentang kehidupannya dulu hingga hari ini semua muncul dalam ingatan Melisa.


Satria memeluk Melisa dari belakang.


"Aku mencintaimu," bisik Satria.


Dan seketika air mata Melisa mengalir semakin deras.

__ADS_1


"Menangis lah, tuangkan semua rasa duka mu di sini," ucap Satria masih sambil memeluk Melisa.


__ADS_2