Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Menuju Akhir Pesta


__ADS_3

Satria dan Melisa yang sudah merasa sangat lelah, karena beberapa hari mereka mengadakan pesta di berbagai tempat.


Keduanya kini sudah siap dengan piyama tidur kembar mereka.


Di atas tempat tidur, pasangan suami istri itu melakukan ritual percakapan sebelum mereka tidur.


"Suamiku, kalau badanmu masih sakit besok pagi. Bagaimana kalau kita periksa sekali lagi ke rumah sakit?" Usul Melisa.


"Aku baik-baik saja Mel, ini hanya kelelahan karena kita terus menerus melakukan perjalanan jauh dan juga acara yang padat."


"Tidak Satria, kamu bukannya sudah terbiasa dengan jadwal yang padat dan pergi ke berbagai kota? Tapi kenapa baru kali ini kamu merasa seperti ini? Ini pasti karena kejadian kemarin kan?"


"Aku baik-baik saja Mel, percayalah padaku."


"Bukan aku tak percaya padamu, tapi kemarin saja kita tidak melakukan pengecekkan secara menyeluruh. Ayolah Satria, kita masih ada waktu besok. Bagaimana kalau kita mampir ke rumah sakit dan melakukan pengecekan ulang?"


Satria tak bisa menghindar lagi, namun ia sebenarnya merasa sangat malas untuk melakukan pengecekkan ulang.


"Baiklah sayangku, tapi aku ingin memeriksa semuanya setelah kembali dari desa nanti," Satria membujuk.


"Kenapa tidak besok saja?"


"Besok rencananya aku ingin kita berangkat pagi-pagi supaya cepat sampai di desa. Sehingga kita bisa istirahat lebih lama. Aku ingin menikmati suasana desa lebih dulu," Satria beralasan.


Melisa nampak berpikir, ia pun akhirnya menyetujui.


Lagi pula untuk memeriksa seluruh tubuh Satria mungkin membutuhkan waktu yang cukup lama. Hingga ia akhirnya memutuskan untuk memeriksanya setelah kembali dari desa.


"Tapi janji ya, nanti kanu harus periksa setelah pulang dari desa."


"Iya sayang, aku janji," Satria mendekap tubuh Melisa.


"Aku lelah, ayo kita tidur. Besok kita harus bangun pagi sekali."


"Kamu benar, ayo kita tidur."


...***...


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Melisa dan Satria sudah berangkat menuju desa tempat Steve berada.


Mereka berangkat bersama dua orang pengawal suruhan Gunawan. Meski keadaan sudah terlihat cukup aman, namun Gunawan tetap tak mau mengambil resiko.


Dua orang ia kirimkan untuk mengawal Satria dan Melisa pergi di mobil yang sama. Dan beberapa orang lagi mengikuti mereka di mobil yang lainnya.

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan keduanya, nanti di desa akan ada banyak pengawal yang menjaga mereka.


Ini semua karena Gunawan tak ingin insiden di kota B terulang kembali.


Pukul dua belas siang, rombongan Melisa sudah sampai di rumah kediaman Steve.


Tentu saja Steve menyambut dengan sangat antusias. Di sana juga ada Arya dan beberapa pemuda yang kebagian giliran menjaga Steve.


Melihat banyaknya rombongan yang datang, tentu saja membuat mereka terkejut. Terlebih karena yang datang adalah para pengawal kiriman Gunawan.


Yang paling terkejut di sini adalah Melisa, ia tak menyangka ayahnya akan mengirim pengawal sebanyak ini.


"Gunawan memang luar biasa," Steve sampai menggeleng-gelengkan kepala karena tak percaya dengan tingkah Gunawan terhadap putrinya.


"Maaf yah, ayahku mungkin hanya khawatir akan ada hal yang tidak diinginkan terjadi," Melisa jadi merasa tak enak hati.


"Tidak apa Mel, lagi pula kamar di rumah ini kan ada banyak. Suruh saja mereka menempati kamar-kamar kosong itu."


Melisa akhirnya menyuruh para pengawalnya untuk beristirahat di kamar kosong yang ada. Sementara Melisa dan Satria memilih untuk berbincang dengan Steve dan Arya.


"Bagaimana pesta kalian di kota-kota sebelumnya? Kalian pasti lelah kan?" Steve memulai obrolan.


"Semua berjalan dengan lancar yah, hanya saja ada peristiwa yang tak kami duga terjadi saat kami berada di kota B," jawab Satria.


Satria dan Melisa menceritakan kejadian yang mereka alami saat berada di kota B.


"Aku tak menyangka hal seperti itu akan terjadi pada kalian," ucap Steve tak percaya.


"Tapi kalian baik-baik saja kan?" Tanya Arya dengan khawatir.


"Aku baik-baik saja, tapi suamiku sepertinya tidak. Dia kan dikeroyok oleh anak buahnya Vino," jawab Melisa.


"Pasti sakit sekali kan Satria?" Tanya Steve.


Satria hanya tersenyum getir, rasa sakit di tubuhnya sampai saat ini masih sangat terasa.


"Sebaiknya kita datang ke rumah Datuk, biar Satria diobati menggunakan obat-obatan tradisional. Sekalian tubuhnya dipijat khawatir ada syaraf-syaraf yang kaku akibat pukulan," usul Arya.


"Dimana rumahnya?" Tanya Melisa antusias.


"Kalau kamu mau, kalian tak perlu ke sana. Biar aku saja yang memanggil Datuk untuk mengobati mu di sini."


"Bolehkah?" Melisa terlihat semakin antusias.

__ADS_1


"Tentu saja bisa, tunggu sebentar biar aku panggilkan dulu," Arya lalu beranjak pergi menuju rumah Datuk yang dipercaya mampu menyembuhkan luka-luka di tubuh Satria dengan cara pengobatan tradisional.


"Arya memang sigap, tak salah dia menjadi ketua pemuda di desa ini," puji Steve.


"Syukurlah, aku tak salahkan mempercayakan mu padanya," ucap Satria senang.


"Kamu benar," Steve tersenyum.


"Jadi itu sebabnya ayahmu mengirim banyak pengawal ke sini."


Kini Steve paham mengapa ada banyak pengawal yang datang ke rumahnya.


"Tapi percayalah, desa ini sangat aman," Steve menyakini Melisa dan Satria.


"Aku tau yah, tapi biarkan saja mereka di sini. Setidaknya dengan adanya mereka di sini, ayahku bisa merasa tenang," Melisa berusaha memberi pengertian.


"Ya, aku tau. Gunawan memang sangat peduli padamu. Aku tak bisa membayangkan apa yang akan Gunawan lakukan pada pria yang sudah berani menyentuh Satria, pria yang dicintai Melisa."


Melisa dan Satria hanya terdiam, ia sendiri juga belum mendapat kabar lagi tentang nasib Vino di sana. Apakah masuk ke sel tahanan polisi atau ke sel tahanan buatan Gunawan.


Saat sedang asik berbincang, akhirnya Arya datang bersama Datuk.


Steve langsung mempersilahkan Datuk untuk segera mengobati luka-lukas di tubuh Satria.


Pengobatan di lakukan di dalam kamar Melisa dan Satria.


Tubuh Satria di urut, dan dibaluri oleh ramuan tradisional buatan Datuk.


Setelah cukup lama tubuhnya mendapat terapi tradisional, Satria pun tertidur lelap.


Datuk keluar dari kamar, menemui Steve dan Arya yang menunggu di ruang tamu.


"Terima kasih Datuk, telah membantu mengobati luka-luka anak saya," ucap Steve.


"Tak masalah, aku juga memberikan ramuan yang nanti harus ia minum pada malam hari sebelum tidur. Tadi sudah ku berikan pada istrinya," jawab Datuk.


"Baiklah, terima kasih datuk. Ini ada sedikit tanda terima kasih dari kami," Steve menyerahkan amplop berisi uang dengan jumlah yang sangat banyak.


"Aduh, ini kok banyak sekali?" Datuk jadi merasa tidak enak.


"Tidak apa Datuk, ini tidak seberapa dibanding pertolongan Datuk pada anak kami," Steve merasa sangat berterima kasih pada Datuk.


"Baiklah, kalau begitu saya terima ya pak. Sekali lagi terima kasih banyak. Jika masih butuh bantuan jangan sungkan untuk menghubungi saya," Datuk pamit pada Steve.

__ADS_1


Datuk pun akhirnya kembali pulang setelah ia menyelesaikan tugasnya mengobati Satria. Datuk pulang dengan diantar oleh Arya.


__ADS_2