
Satria terkejut mendapat serangan mendadak dari Melisa. Meski begitu, ia tak memberontak dan membiarkan Melisa melakukan keinginannya. Satria berpikir masih bisa menahannya jika hanya sebuah ciuman.
Namun dugaannya salah, ternyata Melisa sudah jauh lebih berani sekarang. Tangan Melisa yang semula ada di pipi Satria kini sudah turun dan berada di dada bidang Satria.
Tangan berjari lentik itu terus turun hingga ke tempat yang seharusnya tidak Melisa pegang. Dengan sigap Satria memegang tangan Melisa agar berhenti menggerayangi tubuhnya.
Satria menggenggam erat tangan Melisa agar tidak kemana-mana. Namun, sepertinya Melisa sudah sangat terang sang. Melisa membawa tangan Satria yang kini tengah menggenggamnya ke tubuhnya, tepat di salah satu buah dadanya.
Reflek, Satria menariknya. Ia juga melepaskan ciuman panas itu.
"Mel, aku mohon!" Wajah Satria memelas, membuat Melisa semakin gemas dan semakin menginginkan Satria.
"Tapi aku mau Sat," bisik Melisa.
"Enggak lagi-lagi Mel, aku dalam keadaan sadar saat ini. Aku tak mau melakukannya," bantah Satria.
"Bukannya tambah asik kalau kamu sadar? Itu artinya kamu bisa benar-benar menikmati tubuhku," bisik Melisa.
Satria menggeleng, ia kembali fokus pada film yang diputar saat ini.
Melisa tak menyerah, ia kembali menyerang Satria dengan mengecup pipi Satria. Namun Satria masih bergeming.
Melisa meluncurkan serangan berikutnya, tangannya kembali menggerayangi tubuh Satria. Namun dengan sigap Satria memegangi tangan itu agar tak berbuat semakin jauh.
Melisa masih belum menyerah, ia menggunakan tangan yang satunya lagi untuk melanjutkan misi menggerayangi tubuh Satria. Tentu saja Satria tak tinggal diam, kini ia sudah memegangi kedua tangan Melisa.
"Kamu gak mau ngelakuin di sini?"
"Bukan begitu Mel. Ayo kita fokus nonton film," Satria menunjuk ke layar lebar di hadapan mereka.
"Beneran kamu gak mau? Padahal aku lagi pengen banget loh," rayu Melisa.
Satria diam, tak menjawab pertanyaan Melisa.
"Mau lanjut di tempat lain?"
Satria menggelengkan kepalanya.
"Tapi..."
"Mel..."
"Mmm?"
"Ayo kita nonton aja ya," pinta Satria.
"Aku gak mau nonton, aku maunya main sama kamu," Melisa menyandarkan kepalanya di bahu Satria.
Satria mendesah kasar, ia lalu menarik tangan Melisa dan mengajaknya keluar bioskop.
"Mau kemana Sat?"
Satria terus berjalan sambil menggenggam erat tangan Melisa menuju keluar gedung.
"Mel, aku mohon. Cukup satu kali aja kita melakukan itu," pinta Satria dengan wajah memelas.
"Kamu gak mau ngelakuin itu lagi sama aku?"
__ADS_1
"Aku mau, tapi kalau status kita sudah menikah nanti. Aku harap kamu mau bersabar menunggu sampai saat itu tiba, aku akan memberikan apa yang kamu mau Mel," Satria meyakinkan Melisa.
"Kamu yakin mau nikahin aku?"
Satria mengangguk dengan yakin.
"Aku sudah pernah menikmati tubuhmu, tentu saja aku akan menikahimu!"
Melisa tersenyum, lalu ia memeluk Satria.
"Kalau begitu aku akan tunggu lamaran dari kamu," ucap Melisa.
Satria mengangguk sambil membelai rambut Melisa. Satria melepas pelukan lalu menggandeng tangan Melisa menuju taman yang berada di sebrang bioskop.
"Kita mau kemana?"
"Kita tunggu kak Bobi sama kak Amanda di sana yuk!" Satria menunjuk ke arah taman di seberang jalan.
Melisa menurut saja, kemana pun Satria akan membawanya. Sekalipun Satria akan membawanya ke ujung dunia saat ini, Melisa tentu akan ikut dengan suka rela.
"Tapi kamu janji ya Mel, jangan goda aku lagi," pinta Satria.
"Mmm... Janji gak ya?"
"Mel... Aku mohon!"
"Kenapa? Kamu gak kuat nahannya?"
Satria mengangguk dengan wajah memelas.
"Kalau kamu gemesin gini gimana aku gak mau godain kamu," ledek Melisa.
"Mel..."
Satria hanya bisa menghela nafas panjang, berharap ia bisa melalui malam ini dengan aman.
Akhirnya mereka berdua hanya berjalan-jalan santai menikmati malam yang bertabur dengan bintang-bintang.
"Kamu rencananya mau pulang kapan?"
"Entahlah, mungkin minggu depan. Kenapa?"
"Kenapa gak pulang besok aja bareng sama aku?"
"Gak bisa Mel, masih banyak yang harus aku urus di sini."
"Beasiswa kamu?"
"Mmm..." Satria mengangguk.
"Kalau aku hamil, kamu terusin aja sekolah kamu ya," pinta Melisa.
"Gak mau! Kalau kamu hamil, aku akan pulang dan menetap di sana," ucap Satria sambil menggenggam erat tangan Melisa.
"Kok gitu? Tapi aku maunya kamu tetep lanjutin sekolah kamu," rengek Melisa.
"Kalau begitu kamu harus tinggal di sini bareng aku!"
__ADS_1
"Gak masalah," Melisa tersenyum membayangkan dirinya akan tinggal bersama dengan Satria dan menjadi istri Satria.
"Mel, kalau kamu pulang nanti, jangan lupa jenguk ibumu ya," pinta Satria.
"Kenapa?"
"Jenguk saja, aku yakin dia pasti akan senang," ucap Satria.
"Menurutmu dia akan senang?"
"Tentu saja, dia sudah banyak berubah Mel. Percayalah padaku!"
"Baiklah, aku akan menyempatkan waktu untuk menemuinya," Melisa berusaha untuk menuruti keinginan Satria.
Malam semakin larut, Bobi dan Amanda yang sudah selesai menonton menghubungi mereka untuk bertemu di depan bioskop.
"Kalian dari mana?" Tanya Bobi.
"Jalan-jalan kak, bosen di dalam sana," jawab Melisa.
"Padahal filmnya seru loh!"
"Aku pengap di dalam, jadi ajak Satria jalan-jalan deh," Melisa berkelit.
"Pengap apa gak bisa fokus?" Ledek Amanda.
"Hehehe..." Melisa hanya bisa nyengir mendapat pertanyaan dari Amanda.
"Dasar ya, udah ketagihan kamu. Untung Satria imannya kuat, kemarin aja kalau gak kamu kasih alkohol itu Satria, mana bisa kamu ngerasain itu?"
Satria hanya tersenyum melihat Melisa yang terus saja digoda oleh Bobi dan Amanda.
"Udah malam nih, kita pulang yuk. Besok kan kita harus berangkat pagi-pagi," ajak Bobi.
"Yah... Harus pisah deh," Melisa merasa sangat berat melepas Satria.
"Kak Bobi benar Mel, nanti kamu besok bisa kesiangan dan ketinggalan pesawat," ucap Melisa dengan lembut.
"Tapi aku masih mau sama kamu," rengek Melisa.
"Haisshh... Anak ini, besok kan bisa ketemu lagi. Ya kan Satria?" Bobi menarik tangan Melisa agar melepaskan genggaman tangan mereka berdua.
"Iya Mel, besok aku akan antar kamu ke bandara," Satria meyakinkan Melisa.
"Hahhh... Gak mau! Kalau pisah sekarang, itu artinya kita putus," Melisa semakin merajuk.
"Gak Mel, kita gak putus. Aku masih kekasih kamu," ucap Satria.
"Beneran?"
"Iya, tapi kamu sekarang harus pulang dulu ya. Kalau kamu gak mau pulang, mending kita putus aja!" Ancam Satria.
"Ih kok gitu? Ya udah deh, aku pulang," Melisa akhirnya mau menuruti keinginan Satria.
"Gitu dong, pacar aku yang cantik ini paling gemesin kalau nurut begini," goda Satria.
Melisa tersipu malu mendapat godaan dari Satria.
__ADS_1
"Udah kan? Udah ya, yuk kita pulang," bujuk Bobi.
Sementara itu Amanda hanya tertawa kecil melihat tingkah Melisa yang merengek tak mau pulang, seperti anak kecil.