
H-2
Melisa sudah lebih dulu terbang ke negara tempat ayahnya berada. Di sanalah ia akan mengadakan upacara pernikahan yang akan dihadiri oleh keluarga dekat saja.
Ada ayahnya, Silvana ibu tiri Melisa, Widia adik tiri Melisa, dan om Bob juga istrinya.
Sedangkan dari pihak Satria, ia hanya akan membawa paman dan bibi dari ayahnya saja.
Melisa sengaja datang lebih dulu, karena Widia mengajaknya untuk perawatan sebelum menikah.
Dan Satria akan menyusul keesokan harinya, kebetulan hari ini ia akan menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum ditinggal cuti selama satu minggu lebih.
"Kak, nanti kakak mau bulan madu kemana?" Tanya Widia penasaran.
"Entahlah, aku dan Satria belum membahas soal itu. Kenapa? Jangan bilang kamu mau ikut," Melisa memandang Widia dengan curiga.
"Ya gak mungkin lah kak, aku cuma mau tau aja," Widia berlagak cuek.
Padahal dalam hatinya ia ingin sekali mengikuti kemana kakak tirinya itu akan pergi berbulan madu.
Keduanya kini sedang berada di salon kecantikan. Melisa tengah melakukan perawatan yang dilakukan oleh setiap pengantin wanita sebelum menikah.
Sedangkan Widia, yang seharusnya hanya bertugas mengantar Melisa. Malah ikut-ikutan melakukan perawatan.
"Ini sebenernya yang menikah siapa sih? Kok kamu malah ikut-ikutan ada di sini? Bukannya menunggu saja di depan?" Protes Melisa.
"Ya ampun kak, pelit banget sih. Aku juga kan gak mau kalah cantik dari kakak," jawab Widia.
"Terserah kamu sajalah, tapi bayar sendiri ya?"
"Iya kak siap!"
Mereka pun melakukan berbagai rangkaian perawatan yang di sediakan jasa salon kecantikan di sana. Melisa merasa sangat senang karena sebentar lagi ia akan menjadi nyonya Satria.
Jika orang lain bercita-cita ingin menjadi dokter, pilot, polisi atau apapun itu. Melisa sama sekali tak pernah memiliki keinginan itu.
Satu-satunya hal yang akhirnya Melisa inginkan adalah menjadi istri Satria.
Meski jalan itu tak mudah ia tempuh, ada saja halangan dan rintangan yang menghadang. Namun Melisa tetap teguh pada pendiriannya. Ia sama sekali tak tertarik dengan pria manapun.
Melisa selalu memasang wajah dinginnya ketika ada seorang pria yang mendekatinya. Entah itu dengan ataupun tanpa maksud apapun.
Melisa selalu menjaga jarak, dan menjaga hatinya agar hanya ada Satria seorang di sana.
H-1
__ADS_1
Satria sudah berada di pesawat bersama dengan paman dan bibinya.
Ia sengaja tak mau membawa banyak keluarga karena nantinya ia juga akan mengadakan pesta di kota B.
"Nanti kita akan menginap di hotel ya, dan besok acaranya akan diadakan di rumah ayahnya Melisa," ucap Satria.
"Kita ikut saja, kamu kan yang punya acara. Kehadiran paman dan bibi di sini hanya sebagai pendamping kamu," ucap paman.
"Iya paman, terima kasih sudah bersedia menjadi pendampingku menggantikan ayah dan ibu."
"Kedua orang tuamu pasti sangat bangga jika melihat kamu yang sekarang. Kamu tak hanya menjadi seorang yang sukses secara materi, tapi kamu juga sudah menjadi sosok yang dewasa dan bijaksana," tambah bibi memuji Satria.
Satria hanya tersenyum mendengar pujian dari bibinya.
Kemarin, sebelum Melisa berangkat lebih dulu. Satria dan Melisa sudah menyempatkan diri untuk menengok makan ayah dan ibu Satria.
Meski ada rasa haru karena Satria tak bisa menikah dengan di dampingi oleh kedua orang tua dan juga adiknya, namun Satria berusaha tetap tegar.
Satria sudah benar-benar memaafkan Gunawan, ia sangat yakin kedua orang tuanya juga akan menyukai keputusannya itu.
Hari H
Satria sudah siap dengan stelan jasnya. Ia tengah berjalan mondar-mandir di lobi hotel, sambil menunggu bibinya yang selesai didandani.
"Kamu pasti gugup ya? Dulu paman juga begitu saat akan menikah."
Paman mengangguk, ia ingat bagaimana dulu saat ia akan menikah dengan bibinya.
"Tenanglah, semua kan berjalan dengan lancar," nasihat pamannya.
"Baik paman, aku akan berusaha untuk tenang."
Tak lama, bibi yang sudah selesai dandan pun muncul dari balik lift.
"Bagaimana penampilan bibi?" Tanya bibi sambil berjalan menuju Satria dan paman.
"Bibi cantik banget," puji Satria.
Sedangkan paman hanya bisa diam terpaku menatap wajah istrinya yang sangat cantik tak seperti biasanya.
"Ya sudah, kalau begitu ayo cepat kita jalan," ajak bibi pada Satria dan paman.
"Iya ayo," Satria dan bibi sudah melangkahkan kaki, sedangkan paman masih betah memandang wajah bibi yang luar biasa cantik baginya.
"Sudah dong pak, ibu jangan dilihatin terus begini. Kan ibu jadi malu," bibi mencubit perut paman yang masih saja menatap bibi dengan penuh pesona.
__ADS_1
"Hehe, abis ibu cantik banget sih," paman menggoda bibi.
Mereka akhir masuk ke dalam mobil yang sudah disediakan, mobil pengantin yang akan mengantar Satria beserta paman dan bibinya menuju rumah Gunawan. Tempat upacara pernikahan diadakan.
Tiba di tempat, mereka sudah disambut oleh keluarga Melisa.
Acara sakral pernikahan pun berjalan dengan lancar, semua tamu yang datang merasa sangat bersyukur karena Melisa dan Satria kini akhir ya resmi menikah.
Acara makan-makan pun tiba, kedua mempelai ikut bergabung bersama tamu menikmati santapan yang sudah tersedia.
"Selamat ya Melisa dan Satria," semua orang memberikan ucapan pada mereka berdua.
Tidak mudah memang untuk mencapai titik ini, terutama bagi Melisa.
Ia yang sejak awal sudah mengincar Satria dan harus beradu argumen dengan mendiang ibunya, berlanjut dengan ikut campurnya sang ayah yang membuat hubungan mereka merenggang.
Meski begitu Melisa beruntung, karena Satria juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Dan Satria pun bersedia untuk berjuang bersama hingga ke titik ini.
...***...
Setelah acara selesai, Satria dan Melisa berada di dalam kamar mereka. Kini keduanya sudah tak perlu takut lagi karena berduaan di dalam kamar.
Paman dan bibi setelah acara selesai tadi langsung kembali ke hotel. Mereka akan langsung terbang kembali ke kota B, membantu persiapan untuk pesta pernikahan Satria dan Melisa di kota B nanti.
"Paman dan bibi apa sudah naik pesawat?" Tanya Satria pada Melisa.
"Pesawat yang mereka tumpangi baru saja berangkat," jawab Melisa.
"Syukurlah, aku sudah meminta sepupuku untuk menjemput mereka berdua di bandara."
"Semoga mereka berdua sampai dengan selamat."
Melisa merebahkan tubuhnya di atas ranjang pengantin yang sudah dihiasi dengan riasan mewah.
"Hah... Ini baru hari pertama dan aku sudah merasa sangat lelah," ucap Melisa.
"Kamu sudah lelah? Padahal aku belum ngapa-ngapain kamu," goda Satria.
"Emang kamu mau ngapain?"
"Malam pertama dong," Satria ikut berbaring di samping Melisa sambil memeluk tubuh Melisa.
"Sekarang?"
Satria mengangguk manja.
__ADS_1
Melisa tersenyum, tentu saja lelahnya seketika hilang. Justru hal ini yang paling ia tunggu-tunggu.
Akhirnya Melisa tak jadi tidur, dan mereka melakukan ritual malam pertama yang panas dan menggairahkan.