Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Membuka Rahasia


__ADS_3

Melisa mencoba meredam emosinya, ia menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Mel, kalau kamu mau menginap aku gak apa-apa," ucap Dion mendekati Melisa.


Sementara itu Natasya hanya bisa membelai lembut tangan Melisa. Ia berharap emosi Melisa bisa hilang.


"Aku gak ngerti kenapa ayah seperti ini? Dulu ayah orang yang paling mendukung apapun yang mau aku lakukan. Tapi sekarang?"


"Manusia bisa berubah Mel," Steve ikut mendekati Melisa.


"Tapi om, bukankah ini terlalu berlebihan? Aku sudah dewasa, aku seharusnya bebas menentukan apapun keinginanku!"


"Mel, sebaiknya kamu pulang saja dulu. Masalah seperti ini harus kalian bicarakan baik-baik," ucap Natasya.


Melisa menatap ke arah ibunya, wanita yang dulu ia kenal sangat arogan kini menjadi terlihat lebih bijaksana. Apa karena penyakit yang kini dideritanya atau karena pengaruh dari Satria?


"Tapi melihat sikap ayah yang seperti ini aku jadi tak ingin pulang," Melisa menundukkan wajahnya.


Setelah berkata seperti itu, tiba-tiba ponsel Melisa berdering. Itu panggilan masuk dari ayahnya.


Melisa yang malas karena perkataan ayahnya tadi, tentu saja mengabaikan panggilan masuk itu.


Karena Melisa tak menerima panggilan darinya, Gunawan mencoba menghubungi Dion.


"Ayahmu menghubungiku," Dion memperlihatkan layar ponselnya pada Melisa.


"Tak usah dijawab!" Ucap Melisa.


"Mel, kamu tak boleh menghindar dari masalah ini. Suatu saat kamu harus menghadapi ayahmu," nasihat Natasya.


"Aku selama ini sudah menahannya mah, aku berusaha seakan semuanya baik-baik saja. Tapi setiap kali melihat Satria, hatiku terasa sangat sakit. Bagaimana bisa orang yang aku cintai dihancurkan hidupnya oleh orang yang selalu ku percaya?"


Emosi Melisa kembali meledak-ledak.


"Mel," Natasya memeluk Melisa untuk meredam emosinya.


Sedangkan Dion dan Steve hanya bisa terdiam, mereka tau pasti bagaimana perasaan Melisa saat ini. Ia mungkin tak punya pilihan saat itu, namun sekarang ia bukan lagi gadis remaja yang harus selalu mematuhi perkataan orang tuanya. Melisa sudah dewasa dan sudah berhak untuk menentukan pilihannya sendiri.


Natasya melepaskan pelukannya, ia menatap mata Melisa yang masih diselimuti emosi.


"Mamah tau kamu pasti berat menjalani semua ini, jika memang kamu ingin mengakhiri katakan semuanya pada ayahmu," ucap Natasya dengan lembut.


Melihat kehangatan dari mata ibunya, kehangatan yang sebelumnya tak pernah ia rasakan. Kini terpancar dengan jelas kehangatan seorang ibu yang selama ini Melisa rindukan.


Natasya sudah berubah. Dulu, jangankan mendapat belaian kasih sayang dari seorang ibu. Bahkan untuk sekedar bertemu saja sulit sekali rasanya.


"Aku harus apa mah?"


"Bicarakan baik-baik dengan ayahmu, bagaimana pun ayahmu melakukan semua ini karena sangat menyayangi kamu," nasihat Natasya.


Melisa terdiam, apa yang diucapkan oleh ibunya itu sama persis dengan apa yang dikatakan Satria dulu. Saat Melisa pertama kali tau bahwa ayahnya lah dalang di balik kecelakaan mobil keluarga pak Joni.


"Ibumu benar Mel, setidaknya coba bicarakan baik-baik dengan ayahmu," Steve menyetujui nasihat Natasya.


"Kamu gak perlu takut Mel, ada aku yang akan menemani kamu," Dion menimpali.

__ADS_1


"Baiklah, maaf mah aku belum bisa menginap malam ini," ada rada sedih di raut wajah Melisa.


"Tidak apa sayang, selesaikan dulu masalah kamu dengan ayahmu. Supaya kedepannya tidak perlu lagi ada perdebatan tentang apapun pilihan kamu," Natasya tersenyum ramah.


Namun dibalik senyuman itu, wajah Natasya terlihat sangat pucat.


"Mah, mamah baik-baik saja?" Melisa merasa khawatir melihat ibunya yang berwajah pucat.


"Ibumu baik-baik saja, kamu tak perlu khawatir. Kan ada om disini yang jagain ibumu," ucap Steve saat melihat kekhawatiran di wajah Melisa.


"Benar sayang, mamah hanya merasa sangat lelah," Natasya ikut menenangkan.


"Kalau begitu mamah istirahatlah, aku akan pulang dulu."


Natasya mengangguk lemah.


"Om, kalau ada apa-apa kabarin aku ya!" Pinta Melisa pada Steve.


"Kalau Melisa tidak bisa dihubungi, kabari aku saja om," ucap Dion.


Steve hanya mengiyakan keduanya.


Setelah berpamitan, Melisa dan Dion pergi meninggalkan rumah milik Natasya itu. Natasya yang merasa mulai lemah, bersandar di pelukan Steve.


"Kamu istirahat ya," ucap Steve.


Natasya mengangguk. Steve lalu membopong Natasya masuk ke dalam kamarnya.


Di perjalan pulang, Melisa dan Dion sama-sama diam. Melisa masih terlihat kesal karena ucapan ayahnya tadi. Sedangkan Dion yang berusaha fokus untuk mengendarai mobil, terus saja terpikirkan tentang obrolannya dengan Steve tadi.


Melisa tau, Fredy menghubunginya karena ayahnya yang meminta. Karena tak biasanya Fredy menghubunginya di luar jam kantor, kecuali ada sesuatu yang mendesak.


Melisa akhirnya menjawab panggilan itu.


"Halo?"


"Nona, anda dimana?"


"Di jalan, mau pulang ke rumah."


"Nona bersama tuan Dion kan?"


"Mmm..."


"Sebenarnya nona pergi kencan kemana? Tuan Gunawan menghubungi saya sambil marah-marah."


"Aku ke rumah ibuku," jawab Melisa singkat.


"Nona, anda sudah tak ingin melihat saya lagi?"


"Hah?" Melisa mengernyitkan dahinya.


"Saya terancam dipecat karena tak tau kalau anda pergi ke rumah nyonya Natasya," suara Fredy terdengar khawatir.


"Maaf, kamu sebaiknya cari saja pekerjaan yang lain. Aku rasa, pengabdian mu pada ayahku selama ini hanya sia-sia," ucap Melisa.

__ADS_1


"Maksud anda nona?"


Melisa tak menjawab, ia langsung mematikan sambungan telepon itu.


"Siapa?"


"Fredy."


"Kenapa kamu suruh dia cari pekerjaan lain?"


"Ayahku mengancam akan memecat Fredy karena tidak tau aku pergi ke rumah ibuku," jawab Melisa.


"Segitunya?"


"Sekarang sepertinya ayahku akan memperlihatkan sisi asli dirinya. Kamu harus bersiap Dion," Melisa menoleh ke arah Dion.


Dion lalu menepikan kendaraannya. Ia menatap Melisa penuh tanda tanya.


"Mel, jawab jujur pertanyaan aku," pinta Dion.


Melisa mengangguk.


"Apa kamu terpaksa menerima lamaran dariku?"


"Kamu sudah tau kan jawabannya."


Dion tersenyum getir.


"Lalu apa kamu mau melanjutkan hubungan ini?"


"Tentu saja tidak, jika kamu bersedia kita akhiri saja hubungan ini."


Dion tertegun, ia tak menyangka Melisa akan mengakhiri hubungan mereka saat ini juga.


"Dion, maafkan aku. Aku tau kamu sangat menyukai aku. Tapi aku tak ingin kamu semakin terluka. Lagi pula, aku sudah tak perawan lagi."


Dion mengernyitkan dahinya.


"Apa kamu bilang?"


"Aku pernah tidur dengan Satria," Melisa mengatakannya tanpa beban atau merasa tak enak pada Dion.


Tentu saja Dion semakin terkejut.


"Mel, kamu mengatakan ini hanya agar aku mundur?"


Melisa menggelengkan kepalanya.


"Aku mengatakan yang sebenarnya," Melisa menatap serius.


"Kapan?" Dion yang kaget hanya bisa bertanya hal itu pada Melisa.


"Saat kita di luar negeri," jawab Melisa santai.


Dion mencoba mencerna kata-kata Melisa, setau Dion, Melisa sama sekali tidak berhubungan dengan Satria selama kuliah di sana.

__ADS_1


__ADS_2