
Satria terkejut melihat Melisa yang datang ke rumahnya dengan menggunakan hodie dan celana yang serba hitam. Kepalanya tertutup hodie, wajahnya juga tertutup dengan masker. Namun Satria tau pasti itu adalah Melisa.
Segera Satria berjalan ke arah pintu masuk, dan membukanya. Begitu pintu terbuka, dengan tergesa-gesa Melisa masuk ke dalam dan langsung menutup pintunya. Ia lalu mengintip ke luar dari jendela.
“Ada apa?” Tanya Satria bingung melihat Melisa.
“Aku takut ada yang mengikutiku ke sini,” Melisa masih fokus memperhatikan ke arah luar jendela. Setelah beberapa saat, Melisa bisa merasa sedikit lega karena tak ada yang mengikutinya sampai ke rumah Satria.
“Kenapa? Memang ada yang mengikutimu?”
“Aku tidak tau, aku harap tak ada yang menyadari siapa diriku jika aku berdandan seperti ini,” Melisa mendesah. Ia terlihat sangat lelah, lalu menyandarkan tubuhnya di tembok.
Melihat Melisa yang terlihat kelelahan, Satria berjalan ke arah dapur. Ia mengambil minum untuk Melisa.
“Minumlah,” Satria menyerahkan segelas air putih untuk Melisa.
“Terima kasih,” Melisa mengambil segelas air putih itu lalu meneguknya. Sekarang Melisa terlihat jauh lebih tenang.
“Kamu tidak sedang sibuk kan?” Tanya Melisa.
“Aku sedang belajar, ada apa?”
“Aku ke sini tentu saja ingin mendengar penjelasanmu. Waktu itu kamu bilang aku boleh datang lagi ke sini seorang diri, aku ke sini naik bis dari mall.”
“Mall?”
Melisa mengangguk. “Aku tadi pergi ke mall, aku khawatir ada yang mengikutiku. Jadi mobil ku taruh di parkiran mall, dan dari mall aku berganti pakaian lalu segera pergi ke rumah mu.”
Satria terdiam, ia tak tau harus bereaksi bagaimana mendengar cerita Melisa.
“Hey, jangan bengong,” Melisa melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Satria.
__ADS_1
“Aku tak bengong,” Satria membalik badannya kembali ke ruang tengah tempat ia belajar.
Melisa mengikuti. “Ibuku benar-benar tak penah datang ke rumah ini?”
“Mmm...” Satria hanya menjawab singkat.
“Kenapa?”
“Karena itu syarat dariku,” jawab Satria santai.
“Syarat?”
“Mmm... Tadinya aku ingin ikut bibi dan pamanku pulang ke kota B. Tapi nyonya Natasya bilang aku tinggal enam bulan lagi belajar, sayang kalau harus pindah. Nyonya Natasya ingin aku melanjutkan program beasiswa ini, dan dia juga memberiku tempat tinggal. Awalnya aku menolak, tapi nyonya Natasya memaksa dan akhirnya aku menerima dengan syarat dia tak boleh datang ke rumah ini,” Satria menjelaskan pada Melisa.
Melisa hanya terdiam mendengar penjelasan dari Satria. Ia tak menyangka, ibunya yang angkuh itu mau menuruti Satria. Melisa sadar, ibunya pasti sudah sangat jatuh hati pada Satria. Melisa mendesah.
“Kenapa?”
“Aku hanya tak habis pikir, bagaimana bisa sainganku adalah ibuku sendiri,” keluh Melisa.
Melisa mengangguk lemas membuat Satria tertawa.
“Dia bukan sainganmu, kamu gak punya saingan Melisa. Kamu satu-satunya yang aku suka,” Satria menatap Melisa dengan lembut.
“Sungguh?” Tanya Melisa ragu.
Satria mengangguk sambil tersenyum. Ia memang masih menyukai Melisa terlepas apa yang sudah dilakukan Gunawan padanya.
“Kalau begitu sekarang kamu cerita, semuanya. Hal yang tidak aku tau, tapi Stella dan gengnya tau,” Melisa menuntut Satria untuk menceritakan semuanya.
Satria menghela nafas panjang. Sebelumnya ia merapihkan semua buku-buku yang tergeletak di mejanya. Selesai merapihkan buku-buku dan alat tulisnya, Satria merubah posisi duduknya menghadap Melisa yang kini sudah mengambil kursi dan duduk di samping Satria.
__ADS_1
Satria menatap Melisa dengan wajah sendu. Ia sebenarnya tak siap jika harus kembali membuka luka di hati Melisa. Satria masih ingat bagaimana saat Natasya dengan teganya mengatakan bahwa ia tak pernah menginginkan Melisa, lalu bagaimana jika sekarang Melisa tau bahwa ayahnya adalah orang yang Munafik.
“Katakan Satria, ceritakan semuanya padaku. Aku sudah siap jika harus mendengarkan hal terburuk sekalipun,” dengan mata berbinar Melisa berharap Satria bisa menceritakan semua kejadian yang dialaminya saat ia harus dirawat di rumah sakit. Kejadian yang mengakibatkan Satria harus pindah ke rumah Natasya.
Akhirnya, secara perlahan dan hati-hati Satria menceritakan semua kronologi saat itu tanpa ada satu hal pun yang ia sembunyikan. Sambil terus menggigit bibirnya Melisa mendengarkan dengan seksama cerita Satria.
Saat Satria menceritakan dirinya dibawa ke rumah sakit oleh Natasya. Bahkan Natasya menjaganya selama di rumah sakit, juga membiayai semua biaya perawatan Satria. Melisa memajukan dirinya semakin mendekati Satria, ia memegang kaos yang dikenakan Satria.
Satria menoleh ke arah tangan Melisa yang kini tengah memegang kasonya di bagian perut. Melisa lalu mengangkat kaos yang dikenakan Satria hingga perutnya kelihatan. Ada luka bekas jahitan di sana. Melisa memegangnya lalu mengusapnya perlahan. Satria membiarkan perlakuan Melisa padanya.
“Apa masih sakit?”
Satria menggeleng, ia lalu menggenggam tangan Melisa. “Aku baik-baik saja Melisa,” Satria tersenyum hangat pada Melisa.
“Maafkan aku Satria, sepertinya yang tidak menyukaimu bukan ibuku. Tapi ayahku,” Melisa semakin merasa bersalah pada Satria.
Satria menggelengkan kepalanya, ia menatap Melisa dengan sangat lembut. “Ayahmu hanya terlalu menyayangimu Melisa,” Satria tak ingin Melisa membenci ayahnya. Bagaimana pun tujuan Gunawan melakukan semua ini padanya pasti karena Gunawan merasa Satria telah menyakiti putrinya.
“Kamu jangan membenci ayahmu ya,” Satria memohon pada Melisa.
Melisa hanya mendesah kasar, ia tak tau harus bagaimana sekarang. Semenjak kepergian keluarga Satria ayahnya memang selalu tampak sangat sibuk. Gunawan bahkan tak memiliki waktu untuk sekedar mengobrol dengan Melisa. Entah karena memang Gunawan sibuk atau sengaja ingin menghindari Melisa.
Melisa tampak sedang merenung, Satria jadi tak tega melihatnya. Namun memang ada satu hal yang tidak diceritakan Satria pada Melisa, yaitu kata-kata Natasya saat menjaganya di rumah sakit.
“Aku memang bukan orang yang baik Satria, tapi aku bukan orang munafik. Aku memperlihatkan diriku apa adanya, aku tak bisa berpura-pura baik pada orang yang tidak aku suka. Dan asal kau tau, untuk hal itu Gunawanlah jagonya,” itulah ucapan Natasya pada Satria.
Satria sengaja memendamnya, baginya sudah cukup cerita yang tadi ia katakan pada Melisa. Pasti sudah berhasil membuat Melisa sedih. Satria tak mau menambahkannya lagi dengan ucapan Natasya.
Natasya memang sudah mencari tau siapa orang yang menyuruh para pria itu menagih uang ganti rugi pada Satria, dan benar saja itu adalah perintah Gunawan langsung. Gunawan memang sepertinya sangat tidak menyukai Satria, terbukti dari ucapan cerita Natasya yang mengatakan bahwa saat dulu ia pernah menyuruh Satria menjauhi Melisa adalah atas perintah Gunawan.
Natasya sendiri sempat kaget saat tau Gunawan bersikap baik-baik saja pada Satria, bahkan terkesan menerima Satria apa adanya.
__ADS_1
“Ia memang selalu berhasil membuatku berbuat jahat, dan dialah yang akan berperan menjadi orang baiknya,” ucap Natasya kala itu.
Entahlah, apa yang dikatakan Natasya saat itu benar atau hanya menambahkan saja agar Satria membenci Gunawan. Yang pasti saat ini Satria harus ekstra hati-hati dengan siapa pun. Karena bisa saja orang yang terlihat baik sekalipun adalah orang yang sesungguhnya sangat jahat.