Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Curiga


__ADS_3

Malam itu, akhirnya Melisa ikut pulang ke rumah Satria. Mereka menaiki taksi online yang sudah di pesan Melisa.


Sampai di rumah Satria tentu saja Melisa disambut hangat oleh kedua orang tua Satria dan Rian adik semata wayang Satria.


Malam ini, Melisa akan tidur di kamar Satria, sedangkan Satria akan tidur bersama Rian.


Di dalam kamar Satria, Melisa masih terkekeh mengingat sikap Satria yang jelas terlihat cemburu tapi tak mau mengakuinya.


"Apa aku harus semakin dekat dengan om Steve ya, biar Satria makin cemburu?" Ide gila terlintas di benak Melisa.


"Tapi kalau Satria marah gimana?" Ia menepis sendiri ide gila itu.


"Abis Satria lucu banget kalau lagi cemburu," Melisa menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia malu sendiri membayangkan Satria yang marah karena cemburu.


"Tapi kenapa dia cemburu sama om Steve?" Melisa masih asik dengan dugaan cemburu Satria, meski memang benar ada sedikit rasa cemburu. Namun sebenarnya Satria lebih mengkhawatirkan Melisa, karena mungkin saja Steve punya tujuan lain yang diduga ingin balas dendam.


Di kamar yang berbeda, Satria masih memikirkan hal itu.


"Bisa saja om Steve memang ingin balas dendam karena nyonya Natasya memutuskan hubungan mereka," batin Satria.


"Haruskah ku katakan ini pada nyonya Natasya?" Terlintas ide yang tanpa dia sadari membuat tubuhnya bergetar mengingat sentuhan lembut jemari Natasya. Sontak ia menggelengkan kepalanya cepat.


"Tidak, aku tak boleh bertemu wanita itu," Satria memeluk dirinya sendiri.


"Kenapa sih kak?" Rian yang tidur di sebelah Satria terbangun karena Satria terus saja bicara sendiri.


"Ah, maaf. Kakak membangunkan kamu ya? Tidurlah lagi," Satria mengusap-usap kepala adiknya agar tertidur kembali.


Setelah Rian kembali tidur, Satria duduk di ruang keluarga. Seorang diri. Tengah malam begini semua orang di rumah ini memang sudah tertidur. Meski sebenarnya, gadis yang kini berbaring di atas kasur di kamarnya juga belum tertidur.


"Apa aku harus menghubungi tuan Gunawan?" Gumam Satria. Ia masih belum bisa melepaskan pikirannya dari pria yang bernama Steve itu.


Entah mungkin karena cemburu atau memang firasatnya terlalu kuat hingga ia tak bisa membiarkannya begitu saja. Niat hati memang ingin membiarkan Steve, tapi setengah hatinya mengatakan agar terus mengawasi pria itu.


Bukankah orang tang terlihat sangat baik sekalipun bisa jadi jahat jika dia diperlakukan tak adil? Menurut Satria, saat ini Steve pasti merasa ada diposisi yang sangat dirugikan. Mengingat hubungan Steve dan Natasya sudah berjalan sangat lama. Namun kini ia malah ditinggal begitu saja oleh Natasya yang memilih untuk melanjutkan hubungan pernikahan bersama Gunawan.


Bisa saja Steve sakit hati, dan melampiaskannya pada Melisa. Hal inilah yang membuat Satria khawatir. Terlebih Steve seperti sangat lihai bersandiwara, ia memang terlihat tulus dan sayang pada Melisa.

__ADS_1


Tapi bagaimana jika Steve benar-benar tulus? Berarti ia sudah berburuk sangka pada Steve. Tapi bagaimana jika firasatnya yang benar.


"Aahhhh... tak tau lah," Satria pusing sendiri. Dengan sedikit kesal ia berjalan menuju kamarnya.


Satria perlahan membuka pintu kamar, ia mengintip dan melihat Melisa yang belum tidur dan terlihat Melisa sedang senyum-senyum sendiri dengan ponselnya.


"Kau sedang apa?" Tegur Satria.


Kaget mendengar suara Satria, Melisa reflek melempar ponsel miliknya.


"Satria, bikin kaget saja," Melisa mengelus dadanya.


"Kamu kenapa belum tidur?" Satria malah masuk dan duduk di tepi ranjang.


"Ah, belum ngantuk," Melisa mengambil ponselnya pelan-pelan dan terlihat ia menyembunyikannya di belakang tubuhnya.


Satria melihat gerakan Melisa dengan penuh curiga, namun berusaha untuk tetap tenang.


"Tidurlah, kita kan besok masih harus sekolah," mata Satria terus menatap tangan Melisa yang menyembunyikan ponselnya.


"Aku lupa belum membereskan buku buat besok," Satria bangun dari duduknya. Matanya sesekali masih melirik ponsel yang tersembunyi itu.


"Ah," Melisa mengangguk. Ia menarik selimut hingga ke lehernya. "Kalau begitu aku tidur dulu ya," Melisa menutup selimut hingga seluruh kepalanya masuk ke dalam selimut. Di dalam selimut, terlihat cahaya ponsel yang menyala. Melisa bermain ponsel di dalam selimutnya.


Entah mengapa Satria kesal melihat itu. Ia berjalan mendekati Melisa, lalu...


Sraaakkk...


"Satria..." Melisa melotot kaget saat Satria menarik selimut yang menutupi tubuhnya, ia meletakkan ponselnya di atas dada. Menghadapkan layarnya ke dalam dekapannya.


"Kau sedang apa?" Satria terlihat kesal.


"Aku hanya bermain ponsel," jawab Melisa santai.


"Bermain ponsel? Bukankah bermain seperti itu hanya akan membuat matamu rusak?" Satria.


Melisa lalu duduk dan bersandar pada tembok, ia melanjutkan aktifitasnya pada ponsel yang sengaja ia tutupi layarnya agar Satria tak bisa melihat apa yang ia buka.

__ADS_1


"Apa aku tak boleh tau apa yang kau lihat?" Satria benar-benar merasa jengkel.


"Kau mau apa lihat-lihat?" Melisa menjawab dengan acuh.


Satria mendesah kesal.


"Apa kau sedang berkirim pesan dengan seseorang?" Satria kini sudah naik ke atas kasur. Ia hendak mengintip layar ponsel Melisa.


Dengan sigap Melisa mendekap ponselnya. Lalu ia menggeleng. "Tidak, aku tidak berkirim pesan dengan siapapun."


Satria menatap Melisa penuh curiga. Lalu matanya tertuju pada ponsel Melisa.


"Kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" Satria menatap Melisa dengan serius.


Tapi Melisa malah mengalihkan pandangannya ke segala arah, berusaha menghindari tatapan Satria.


"Baiklah, teruskan!" Satria turun dari kasur, dan keluar dari kamarnya begitu saja tanpa menutup pintunya.


"Hei Satria, kau mau kemana? Katanya mau membereskan buku?" Panggil Melisa.


Terdengar suara pintu tertutup dengan sedikit keras.


Melisa terkekeh geli melihat kelakuan Satria.


"Ya kan kamu cemburu kan?" Melisa tertawa geli, tapi ia berusaha menahannya agar tak bersuara. Ia tak ingin membangunkan seluruh penghuni rumah karena mendengar ia tertawa.


"Lucu banget sih kamu," Melisa gemas sendiri membayangkan Satria yang pasti kini sedang sangat dongkol di dalam kamar Rian.


"Padahal aku kan gak buka apa-apa. Cuma lagi liat galeri yang isinya foto kita berdua," Melisa senyum-senyum sendiri melihat layar ponselnya. Ia memang sengaja memancing Satria seolah-olah dia sedang membuka sesuatu yang tak boleh Satria lihat.


Dan umpan yang ia lempar berhasil memancing rasa cemburu Satria keluar. Saat ini Satria pasti berpikir bahwa Melisa sedang berkirim pesan dengan Steve.


Malam terus berlalu, Melisa sudah tertidur sambil menyembunyikan ponselnya dalam dekapan.


Sementara itu, di depan pintu kamar Satria terus menatap ponsel yang digenggam erat oleh Melisa. Ia tak bisa tidur. Sebelumnya ia tak bisa tidur karena firasat buruknya pada Steve. Dan kini ia tak bisa tidur karena penasaran dengan apa yang di lihat Melisa di ponselnya.


Satria menghela nafas panjang. "Kenapa aku jadi seperti ini?" Satria akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamar Rian, namun sebelumnya ia menutup pintu kamarnya yang tadi tak ditutupnya saat ia keluar.

__ADS_1


__ADS_2