Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Malam Yang Panas


__ADS_3

Sambil menonton, Satria sesekali membelai rambut Melisa. Dan sampai mereka melihat adegan ciuman di dalam film itu. Keduanya saling menatap.


Entah mengapa keduanya merasakan dorongan yang sama untuk saling mendekatkan wajah mereka.


Satria menggeser posisi duduknya menghadap Melisa. Lalu dengan kedua tangannya ia memegang tengkuk Melisa. Mereka berciuman, sama seperti adegan di film yang mereka tonton.


Cukup lama keduanya saling beradu bibir. Lalu mereka berdua melepaskan ciuman itu. Keduanya saling menatap dengan nafas mereka yang sudah memburu.


Seperti mengikuti nalurinya, Melisa mengubah posisi duduknya. Ia pindah ke pangkuan Satria, duduk dengan menghadap Satria. Kedua tangannya melingkar di leher Satria.


Satria hanya diam saja melihat tingkah Melisa yang sangat berani itu. Membuat gairahnya memuncak seketika, mungkin karena pengaruh minuman alkohol yang ia minum tadi. Mereka kembali berciuman.


Tangan Melisa membantu Satria melepaskan jas nya, lalu satu persatu Melisa membuka kancing kemeja Satria. Hingga seluruh kancing telah terbuka.


Kini dada Satria terbuka dengan lebar, perut kotak-kotak milik Satria juga terpampang dengan jelas di hadapan Melisa.


"Kamu berolah raga?"


Satria hanya mengangguk, ia lalu melepaskan kemejanya. Dan kini bagian atas tubuh Satria sudah polos. Satria kembali meraih tengkuk Melisa dan mencium kembali bibir Melisa.


Namun tiba-tiba ia menghentikan aksinya. Satria menatap dalam mata Melisa.


"Kenapa berhenti?" Tanya Melisa.


"Mel, kita gak seharusnya melakukan ini," jawab Satria.


"Tapi..."


"Mel, aku memang mencintaimu. Tapi ini tidak benar!"


"Kamu tak mau melakukannya denganku?"


"Mau! Sangat mau! Tapi aku tak mungkin menodaimu Melisa," Satria menatap semakin dalam.


"Satria, kita tidak tau kapan kita akan bertemu lagi? Aku juga tidak tau apa kelak nanti kita akan bisa menikah atau tidak. Tapi tidak bisakah kamu memberikan hadiah terindah untukku malam ini?"


"Hadiah?"


"Mmm..." Melisa menganggukkan kepalanya. Ia lalu melepas kancing baju tidurnya hingga terlepas semua, Melisa membuka bajunya dan melempar ke sembarang arah.


Setelah itu Melisa bangkit berdiri dan membuka celananya. Kini yang tersisa hanya pakaian dalamnya saja.


Satria menelan air liurnya melihat pemandangan indah yang terpampang jelas di hadapannya.


Melisa kembali duduk di pangkuan Satria, lalu dengan ganasnya ia ******* bibir Satria. Sedangkan Satria hanya pasrah menerima perlakuan agresif Melisa.


Tangan Melisa mengarahkan kedua tangan Satria agar meremas kedua buah dadanya. Satria lagi-lagi hanya menuruti saja keinginan Melisa.

__ADS_1


Melisa melepaskan ciumannya, ia lalu berbisik pada Satria.


"Bawa aku ke kamar!"


Satria lalu menggendong tubuh Melisa dan membawanya ke dalam satu-satunya kamar yang ada di rumah itu.


Di dalam kamar, Satria perlahan meletakkan tubuh Melisa di atas ranjang.


"Kamu yakin mau melakukan ini?"


Melisa menganggukkan kepala dengan sangat yakin.


Satria perlahan melepaskan sisa pakaian yang masih melekat di tubuh Melisa.


Melisa kini sudah polos, tak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya.


Ini pertama kalinya Satria melihat tubuh polos wanita, ia memperhatikan dengan seksama setiap inci tubuh Melisa yang membuat hasratnya semakin membara.


"Buka celana kamu Satria," pinta Melisa dengan wajah menggoda.


Satria kembali menuruti keinginan Melisa. Kini tubuh Satria juga sudah polos seperti bayi.


Melisa terpukau dengan sesuatu yang menggantung di antara kedua kaki Satria.


"Kenapa?"


"Punya kamu gede banget," ucap Melisa sambil menutup mulutnya.


Melisa mengangguk.


Mereka lalu melakukan hubungan intim untuk pertama kalinya bagi mereka berdua. Tentu saja tak mudah melakukan sesuatu yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya.


"Sakit," bisik Melisa.


"Ah, maaf. Apa kita sudahi saja?"


Melisa menggeleng, ia masih mau melanjutkan permainan panas di malam itu bersama Satria.


"Kalau gitu aku pelan-pelan ya," Satria sebenarnya tak tega melihat Melisa yang meringis kesakitan. Tapi meski begitu, Melisa tampak menikmatinya.


Pelan-pelan Satria kembali melanjutkan permainannya. Hingga tak lama, Melisa sudah mulai merasakan kenikmatan dari permainan Satria.


Melisa mendesah di sela-sela permainan itu. Membuat Satria semakin mempercepat gerakannya. Hingga sesuatu yang mendesak di bawah sana, akhirnya keluar.


Satria mengecup kening Melisa. Lalu ia membaringkan tubuhnya di samping Melisa.


"Maaf ya Mel, kamu pasti kesakitan," ucap Satria dengan penuh penyesalan.

__ADS_1


"Iya sakit, tapi enak," Melisa tersipu malu saat mengatakannya.


"Aku lelah Mel, kita tidur ya!" Ajak Satria.


Melisa mengangguk. Satria lalu mengambil Selimut dan menyelimuti tubuh mereka berdua. Saat sedang menyelimuti Melisa, Satria melihat bercak darah di sprei milik Melisa.


"Kamu berdarah Mel?"


"Ya kan aku masih perawan," jawab Melisa.


"Pasti sakit banget ya? Maaf ya Mel," Satria mengecup kening Melisa. Ia merasa sangat bersalah karena sudah menodai Melisa.


Melisa hanya tersenyum, ia juga sudah merasa mengantuk. Mereka berdua akhirnya terlelap, tidur sambil saling berpelukan.


...***...


Pagi hari, Satria sudah bangun terlebih dahulu. Ia melihat Melisa yang masih terlelap, lalu dikecupnya kening Melisa. Setelah itu Satria bergegas pergi ke kamar mandi.


Selesai mandi, Satria melihat Melisa masih juga terlelap. Ia lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Melihat bahan makanan yang ada di dapur, Satria berniat membuat Sandwich isi telor dan keju.


Saat Satria tengah sibuk membuat sarapan, tiba-tiba bel pintu rumah Melisa berbunyi. Satria bergegas membukakan pintunya agar Melisa tidak bangun karena suara bel tersebut.


"Kak Bobi? Kak Amanda?" Satria terkejut melihat siapa yang datang pagi-pagi ke rumah Melisa.


Begitu juga dengan Bobi dan Amanda, mereka berdua tak menyangka bisa mendapati Satria berada di rumah Melisa sepagi ini.


"Satria? Kamu ngapain pagi-pagi gini udah ada di sini?" Tanya Bobi.


"Mmm... Aku... Lagi bikin sarapan kak," jawab Satria malu-malu. Ia tak menyangka akan dipergoki oleh Bobi dan Amanda sedang berada di rumah Melisa sepagi ini.


"Lalu, dimana Melisa?" Amanda.


"Mmm... Masih tidur kak," jawab Satria polos.


"Tidur? Kamu semalam nginep di sini?" Bobi masuk ke dalam rumah melewati Satria yang masih berdiri di depan pintu, disusul oleh Amanda.


"Mmm... Iya kak," Satria tak menemukan jawaban untuk bisa berkelit.


"Kalian abis ngapain hayo?" Selidik Bobi.


Satria bingung harus menjawab apa? Amanda seolah tak peduli dengan kebingungan Satria, mendadak membuka pintu kamar Melisa dan melihat Melisa yang tengah tertidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya sampai ke dada.


Melihat Melisa yang masih tertidur lelap, Amanda segera menutup kembali pintu kamar dan menarik Bobi keluar rumah.


"Oke Sat, nanti kita balik lagi deh. Kamu lanjut aja bikin sarapannya," Amanda bergegas mengajak Bobi untuk segera pergi.


"Loh Man? Kita mau kemana? Kan belum ketemu Melisa," Bobi yang bingung menurut saja saat Amanda menarik tangannya.

__ADS_1


"Melisa masih tidur, udah nanti aja kita balik lagi," jawab Amanda.


Keduanya lalu pergi meninggalkan Satria seorang diri, yang sebenarnya masih kebingungan dan merasa canggung tentunya.


__ADS_2