
Pagi-pagi sekali Melisa sudah datang ke sekolah, ia sengaja datang pagi-pagi dan menunggu Satria datang di parkiran sekolah. Ia sangat ingin tau, kemana Satria selama ini?
Mengapa Satria tak pernah mengatakan apapun pada Melisa mengenai kepindahannya?
Cukup lama Melisa menunggu di dalam mobilnya, akhirnya Satria datang dengan memakai motor matic berwarna hitam keluaran terbaru. Melisa segera turun dari mobilnya dan menghampiri Satria.
"Motor baru?" Tanya Melisa.
Satria yang kaget mendengar suara Melisa, hanya menoleh sekilas. Ia lalu turun dari motor dan berjalan melewati Melisa yang sejak tadi menunggunya.
"Kamu tinggal dimana sekarang?" Tanya Melisa lagi.
Satria tak menjawab, ia terus saja melangkahkan kaki meninggalkan Melisa.
Melisa tak membiarkan Satria berlalu begitu saja, ia mengejar Satria dan berjalan di samping Satria.
"Kenapa sih ngehindarin aku terus?" Melisa masih terus bertanya meski diabaikan oleh Satria.
"Kamu masih berhubungan sama ibuku?" Pertanyaan itu berhasil membuat Satria menghentikan langkah kakinya.
Melisa tersenyum. Ia kini berdiri tepat di hadapan Satria.
"Mau apa kamu tanya-tanya soal aku? Mau menghinaku setelah tau banyak tentangku?" Tanya Satria dengan sinis.
"Aku tak begitu, tentu saja karena aku khawatir padamu," jawab Melisa.
"Khawatir? Kau tak usah sok peduli padaku, aku memang orang susah dan hina. Aku tak pantas berada di sekitarmu, jadi sebaiknya kamu menjauhiku. Tak perlu berlaga perhatian, karena aku tak membutuhkan itu," Satria berkata sinis pada Melisa.
Melisa tertegun mendengar ucapan Satria, ia sama sekali tak tau mengapa Satria bisa menjadi sedingin ini. Apa karena ia kehilangan keluarganya?
"Kamu kenapa sih Satria? Aku salah apa sama kamu?"
"Kesalahan kamu cuma satu, yaitu kenal sama laki-laki macam aku," Satria kembali melanjutkan langkah kakinya.
Melisa masih berusaha mengejar Satria, ia tak peduli jika nanti Satria akan benar-benar marah padanya. Yang Melisa inginkan hanyalah sebuah kejelasan, mengapa Satria memperlakukannya seperti ini.
__ADS_1
"Kamu boleh marah sama aku, itu hak kamu. Tapi tolong Satria, setidaknya jelaskan padaku. Mengapa kau jadi seperti ini?" Melisa menghadang Satria.
Satria menghela nafas panjang. Dia menatap Melisa dengan sangat intens.
"Maafkan aku Mel," hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut Satria. Satria pun kembali pergi meninggalkan Melisa.
Melisa terdiam, ia hanya menatap kepergian Satria hingga hilang dari pandangan matanya. Dan tiba-tiba saat Melisa hendak melangkahkan kakinya, seseorang menahannya. Itu adalah Stella, yang diikuti oleh geng nya.
"Kasian deh dicuekin sama pujaan hati," ledek Stella.
Melisa hanya menatap jengah pada Stella.
"Makanya, bilang sama bokap elu tuh. Gak kasian apa sama Satria, katanya boleh tinggal di rumah itu sampai Satria lulus. Eh kenapa tiba-tiba di usir? Padahal baru sehari orang tuanya meninggal," ucap salah satu gerombolan Stella dengan mimik yang dibuat sedih.
Melisa mengernyitkan dahinya. "Diusir? Siapa? Satria?"
"Iyalah, kita emang lagi ngomongin siapa?" Balas yang lainnya.
"Melisa, coba kamu tanya sama ayahmu. Mungkin beliau lebih paham," ucap Stella perlahan seraya merapihkan pakaian Melisa.
"Maksud kalian apa sih?" Melisa sama sekali tak mengerti maksud perkataan Stella dan gengnya.
"Kayanya, elu emang bener-bener ga tau apa-apa ya Mel? Mau kita kasih tau?" Tanya Stella. Kini tangan Stella sudah berada di bahu Melisa.
Melisa tak menjawab, ia hanya diam menatap Stella yang kini tengah merangkulnya.
"Denger baik-baik ya Melisa, jadi sehari setelah orang tua Satria meninggal. Kita semua pergi ke rumah Satria untuk mengucapkan bela sungkawa. Dan saat kita di sana, ada satu kejadian yang sudah pasti membuat Satria sangat malu," Stella bercerita dengan sedikit berbisik di telinga Melisa.
Melisa hanya mendengarkan sambil terus menatap Stella.
"Kamu tau apa?"
Melisa hanya terdiam.
"Oh, kamu gak tau ya? Jadi, orang-orang dari kantor ayahnya Satria yang notabene adalah anak buah ayahmu datang ke rumah Satria. Mereka datang bukannya mengucapkan bela sungkawa, tapi malah menagih uang ganti rugi mobil perusahaan yang hancur karena dibawa oleh ayahnya Satria."
__ADS_1
Melisa menatap Stella tak percaya.
"Ah, ga cuma itu. Satria juga diminta segera mengosongkan rumah itu, karena orang yang akan menggantikan ayahnya Satria akan datang dan menempati rumah itu," Stella mengakhiri informasinya.
"Kamu bohong kan?" Melisa menarik kerah baju Stella.
"Kamu ga percaya? Tanya aja sama Satria, ah... Satria mungkin sudah tak sudi melihatmu lagi, kau tau kenapa? Karena kau juga tak beda jauh dengan ayahmu, kalian orang-orang yang gak punya perasaan. Yang hanya bisa memberi derita di atas luka," jawab Stella sambil tersenyum dengan liciknya.
Melisa menatap geram pada Stella, ia lalu melepaskan cengkraman tangannya pada kerah baju Stella dan mendorongnya. Membuat Stella jatuh tersungkur ke lantai.
Semua gerombolan Stella datang menghampiri Stella dan membantu Stella berdiri, dan sebagian lainnya balik mendorong Melisa. Namun Stella hanya tertawa melihat wajah geram Melisa.
"Biarkan dia, cukup ini saja informasi yang kita kasih. Selebihnya, kamu gak perlu tau," Stella mengibaskan roknya dan kemudian berlalu meninggalkan Melisa yang masih menatapnya dengan geram, diikuti gerombolannya di belakang.
Tak lupa mereka mengejek Melisa sebelum meninggalkan Melisa. Berbagai kata kasar terlontar dari mulut mereka untuk Melisa.
Setelah gerombolan Stella pergi, Melisa menghela nafas panjang. Wajahnya tertunduk, matanya terpejam. Dalam hatinya ia bertanya, apakah benar yang dikatakan Stella?
Melisa berinisiatif untuk menemui Dion, karena Dion lah satu-satunya orang yang saat ini bisa ia ajak bicara. Melisa melewati kelasnya dan berjalan menuju kelas Dion.
"Mel?" Dion yang saat itu ada di luar kelas segera menghampiri Melisa begitu melihat Melisa berjalan mendekatinya.
"Kamu kenapa?"
"Dion, apa kamu tau sesuatu tentang Satria?"
"Satria kenapa?" Dion malah balik bertanya.
"Stella bilang, Satria udah ga tinggal lagi di rumahnya karena di usir oleh orang-orang dari kantor ayahnya. Apa itu benar?" Melisa hanya ingin memastikan perkataan Stella tadi benar.
"Aku gak tau Mel, sejujurnya aku juga belum mengucapkan bela sungkawa pada Satria. Saat kejadian itu, aku sedang berada di luar kota. Dan saat aku hendak menemuinya saat masuk sekolah, tapi dia malah mengabaikan aku."
Melisa mendesah, ia tertunduk lemas. Pikirannya benar-benar tak bisa tenang. Jika saja informasi yang ia dapat dari Stella adalah benar, berarti memang ia yang salah. Tapi mengapa ayahnya tega melakukan itu pada Satria?
Apa benar ayahnya mengambil kesempatan di saat Satria sedang berduka untuk semakin membuat Satria menderita? Apa benar ayahnya menyimpan dendam pada Satria? Apa ayahnya selama ini hanya pura-pura baik pada Satria?
__ADS_1