
Satria terdiam saat melihat Melisa pergi meninggalkannya di depan pintu lift. Ia menghela nafas panjang. Satria tau, memang tak mudah meluluhkan hati gadis yang berhati dingin itu.
Satria menoleh ke arah pintu kamar yang bertuliskan 1201 yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri. Perlahan Satria berjalan mendekati pintu itu.
Sampai di depannya, dengan sedikit ragu ia mengetuk akhirnya pintu itu.
Tok tok tok...
Satria menunggu cukup lama, penghuni kamar itu tak kunjung membukakan pintu. Sekali lagi Satria mengetuk pintu.
Tok tok tok...
Setelah ketukan yang kedua, tak butuh waktu lama. Penghuninya sudah membukakan pintu. Namun Satria segera menundukkan wajahnya saat si penghuni kamar membuka pintunya lebar-lebar.
Natasya hanya menggunakan sehelai handuk untuk menutupi badannya. Disebagian dada dan lehernya terdapat tanda cap merah. Satria sempat melihatnya sekilas. Rambut Natasya juga terlihat sangat berantakan. Membuat Satria canggung dan tak bisa berkata-kata.
"Kamu sudah datang, masuklah!" Natasya membuka pintu lebar-lebar. Ia lalu kembali masuk ke kamarnya.
Satria diam terpaku, Satria berpikir mungkinkah Natasya saat ini sedang tidur dengan kekasihnya? Atau sedang bersama tuan Gunawan?
Ia merasa tak enak hati karena mungkin saja ia sudah mengganggu kesenangan Natasya saat ini.
Satria masih mematung di depan pintu, wajahnya tertunduk semakin dalam. Natasya yang menyadari Satria tak mengikutinya masuk, seketika berkata dengan suara yang cukup lantang dari dalam kamar.
"Masuklah, atau aku yang harus keluar?"
Ucapan Natasya membuat Satria tersadar, meski ragu-ragu Satria akhirnya masuk ke dalam kamar itu.
"Tutup pintunya!" Perintah Natasya.
Satria menurut.
Saat sudah di dalam, Natasya memintanya duduk di sofa. Tak sengaja Satria melihat ke arah ranjang yang tak jauh dari tempatnya duduk. Ranjang yang terletak di ruangan berbeda namun tetap terlihat sebagian sisinya.
Di atas ranjang itu ada tubuh seseorang yang sedang tertidur, tubuhnya tertutup selimut hingga ke leher. Hanya menyisakan kepalanya yang memang tak terlihat jelas wajah si pemilik tubuh itu.
__ADS_1
Natasya duduk tak jauh dari Satria. Masih menggunakan handuk yang dililit ke badannya. Satria menundukkan wajahnya hingga ia hanya bisa melihat kancing-kancing kemeja dari baju yang ia pakai.
"Ada apa? Desty bilang kau ingin bertemu denganku," Natasya seolah tak peduli dengan sikap Satria yang risih dengan kondisi pakaian yang dipakai Natasya saat ini.
"Maaf nyonya, saya sudah berusaha menasihati Melisa untuk memaafkan anda. Tadi saja saya sudah membawa Melisa ke sini. Namun saat Melisa tau bahwa ia akan bertemu dengan anda, Melisa pergi." Ungkap Satria.
"Mengapa kau ingin aku bertemu dengan Melisa?" Tanya Natasya.
"Bukankah lebih baik kata-kata maaf yang anda tujukan untuk Melisa, anda katakan sendiri. Itu akan terlihat lebih tulus," jawab Satria masih menundukkan wajahnya.
"Begitu?" Natasya menghela nafas, "mengapa sulit sekali membuat anak itu kembali menurut padaku? Apa kau sudah mempengaruhinya? Kau pasti sudah mengatakan yang tidak-tidak tentangku pada Melisa."
Perkataan Natasya sontak membuat Satria melihat ke arah Natasya.
"Tidak nyonya, saya justru malah tidak suka dengan keadaan Melisa saat ini. Saya juga ingin Melisa memiliki hubungan yang baik dengan ibunya."
"Oh ya? Lalu menurutmu, Melisa akan kembali padaku jika aku berkata maaf secara langsung?"
"Saya rasa Melisa akan membuka sedikit pintu hatinya, jika anda melakukan itu." Tanpa sadar Satria terus-terusan menatap Natasya.
Natasya menyeringai.
Satria terdiam, ia melihat raut wajah Natasya yang terlihat menyepelekan permintaan maaf itu.
"Lakukan dengan tulus nyonya," pinta Satria.
Natasya mengangguk. "Baiklah, ada lagi yang ingin kau katakan?"
Saat ini Satria memang tak melihat sedikitpun rasa tulus yang terpancar dari wajah Natasya. Ia jadi ragu, apakah benar wanita di hadapannya itu benar-benar ingin Melisa kembali karena rasa bersalahnya? Atau ada kepentingan lain di baliknya?
"Maaf nyonya, jika boleh saya bertanya. Mengapa anda ingin sekali Melisa menerima anda kembali?" Tanya Satria.
Natasya mendekatkan diri ke arah Satria, hingga keduanya duduk berdempetan.
"Tentu saja karena dia adalah anakku. Dia adalah penerusku, dia juga adalah citraku, jika dia menjadi pembangkang seperti ini. Maka hancurlah semua reputasi yang sudah ku bangun selama ini," bisik Natasya tepat di telinga Satria.
__ADS_1
Bisikan Natasya seketika membuat Satria merinding. Ia bergidik ngeri bukan karena Natasya yang kini duduk di dekatnya dengan pakaian minim. Namun perkataan Natasya yang baru saja terdengar mengerikan bagi Satria.
Tentu saja Satria tak menyangka akan mendengar jawaban seperti itu. Yang ada di bayangan Satria, Natasya benar-benar merasa bersalah karena sudah memperlakukan Melisa dengan tidak baik.
Natasya meraba paha Satria, lalu meletakkan dagunya di bahu Satria. ia sekali lagi berbisik di telinga Satria.
"Kau bisa melakukannya kan? Aku akan memberikan apapun yang kau mau jika kau bisa melakukannya."
Melihat tangan Natasya yang sudah meraba pahanya, jantung Satria seakan mau meledak saat itu. Satria seolah tak bisa berkutik, bahkan keinginannya untuk menyingkirkan tangan yang bertengger dan mengelus-elus pahanya itu tak bisa ia lakukan. Tubuhnya seakan kaku.
"Bagaimana? Kau bisa kan?" Kali ini Natasya menyandarkan kepalanya di lengan Satria. Jari jemari Natasya sudah masuk di sela-sela jemari Satria.
Satria masih diam membisu. Tubuhnya masih terbujur kaku.
"Jika kau bisa melakukannya, aku benar-benar akan memberikan apapun yang kau mau." Natasya memindahkan lengan Satria ke bahunya, membuat seolah Satria sedang merangkulnya.
Satria tersadar, ia segera menarik tangan juga tubuhnya menjauh dari Natasya. Dengan jantung yang berdetak tak karuan Satria berdiri dan segera pamit.
"Baiklah nyonya, saya permisi," Satria membungkukkan badannya. Ia segera berbalik dari tempat berbahaya itu.
"Cih, polos sekali kamu" Natasya menyeringai saat melihat Satria sudah keluar dari pintu kamarnya.
Di depan pintu yang tertutup, Satria berusaha mengatur nafasnya. Ia berusaha menenangkan dirinya. Tak pernah ia mendapat perlakuan seperti itu dari seorang wanita. Satria menyadari kehadiran seseorang yang berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri.
Satria menoleh ke arah pintu lift, di sana ada Melisa yang diam mematung memandang ke arahnya. Melihat wajah Satria yang pucat, Melisa mengernyitkan dahinya. Bertanya-tanya apa yang terjadi di dalam sana?
Satria melihat Melisa dipenuhi tanda tanya di wajahnya, ia segera menghampiri Melisa. Satria menekan tombol lift, namun sepertinya lift berjalan sangat lamban membuat Satria merasa semakin gelisah.
Satria lalu menarik tangan Melisa menuju tangga darurat, Satria memutuskan untuk turun melalui tangga darurat. Jelas sekali tangannya gemetar saat memegang tangan Melisa.
Meski heran dengan sikap Satria, Melisa berusaha tak bertanya apapun pada Satria. Hingga cukup jauh mereka menuruni tangga. Melisa menarik tangannya yang berada dalam genggaman Satria. Membuat Satria menghentikan langkahnya.
"Ada apa? Apa yang terjadi di dalam sana? Apa wanita itu melakukan sesuatu yang buruk padamu? Dia memukulmu? Menamparmu?" Melisa menghujani Satria dengan berbagai pertanyaan. Ia bahkan memeriksa tubuh Satria, khawatir jikalau ada luka di tubuh itu.
Satria menelan ludah, mengingat peristiwa yang baru saja di alaminya.
__ADS_1
"Ibumu benar-benar berbahaya Mel," jawab Satria sambil menatap Melisa. Dari sorot matanya terlihat bahwa laki-laki itu ketakutan. Entah takut karena apa?
"Apa yang sudah ibuku lakukan padamu? Hingga kau terlihat seperti ini," Melisa meletakkan tangannya di pipi Satria.