
Sepanjang makan malam, hanya Melisa dan Steve yang terlibat obrolan santai. Sementara Satria hanya duduk mendengarkan dan seolah hanya menjadi penonton.
Satria melihat Melisa yang bersikap begitu terbuka pada Steve, tak seperti biasanya saat Melisa bersama orang yang belum lama dikenal. Melisa biasanya akan bersikap dingin dan hanya menjawab seperlunya saja.
Tapi melihat bagaimana Steve mampu menggiring Melisa untuk banyak bicara, sepertinya Satria sudah salah menduga. Steve terlihat tulus mendengarkan apapun yang dibicarakan Melisa. Steve menanggapi dengan senyum hangat pada setiap kata yang keluar dari mulut Melisa.
"Kau sepertinya tidak menyukaiku," tanya Steve pada Satria saat mereka ditinggal oleh Melisa ke kamar mandi.
"Ah, tidak." Satria menggoyangkan tangannya.
"Kau merasa tak nyaman denganku?" Steve.
"Sedikit," Satria menjawab sambil tersenyum malu.
"Aku mengerti, kau pasti merasa aneh mengapa aku mendekati Melisa saat sudah putus dengan Natasya," tebakan yang tepat. Steve memang seperti bisa membaca pikiran orang lain.
Satria terdiam, ia tak tau harus bagaimana menanggapi perkataan Steve yang seratus persen benar.
"Kau tak perlu curiga padaku. Sebenarnya, aku sudah ingin mendekati Melisa sejak dulu, sejak Melisa kecil. Hanya saja Natasya selalu melarang, dia bilang aku tak punya hubungan apa-apa dengannya jadi tak perlu terlalu akrab. Natasya benar-benar tak suka jika ada orang lain yang mendekati Melisa," ucap Steve.
Satria mengangguk.
"Jadi, om sekarang mendekati Melisa karena sudah putus dengan nyonya Natasya?" Tanya Satria.
"Ya, karena ku pikir aku tak perlu menuruti permintaannya lagi. Aku benar-benar ingin berteman baik dengan Melisa," ucapan Steve terlihat tulus.
Meski Steve sudah berkata sungguh-sungguh, Satria tetap meragukan perkataan Steve. Pasti ada alasan lain mengapa Steve mendekati Melisa.
"Kau masih tak percaya padaku?" Tanya Steve.
"Sejujurnya iya," Satria mengangguk perlahan. "Entah mengapa aku merasa, om punya maksud lain mengapa baru sekarang ini om mendekati Melisa. Apa om ingin balas dendam pada nyonya Natasya?"
Steve terkekeh mendengar pertanyaan Satria. "Aku bukan orang jahat, niatku murni hanya ingin berteman baik dengan Melisa." Steve berusaha meyakinkan Satria.
Tapi Satria tak bisa percaya begitu saja. "Baiklah, jika memang om mau seperti itu. Selagi om tak melukai Melisa aku hanya akan memantau om dari jauh."
"Ayolah Satria, kenapa kau tak bisa percaya padaku?" Steve mengiba.
"Maaf om, aku memang tak mudah percaya pada orang yang baru ku kenal," nyatanya Satria tak bisa mengabaikan firasat buruknya pada Steve begitu saja. Namun kali ini ia lebih memilih untuk membiarkan Steve, ia juga tak yakin firasatnya akan benar atau salah.
Selesai makan malam, Steve hendak mengantar Satria lebih dulu. Namun Satria menolaknya.
"Kita antar Melisa dulu ya om," pinta Steve. Dan Melisa juga terlihat tak keberatan dengan ide Satria.
__ADS_1
"Baiklah," Steve menuruti permintaan Satria.
Perlahan, mobil yang dikendarai Steve melaju di tengah gemericik hujan yang belum kunjung mereda.
Hingga mobil sampai di rumah Melisa, Steve hendak memarkirkan kendaraannya di halaman rumah Melisa. Namun lagi-lagi Satria merasa keberatan.
"Om ga usah masuk ya, om langsung pulang aja," ucap Satria seraya ikut turun dari mobil bersama Melisa seolah mengusir Steve.
"Loh, kamu ikut turun?" Steve merasa heran dengan tingkah Satria.
"Iya om, om pulang duluan aja. Aku bisa pulang sendiri," jawab Satria.
Meski heran dan berat hati, Steve menuruti permintaan Satria. Steve pun kembali melajukan mobilnya pergi dari rumah Melisa
Melisa yang sejak tadi hanya diam saja melihat tingkah Satria, mengajak Satria untuk segera masuk ke dalam.
"Kamu kenapa? Masih curiga sama om Steve?" Tanya Melisa saat mereka sudah berada di dalam rumah.
"Entahlah Mel, aku memang melihat dia tulus padamu. Tapi entah kenapa aku memiliki firasat yang aneh, seolah ada yang dia sembunyikan dibalik senyum tulusnya itu." Satria mengungkapkan isi hatinya.
"Cuma perasaan kamu aja Sat, om Steve baik banget sama aku. Kamu kan tadi liat sendiri gimana baiknya om Steve sama aku," Melisa mencoba meyakinkan Satria bahwa Steve adalah orang baik. Dia hanya ingin berteman dengan Melisa, dan tak ada tujuan lain.
"Ya, semoga memang hanya perasaanku saja," gumam Satria.
"Aku pulang aja Mel, aku tadi ijinnya cuma mau ikut makan sama kamu dan om Steve," tolak Satria.
"Nanti kalau om Steve malam-malam datang ke sini gimana?" Melisa malah menakut-nakuti Satria.
"Kamu bilang dia orang baik, mau apa orang baik malam-malam datang ke sini?" Tanya Satria.
"Iya kan kamu ga percaya kalau dia orang baik," Melisa tak mau kalah.
"Bukan aku gak percaya Mel, cuma aku masih ragu," Satria berkilah.
"Apa bedanya? Sama saja kan intinya tidak percaya," Melisa.
"Beda Mel, kalau tidak percaya itu seratus persen. Kalau ragu itu lima puluh persen," ungkap Satria.
"Oh ya?" Melisa mengangkat kedua bahunya, seolah mengejek Satria.
"Kamu gak percaya?"
"Entahlah," Melisa kembali mengangkat kedua bahunya.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu aku pulang," ancam Satria.
"Hehe, maaf. Aku percaya kamu deh, jangan pulang ya," bujuk Melisa.
Satria menghela nafas, "maaf ya Mel. Bukannya aku mau terlalu mengatur kamu, hanya saja aku merasa sangat khawatir. Terlebih sekarang kamu tinggal sendirian."
Memang Melisa saat ini sudah kembali tinggal seorang diri di rumahnya yang mewah. Semenjak Bobi pergi untuk menjalani karantina di akademinya, dan ayahnya yang kini ia tau ikut tinggal di hotel bersama ibunya. Melisa menjadi tinggal seorang diri lagi.
"Kamu ikut ke rumah ku aja yuk," ajak Satria.
"Yuk," Melisa langsung setuju. Membuat Satria kelabakan sendiri.
"Kamu pikir dulu harusnya, kok main setuju aja," protes Satria.
"Pokoknya kalau buat kamu, aku sih oke aja," Melisa terkekeh mendengar ucapannya sendiri.
"Kalau sama om Steve?" Tanya Satria.
"Ya aku pikir-pikir dulu lah," jawab Melisa.
"Apa yang kamu pikirkan?" Satria penasaran.
"Mmm... Kira-kira bakal seru gak? Kalau engga ya aku ga bakal ikut," jawaban Melisa santai.
"Mel..." Satria sudah memberi kode untuk tidak bercanda.
"Apa?" Melisa seolah tak peduli dengan kode yang diberikan Satria.
"Kamu tolong jangan bikin aku khawatir," pinta Satria.
"Aku bikin kamu khawatir gimana coba?" Melisa pura-pura tak mengerti.
"Ya jangan gampang percaya mau ikut sama orang yang belum lama kenal," ucap Satria.
"Iya iya, aku ngerti. Pokoknya aku cuma mau pergi kalau sama kamu," Melisa merayu Satria yang mulai terlihat marah.
"Ya gak harus begitu juga. Paling gak, kamu bilang mau kemana sama siapa? Biar aku gak khawatir," jelas Satria.
"He eh," Melisa mengangguk sedikit terkekeh. Baginya tingkah Satria benar-benar lucu. Satria yang sedikit merasa cemburu karena kedekatan Melisa dengan Steve membuatnya sedikit mengatur Melisa.
Padahal keduanya tak punya hubungan yang pasti. Sampai saat ini keduanya hanya merasa mereka teman. Tapi sikap Satria barusan bukankah terlalu berlebihan untuk ukuran seorang teman?
Meski begitu, Melisa yang memang sudah bucin sekali dengan Satria. Merasa baik-baik saja dengan aturan baru yang dibuat Satria. Dengan senang hati ia pasti akan melaporkan akan kemana dia seharian ini dan bersama dengan siapa saja? Bahkan ia juga berniat akan memberi tahu Satria apa yang akan dan sudah ia lakukan hari ini.
__ADS_1