Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Nasihat


__ADS_3

Ketika malam datang, Melisa yang kini seorang diri berada di rumahnya. Perlahan merasa gelisah, ia memikirkan kedatangan sekertaris ibunya ke sekolah.


Memang bukan hal yang aneh jika Reni, sekertaris ibunya itu datang ke sekolah. Tapi entah mengapa sejak pertengkaran dengan ibunya, setiap hal kecil yang menyangkut Satria dan berhubungan dengan ibunya. Membuat Melisa merasa khawatir.


Kekhawatiran yang berlebih, karena ia ingat pernah menantang sang ibu dengan tidak mempermasalahkan beasiswa Satria yang mungkin saja akan dicabut.


Melisa memang tak pernah membicarakan tentang pertengkarannya dengan ibunya pada Satria. Entah mengapa gadis itu hanya merasa tak nyaman, atau mungkin malu karena ibunya tak seperti ibu Satria yang baiknya luar biasa.


Sedikit ada rasa sesal dalam hatinya, kenapa ia harus menantang wanita yang sudah melahirkannya itu? Melisa harusnya hapal betul bagaimana watak ibunya. Wanita itu pasti tak akan tinggal diam karena Melisa sudah berani mengibarkan bendera perang.


Melisa berpikir, ibunya pasti sudah tau kelemahannya saat ini adalah Satria. Sekeras apapun ia mencoba menepis, menganggap semua baik-baik saja. Nyatanya ia tak tau harus bagaimana jika memang Satria harus kehilangan cita-citanya.


"Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku menceritakan semua tentang ibuku pada Satria?" Batin Melisa.


Ditengah pikiran galau yang melanda, terdengar seseorang mengetuk pintu kamarnya.


"Masuk," pinta Melisa. Gadis itu berpikir, itu pasti ayahnya.


Ternyata Melisa salah, orang yang membuka pintu kamarnya adalah orang sedang ia khawatirkan saat ini. Satria.


"Loh kok?" Melisa bingung dengan kehadiran Satria.


Satria hanya tersenyum. Setelah menutup pintu Satria duduk di tepi kasur, dimana Melisa berada kini.


"Udah selesai nyuci nya?" Melisa menatap Satria, tak percaya laki-laki itu sedang ada di hadapannya kini.


Satria mengangguk.


"Mel, ada yang mau aku omongin," Satria memulai pembicaraan.


"Tentang?" Melisa.


"Ibumu."


Deg...


Jantung Melisa seakan dipacu dengan kencang saat itu juga. Baru saja ia khawatir tentang perlakuan ibunya pada Satria, dan kini Satria datang ke kamarnya juga akan bicara tentang ibunya.


Apa mungkin yang dipikirkannya tadi benar? Apa dia harus menjauh lagi dari Satria? Atau lebih parah lagi ada sesuatu yang terjadi pada keluarga Satria?


Banyak pertanyaan muncul dalam pikiran Melisa, namun gadis itu tak mampu mengutarakannya. Ia hanya menunggu Satria memulai pembicaraan. Apa yang akan dikatakan oleh Satria selanjutnya.

__ADS_1


"Ku dengar, kamu bertengkar dengan ibumu," Satria.


Melisa mengangguk, "kamu tau dari mana?"


"Kak Bobi pernah bercerita, dan tadi..." Satria menggantung kalimatnya.


"Tadi?" Melisa mencoba menerka kalimat apa selanjutnya.


"Tadi aku bertemu ibumu," Satria akhirnya jujur pada Melisa.


Melisa memejamkan mata, gadis itu sebenarnya takut pada kalimat berikutnya. Namun ia berusaha membuka matanya, ia harus dengar apa yang di mau sang ibu pada Satria.


"Kapan?" Melisa.


"Tadi saat pulang sekolah, itulah kenapa aku terlambat keluar," Satria.


"Tadi kamu bilang ada pengarahan tambahan," Melisa menatap tak suka karena Satria sudah berbohong.


"Maaf, aku bukannya tak ingin jujur padamu. Aku hanya tak tau harus bagaimana menyampaikannya," Satria.


"Apa yang dia katakan?" Melisa.


"Sepertinya ia merasa khawatir dengan perceraiannya," Satria.


"Entahlah, tapi melihat ekspresinya. Sepertinya itu bukan masalah uang atau kekuasaan," Satria.


"Kau tak kenal ibuku, sudah pasti tentang dua hal itu. Apalagi yang dia khawatirkan di dunia ini?" Gerutu Melisa.


"Aku mungkin tak kenal ibumu Mel, tapi menurutku ibumu tulus ingin berbaikan denganmu," Satria.


Melisa menyeringai, "ibuku? Tulus?"


Satria mengangguk.


"Jangan terperdaya Satria. Ibuku bukan ibumu, wanita itu tak mungkin punya ketulusan di hatinya," Melisa menatap nanar pada Satria.


Perkataan Melisa membuat nyali Satria ciut, ia tahu betul betapa terlukanya hati Melisa karena ibunya. Apa mungkin Melisa akan memberikan maaf?


Satria menghela nafas panjang.


"Jadi wanita itu memintamu untuk membuatku memaafkannya?" Tanya Melisa sinis. Ia tak habis pikir ibunya akan melakukan hal ini pada Satria. Satria bukan Bobi yang pemberontak, ia adalah anak penurut. Bisa-bisanya ibunya menggunakan kebaikan Satria demi keuntungannya sendiri.

__ADS_1


Satria tak menjawab pertanyaan Melisa. Karena sebenarnya ada hal lain juga yang diminta Natasya pada Satria.


"Jika kau tak bisa membuatku memaafkannya, apa yang akan dia lakukan?" Tanya Melisa.


Satria menggeleng, "ibumu sendiri tak tau harus melakukan apa jika aku tak bisa."


"Cih, yakin sekali dia kalau aku akan dengan mudah memaafkannya," Melisa menyeringai.


"Mel, maaf sebelumnya. Mungkin perkataanku ini akan membuatmu membenciku. Tapi aku harus tetap mengatakannya," Satria.


Melisa menatap dalam mata Satria. Menunggu apa yang akan Satria katakan.


"Aku tau, kau sangat benci pada ibumu. Tapi cobalah berdamai dengannya. Bagaimanapun dia adalah ibumu. Apa yang sudah ia lakukan padamu biarlah menjadi dosa bagi dirinya. Tapi kau tak perlu menjadi anak durhaka demi membalas semua perbuatannya. Kau harus tunjukkan padanya kau berbeda darinya," saran Satria.


Mata Melisa mulai berkaca, "kau tak mengerti Satria. Kau tak pernah merasakan dibuang oleh ibumu sendiri."


Satria terdiam, memang benar Satria tak mengalami apa yang dialami oleh Melisa. Satria tertunduk, apakah ia terlalu egois jika meminta Melisa untuk berbaikan dengan ibunya.


"Apa yang akan kau dapat jika berhasil membuatku berbaikan dengan ibuku?" Tanya Melisa.


"Nyonya bilang, ia tak akan mencabut beasiswaku," jawab Satria.


Melisa menatap tajam pada Satria. Gadis itu menebak, jika Satria tak berhasil menjalankan misinya maka Satria akan kehilangan beasiswanya. Dan itu membuat Melisa seperti menjadi orang yang jahat karena membuat Satria kehilangan beasiswa.


Namun ia sendiri merasa tak bisa memaafkan ibunya.


"Baiklah, bilang padanya aku memaafkannya," ucap Melisa.


Satria menatap Melisa, "jika kau belum bisa memaafkannya, kau tak perlu memaafkannya. Aku melakukan ini bukan karena takut beasiswaku dicabut. Tapi karena aku tak ingin orang yang ku sukai memiliki perasaan benci dan dendam pada ibunya sendiri."


"Meski berat, cobalah untuk memaafkan. Mungkin kata-kataku terdengar egois bagimu, karena aku memang tak pernah mengalaminya. Makanya aku tak memaksa, jika kau tak bisa ya sudah. Aku bisa apa?" Satria.


Melisa menundukkan wajahnya. Ia tak sanggup melihat kesedihan di wajah Satria.


"Apa tak mengapa jika kamu kehilangan beasiswa?" Tanya Melisa.


"Tak apa, aku bisa mendapatkannya di sekolah lain," jawab Satria.


Melisa terhenyak. Benar, jika Satria mendapat beasiswa dari sekolah lain itu artinya Satria akan pindah sekolah dan ia tak lagi satu sekolah dengannya.


"Tak perlu dipaksakan, tapi setidaknya cobalah pikirkan apa yang ku katakan tadi. Jika memang rasa bencimu itu lebih besar dari maafmu," Satria menghela nafas. "Tak perlu memaksakan diri untuk memberi maaf pada ibumu hanya karena khawatir padaku."

__ADS_1


"Jika kau tak memaafkan ibumu, sulit bagiku untuk terus berada di dekatmu Mel," batin Satria.


__ADS_2