
Hari ini adalah hari terakhir Melisa dan teman-temannya menikmati liburan di pulau Y. Rencananya besok malam mereka akan mulai perjalanan pulang ke kota A.
Dan hari terakhir mereka di pulau Y ini akan mereka habiskan untuk mendaki sebuah bukit kecil yang terletak tak jauh dari hotel tempat mereka menginap.
Bukit itu cocok untuk para pemula yang ingin punya pengalaman mendaki. Medan yang ditempuh untuk mencapai puncak bukit juga terbilang mudah. Akan tetapi bagi para pemula medan itu cukup sulit untuk di lalui.
Bobi yang awalnya hanya mengajak Amanda untuk menghibur diri pasca putusnya hubungan Amanda dengan sang kekasih. Namun harus berakhir dengan keikutsertaan Melisa dan Satria. Karena Amanda tidak mau berduaan dengan Bobi.
Amanda berpikir, Bobi pasti akan menggodanya. Apalagi statusnya yang kini juga jomblo, sama seperti Bobi. Maka dari itu ia juga mengajak Melisa dan Satria yang memang tak punya rencana kemana-mana.
Karena rencana mendaki ini mendadak, mereka semua menyewa peralatan mendaki.
Pukul 7 pagi, mereka sudah sampai di bawah kaki bukit. Setelah pemeriksaan peralatan dan juga mendaftarkan diri untuk mendaki, mereka berempat akhirnya memulai pendakian mereka.
Jalur yang akan mereka tempuh tidaklah sulit. Karena memang banyak petunjuk arah disepanjang jalan, serta ada beberapa tempat istirahat dan makan di sepanjang jalan menuju puncak.
Bobi berjalan di paling depan, disusul oleh Amanda, Melisa, dan yang paling terakhir Satria.
Bobi dan Satria masing-masing membawa tas ransel sedang berisi makanan ringan dan minuman. Sementara para gadis berjalan lenggang, hanya membawa diri dan masing-masing membawa tongkat mendaki.
Mereka sengaja tak membawa banyak perbekalan karena memang sepanjang perjalanan akan menemukan banyak warung untuk sekedar membeli makan dan minum.
"Bob, istirahat dulu yuk," pinta Amanda.
"Baru juga jalan lima belas menit udah minta istirahat?" Bobi.
"Iya Bob, capek tau. Istirahat dulu y," Amanda memelas.
"Ya udah," Bobi akhirnya berhenti dan meminta Amanda duduk di bawah pohon.
"Kalian juga udah capek?" Tanya Bobi pada Melisa dan Satria.
Keduanya kompak menggelengkan kepala.
"Lemah banget sih, baru juga jalan sebentar udah capek," protes Bobi pada Amanda.
"Ya lagian ngapain sih pake naik-naik bukit segala? Kenapa ga ke mall aja? Besok kan kita mau pulang, gue kan belum beli oleh-oleh," Amanda tak mau kalah.
"Besok kan kita berangkat malem, bisa beli oleh-oleh siangnya sebelum pulang," Bobi.
"Ih, masa besok siang baru beli? Terlalu mepet waktunya," gerutu Amanda.
Bobi menghela nafas panjang, "engga Amanda, cukup kok. Emang mau beli apa sih?"
"Ya belum tau, kan belum liat," Amanda.
Bobi mengernyitkan dahinya, "Ya udah, Amanda mau beli apa nanti Bobi temenin, Bobi tungguin, sampe Amanda puas belanja pokoknya," Bobi berusaha mengalah.
"Apa sih lu ngomongnya begitu, jijik tau?" Amanda berdiri, lalu kembali memulai perjalanan.
"Hah, salah melulu gue," gumam Bobi. Lalu ia mengikuti Amanda kembali mendaki.
__ADS_1
Melisa dan Satria hanya tersenyum menonton dibelakang, bagi mereka pemandangan itu adalah pemandangan sebuah pertengkaran suami istri.
Sebenarnya sejak kemarin Bobi kembali ke pulau Y, Bobi menjadi bahan pelampiasan kemarahan juga kesedihan Amanda.
Sesekali ia menangis tersedu-sedu, sesekali juga ia marah-marah meneriaki Bobi. Sesekali ia merengek manja pada Bobi, sesekali juga ia memukul atau mencubit Bobi.
Meski begitu, Bobi tetap setia menemani Amanda. Seperti tadi pagi saat selesai sarapan, Amanda tiba-tiba meminta Bobi untuk tak ada panggilan gue-elu lagi. Namun setelah Bobi berbicara aku-kamu, Amanda kembali melarang katanya aneh.
Lalu sekarang ketika Bobi memanggil dengan sebutan nama, malah dibilang jijik. Bobi sebenarnya ingin marah, namun mengingat Amanda yang masih galau ia memilih untuk tetap bersabar.
"Mereka lucu ya, bayangin kalau mereka berdua nikah," ucap Melisa pada Satria.
"Iya, pasti setiap hari cekcok terus," timpal Satria.
"Eh, tapi jangan-jangan malah jadi pasangan romantis lagi? soalnya kan jatah berantemnya udah dihabisin sekarang?" Melisa.
"Bisa jadi," Satria mengangguk.
"Terus kita?" Amanda berhenti, lalu menoleh kebelakang.
"Kita kenapa?" Satria.
"Kita kan gak suka berantem, nanti kalau kita nikah kita berantem terus dong?" Wajah Melisa menjadi serius.
"Mana ada yang kaya begitu?" Satria tertawa melihat wajah Melisa.
"Ya kan bisa jadi," Melisa melanjutkan langkahnya.
Satria memegang tangan Melisa, membuat Melisa kembali berhenti.
"Kamu kenapa? Kok mukanya merah? Kepanasan?" Satria memegang kening Melisa.
Melisa mengangguk dengan wajah tersenyum malu.
Satria melepaskan topi yang dipakainya, lalu memakaikannya pada Melisa. Padahal Melisa sendiri sudah memakai topi.
"Ayo lanjut kalan lagi," Satria.
"Iya," mereka berdua menyusul Bobi dan Amanda yang sudah berjarak lumayan jauh.
Setelah berjalan selama kurang lebih 5 jam, mereka akhirnya sampai di puncak bukit. Meski Amanda beberapa kali mengeluh capek, namun Bobi dengan gigih memberinya semangat.
Mereka merebahkan badan disebuah pondokan yang tersedia di atas puncak. Hari itu tidak terlalu banyak pengunjung yang datang, sehingga suasana menjadi agak sepi.
"Makan dulu yuk, mau makan apa?" Tanya Bobi.
"Mie rebus aja, enak kayanya," jawab Satria. Yang lain pun setuju.
Akhirnya mereka memesan empat mangkok mie rebus komplit dengan bakso dan telur.
"Bukannya kita juga bawa makanan ya?" Tanya Amanda.
__ADS_1
"Kita cuma bawa makanan ringan Man, ini juga cuma tinggal setengahnya," jawab Bobi.
"Kok bisa?" Amanda menatap Bobi tak percaya.
"Ya kan tadi kak Amanda sepanjang jalan ngemil terus," jawab Satria.
"Lu ga sadar apa gimana sih?" Bobi.
"Lupa," jawab Amanda tanpa rasa bersalah.
Bobi hanya menghela nafas panjang, sudah tak punya tenaga untuk meladeni Amanda. Ia lebih memilih untuk pergi ke warung mengambil pesanan yang sudah jadi.
Melisa yang tak memperdulikan keributan kecil itu memilih untuk memejamkan matanya. Tubuhnya terasa lelah sebenarnya. Hanya saja ia tak ingin terlihat lemah dihadapan Satria.
"Ngantuk Mel?" Tanya Satria.
"He eh," Melisa mengangguk.
"Ya udah kamu tidur aja dulu sambil nunggu mienya mateng," Satria memijat kaki Melisa.
"Uh, enak banget Sat pijatan kamu, jadi makin ngantuk," Melisa.
Satria hanya tersenyum, sambil memijat kaki Melisa ia melihat Melisa yang perlahan mulai terlelap.
"Lah, dia tidur?" Bobi datang membawa satu nampan berisi empat mangkok.
"Iya kak, biarin dia tidur dulu," Satria membantu Bobi menurunkan mangkok-mangkok itu.
"Bob, mau juga..." pinta Amanda.
"Mau apa?" Bobi.
"Dipijit," Amanda.
"Iya, nanti ya, kita makan dulu sekarang. Lapar nih. Mau disuapin juga?" Bobi menyodorkan satu sendok mie ke arah Amanda.
Amanda menggelengkan kepalanya, "maunya dipijit," Amanda memulai mode manjanya.
"Iya nanti ya, abang tukang pijet mau makan dulu," Bobi melahap makanannya dengan cepat.
Amanda tersenyum senang, ia juga mulai makan mie yang aroma sangat menggoda itu.
"Mel, bangun... makan dulu yuk," Satria membangunkan Melisa dengan lembut.
"Yah, dia banguninnya begitu. Tambah ngantuk yang ada," protes Bobi. "Nih gini caranya, WOY BANGUN MEL!!!" Bobi berteriak.
Benar saja, Melisa langsung bangun. "Apa itu tadi?"
Satria tertawa, lalu menyerahkan mangkuk makanan milik Melisa. "Makan dulu ya Mel."
"Suapin," pinta Melisa.
__ADS_1
"Makan sendiri, manja banget" Bobi.
Melisa melirik sinis pada Bobi, ia lalu mengambil mangkok yang disodorkan Satria. Lalu mulai memakan mienya dengan tetap menatap sinis pada Bobi.