
Sepeninggalan Bobi, Melisa masih menatap kecewa pada ibunya itu. Natasya yang ditatap tidak merasa bersalah sama sekali, ia justru merasa risih dan tak suka dengan tatapan Melisa.
"Kamu sudah berani ngeliatin mamah kaya begitu?" Natasya.
"Mah, apa mamah tau? Ini pertama kalinya mamah menginjak rumah ini lagi setelah lima tahun mamah pergi?" Melisa.
Natasya terlihat berpikir, "mmm... ya, mungkin." Natasya mengangkat kedua bahunya.
"Apa aku sebegitu tidak berartinya di mata mamah?" Melisa.
"Hey, tentu saja kamu sangat berarti bagi mamah," Natasya memegang pundak Melisa, ia mencoba melunak.
Melisa menundukkan kepalanya, "mah."
"Mmm?"
"Apa benar yang kak Bobi bilang tadi?" Melisa masih menundukkan wajahnya.
"Yang mana ya? Anak itu tadi banyak omong, mamah ga inget dia ngomong apa aja?" Natasya terlihat sekali tidak peduli.
Melisa menyeringai, "mamah ga pernah menginginkan kehadiranku?"
Natasya mengernyitkan dahinya. "Kenapa kamu berpikir begitu?"
"Itu tadi yang kak Bobi bilang, apa benar mah?" Melisa akhirnya menatap ibunya.
Natasya diam menatap wajah putrinya yang sudah mulai banjir air mata. Wanita itu mengangguk. "Aku memang tak pernah sekalipun menginginkan anak dari Gunawan."
Deg...
Hati Melisa terasa dihantam suatu benda besar saat itu. Air matanya terus saja mengalir tanpa mau berhenti.
"Tapi itu kan dulu, sekarang kan sudah ada kamu. Dan mamah merasa sangat bersyukur dengan kehadiran kamu," Natasya menghapus air mata Melisa.
"Kenapa mamah bersyukur dengan kehadiranku?" Melisa.
Natasya menghela nafas panjang. Ia memalingkan wajahnya, perlahan menjauhi Melisa.
"Kenapa kamu ingin tau?" Tanya Natasya sinis.
"Apa aku ga boleh tau?" Melisa bertanya balik.
Natasya duduk di atas ranjang Melisa. "Kamu tidak perlu tau, kamu hanya harus menuruti kata-kataku."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Hah..." Natasya menyeringai, "kau sudah ketularan anak berandalan itu? Inilah sebabnya aku tak ingin kau bergaul dengan siapapun. Karena kau akan menjadi anak pembangkang. Kau tak lagi menurutiku."
"Mamah lebih suka aku sendiri?" Tanya Melisa tak percaya dengan ucapan ibunya.
"Tentu saja, saat kau tak punya teman. Kau hanya akan patuh padaku." Natasya mendekati Melisa, ia membelai rambut Melisa. "Ayolah, kembalilah ke dirimu yang dulu. Yang dingin dan angkuh, yang tak mudah terkontaminasi dengan siapapun. Karena kau adalah karya seni yang sangat indah. Kau adalah citra diriku, kau harus menjadi seperti apa yang aku mau. Itulah kenapa aku mau melahirkanmu."
Melisa menggeleng tak percaya. Ia berjalan menjauhi Natasya.
"Kamu ga usah takut sayang, selagi kamu menuruti kata-kata mamah. Mamah akan melindungi kamu dari para serangga yang akan mengganggumu. Jangan pernah kamu pergi meninggalkan mamah ya sayang," Natasya membelai lembut pundak putrinya. Ia mendekatkan bibirnya di telinga Melisa.
"Berkat kamu, yayasan puspa tunggal menjadi milikku," Natasya tersenyum manis di hadapan Melisa, ia kembali membelai rambut Melisa. "Dan kelak, yayasan itu akan menjadi milikmu."
Melisa menggeleng.
"Kau tak mau?" Natasya mengernyitkan dahinya.
Melisa hanya diam menatap ibunya tanpa ekspresi.
"Hah..." Natasya menyeringai, "haruskah ku bunuh satu persatu serangga yang ada di sekitarmu agar kau mau menurut padaku?"
Melisa melihat aura jahat dari ibunya.
Bobi menghadap Melisa yang nafasnya kini tersengal-sengal. "Mel... kamu kenapa? Mel..." Bobi menggoyang-goyangkan tubuh Melisa, gadis itu menangis terisak membuat Bobi memeluk tubuh Melisa agar kembali tenang.
"Hahahaha..." Natasya tertawa terbahak-bahak. Ia mendekati Bobi dan menarik rambut Bobi," sudah ku bilang jangan dekati anakku!" Bentak Natasya.
"Aa..." Bobi mengerang kesakitan namun ia tak kehilangan akal.
Bobi mendorong Natasya hingga terjatuh. Ia lalu menarik tangan Melisa mengajaknya keluar dari rumah.
"Ayo Mel... cepat," Bobi mengajak Melisa pergi dengan motornya.
Di atas motor, tubuh Melisa masih gemetar. Nafasnya masih tersengal-sengal.
"Ki... kita mau kemana kak?" Tanya Melisa.
Bobi tak menjawab, ia sendiri sebenarnya tak tau harus kemana? Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah menyelamatkan Melisa dari ibunya.
"Kak, kenapa kita pergi? Kita harus balik lagi. Nanti kalau mamah marah kakak juga akan kena, mamah bilang dia mau bunuh kalian semua..." Melisa menangis sejadi-jadinya di atas motor yang melaju kencang.
Bobi meremas tangannya yang memegang kemudi motor. Ia terlihat sangat marah dan geram. Namun ia harus bisa mengontrol amarahnya, ada Melisa disini yang sangat membutuh dirinya.
__ADS_1
Ia tak boleh terbawa emosi, "jika dia bukan ibumu, mungkin sudah ku hajar habis dia di sana," gumam Bobi.
Bobi menepikan motornya di sebuah jalan sempit yang gelap.
"Mel, dengerin aku ya..." Bobi memegang tangan Melisa yang sedari tadi memegang pinggang Bobi. "Kamu harus tenang dulu, sekarang kita coba hubungin ayah kamu. Kita harus kasih tau apa yang baru saja terjadi."
"Tapi kak, nanti mereka malah berantem..." Melisa menolak ide untuk menelepon ayahnya.
Bobi menghembuskan nafas kasar. "Mel, emang kenapa sih kalau mereka berantem? Selama ini mereka juga ga tinggal bareng."
"Tapi aku ga suka liat orang tuaku berantem," Melisa menangis di punggung Bobi. Ia sendiri merasa galau saat ini, ia takut ibunya akan melakukan hal yang kejam pada teman-temannya. Namun ia juga tak ingin kedua orang tuanya bertengkar.
"Kamu mau liat aku, Satria dan Amanda mati di tangan ibumu?" Pertanyaan Bobi membuat Melisa refleks menggelengkan kepalanya.
"Kita ga punya cara lain Mel, ayahmu harus tau kejadian ini." Bobi memaksa Melisa untuk menghubungi ayahnya.
Dengan berat hati Melisa akhirnya mengeluarkan ponsel dari sakunya. Menyerahkan pada Bobi, karena ia tak sanggup bicara mengenai kejelekan ibunya pada ayahnya.
Bobi mengambil ponsel itu, ia mencari nama ayah Melisa dan bergegas menghubunginya.
Beberapa kali Bobi menghubungi namun tak mendapat respon dari pak Gunawan.
"Gak diangkat Mel, apa dia udah tidur ya?" Bobi.
"Ini udah jam dua kak, pasti udah tidur," Melisa.
"Kalau gitu kita hubungi Fredy," Bobi mencari nama Fredy di ponsel Melisa dan segera menghubunginya.
"Ia nona Melisa?" Sapa laki-laki diseberang sana. Suaranya terdengar sangat berat. Ia pasti sedang tidur saat ini.
"Fredy," panggil Bobi.
"Tuan Bobi? Ada apa? Apa terjadi sesuatu pada nona Melisa?" Terdengar suara Fredy yang khawatir.
"Om ada dimana?" Tanya Bobi.
"Kami masih dalam perjalanan dinas di luar negeri. Kemana nona Melisa? Mengapa anda yang menelepon?" Tanya Fredy curiga.
Bobi mengganti saluran telepon menjadi panggilan video. Betapa terkejutnya Fredy melihat wajah Melisa yang sudah banjir air mata. Gadis itu bahkan masih terlihat sangat ketakutan.
"Nona, ada apa?" Terlihat Fredy yang bangun dari tidurnya setelah melihat wajah Melisa.
"Ayah mana? Hiks... hiks..." Melisa menangis semakin jadi saat melihat wajah Fredy yang khawatir.
__ADS_1