Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Kekecewaan Bobi


__ADS_3

Setelah makan dan cukup beristirahat mereka memutuskan untuk memulai kembali perjalanan menuruni bukit. Dengan formasi yang masih sama, Bobi berjalan paling depan dan Satria berjalan paling belakang.


Namun belum jauh mereka berjalan, kaki Amanda tiba-tiba terkilir.


"Aw," teriak Amanda.


"Kenapa Man?" Bobi segera berbalik menghampiri Amanda.


"Ssshhh... Kepleset Bob," jawab Amanda meringis kesakitan.


"Makanya hati-hati!" bentak Bobi.


"Huaa... Bobi..." Amanda yang dibentak malah menangis.


"Kak Bobi..." Melisa dan Satria menghampiri Amanda. Melisa bahkan memeluk Amanda untuk menenangkannya.


Bobi menghela nafas panjang.


"Maaf Man, gue ga maksud marahin lu," Bobi menyesal karena sudah membentak Amanda.


"Lu tau ga sih? Hati gue masih sakit trus ditambah lagi kaki gue ikutan sakit, sekarang elu malah marahin gue, ga sekalian aja elu bunuh gue Bob," Amanda melampiaskan amarahnya.


"Iya maaf Man, maaf banget gue ga maksud marah, beneran deh. Gue tadi cuma refleks," Bobi merayu Amanda agar mau memaafkannya.


"Iya kak, kak Bobi sebenernya tadi ga marah, cuma suaranya aja yang kenceng," Satria menimpali.


"Kok lu belain dia sih Sat?" Amanda menunjuk Satria.


Melisa melotot pada Satria, menempelkan jari telunjuknya di depan bibir. Memberi kode agar Satria tak usah bicara apa-apa.


"Maaf kak, bukan mau belain, cuma mau jadi penengah aja," Satria tertunduk.


"ya udah yuk Man, kita lanjut jalan. Masih sakit g?" Bobi.


"Sakit..." Amanda.


"Ya udah sini gue gendong," Bobi memindahkan tas ranselnya ke depan, lalu menggendong Amanda dibelakang.


"Mel, lu masih kuat kan?" Tanya Bobi pada Melisa.


"Masih kak," jawab Melisa.


"Ya udah kita jalan pelan-pelan ya, kalau bisa ga usah istirahat, biar sebelum gelap udah sampe di bawah." Ucap Bobi.


"Oke," sahut Melisa dan Satria kompak.


"Gue berat ya Bob?" Tanya Amanda.


"Sadar diri lu? Diet makanya," celetuk Bobi.


Buk...


Sebuah bogem mentah menghantam punggung Bobi.


"Aduh Man, jangan macem-macem, nanti kalau lu jatuh gimana?" Bobi.


"Habisnya sih," Amanda menggerutu.

__ADS_1


"Becanda gue Man, elu tuh enteng banget. Emang dari kemaren ga makan-makan ya?" Bobi.


Amanda menggeleng.


"Kenapa?" Bobi.


"Ga selera," Amanda.


"Jangan gitu lah, mau galau juga kan butuh tenaga," Bobi.


"Iya juga sih," Amanda. "Bob."


"Mmm?" Bobi.


"Nasib gue gimana sekarang nih?" Amanda.


"Gimana apanya?" Bobi.


"Pasti udah ga akan ada cowo yang mau sama gue," Amanda.


"Kenapa?" Bobi.


"Gue kan udah engga..." Amanda menggantung kalimatnya.


Bobi hanya diam, ia sebenarnya tak tau harus mengatakan apa?


Melihat Bobi hanya diam, Amanda menghela nafas panjang. Hati Amanda semakin sedih, sebelumnya ia berharap Bobi akan menenangkan dirinya, karena masih ada Bobi yang akan menerima dirinya apa adanya.


Namun sepertinya ia harus sadar diri. Meski ia sudah lama mengenal Bobi, namun mereka memang tak sedekat itu. Bahkan Bobi tak tau ketika ia masih berpacaran dengan Hendry.


Jika memang Bobi menyukainya, mendengar kalau ia selama ini menjalin hubungan dengan Hendry saja pasti akan membuat hatinya sakit. Terlebih dengan kondisi dirinya yang saat ini. Bobi pasti lebih terpukul lagi.


"Kak Bobi jalan cepet banget," keluh Melisa.


"Kamu capek?" Tanya Satria sedikit khawatir melihat keringat Melisa yang banyak bercucuran.


Melisa mengangguk.


"Ya udah istirahat sebentar yuk," Satria.


"Tapi nanti ketinggalan kak Bobi. Itu mana dia jalan cepet banget." Melisa.


"Ga papa, kan ada aku," Satria.


"Kamu inget jalannya?" Melisa.


"Inget, tenang aja, nih minum dulu," Satria menyodorkan satu botol air mineral pada Melisa.


"Makasih," Melisa tersenyum dan segera meneguk air minum itu.


"Nih, kamu juga minum," Melisa menyodorkan botol minuman kembali pada Satria.


Satria mengambil lalu menghabiskan sisa air minum di botol.


"Yuk," ajak Satria.


"Aku masih capek, istirahat sebentar lagi ya," pinta Melisa.

__ADS_1


"Mau aku gendong aja?" Tanya Satria.


Melisa menggeleng. ia menarik tangan Satria, mengajaknya duduk di bawah pohon.


"Sebentar lagi aja ya Sat," bujuk Melisa.


"Oke, jangan lama-lama ya, takut kak Bobi nyariin kita," Satria.


Melisa tersenyum dan mengangguk.


Sementara itu, Bobi yang sudah berjalan cukup jauh menghentikan langkah kakinya. Ia menoleh ke belakang dan tak menemukan keberadaan Melisa dan Satria di sana.


"Tuh anak dua kemana?" Tanya Bobi.


"Istirahat dulu kali, lu kan jalannya cepet banget," jawab Amanda.


"Masa sih? Gue kayanya jalan santai deh ini," ucap Bobi. "Ya udah kita istirahat dulu nunggu mereka, lagian juga udah tinggal dikit lagi kok kita sampai di tempat pendaftaran," Bobi menurunkan Amanda dan membantunya duduk di bawah pohon.


Mereka berdua duduk terdiam. Amanda merasa sangat canggung saat ini, karena Bobi yang tak menanggapi ucapannya tadi.


"Man," panggil Bobi tiba-tiba.


Amanda menoleh pada Bobi.


"Lu tau ga? Seberapa kecewanya gue saat ini," Bobi menatap mata Amanda.


Amanda tak tau harus menjawab apa.


"Gue udah suka sama lu dari dulu Man, lu tau kenapa gue ga pernah bilang soal perasaan gue ke elu?" Bobi.


Amanda hanya menggelengkan kepalanya.


"Karena gue takut Man, gue takut hubungan kita bakal berubah. Kita ga bisa akrab lagi, ga bisa ngobrol lagi, ga ketawa bareng lagi, dan kita bakal terus menjauh."


"Dan yang paling gue takutin adalah gue bisa aja ngerusak elu Man, kaya yang temen-temen gue lakuin. Gue ga mau lu rusak Man." Bobi menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar.


"Tapi sekarang, lu tetep rusak Man. Meski bukan gue pelakunya." Mata Bobi sudah berlinang, air matanya hampir tumpah. Ia segera mengalihkan pandangannya dari Amanda.


Amanda yang kaget mendengar pernyataan Bobi perlahan mulai menitikkan air matanya. Gadis itu tak tau lagi harus bagaimana? Bobi tempat ia menggantungkan harapan selama masa patah hatinya ini, kini malah mengatakan hal menyesakkan dadanya.


Amanda bangun dari duduknya, berjalan perlahan menjauhi Bobi yang masih sibuk mengurus air matanya.


"Manda lu mau kemana?" Bobi beranjak mengejar Amanda.


Amanda membalikkan badannya.


"Biarin gue sendiri Bob, gue bisa kok turun sendiri," Amanda berjalan meninggalkan Bobi.


"Man, ayo kita turun bareng-bareng. Itu kan kaki lu masih sakit, sini biar gue gendong," Bobi berjongkok di depan Amanda, agar Amanda bisa naik ke punggungnya.


Namun bukannya naik, Amanda malah terus berjalan melalui Bobi.


"Man, elu kenapa sih? Ayo bareng," Bobi menarik tangan Amanda.


"Bob, gue lagi pengen sendiri. Lu jangan ikutin gue ya," air mata Amanda sudah tumpah membasahi pipinya.


Bobi akhirnya membiarkan Amanda pergi. Ia kembali duduk menunggu Melisa dan Satria.

__ADS_1


"Apa omongan gue terlalu kasar ya?" Gumam Bobi. Ia merebahkan tubuhnya di batang pohon besar.


__ADS_2