
Dua tahun berlalu sejak hari itu, Satria yang sudah lulus kuliah sesuai janji bekerja sebagai pimpinan Puspa Tunggal. Ia juga mewarisi satu perusahaan agensi milik Steve.
Saat ini, Satria tengah sibuk mengurus dua perusahaan langsung.
Sedangkan Melisa masih dengan kesibukan yang sama, menjadi pengganti ayahnya sebagai presiden direktur Laksmana Grup.
Kedua pasangan yang selalu terlihat sibuk itu, tak pernah lupa menyempatkan waktu untuk berkencan. Bahkan di sela-sela kesibukan pun mereka tak lupa mengirim pesan, walau hanya berisi 'Aku merindukanmu'.
Hari ini adalah hari jumat, hari terakhir mereka bekerja pekan ini. Keduanya berencana untuk mengunjungi Steve yang masih betah tinggal di pedesaan.
Pukul delapan malam, Satria sudah menunggu Melisa di depan gedung Laksmana Grup. Sambil menunggu, Satria bermain permainan di ponselnya.
Satu jam berlalu, namun sosok Melisa belum juga muncul di lobi. Satria mencoba menghubungi Melisa, namun tak ada jawaban dari gadis itu.
"Kemana dia?"
Saat hendak mengirim pesan pada Melisa, tiba-tiba pintu kaca mobilnya diketuk seseorang dari luar.
Tuk... Tuk... Tuk...
Satria menoleh dan menemukan sosok Melisa di sana. Satria menurunkan kaca mobilnya.
"Kenapa lama sekali?"
"Maaf, aku tadi bertemu Bianca dan dia mengajakku ngobrol sampai lupa waktu," Melisa berkata sambil memelas karena takut Satria akan marah.
"Oh, kau membuatku khawatir saja. Sudahlah, ayo masuk," pinta Satria.
Melisa pun berjalan mengitari mobil, dan segera masuk ke dalam mobil.
"Istirahatlah, aku tau kau pasti lelah," ucap Satria.
"Memang kau sendiri tidak lelah?" Tanya Melisa.
"Aku baik-baik saja," jawab Satria.
"Aku juga baik-baik saja, aku akan menemanimu sampai tujuan."
Keduanya memilih untuk memutar lagu keras-keras agar mereka tak merasa mengantuk.
Enam jam perjalanan di malam hari tentu saja tak mudah bagi mereka. Namun semangat untuk bertemu dengan ayah angkat mereka membuat mereka mengabaikan rasa lelahnya dan kembali bersemangat.
Mereka sengaja datang di malam hari, agar keesokan harinya mereka bisa bangun dengan suasana pedesaan yang asri.
Kegiatan pulang kampung ini selalu mereka sempatkan setidaknya satu atau dua bulan sekali. Mereka tak hanya ingin berjumpa dengan Steve, tapi juga ingin merasakan udara di desa yang sejuk.
Setelah sekian lama berjibaku dengan pekerjaan mereka di kantor, pulang kampung adalah hal yang selalu mereka nantikan. Itulah kenapa mereka selalu bersemangat meski harus pulang di malam hari sekalipun.
__ADS_1
Pukul tiga pagi, akhirnya mobil yang dikendarai Satria itu sudah sampai di pekarangan rumah Steve. Rumah itu masih sama seperti dua tahun yang lalu. Saat pertama kali Satria menginjakkan kaki di sana.
Steve yang tau kedua anaknya sudah datang, segera keluar untuk membukakan pintu. Ia sengaja tidak tidur karena menunggu mereka datang.
"Kalian sudah sampai?" Steve berjalan menghampiri Melisa dan Satria.
"Ayah..." Melisa berlari menghampiri Steve dan memeluknya dengan erat.
"Apa kau baik-baik saja ayah?" Tanya Satria yang berjalan di belakang Melisa.
"Tentu, aku sangat baik-baik saja. Kalian sendiri bagaimana?"
"Kami juga baik-baik saja, ayah apa kau menunggu kami?" Kali ini Melisa yang bertanya.
"Tentu saja, aku sangat merindukan kalian dan tak sabar rasanya untuk bertemu kalian."
"Kami juga merindukanmu yah," ucap Satria.
Steve lalu mengajak keduanya masuk ke dalam rumah.
"Kalian pasti lelah, tidurlah dulu. Besok baru kita ngobrol-ngobrol lagi," pinta Steve.
Melisa dan Satria yang memang sudah merasa sangat lelah, segera masuk ke kamar masing-masing. Steve sengaja menyiapkan banyak kamar di rumah besar itu. Persiapan untuk siapapun yang akan menginap di sana.
Meski banyak kamar di rumah itu, namun Steve kerap kali merasa sepi karena hanya ada dia seorang di rumah itu. Terkadang ia memanggil beberapa anak-anak untuk menemaninya di rumah.
Untuk urusan makan, Steve biasa menyiapkannya sendiri.
Keesokan hari, saat ketiganya sudah bangun. Satria seperti biasa, ia yang menyiapkan makan saat datang pulang ke rumah itu.
"Satria, apa kau sudah menjenguk keluargamu di kota B?" Tanya Steve yang sedang mengamati Satria memasak.
"Sudah yah, minggu lalu aku mengajak Melisa ke sana."
"Oh ya? Kau tak memberitahuku?"
"Ini baru ku beri tau kan?"
"Kalau tak ditanya kau tak mau memberi tau," gerutu Steve.
"Maaf yah, itu pun karena kunjungan mendadak. Ada keluargaku yang meninggal dunia, jadi aku datang ke sana tanpa rencana."
"Tapi, akhirnya kau punya kesempatan untuk memperkenalkan Melisa pada Mereka?"
"Mmm..." Satria mengangguk.
"Saat mereka datang untuk mengucapkan bela sungkawa saat ibu meninggal juga sudah aku kenalkan," ucap Satria.
__ADS_1
"Oh ya?"
"Aku tau ayah sedang sangat berduka saat itu jadi ayah tak sadar kalau keluarga besar dari ayah dan ibuku juga ada yang datang," jelas Satria.
"Kau benar, aku bahkan tak ingat siapa saja yang datang hari itu. Jika hari itu kau juga segera pulang, mungkin aku tak akan ingat kau juga datang hari itu."
"Padahal aku sudah memperkenalkan mereka padamu," gerutu Satria.
"Maaf, kau kan harusnya maklum."
"Iya aku maklum," Satria hanya menggoda Steve tadi.
"Oh iya, kapan kau akan menemui Gunawan?"
"Menurut ayah kapan?"
"Temui Gunawan secepatnya, jangan kau tunda-tunda lagi. Aku ingin melihat kalian berdua menikah sebelum aku pergi," pinta Steve.
"Pergi kemana?"
"Menyusul Natasya," jawab Steve asal.
"Ayah, kau tak boleh bicara seperti itu!"
"Kenapa tidak boleh? Aku juga sudah tak lagi muda, dan kesehatanku belakangan ini mulai menurun. Bisa saja kan umurku tak lama lagi?"
"Ayah, ku mohon... Jangan katakan hal seperti itu lagi," pinta Satria.
"Baiklah... Baiklah, tapi apa salahnya? Bukan kah semua orang juga akan mati?"
Satria tak mau menghiraukan lagi perkataan Steve, ia melanjutkan kegiatan masaknya. Kali ini dia membuat sekalian menu untuk makan siang.
"Ngomong-ngomong Melisa kemana?" Tanya Steve sambil celingukan ke sana kemari.
"Dia sedang ke pasar, rencananya kami akan memanggang daging nanti malam. Aku juga ingin mengundang para pemuda dan pemudi di desa ini, bolehkah?"
"Tentu saja boleh!" Steve langsung senang mendengar Satria bahkan ingin bergaul dengan para pemuda pemudi di desa ini.
"Sebenarnya aku punya maksud lain yah, kau jangan marah ya," ucap Satria hati-hati.
"Maksud lain? Apa itu?"
"Aku ingin menitipkan mu pada Mereka."
"Kau pikir aku barang, sampai harus dititipkan?"
"Hehe, aku ingin mereka secara bergantian menginap di rumah ini setiap malam. Agar kau tak merasa kesepian, lagi pula kamar di rumah ini kan ada banyak."
__ADS_1
"Kau benar, terima kasih Satria kau memang sangat peduli padaku," Steve terharu saat ia merasa Satria begitu peduli padanya.