
Hari sudah pagi, matahari kembali menampakkan sinarnya memasuki celah-celah jendela yang tertutup tirai. Hari ini hari libur, Gunawan yang masih lelap dalam tidurnya perlahan menggeliat. Ia meraba ruang kosong di sebelahnya.
Natasya sudah bangun, wanita itu tengah asik berendam di kamar mandi kini. Gunawan yang sudah membuka matanya duduk dan mencari sosok wanita yang semalam menemaninya tidur.
Natasya sudah keluar dari kamar mandi, ia hanya mengenakan baju handuk yang dadanya sengaja dibiarkan sedikit terbuka. Rambutnya digulung ke atas menggunakan handuk. Wanita itu melihat suaminya yang sudah bangun.
Berjalan mendekat, Natasya duduk di samping Gunawan yang matanya terus tertuju padanya.
"Apa jadwalmu hari ini?" Tanya Natasya.
Gunawan yang ditanya malah mencari ponselnya.
"Kau mencari ponselmu?" Natasya membuka laci meja di samping kasur, lalu mengeluarkan benda pipih berwarna hitam dari dalamnya.
Gunawan segera mengambilnya, ia mengecek ponselnya yang ternyata ada beberapa pesan masuk yang diterimanya.
Pesan masuk pertama dari Melisa, ia meminta ijin pada ayahnya karena akan menginap di Grand hotel bersama Amanda.
Pesan yang kedua dari Fredy yang mengatakan hari ini jadwalnya kosong. Semua jadwal dialihkan ke hari senin karena beberapa koleganya juga tidak bisa menemuinya di akhir pekan.
Gunawan menghela nafas lega, ada beberapa pesan juga dari koleganya yang belum ia buka isinya. "Hari ini hari libur, biarkan aku menikmati waktu liburku setelah sekian lama," batin Gunawan.
Natasya hanya memandang Gunawan yang sibuk dengan ponselnya, ia tersenyum mengingat kejadian tadi malam setelah mereka berdua masuk ke dalam kamar.
"Mengapa tersenyum?" Gunawan meletakkan ponselnya di atas meja.
"Sebenarnya apa yang kita lakukan di sini?" Natasya tersenyum getir.
"Kenapa? Kita masih sah menjadi suami istri," Gunawan menarik tangan Natasya, dan menjatuhkannya dalam pelukan. Wajah Natasya merona, namun ia berusaha menyembunyikannya di dada Gunawan yang polos tanpa pakaian.
"Lucu ya, semua pasangan berbulan madu saat baru menikah. Sementara kita berbulan madu saat akan bercerai," ucap Natasya masih dalam dekapan Gunawan.
"Apa kita harus tetap bercerai?" Gunawan memegang dagu Natasya menaikkannya hingga wajah Natasya terlihat jelas dihadapan Gunawan.
Natasya terdiam, kedua ya saling menatap. Gunawan mencium bibir Natasya dengan penuh nafsu. "Kau wangi sekali, aku jadi tergoda."
Gunawan mendorong tubuh Natasya hingga wanita itu terbaring di kasur. Gunawan membelai lembut wajah Natasya yang masih terlihat muda meski sudah berumur.
Gunawan kembali mengulang adegan tadi malam yang panas dan penuh gairah. Bahkan lebih panas lagi. Ketika tau bahwa Natasya sudah putus dengan Steve, Gunawan seakan tak rela melepaskan Natasya.
Natasya dengan senang hati membiarkan Gunawan melakukan apa yang dia mau, ia rela dan pasrah bahkan menikmati setiap kecupan yang mendarat di tubuhnya.
Aksi itu terus berlanjut hingga keduanya merasa puas dan terkulai lemah di atas ranjang. Gunawan mengecup kening Natasya, lalu memejamkan mata.
"Kau tak ada jadwal hari ini?" Natasya kembali menanyakan jadwal Gunawan.
Gunawan hanya menggeleng. Sepertinya tenaganya sudah terkuras habis setelah pertempuran panjang pagi ini.
"Apa kau mau menghabiskan waktu bersamaku?" Natasya.
__ADS_1
Gunawan mengangguk kali ini. Membuat Natasya tersenyum senang.
"Kau tak lapar?" Natasya.
Gunawan kembali mengangguk.
"Baiklah, ayo kita pesan makanan." Natasya sudah bangun dari tidurnya, ia mengambil kembali baju handuk yang tadi dilempar oleh Gunawan ke lantai. Setelah memakainya, Natasya menghubungi pihak hotel untuk membawakan sarapan pagi untuk mereka ke kamar.
"Kau mandilah dulu, aku sudah memesan makanan," Natasya menggoncang-goncang tubuh Gunawan. Gunawan tak bergeming, ia masih memejamkan matanya.
"Ayolah bangun, ada banyak hal yang ingin ku bicarakan denganmu," Natasya tak menyerah membangunkan Gunawan. Ia bahkan menyibakkan selimut yang menutupi tubuh Gunawan yang polos.
Gunawan akhirnya terbangun ketika Natasya dengan berani mengekspos tubuhnya yang ideal.
"Baiklah, aku mandi dulu. Kau memangnya mau bicara apa?" Gunawan berjalan menuju kamar mandi tanpa memakai sehelai pakaian pun.
Natasya tertawa melihat tingkah Gunawan yang sangat menggemaskan baginya.
Setelah mandi, Gunawan sudah rapih dengan stelan kemeja yang ia kenakan semalam. Sarapan pun sudah tersedia, keduanya makan tanpa bicara sepatah kata pun.
Setelah selesai, Natasya menarik tangan Gunawan mengajaknya ke balkon hotel.
"Kau mau bicara apa?" Gunawan bersandar di pagar balkon, menatap Natasya yang berdiri dihadapannya.
"Apa kau benar-benar akan menceraikan aku?" Natasya.
"Kenapa? Kau tak mau? Bukankah kemarin kau tak protes saat aku mengajakmu bercerai?" Gunawan.
"Kenapa? Kau tak ingin bercerai?" Gunawan.
Natasya mengangguk.
"Kenapa?" Gunawan.
"Apa kau tak merasakan hal yang sama?" Natasya melingkarkan kedua tangannya di leher Gunawan.
"Apa?" Gunawan.
"Debaran, aku merasa seperti jatuh cinta lagi," Natasya menatap lekat mata Gunawan.
Gunawan tak menjawab, namun tangannya sudah memegang pinggul Natasya. Ia bahkan memberikan tatapan hangat pada wanita itu.
"Apa hanya aku yang merasakan hal ini?" Natasya.
Gunawan tersenyum. "Apa kau benar jatuh cinta padaku?"
Natasya mengangguk yakin.
"Bukannya kau tidak ingin bercerai dariku karena hartaku?" Gunawan.
__ADS_1
Natasya melepaskan pelukannya. Ia berjalan menjauhi Gunawan. Senyumnya hilang seketika.
"Kau pikir aku wanita miskin yang mengemis harta padamu?" Tanya Natasya sinis.
Gunawan berjalan menghampiri Natasya yang kini membelakanginya. Pria itu sudah memeluk tubuh ramping istrinya dan meletakkan dagu di bahunya.
"Syukurlah kalau bukan, itu artinya kau benar-benar jatuh cinta padaku," Gunawan tersenyum.
"Kau senang? Membuatku jatuh cinta saat kita akan bercerai?" Natasya masih terlihat sinis.
"Apa benar kau sudah putus dengan Steve?" Gunawan malah mengalihkan pembicaraan mereka.
"Tentu saja, kalau tak percaya kau telpon saja dia," gerutu Natasya.
"Apa dia baik-baik saja saat kau putuskan?" Gunawan.
"Tentu saja dia tidak terima, selama ini dia memang selalu menemaniku. Tentu saja dia marah saat aku memutuskannya secara sepihak," Natasya.
"Kau bilang apa padanya?" Gunawan.
"Aku bilang aku terus memikirkanmu, dan aku ingin kembali padamu," Natasya.
"Wah, jujur sekali ya kamu," Gunawan menyeringai.
"Tentu saja, untuk masalah perasaan aku tak pernah bohong," Natasya.
"Baguslah, lalu apa dia menerimanya?"
"Steve bilang, jika kau mencabut tuntutan cerainya. Maka ia akan berusaha merelakan aku," Natasya membalikkan badan menatap Gunawan yang masih belum melepaskan pelukannya.
"Apa kita harus tetap bercerai?" Natasya bertanya dengan nada serius.
"Apa kau mau menjadi istri dan ibu yang baik?" Gunawan balik bertanya.
Natasya diam saja.
Gunawan menanti jawaban Natasya, tatapannya tak lepas dari wanita itu.
"Aku akan berusaha menjadi istri yang baik, tapi aku tak yakin bisa menjadi ibu yang baik. Melisa sepertinya tak mau memaafkan aku," Natasya terlihat cemberut.
"Sabar, anak itu butuh waktu. Jika memang kau ingin hubunganmu dengannya membaik, kau harus mendekatinya dengan tulus," Gunawan membelai rambut Natasya.
"Jadi kita tidak jadi bercerai?" Tanya Natasya dengan penuh semangat.
Gunawan mengangguk.
Natasya lalu mengecup bibir Gunawan. "Kau mau memancingku?"
Gunawan sudah membopong tubuh istrinya kembali ke dalam kamar. Mereka melanjutkan romansa suami istri yang tertunda sekian tahun lamanya.
__ADS_1
Percayalah, cinta memang bisa merubah watak seseorang yang tadinya keras menjadi lunak. Cinta juga bisa membuka pintu hati yang tadinya tertutup. Dan cinta juga bisa menumbuhkan kembali hati yang sudah layu agar bisa bersemi kembali.