
Vino yang hendak berjalan menuju pelaminan segera dicegah oleh beberapa orang yang merupakan saudara Satria.
"Kalian siapa? Minggir! Jangan ikut campur urusanku!" Teriak Vino.
"Tentu saja kami harus ikut campur, kau mau buat masalah di tempat ini, di acara ini. Tentu kami tidak bisa tinggal diam," ucap salah satu keluarga Satria.
Paman dan bibi juga melihat keributan dari luar tenda, tentu saja bibi jadi panik melihat siapa yang membuat kericuhan itu.
"Pak, itu Vino pak... Aduh gimana ini? Dia pasti mau buat masalah di pestanya Satria," bibi yang panik menepuk-nepuk punggung suaminya agar segera mencari bantuan.
"Tenang bu, ibu masuk saja ke dalam rumah. Ini biar bapak yang urus," paman pun segera masuk ke dalam tenda. Sedangkan bibi menuruti perintah suaminya, ia masuk ke dalam rumah karena takut Vino akan mengamuk di sana.
Di dalam tenda, Vino kini diseret keluar oleh beberapa orang. Tentu saja hal itu membuat Vino semakin marah. Ia tak terima diperlakukan seperti itu oleh keluarga Satria.
"Awas kau ya Satria! Aku akan buat perhitungan!" Ancam Vino sebelum ia benar-benar pergi dari pesta Satria itu.
"Satria, dia itu kenapa sih?" Melisa bersembunyi dibalik punggung Satria karena takut melihat Vino yang berapi-api.
"Dia emang begitu, selalu buat masalah dengan siapapun. Padahal aku sebelumnya gak pernah punya masalah dengannya," ucap Satria.
"Satria, Melisa... Kalian gak apa-apa kan?" Tanya paman dengan panik.
"Kami gak apa-apa paman, tapi ngomong-ngomong Vino kenapa jadi begitu ya?" Satria balik bertanya.
"Sudah tidak usah dipikirkan, anggap saja iklan. Semuanya, maafkan kericuhan yang baru saja terjadi. Ayo silahkan nikmati kembali hidangan yang telah kami sediakan," paman tak hanya menangkan Satria dan Melisa. Ia juga menenangkan semua tamu yang hadir dan menyaksikan kericuhan itu.
Sebagian besar dari mereka sudah paham betul dengan watak Vino yang memang suka cari masalah. Jadi mereka merasa lega sekarang karena Vino sudah pergi.
Pesta pun kembali berjalan dengan baik, semua tamu tampak puas dengan hidangan yang disediakan oleh keluarga Satria.
Ada banyak sekali teman sekolah Satria semasa SMP dan SMA yang hadir ke pesta pernikahan itu. Mereka semua memuji kesuksesan Satria dan juga kecantikan Melisa.
Untungnya setelah Vino pergi, tidak adalagi keributan yang terjadi. Melisa dan Satria pun sudah mulai melupakan kejadian saat Vino hadir tadi.
__ADS_1
Waktu kini sudah menunjukkan pukul delapan malam, acara juga sudah hampir selesai. Hanya tersisa beberapa tamu undangan yang hadir. Mereka adalah teman-teman sekolah Satria yang memang baru sempat hadir di acara pada malam hari.
Selebihnya hanya tersisa keluarga besar Satria yang sedang bernyanyi riang menikmati malam yang meriah itu.
Satria dan Melisa bahkan diajak untuk ikut berjoget bersama di atas pelaminan.
"Mel, apa kamu mencium bau bensin?" Tanya Satria pada Melisa.
"Iya, apa di sini ada pom bensin?"
"Tidak ada, mungkin ada yang menumpahkan bensin di belakang sana," Satria menunjuk ke belakang pelaminan. Namun ia tak curiga sama sekali.
Satria dan Melisa pun melanjutkan tarian mereka. Semua orang tertawa bahagia malam itu. Hingga satu hal terjadi pada mereka.
Tiba-tiba saja ada kobaran api yang berasal dari arah belakang pelaminan. Ardi yang lebih dulu melihatnya, ia berlari menghampiri Satria dan Melisa yang masih menari di atas pelaminan.
"Satria! Awas, ada api!" Teriak Ardi.
Satria pun akhirnya menyadari ada kobaran api di sudut pelaminan. Ia segera menggandeng tangan Melisa untuk turun dari pelaminan.
Melisa mengangguk, ia berjalan cepat mengikuti kemana Satria membawanya.
Dalam sekejap, suasana pesta yang meriah berubah menjadi mencekam. Kobaran api yang semula kecil, sekarang merambat semakin besar.
Teriakan orang-orang di sana sini semakin membuat ricuh keadaan. Satria sudah berhasil membawa Melisa keluar dari tenda. Beberapa orang juga sudah membawa air untuk menyiram kobaran api yang semakin merambat hingga ke atas tenda.
"Cepat panggil pemadam kebakaran!" Perintah paman.
Seseorang akhirnya menghubungi pemadam kebakaran karena kobaran api yang kian menjalar dan sulit dipadamkan.
Para warga bahu membahu untuk memadamkan api, namun karena bensin yang disiram juga sepertinya tidak sedikit, api jadi semakin sulit padam. Tenda yang semula berdiri kokoh, kini perlahan rubuh dan jatuh.
Untung saja tenda itu berada di tengah lapangan, dan jauh dari pemukiman warga. Sehingga tidak akan menyambar ke rumah-rumah warga.
__ADS_1
Satu unit mobil pemadam kebakaran pun tiba, para petugas segera menyiram kobaran api yang kian membesar itu.
Beruntung, tak lama api bisa segera pada. Namun tenda beserta isinya hangus terbakar.
"Apa kalian semua baik-baik saja? Apa ada yang terluka?" Tanya paman.
Semua orang yang berada di sana mengamati dirinya dan keluarganya masing-masing. Untungnya tidak ada yang terluka. Termasuk Melisa dan Satria.
"Istriku, kamu baik-baik saja?" Tanya Satria dengan khawatir. Ia melihat setiap inci tubuh Melisa khawatir jika ada yang terluka.
"Aku baik-baik saja. Satria, kenapa acara kita jadi seperti ini?" Tanya Melisa dengan panik.
"Ini pasti ulah Vino, bibi yakin itu. Dia kan tadi sempat mengancam sebelum pergi kan?" Bibi nimbrung obrolan Satria dan Melisa.
"Tapi kenapa dia bisa tega melakukan itu?Apa salah kami?" Melisa masih syok dengan peristiwa yang terjadi.
"Kamu gak salah apa-apa nak, memang dia saja yang kurang waras. Satria, ajak Melisa masuk ke dalam kamar. Biar dia istirahat dulu, besok kan kalian juga harus kembali ke kota A kan?" Pinta bibi.
Satria menurut, ia pun membawa Melisa masuk ke dalam rumah dan menuju kamar mereka.
Di dalam kamar, si perias sudah menunggu keduanya.
"Ya ampun... Kalian gak apa-apa?" Tanya si perias dengan khawatir.
"Kami tidak apa-apa. Istriku hanya sedikit syok dengan apa yang baru saja terjadi," jawab Satria.
"Syukurlah, ku dengar itu ulahnya Vino ya? Memang gak ada kapoknya dia itu, padahal baru saja keluar dari penjara," ucap si perias.
"Susah kak, sudah wataknya begitu. Sekarang kakak tolong bantu istriku untuk mengganti pakaiannya dan menghapus riasannya ya, aku mau keluar dulu melihat situasi di luar," pinta Satria.
"Siap kak, tenang saja. Aku akan jaga istrimu di sini," jawab si perias.
"Baiklah, Mel... Aku tinggal dulu ya," Satria pamit pada Melisa.
__ADS_1
"Iya, kamu hati-hati ya," meski merasa berat melepas Satria, namun Melisa tetap membiarkan Satria pergi juga.
Melisa berpikir, toh ada banyak keluarganya ini. Jadi Satria pasti akan baik-baik saja. Tanpa Melisa sadari ada bahaya lain yang mengincar Satria.