
Keesokan harinya, ini adalah hari kedua mereka menyandang sebagai pasangan suami istri.
Melisa dan Satria sudah siap dengan koper mereka untuk kembali ke negara mereka. Pesawat yang membawa mereka akan lepas landas pada siang hari pukul satu siang.
Setelah makan siang, keduanya bergegas masuk ke dalam pesawat.
"Salam untuk semua keluargamu di kota B," ucap Gunawan sebelum melepas kepergian Melisa dan Satria.
"Iya yah," jawab Melisa dan Satria kompak.
Keduanya kini sudah berada di dalam pesawat.
"Satria, kenapa aku jadi deg-degan gini ya?"
"Kamu gugup? Santai saja, kamu kan sudah pernah bertemu dengan keluarga besar ku," ucap Satria menenangkan Melisa.
"Iya, tapi kan waktu itu beda. Aku hanya takut, saudaramu tau bahwa ayahku..." Melisa tak sanggup melanjutkan ucapannya.
"Mereka tak akan tau Mel, aku tak pernah menceritakannya pada keluargaku."
"Kenapa?"
"Bagiku, tidak perlu lah menceritakan hal-hal yang sifatnya menghasut. Ini kan masalah pribadi antara aku dan ayahmu."
"Duh, beruntungnya aku memiliki dirimu," Melisa memeluk lengan Satria dengan erat.
"Tentu saja, oleh sebab itu kamu harus menjaga aset berharga ini," Satria membusungkan dadanya membanggakan diri.
"Iya... Iya... Kamu adalah hartaku yang paling berharga, yang tak akan mungkin bisa tergantikan oleh siapapun," puji Melisa.
Satria yang gemas dengan sikap Melisa, mencubit lembut hidung Melisa.
Hingga tanpa terasa mereka pun tiba di bandara negara mereka. Salah seorang sepupu Satria sudah datang menjemput mereka untuk langsung berangkat menuju kota B.
"Hai Satria... Selamat ya!" Ucap sepupu Satria yang bernama Ardi.
"Terima kasih, kau sendiri kapan menyusul?"
"Segeralah, doakan saja," jawab Ardi.
"Tentu saja, katakan saja pada kami jika kau sudah siap menikahinya. Aku akan memberikan tiket bulan madu untuk kalian," ucap Satria.
"Benarkah?"
"Tentu saja!"
"Satria, kamu mau kasih orang lain tiket bulan madu. Tapi kita sendiri tak tau mau bulan madu kemana?" Sindir Melisa.
"Kalian masih saling memanggil nama? Tidak pakai nama panggilan?" Tanya Ardi.
"Memang seharusnya apa?" Satria balik bertanya.
__ADS_1
"Apa kek, sayangku, suamiku, istriku, cintaku, ada banyak panggilan sayang."
Satria menoleh pada Melisa.
"Kamu mau ku panggil apa?"
"Kenapa tanya aku?" Melisa malah protes.
"Aduh, Satria... Ku pikir kau ini pria yang romantis, namun nyatanya kau payah juga ya dalam hal beginian," ledek Ardi.
"Ya maklum saja, aku kan belum pernah ada di dalam hubungan seperti ini sebelumnya."
"Kamu benar... Melisa, kamu tak usah marah. Wajar saja Satria kurang romantis, dia memang tidak berpengalaman. Tapi tenang saja, aku akan mengajarinya banyak hal," ucap Ardi menenangkan hati Melisa.
Melisa mendengar ucapan Ardi tentu jadi merasa sedikit tenang. Sebelumnya Melisa merasa sedikit kesal karena Satria yang ia pikir adalah pria romantis, nyatanya masih polos dan tak mengerti banyak hal tentang merayu wanita.
Tapi paling tidak, itu jauh lebih baik. Karena Melisa jadi tau, bahwa dirinyalah wanita pertama yang memiliki hubungan serius dengan Satria dan bahkan kini ia sudah berhasil menikahinya.
"Ya sudah, kalian bicarakan saja dulu akan pergi bulan madu kemana nanti selama kita di perjalanan," usul Ardi.
"Tidak mau, nanti kami dengar," Satria menolak.
"Loh, memangnya kenapa kalau aku dengar?" Protes Ardi.
"Ya jadi gak seru dong, ini kan obrolan rahasia suami istri. Kamu sebaiknya tidak usah ikut campur."
"Oke... Oke..." Ardi akhirnya mengalah dan memilih untuk tak mempermasalahkan lagi masalah bulan madu mereka. Bahkan ia juga tak mau membahas masalah panggilan pasangan pengantin baru itu.
Satria disambut oleh keluarga besarnya. Kali ini Satria memperkenalkan secara resmi siapa Melisa.
Jika sebelumnya Satria hanya memperkenalkan Melisa sebagai teman dekatnya. Kini Satria memperkenalkan Melisa sebagai istrinya.
Mereka semua menyambut dengan ramah kehadiran Melisa di keluarga besar Satria itu.
"Kalian nanti tidur di rumah bibi saja ya," ucap salah satu saudara Satria.
"Boleh, dimana saja asalkan layak untuk istriku tidur nanti," jawan Satria setengah bercanda.
Mereka yang mendengar pun tertawa, terlebih saat melihat Melisa tersipu malu.
Malam itu, Satria dan Melisa menghabiskan malam dengan berbincang-bincang bersama dengan keluarga besar. Hingga hampir lewat tengah malam.
Satria dan Melisa sudah di sediakan sebuah kamar di rumah paman dan bibi yang menghadiri upacara pernikahan mereka.
"Bagaimana kamarnya? Nyaman?" Tanya Satria pada Melisa saat mereka hanya berdua saja di dalam kamar.
"Nyaman sekali, bahkan mereka menyediakan kamar mandi di dalam kamar," jawab Melisa.
Paman dan bibi memang sengaja merenovasi ulang kamar itu, agar Melisa merasa nyaman tinggal di sana.
"Tidurlah, besok kita akan mengadakan pesta seharian dan kamu pasti akan semakin lelah," pinta Satria.
__ADS_1
"Iya, kamu benar. Tapi suamiku..." Melisa menutup mulutnya setelah memanggil Satria dengan sebutan suamiku.
"Ada apa istriku?" Satria menanggapi.
"Jadi kita sepakat untuk mengganti panggilan kita?" Tanya Melisa.
"Tentu saja, aku suka saat kau memanggilku dengan panggilan suamiku," jawab Satria.
Melisa tersenyum.
"Aku juga suka kamu panggil istriku," Melisa terkekeh mengulang panggilan sayang Satria untuknya.
"Baiklah, kalau begitu... Katakanlah padaku apa yang mau kamu katakan tadi?" Tanya Satria sambil membelai lembut rambut Melisa.
"Kamu gak mau itu dulu sebelum tidur?"
"Apa? Malam kedua?"
Melisa tersipu malu. Namun begitu ia tetap menganggukkan kepalanya.
"Kamu gak capek emang?"
"Capek sih, tapi kan enak," bisik Melisa.
"Jadi mau nih?"
Melisa kembali mengangguk dengan malu-malu.
Satria pun mendekatkan dirinya ke tubuh Melisa yang masih duduk di tepi ranjang.
"Tapi kamu kunci dulu pintunya. Aku khawatir akan ada ya g tiba-tiba masuk ke kamar kita," bisik Melisa.
"Kamu tenang saja. Aku sudah mencucinya tadi."
"Benarkah?"
Satria mengangguk sambil tangannya merebahkan tubuh Melisa di atas kasur.
Keduanya saling menatap kini.
"Bagaimana keluarga besar ku?" Tanya Satria.
"Keluargamu semuanya sangat baik padaku," jawab Melisa.
"Syukurlah, aku khawatir kamu tidak akan suka dengan mereka."
Melisa hanya tersenyum. Ia melingkarkan tangannya di leher Satria.
Satria memulai lagi jurus semalam yang ia praktekan sesuai dengan ajaran dari Bobi. Sebelum Satria berangkat ke luar negeri, Bobi sempat memberikan wejangan pada Satria.
Kiat-kiat dan tips, bagaimana caranya membuat istri kecanduan dengan permainan di atas ranjang. Membuat mereka semakin nempel dan cinta pada suami, karena mendapat kepuasan saat berada di atas ranjang.
__ADS_1
Satria ingat, ketika Bobi bilang bahwa wanita yang sangat merasa dipuaskan oleh suaminya, akan semakin nempel dan tak akan pernah mau berpisah jauh darimu.