Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Kehangatan Ibu dan Anak


__ADS_3

"Aku adalah orang yang egois, bagaimana bisa aku iri dengan kebahagiaan ibu dan anak itu? Padahal aku sendiri tak pernah berbuat baik padamu. Apa aku masih pantas mendapatkan perlakuan hangat dari putriku sendiri?"


Melisa melepaskan pelukannya dan mengusap air mata yang mengalir di pipi ibunya.


"Satu hal yang aku tau saat itu, ini adalah hukuman yang harus ku jalani. Hukuman karena aku tak pernah benar-benar memperhatikan anakku sendiri. Rasa iri akan sebuah kehangatan keluarga ini sangat menyiksaku," Natasya memegang wajah putrinya.


"Jadi karena itu mamah akhirnya mau menikah dengan om Steve dan mengangkat Satria menjadi anak?"


"Satria... Aku sudah mengangkatnya sejak orang tuanya meninggal. Dia anak yang baik, meski begitu dia juga sempat mengalami masa-masa yang sulit."


Melisa kembali teringat saat peristiwa kecelakaan itu, Satria memang berubah sikapnya 180° dari biasanya.


Satria menjadi sosok yang dingin, dan bukan lagi menjadi laki-laki yang hangat seperti yang ia tau.


"Satria pasti sangat benci dengan ayah," ucap Melisa sedih.


"Kamu tau? Bahkan saat itu ia ingin berlari dan membunuh Gunawan, tapi aku menahannya. Saat itu dia tidak punya siapa-siapa, aku tak bisa membayangkan jika Satria harus mendekam di penjara hanya karena balas dendam pada Gunawan."


"Saat itu, apa yang terjadi padanya?"


"Dia sangat terpuruk Melisa, di sisinya hanya ada aku, Reni, dan Mia. Kami bersama-sama membantu Satria untuk bangkit kembali. Aku bahkan memanggil ahli hipnoterapis, agar Satria bisa menenangkan pikirannya."


"Hipnoterapis?"


"Mmm..." Natasya mengangguk. "Kami ingin membuat Satria mempercayai bahwa kecelakaan keluarganya saat itu adalah murni kecelakaan."


"Kenapa mamah melakukan itu?"


"Sudah ku bilang, dia sebatang kara. Bayangkan jika dia sampai membunuh ayahmu, lalu dia masuk penjara. Rasanya prestasi yang dia ukir selama ini akan sia-sia," Natasya kembali menitikkan air mata mengingat bagaimana Satria berjuang saat itu.


"Meski usaha kami tak terlalu berhasil, tapi setidaknya emosi Satria sudah mulai stabil. Satria masih ingat rasa benci di hatinya, namun setidaknya dia bisa sedikit berdamai dengan rasa benci itu. Hingga ia bisa meredam emosinya."


"Aku menyesal tak ada di sana saat itu," Melisa tertunduk lemas.


"Justru aku merasa bersyukur kamu tak ada di sana saat itu. Aku khawatir kamu tiba-tiba muncul dan Satria bisa saja melampiaskan dendamnya padamu."


"Jadi, saat itu... Satria sudah membaik?"


Natasya mengernyitkan dahinya, ia tak paham maksud perkataan Melisa.


"Waktu itu aku sangat penasaran, dimana Satria tinggal. Karena aku tidak tau apa-apa. Disekolah pun Satria selalu menjauh dan bersikap dingin padaku, akhirnya aku mengikutinya dan aku datang ke rumah ini."


"Ah, saat itu? Kamu benar, kondisi mental Satria sudah jauh lebih baik saat itu," Natasya tersenyum mengingat kembali momen itu.


"Satria pasti sangat membenciku saat ini?"


"Tidak Melisa, justru dia sangat mencintai kamu. Satria tidak seperti aku yang melampiaskan dendam pada orang lain."

__ADS_1


"Jadi Satria masih menyimpan dendam pada ayahku?"


"Mungkin, tapi kami selalu mengingatkan dan memintanya untuk terus berprestasi. Karena itu satu-satunya cara agar lawanmu merasa kalah, yaitu dengan menjadi seseorang yang lebih baik," Nasihat Natasya.


"Aku tak tau kalau mamah juga bisa bersikap bijak seperti ini," Melisa tersenyum menatap ibunya.


Natasya tertawa geli mendengar ucapan putrinya.


"Aku juga tak tau aku bisa begini," keduanya tertawa lepas. Mereka menertawakan sikap Natasya yang tidak disangka-sangka itu.


"Tapi, Satria dimana ya sekarang?" Tanya Melisa.


"Kalian memang selama kuliah di sana tidak pernah saling komunikasi?"


Melisa menggeleng.


"Pesta dansa kemarin?"


"Hehe..." Melisa tersenyum sambil memamerkan giginya yang putih.


"Ada apa ini? Apa sesuatu terjadi diantara kalian?" Natasya mencoba menginterogasi Melisa.


Melisa pun mengangguk sambil sambil tersenyum malu.


"Apa itu?" Tanya Natasya dengan suara berbisik.


Malu-malu, Melisa menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dan Satria malam itu. Entah mengapa, saat ini rasanya Melisa sangat bahagia. Sehingga ia meluapkan semua yang ada dalam hatinya pada Natasya.


"Aku tak menyangka Satria bisa juga seperti itu," Natasya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar cerita dari Melisa.


"Itu kan karena dia dalam pengaruh alkohol," ucap Melisa.


"Ah, benar. Kenapa saat itu aku tak memberinya alkohol ya?"


"Mah..."


"Hehe, bercanda sayang," ucap Natasya sambil mengusap lembut rambut Melisa.


"Wah, ngobrolin apa sih? Seru banget kayanya?" Tiba-tiba terdengar suara Steve.


Natasya dan Melisa pun menoleh ke sumber suara.


"Kalian sudah merokoknya?" Tanya Natasya.


"Lebih tepatnya om Steve saja tante yang merokok," jawab Dion.


"Iya deh, yang gak ngerokok," Steve menyenggol lengan Dion.

__ADS_1


"Udah malam nih, kamu mau pulang?" Tanya Dion pada Melisa.


"Pulang? Kamu nginep disini aja ya Mel," pinta Natasya.


Melisa tentu saja merasa bingung, ia memang ingin menginap di rumah ibunya. Namun ia takut ayahnya tak akan mengizinkannya.


"Bagaimana Mel?" Tanya Natasya.


"Aku mau sih, tapi..."


"Biar aku yang meminta izin pada Gunawan," Natasya segera mengambil ponsel miliknya. Ia lalu mencari nomor Gunawan di sana dan segera menghubunginya.


"Halo?" Suara Gunawan terdengar di seberang sana.


"Biarkan Melisa menginap di rumahku malam ini," ucap Natasya langsung ke intinya.


"Kenapa?"


"Apa butuh alasan untuk meminta putriku sendiri untuk menginap di rumahku?"


"Tentu saja, apa yang kau rencanakan?"


"Aku hanya ingin menghabiskan malam bersama dengan Melisa, apa salahnya seorang ibu mengajak putrinya sendiri menginap di rumahnya?"


"Kalau itu orang lain mungkin tidak ada yang salah, tapi kalau itu kamu aku justru curiga!"


"Kamu pikir aku akan mencelakai anakku sendiri?"


"Bisa saja, kita tak pernah tau!"


Melihat perdebatan orang tuanya di telepon, Melisa segera meminta ponsel di tangan Natasya. Ia ingin bicara langsung dengan ayahnya.


Natasya lalu memberikan ponsel itu pada Melisa.


"Ayah, izinkan aku menginap ya. Satu malam saja," pinta Melisa dengan suara sedikit memelas.


"Kamu mau apa di sana? Kamu lupa bagaimana perlakuan ibumu padamu?"


"Mamah sudah berubah yah, dia tak lagi seperti dulu."


"Kau tau dari mana dia sudah berubah?"


"Mamah mengundang aku dan Dion makan malam bersama, kami juga sudah banyak mengobrol sejak tadi. Satu hal yang belum pernah kami alami sebelumnya."


"Itu akal-akalan dia saja, mungkin sebenarnya ia ingin mencelakai kamu! Coba kamu periksa itu makanannya, Bisa saja ada racun di dalamnya!"


Melisa tak bisa berkata-kata mendengar kecurigaan ayahnya terhadap ibunya.

__ADS_1


"Bukankah memang sebaiknya aku mati? Agar ayah tak perlu repot-repot mencelakai orang lain hanya demi aku?"


Melisa yang kesal segera mematikan ponselnya.


__ADS_2