
Flashback
Sekitar delapan belas tahun yang lalu, saat itu Natasya baru saja tersadar dari tidur lelapnya, tiba-tiba perutnya terasa sangat mual. Ia tak tahan dengan rasa mual itu, ia segera berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi dalam perutnya.
Natasya terlihat sangat lemas setelah muntah. Ia terduduk di depan pintu kamar mandi. Tengah berpikir apa yang ia makan kemarin hingga kini perutnya menjadi terasa sangat tidak enak.
Natasya kembali ke kamarnya. Sesaat ia melirik kamar Gunawan yang pintunya masih tertutup rapat.
"Apa ia belum bangun?" batin Natasya.
Natasya merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tak lama ia mendengar pintu kamar sebelah terbuka.
"Dia bangun. Hah... aku lemas sekali, sepertinya aku harus ijin masuk hari ini," gumam Natasya.
Tanpa sadar, Natasya kembali terlelap. Hingga ia mendengar suara seseorang mengetuk pintunya. Ternyata itu adalah pelayan di rumah mereka.
"Non, sarapan dulu. Tuan sudah menunggu di ruang makan," ucap pelayan itu.
Dengan malas Natasya turun dari ranjangnya. Perlahan ia berjalan keluar dari kamarnya. Ia melihat Gunawan yang sudah rapih dengan stelan jasnya.
"Kau tidak bekerja?" Tanya Gunawan melihat Natasya yang baru bangun.
Dengan malas Natasya duduk di kursi yang berseberangan dengan Gunawan. Dia merasa badannya sangat lemas. Wajahnya bahkan terlihat pucat.
"Kau sakit?" Gunawan terlihat khawatir.
Natasya tak menjawab, dia memegang perutnya yang mendadak kembali merasa mual. Karena sudah tak tahan, Natasya akhirnya berlari ke kamar mandi. Ia kembali memuntahkan isi perutnya yang hanya terisi air.
Gunawan mengejarnya, "kau tak apa-apa?"
Setelah mencuci wajahnya, Natasya keluar dari kamar mandi. Tubuhnya terasa sangat lemas, hingga ia terjatuh. Beruntung Gunawan dengan sigap memegang Natasya, sehingga tubuh Natasya tak sampai mengenai lantai.
Natasya pingsan.
Gunawan dengan panik menggendong Natasya dan membawanya ke kamar.
"Fredy, tolong hubungi dokter!" Perintah Gunawan pada Fredy yang saat itu baru datang untuk menjemput bos nya. Dengan sigap Fredy segera menghubungi dokter keluarga.
__ADS_1
Sambil menunggu dokter datang. Gunawan duduk di samping Natasya. Mengusap lembut rambut istrinya itu.
Tak lama Natasya sadar, ia melihat Gunawan di sampingnya dengan wajah panik.
"Kau sudah bangun?" Gunawan terlihat sedikit lega.
Natasya melihat sekeliling, ia berada di kamarnya saat ini. Seingatnya Natasya tadi baru keluar kamar mandi namun mengapa sekarang ia berada di kamar?
"Kau kenapa? Kenapa tak bilang kalau sakit?" Gunawan mengusap wajah Natasya dengan lembut. Matanya menunjukkan kekhawatiran.
Natasya tersenyum, ia senang melihat Gunawan yang begitu peduli padanya. Meski Gunawan tak mencintai wanita itu, tapi Gunawan tak membencinya. Tentu saja Gunawan khawatir saat melihat Natasya sakit.
Ketika dokter datang, dokter segera memeriksa kondisi Natasya.
"Maaf nona, apa nona sudah telat datang bulan?" Dokter wanita itu berbisik ditelinga Natasya.
Natasya mengingat-ingat. "Iya, seharusnya minggu lalu ia sudah datang bulan," batin Natasya.
Natasya mengangguk membuat dokter itu tersenyum.
"Untuk memastikannya kita periksa saja ya nona," dokter itu mengeluarkan sebuah wadah kecil lalu meminta Natasya untuk ke kamar mandi.
Meski merasa bingung, Natasya menurutinya.
Gunawan yang bingung bertanya pada dokter setelah Natasya pergi ke kamar mandi.
"Ada apa dengan istri saya dok?"
"Kemungkinan nona hamil tuan, tapi untuk memastikannya kita akan memeriksa hasilnya melalui alat ini," jawab bu dokter sambil menunjukkan alat tes kehamilan.
Gunawan terpaku mendengar jawaban dari bu dokter. "Hamil?" Batinnya.
Setelah selesai, Natasya memberikan wadah itu pada bu dokter.
"Mari kita periksa," bu dokter memasukkan alat tes kehamilan pada wadah yang sudah berisi air seni Natasya.
Mereka menunggu dengan hati berdebar. Samar-samar dua garis merah mulai terlihat. Bu dokter terlihat sumringah, sedangkan kedua pasutri itu hanya terdiam tak mengerti apa maksudnya.
__ADS_1
"Selamat tuan dan nona. Nona Natasya kini tengah hamil," bu dokter memberi ucapan selamat pada keduanya.
Gunawan dan Natasya tersenyum canggung saat bu dokter menyalami mereka berdua.
"Untuk pemeriksaan selanjutnya, tuan dan nona bisa langsung datang ke rumah sakit menemui dokter kandungan. Untuk melihat kondisi janin dan lainnya," bu dokter memberikan surat rujukan untuk pergi ke dokter kandungan.
Setelah dokter pergi, Gunawan dan Natasya sama-sama diam.
"Bukankah ini yang kau mau?" Natasya menatap sinis pada Gunawan. "Syukurlah, setidaknya kita tak perlu melakukannya berkali-kali. Kau memang hebat," Natasya meninggalkan Gunawan yang masih diam mematung.
Meski Natasya selalu menampakkan wajah sinis nya pada Gunawan, tapi di dalam hatinya Natasya merasa senang. Akhirnya ia bisa mengandung anak Gunawan.
Sejak mereka menghabiskan malam bersama, Natasya mulai membuka hatinya pada Gunawan. Terlebih Gunawan akhir-akhir ini menjadi lebih perhatian padanya.
Di sisi lain, Gunawan memang senang karena akhirnya ia bisa mempunyai anak, tapi ia juga khawatir jika kekasihnya tau tentang kehamilan Natasya.
Selama ini, Gunawan selalu mengatakan pada Silvana bahwa hubungan suami istri ini hanyalah status. Ia dan Natasya bahkan tidur di kamar yang terpisah.
Tak terbayangkan jika Silvana tau dia telah menghamili Natasya, itu artinya Silvana akan tau bahwa dirinya dan Natasya pernah tidur bersama meski hanya satu kali.
Serapat apapun Gunawan mencoba menutupi, nyatanya kabar tentang kehamilan Natasya sudah beredar luas. Melihat bagaimana orang tua mereka yang terkenal dengan kesuksesannya dalam bisnis. Banyak media yang memberitakan tentang kehamilan Natasya. Pasangan suami istri yang sudah menikah selama lima tahun akhirnya akan memiliki momongan.
Dengan banyaknya berita yang beredar. Tentu saja berita tentang kehamilan Natasya ini dengan mudah sampai di telinga Silvana. Hal itulah yang membuat ia merasa sudah dikhianati oleh Gunawan. Gadis itu memutuskan untuk pergi meninggalkan Gunawan.
Setelah kepergian Silvana, Gunawan menjadi sering uring-uringan. Ia memerintahkan Fredy untuk mencari Silvana ke seluruh pelosok dunia. Gunawan bahkan tak pernah sekalipun memperhatikan Natasya yang kini tengah mengandung anaknya.
Selama sembilan bulan Natasya berjuang seorang diri. Steve lah satu-satunya orang yang selalu memberi motivasi pada dirinya. Bahkan Steve dengan setia mendampingi Natasya saat memeriksa ke dokter kandungan. Steve juga yang selalu mengingatkan Natasya untuk hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan ibu hamil.
Steve bagaikan seorang suami siaga yang setia mendampingi istri yang sedang hamil.
Natasya yang awalnya senang karena kehamilannya, kini ia menjadi benci dengan anak yang ada dalam kandungannya. Natasya bahkan pernah berniat untuk menggugurkan kandungannya. Jika saja Steve tak memberikan semangat padanya, mungkin hal itu sudah ia lakukan.
Semua ini karena ia terlalu berharap Gunawan akan lebih memperhatikan dirinya saat masa-masa kehamilan, tapi nyatanya Gunawan terus saja sibuk dengan kekasihnya.
Gunawan jarang sekali pulang ke rumah, Natasya berpikir Gunawan selalu bersama kekasihnya. Meski sebenarnya Gunawan sibuk dengan pekerjaan, Gunawan tak ingin berlarut-larut memikirkan kepergian Silvana karena semua sudah ia serahkan pada Fredy.
...***...
__ADS_1
Satu hal yang tidak Gunawan tau, Silvana tidak pergi jauh. Ia hanya bersembunyi di rumah seseorang yang ia kenal. Seseorang yang menjadi lawan bisnisnya. Lebih tepatnya gadis itu di sembunyikan.