Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Kecelakaan


__ADS_3

Setelah delapan jam menunggu, akhirnya pesawat yang mereka naiki pun bisa lepas landas. Meski cuaca belum terlalu membaik, namun sudah jauh lebih baik.


Dengan perasaan gelisah Satria duduk di samping Natasya. Mia dan Astrid duduk di kursi yang lumayan jauh dari mereka. Natasya sengaja tak memesan kelas bisnis lagi seperti saat keberangkatan. Ia ingin menghabiskan waktu lima jam di pesawat bersama dengan Satria.


Namun Satria sejak masih menunggu di bandara, selalu tampak gelisah.


"Kau baik-baik saja? Kenapa kau terus gelisah?"


"Entahlah nyonya, saya terus memikirkan keluarga saya. Apa mereka sudah sampai di rumah? Seharusnya mereka sudah sampai tujuh jam yang lalu. Tapi mengapa mereka tak bisa dihubungi?"


"Mereka pasti sudah langsung tidur, sekarang di sana pasti sudah larut malam," Natasya berusaha menenangkan Satria.


"Tapi mereka tidak bisa dihubungi sejak tadi nyonya, saya jadi khawatir. Apa mereka akan baik-baik saja?"


"Tenanglah Satria, mungkin ponsel mereka mati karena kehabisan baterai. Kamu istirahatlah selama di perjalanan," pinta Natasya.


Satria menghela nafas panjang.


"Baiklah nyonya," Satria berusaha memejamkan matanya. Meski ia masih terus memikirkan keluarganya. Namun pada akhirnya Satria tertidur juga, mungkin karena terlalu lelah.


Natasya tersenyum memandangi wajah Satria yang tengah tertidur lelap. Natasya menyelimuti tubuh Satria agar tak merasa kedinginan. Natasya juga mengambil ponsel Satria yang sejak tadi terus ada dalam genggamannya.


Natasya mematikan ponsel Satria, lalu ia ikut tertidur di samping Satria. Dengan kepala yang ia sandarkan pada bahu Satria.


Setelah lima jam perjalanan, mereka akhirnya tiba di bandara internasional di kota A. Setelah mengurus beberapa administrasi, Satria dengan tidak sabarnya ingin segera bertemu dengan keluarganya.


Satria melihat ponselnya yang mati, Satria pikir ponselnya mati karena kehabisan baterai. Namun saat ia mencoba menghidupkannya ternyata ponselnya mati karena dimatikan. Satria menoleh ke arah Natasya yang berjalan di sampingnya sambil mendorong koper di troli.


"Anda mematikan ponsel saya nyonya?"


"Ah, iya. Maaf, ku pikir kau harus beristirahat selama di perjalanan," jawab Natasya dengan santai.


Satria hanya menghela nafas, ia sudah mengaktifkan kembali ponselnya. Ada begitu banyak pesan yang masuk dan informasi tentang panggilan tak terjawab dari nomor yang tak dikenal.


Satria mengernyitkan dahinya. Ia melihat ada satu nomor yang terus-terusan menelponnya bahkan belum lama ini juga nomor itu masih menghubunginya.

__ADS_1


Satria tanpa pikir panjang, menghubungi kembali nomor yang terus-terusan meneleponnya itu.


"Halo? Satria?" Suara seorang pria terdengar dari seberang sana.


"Iya benar, maaf ini siapa?" Tanya Satria yang asing mendengar suara itu.


"Ini pak RT, Satria kamu ada dimana?"


"Pak RT? Saya masih di bandara pak, tapi sudah mau keluar. Ada apa pak?"


"Kamu sebaiknya langsung ke rumah sakit pusat kota saja ya, bapak tunggu di sini," ucap pak RT.


Tentu saja Satria merasa bingung. Tapi pikirannya langsung tertuju pada keluarganya, Satria seketika panik dan berjalan semakin cepat.


"Satria, mau kemana kau buru-buru?" Tanya Natasya yang kebingungan melihat Satria berlari semakin cepat menjauh darinya.


Sampai di pintu masuk bandara, Satria segera menaiki taksi yang ada di sana.


"Ke rumah sakit pusat kota pak," ucap Satria.


Supir taksi segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit kota, tak lama ponsel Satria kembali berdering. Kali ini dari Natasya, Satria mengabaikannya. Ia meminta supir taksi mempercepat laju kendaraannya.


Semua kemungkinan-kemungkinan buruk terus terlintas dalam pikirannya selama diperjalanan. Satria terus mengabaikan panggilan yang masuk ke ponselnya, ia hanya fokus ingin segera sampai di rumah sakit.


Sampai di rumah sakit, Satria melihat pak RT dan beberapa tetangga sedang berdiri di depan IGD. Di sana juga nampak banyak sekali mobil polisi dan ambulan yang berlalu lalang. Melihat kehadiran Satria pak RT dan tetangga yang ada di sana segera menghampiri Satria.


"Satria, kau kemana saja? Kenapa sulit dihubungi?" Tanya pak RT.


"Saya baru turun dari pesawat pak, ada apa pak? Apa terjadi sesuatu pada keluarga saya?" Dengan perasaan yang tak menentu Satria bertanya pada pak RT.


Belum sempat pak RT menjawab, seorang polisi menghampiri mereka.


"Selamat pagi pak, perkenalkan saya Budi dari unit Satlantas. Apa saudara yang bernama Satria?" Tanya polisi yang bernama Budi itu.


"Iya benar pak, ada apa?"

__ADS_1


"Apa saudara benar putra dari bapak Joni?"


"Iya pak," Satria mengangguk membenarkan.


"Bisa saudara ikut dengan saya?" Pinta pak Budi pada Satria.


Satria menatap pak RT yang berdiri di sebelahnya. Pak RT mengangguk, kemudian Satria pun mengiyakan ajakan pak Budi untuk ikut dengannya.


Dengan ditemani oleh pak RT, Satria pergi mengikuti pak Budi. Berjalan memasuki lorong rumah sakit. Sementara itu, koper milik Satria dititipkan pada tetangga yang ada di sana.


"Ada apa ini sebenarnya pak?" Tanya Satria pada pak RT.


Namun pak RT seakan tak mau menjawab, dan hanya terdiam. Wajahnya terus menatap ke depan, pak RT sendiri tak tau bagaimana cara menyampaikannya pada Satria.


Tibalah mereka di sebuah ruangan paling ujung lorong di rumah sakit itu. Satria melihat tulisan yang tertera di atas pintu masuknya, 'Kamar Mayat'.


Deg...


Jantung Satria berpacu dengan sangat cepat, ia masih berusaha mencerna mengapa polisi mengajaknya ke kamar mayat?


Pak Budi sudah membuka pintu dan mempersilahkan Satria masuk, namun bukannya masuk Satria malah terdiam mematung. Kakinya terasa sangat berat untuk melangkah.


"Kenapa bapak bawa saya ke tempat ini? Ada apa ini sebenarnya pak?" Tanya Satria sambil terus memperhatikan raut wajah pak Budi dan pak RT.


"Satria, kamu yang tabah ya," pak RT mengelus lengan Satria.


Satria mengernyitkan dahi, ia masih belum bisa paham kenapa pak RT seperti ini padanya?


"Begini saudara Satria, kemarin sore telah terjadi kecelakaan lalu lintas di ruas jalan tol menuju kota A. Sebuah truk tronton mengalami rem blong yang mengakibatkan kecelakaan, truk menabrak beberapa mobil yang ada di depannya dan salah satunya mobil yang dikendarai oleh pak Joni," pak Budi berhenti sejenak.


Namun Satria seolah tak lagi bisa mendengar penjelasan dari pak Budi. Berita kecelakaan yang tadi didengarnya, dan kini ia yang dibawa ke kamar mayat sudah berhasil membuatnya terpukul. Semua keluarganya tewas dalam kecelakaan kemarin sore.


Tubuh Satria seketika lemas, ia jatuh terduduk sambil menangis.


"Ayah, ibu.. Rian..."

__ADS_1


Pak RT segera memeluk Satria yang menangis dengan histeris.


"Yang sabar ya Satria," pak RT pun tak kuasa menahan tangisnya. Ia ikut menangis sambil memeluk Satria dengan erat.


__ADS_2