Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Membuka oleh-oleh


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Satria diberondong banyak pertanyaan oleh Rian. Ia sangat penasaran mengapa sang kakak merubah jadwal liburannya yang semula hanya tiga hari menjadi satu minggu lebih.


"Biar kakakmu istirahat dulu, kasian dia pasti capek. Besok kalau dia sudah cukup istirahat baru kita minta kak Satria buat cerita," saran pak Joni pada istri dan anak bungsunya.


"Tapi kita penasaran yah," Rian menggerutu.


"Udah udah, besok lagi," pak Joni menarik tangan bu Lastri dan Rian keluar dari kamar Satria.


Satria hanya tersenyum melihat keluarganya yang sangat penasaran tentang liburannya. "Mereka pasti iri," batin Satria.


Di ruang keluarga, bu Lastri yang masih shock dengan banyaknya paket yang ia terima tadi sore akhirnya penasaran. Ia mengajak Rian untuk membuka salah satu bungkusan oleh-oleh kiriman dari Melisa.


"Buka yang mana dulu ya?" Bu Lastri bingung memilih.


"Yang ini aja bu," Rian memilih kotak yang paling kecil. "Kita mulai dari yang paling kecil," Rian mengambil kotak itu dan memberikannya pada bu Lastri.


Bu Lastri menerima kotak itu, lalu ia membukanya perlahan. Pak Joni hanya menjadi penonton diantara keduanya. Meski ia juga penasaran dengan isi dari bungkusan-bungkusan itu.


"Ya ampun, ini apa?" Bu Lastri mengangkat seuntai kalung berwarna putih berkilauan, dengan liontin berbentuk bunga kecil. Sangat cantik.


"Itu kalung bu," Rian dan pak Joni mendekat. Mereka memperhatikan kalung yang sepertinya terbuat dari emas putih itu.


"Ini asli bukan bu?" Tanya pak Joni.


"Masa iya ada orang beliin oleh-oleh emas putih yah? Mungkin ini bukan asli kali ya yah? Imitasi..." meski begitu bu Lastri terlihat ragu, jika dibilang imitasi apa mungkin sebagus ini?


"Besok coba kita bawa ke toko emas. Kita tanya, apa itu asli atau bukan?" Usul Rian.


"Hus, ga boleh begitu... itu namanya kita ga menghargai pemberian orang lain. Biarkan saja mau ini asli atau engga, kita harus tetap menyimpannya dengan baik," pak Joni menasihati.


"Wah, kalau ini asli hebat banget ibu dapet oleh-oleh dari calon menantu bagus begini. Apalagi kalau udah jadi menantu, pasti lebih wah lagi oleh-olehnya," ucap Rian sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.


"Apa sih kamu nih? Kakak kamu masih terlalu muda, masih jauh kalau harus ngomongin menantu," bu Lastri menegur putra bungsunya itu.


"Ada apa sih? Rame banget," Satria tiba-tiba keluar dari kamarnya.


"Loh kok kamu ga tidur? Kita berisik ya?" Bu Lastri menghampiri Satria.


"Engga bu, sebenernya Satria juga penasaran sama oleh-oleh dari Melisa. Ibu tau ga dia habis uang berapa buat beli semua ini?" Satria menunjuk paketan yang masih tersusun rapih itu.


"Berapa?" Tanya pak Joni, bu Lastri, dan Rian kompak.


"Jangan kaget ya," Satria memberi peringatan dini.


Ketiganya mengangguk.


"Seratus juta," bisik Satria.


Ketiganya melotot mendengar angka yang disebutkan Satria, bahkan Rian dan bu Lastri sampai membuka mulutnya lebar-lebar.


"Uang segitu cuma buat beli oleh-oleh? Coba kalau buat..."

__ADS_1


Belum selesai Rian bicara, pak Joni sudah menepuk bahunya.


"Ga usah berandai-andai. Toh kita juga ga rugi apa-apa. Semua ini sudah rejeki kita, meski hanya berupa barang. Kalau nak Melisa ga beliin buat kita, kapan lagi kita punya?" Nasihat pak Joni pada keluarganya.


Semua mengangguk setuju.


"Ya udah, coba kita buka yang lain yuk," Rian mengambil kotak yang paling dekat dengannya. Saat dibuka ternyata isinya tiga buah kaos.


"Kaos kak, nih ada tiga," Rian memperlihatkan isinya.


"Pasti mahal itu, asal kamu tau semua ini belinya di mall. Bukan di emperan," Satria.


Semua anggota keluarga Satria kembali dibuat ternganga.


"Berarti kalung tadi juga asli dong bu?" Rian menunjuk kalung yang sudah diletakkan di atas meja oleh bu Lastri.


"Kalung?" Satria keheranan.


"Iya, nih..." bu Lastri menunjukkan kalung berwarna putih berkilau itu pada Satria.


Ekspresi Satria saat ini sudah sama dengan yang lainnya, ia tak percaya bisa-bisanya Melisa membelikan ibunya sebuah kalung emas.


Mereka kembali membuka satu persatu kotak oleh-oleh itu. Ada yang berisi sendal dan sepatu untuk bu Lastri, ada sepatu juga untuk Rian dan pak Joni. Ada daster, kaos, kemeja, jas, dress, bahkan mereka masih menemukan dua kotak lagi yang berisi set perhiasan. Dari semua kotak, ada yang berisi camilan juga.


"Emang kakak ga ikut waktu kak Melisa belanja oleh-oleh?" Tanya Rian.


"Engga, Melisa belanja sama kak Amanda. Kakak tidur di hotel sama kak Bobi. Yang bungkus paket ini juga petugas kurirnya. Kakak cuma ngangkut dari mall ke tempat ekspedisi," jawab Satria.


"Oh iya bener, sebentar... Kakak lupa," Satria masuk ke dalam kamar. Ia lupa tadi pagi Bobi menitipkan sebuah kotak padanya.


"Nih, kakak lupa tadi. Ini dari kak Bobi buat kamu," Satria memberikan sebuah kotak yang terbungkus dengan rapih.


Rian dengan semangat mengambilnya, karena sangat penasaran ia segera membuka kotak itu.


"Wah..." Rian bahkan tak bisa berkata-kata.


"Apa isinya?" Bu Lastri tidak kalah penasaran.


"Ponsel," Rian mengangkat sebuah dus ponsel yang masih tersegel.


Keluarga pak Joni hanya diam saling menatap. Mereka benar-benar tak habis pikir, bagaimana bisa benda-benda mewah itu dijadikan oleh-oleh.


"Mereka memang berada di level yang berbeda dengan kita," gumam Satria.


Sementara keluarga Satria sibuk membuka oleh-oleh dari Melisa. Bobi dan Melisa baru saja tiba di rumah. Mereka bingung melihat lampu dalam rumah yang menyala.


"Kau lupa matiin Mel?" Tanya Bobi.


"Engga, aku yakin udah matiin," jawab Melisa.


Keduanya masuk ke dalam rumah, namun betapa terkejutnya mereka mengetahui siapa yang ada di dalam rumah.

__ADS_1


Bu Natasya dengan gayanya yang anggun duduk di kursi ruang tamu, di tangannya ada sebuah buku menandakan ia sedang membaca saat itu.


Bu Natasya menatap Melisa dan Bobi bergantian. Keduanya kini diam mematung.


"Kalian ga mau masuk?" Bu Natasya.


Melisa dan Bobi akhirnya masuk dengan sedikit canggung.


"Mamah datang dari kapan?" Melisa.


"Tadi pagi," bu Natasya.


"Mamah datang sendiri?" Melisa.


"Mamah diantar sopir, tapi sekarang dia sudah pulang," bu Natasya menjawab santai setiap pertanyaan dari Melisa.


"Oh, aku ga liat mobil mamah soalnya," Melisa terlihat sangat gugup saat itu.


Bobi memegang tangan Melisa. Berusaha menenangkannya. Namun usaha itu dilihat jelas oleh Natasya.


"Kamu siapa? Wajahmu sepertinya tak asing," Natasya menatap sinis pada Bobi.


"Saya Bobi tante," jawab Bobi.


"Bobi?" Natasya berpikir sejenak. "Ah, anaknya Bob y? Yang suka bikin masalah?"


Bobi hanya mengangguk.


"Kamu ngapain malem-malem kesini? Mau godain anak saya?" Natasya.


"Engga tante, saya cuma mau antar Melisa pulang," jawab Bobi.


"Kalian dari mana?" Natasya akhirnya bangun dari duduknya, berjalan menghampiri Bobi.


"Liburan tante," masih Bobi yang menjawab.


"Berdua?" Natasya menatap Bobi dan Melisa bergantian.


"Engga mah, sama temen yang lain," jawab Melisa dengan panik.


"Mamah pikir, kamu liburan sama ayah kamu," Natasya kini berdiri di hadapan Melisa.


Melisa hanya diam tak menjawab pertanyaan ibunya itu.


"Kita ketemu di sana sama om Gunawan, tante. Om sibuk banget, jadi ga bisa nemenin Melisa. Sebagai gantinya aku yang nemenin Melisa liburan," jawab Bobi.


"Kamu? Kamu yang nemenin anak saya liburan? Bisa-bisanya kamu deketin anak saya tanpa ijin, siapa yang kasih ijin kamu liburan sama Melisa?" Natasya mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Bobi.


"Om Gunawan," jawab Bobi santai.


Natasya terlihat sangat marah, matanya melotot ke arah Bobi. Namun Bobi yang lelah sama sekali tak terlihat takut pada Natasya. Ia menatap ibu Melisa dengan santai.

__ADS_1


Sedangkan Melisa, jantungnya seperti ingin lepas. Tubuhnya bergetar hebat. Rasa lelah yang tadi dirasa sangat oleh tubuhnya mendadak hilang. Keringat bercucuran dari keningnya. Ia sama sekali tak menyangka, ibunya akan datang saat ia tidak berada di rumah.


__ADS_2