Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Liburan di Luar Negeri


__ADS_3

Ini kali pertamanya bagi Satria, Mia dan Astrid menaiki pesawat. Ketiga remaja itu tampak sangat tegang selama pesawat mengudara. Setelah lima jam perjalanan udara, mereka akhirnya tiba di bandara internasional negara XXX.


Cuaca saat itu sangat cerah, cocok sekali untuk pergi berlibur ke sebuah negara beriklim subtropis. Meski cuaca sangat cerah, namun hawa dingin tetap sangat terasa di tubuh mereka.


Natasya membawa murid-muridnya itu pergi ke sebuah hotel yang letaknya tak jauh dari bandara internasional. Mia dan Astrid tidur di kamar yang sama, sedangkan Satria mendapat kamar seorang diri.


Karena mereka sampai di hotel pada sore hari, maka hari itu mereka hanya akan menghabiskan sisa hari di dalam hotel aja untuk beristirahat. Dan keesokan harinya, Natasya membawa ketiga muridnya itu melihat-lihat kampus tempat mereka akan mendaftar sekolah nanti.


"Lihatlah baik-baik. Ini adalah tempat kalian kuliah nanti. Bagaimana?" Tanya Natasya pada ketiga muridnya.


Baik Satria, Mia maupun Astrid hanya bisa terdiam tak sanggup berkata-kata. Universitas internasional itu sungguh sangat besar. Gedung utama yang mereka datangi merupakan bangunan tertua di universitas itu. Terlihat jelas dari desain bangunan yang klasik namun mewah, membuat siapapun yang memandangnya akan kagum dengan desain bangunan itu.


Universitas itu mempunyai banyak sekali jurusan, tiap jurusan memiliki bangunannya sendiri. Halaman yang luas dan tampak asri, sejenak mampu memanjakan mata karena keindahannya. Mereka melihat banyak mahasiswa yang sedang berdiskusi di bawah pohon yang rindang. Ada juga yang tengah membaca sambil menikmati cahaya matahari pagi itu di halaman kampus.


Satria, Mia, dan Astrid dibuatnya terpesona dengan aktivitas mahasiswa kampus ternama itu. Sejauh ini, mereka hanya bisa melihat-lihat dari luar bangunan saja.


"Nanti kalau kalian sudah jadi mahasiswa di sini, baru kalian bisa masuk ke dalam gedung," ucap Natasya.


Ketiganya mengangguk paham. Bagi mereka bisa melihat langsung gedung universitas internasional ini saja sudah sangat luar biasa, apalagi jika nanti benar-benar bisa keterima di kampus ini.


Satria memperhatikan dengan seksama setiap gedung yang mereka lewati, beruntung Natasya mengajak berkeliling dengan menggunakan mobil sehingga mereka tidak lelah mengelilingi kampus yang sangat besar itu.


Natasya yang mengendarai mobil, beberapa kali melirik ke arah Satria yang sedang terkagum-kagum melihat bangunan besar kampus. Natasya tersenyum, ia melihat tekad di wajah Satria untuk masuk ke kampus ini sangat besar. Sedangkan untuk kedua muridnya di kursi penumpang tak terlalu ia perhatikan.


Natasya sama sekali tak peduli jika dua muridnya yang lain bisa atau tidak masuk kampus itu. Natasya hanya bertekad akan membantu Satria seorang. Sedangkan Mia dan Astrid hanya ia gunakan sebagai pelengkap saja.


"Bagaimana? Kau suka kampus ini?" Tanya Natasya pada Satria.


Satria menoleh ke arah Natasya. "Iya nyonya, tempatnya bagus sekali. Terima kasih telah mengajak saya ke kampus ini, semangat saya jadi meningkat berkali-kali lipat."


Natasya tersenyum, "tentu saja, aku yakin kau pasti bisa masuk ke kampus ini."


"Saya juga nyonya, saya jadi semakin bersemangat," ucap Mia yang duduk di belakang Satria.

__ADS_1


"Begitupun saya nyonya," Astrid tak mau kalah.


Natasya hanya tersenyum menanggapi ucapan Mia dan Astrid.


Puas melihat-lihat kampus yang luas itu, Natasya membawa mereka makan di sebuah restoran tak jauh dari kampus. Dilihat dari penampilan restoran, nampaknya itu adalah restoran mewah.


Dan benar saja, menu yang tertera di sana pun sangat asing bagi para murid beasiswa ini. Mereka kesulitan menentukan menu untuk mereka pilih. Akhirnya Natasya yang memesankan mereka menu yang sekiranya cocok dengan lidah murid-muridnya ini.


Setelah makan siang, mereka kembali berkeliling di daerah sekitaran kampus. Mereka juga mendatangi lokasi dimana asrama kampus berada. Dan mereka baru kembali ke hotel setelah makan malam.


Begitu juga jadwal selanjutnya, mereka hanya akan menghabiskan waktu seharian di luar. Mengunjungi beberapa tempat wisata dan kembali saat malam hari.


Selama berada di luar negeri, Satria tak pernah lupa untuk menghubungi keluarganya setiap malam. Satria melakukan panggilan video melalui ponsel Rian. Ia akan bercerita tentang kesehariannya di luar negeri.


"Kak, nanti kalau pulang jangan lupa beli oleh-oleh ya," pinta Rian.


"Iya, tenang saja. Nanti kakak beliin," jawab Satria. "Ibu sama ayah mana dek?"


"Ayah lagi di luar kak, ngobrol sama bapak-bapak di sini. Kalau ibu lagi di dapur umum, bantu-bantu masak sama ibu-ibu yang lainnya," ucap Rian.


"Iya kak," panggilan video pun berakhir.


Tak lama setelah itu, terdengar suara pintu diketuk. Satria segera menghampiri pintu dan membukanya.


"Malam," Natasya tersenyum lebar saat Satria membuka pintunya.


"Nyonya, ada apa?" Tanya Satria.


"Kau belum tidur?" Natasya menerobos masuk ke dalam kamar Satria.


"Belum nyonya, ada apa?" Satria nampak sedikit panik karena Natasya yang tiba-tiba masuk ke kamarnya.


Satria menoleh ke arah kanan dan kiri lorong, untung saja saat itu tidak ada siapa-siapa di sana. Karena kamar Mia dan Astrid tepat berada di samping kamar Satria.

__ADS_1


"Ada apa nyonya?" Satria tetap membiarkan pintunya terbuka, ia berjalan masuk mengikuti Natasya yang kini sudah duduk di atas tempat tidur.


"Bagaimana tempat ini? Kau suka?"


Satria mengangguk.


"Syukurlah, lalu bagaimana dengan kampusnya? Kau sepertinya semakin menggebu-gebu untuk masuk ke sana," ucap Natasya.


"Pastinya nyonya, melihat langsung universitas ternama itu membuat saya semakin merasa bersemangat. Rasanya tak sabar menjadi bagian dari universitas internasional," Satria benar-benar terlihat sangat bersemangat.


"Kau tak lelah berdiri di situ?"


"Saya baik-baik saja nyonya," jawab Satria yang masih berdiri dengan bersandar pada tembok menghadap Natasya.


"Kau tak suka aku datang ke kamarmu malam-malam begini?"


"Kalau boleh jujur, iya nyonya," jawab Satria jujur.


"Baiklah, aku tak akan melakukan hal-hal tak kau suka," Natasya bangun dari duduknya dan menghampiri Satria.


"Padahal aku sudah menahan diri selama beberapa hari kita di sini," Natasya berhenti tepat di hadapan Satria lalu melingkarkan tangannya di leher Satria.


"Maaf nyonya, saya merasa tidak nyaman jika begini." Satria berusaha melepaskan tangan Natasya sambil sesekali menoleh ke arah pintu, khawatir ada yang melihat mereka.


"Baiklah, aku tak akan membuatmu tak nyaman. Istirahatlah Satria, besok kita akan pergi ke tempat yang jauh," sebelum melepaskan tangannya Natasya tersenyum genit pada Satria.


Satria sudah bisa bernafas lega melihat Natasya yang sudah keluar dari dalam kamarnya. Sebenarnya ia sudah menduga Natasya akan menghampirinya saat berada di dalam kamar seorang diri.


Namun karena sejak pertama kali ia menginap, Natasya tak pernah mendatanginya. Satria jadi lengah. Malam ini ia kecolongan membiarkan Natasya masuk ke kamarnya.


Beruntung tak ada yang terjadi di antara mereka.


Sementara itu, Natasya yang baru saja meninggalkan kamar Satria tersenyum senang. Ia bahkan merasa sangat gemas saat melihat Satria yang panik karena di dekati olehnya.

__ADS_1


"Oh Satria kau semakin menggemaskan saja," ucap Natasya sambil terus tersenyum sendiri sepanjang perjalanan menuju kamarnya.


__ADS_2