
Satu bulan berlalu setelah ujian akhir kelas XII. Dan hari ini adalah hari dimana murid-murid kelas XII menerima pengumuman hasil ujian mereka. Dengan penuh semangat membara mereka semua sudah berkumpul di lapangan upacara.
Kepala sekolah akan memberikan mereka ucapan selamat dan juga pengumuman siapa saja siswa yang berhasil meraih juara umum. Sesuai dugaan, Satria mampu bertahan di posisi pertama dengan nilai sempurna. Dengan nilai ini, Satria bisa dengan mudah mengajukan beasiswa ke luar negeri.
Begitu juga dengan Mia, hanya selisih nol koma lima di bawah Satria. Dengan nilai itu, Mia juga bisa mengajukan beasiswa ke luar negeri. Dan siapa sangka di peringkat ke tiga, Melisa mampu bersaing dengan murid lainnya. Tentu saja hasil ini membuat semua orang tak menyangka. Melisa yang bahkan tak pernah masuk peringkat sepuluh besar kini berada di posisi ketiga.
Beberapa murid bergosip di belakang bahwa Melisa mendapatkan bocoran jawaban dari para guru. Sedangkan para guru sendiri yang tidak memperlakukan Melisa secara istimewa seperti biasanya, merasa sangat kagum. Ternyata Melisa juga memiliki otak yang encer, jika memang ia belajar dengan sungguh-sungguh.
Teman-teman sekelas Melisa juga merasa Melisa akhir-akhir ini sangat giat belajar, mereka semua mengapresiasi kerja keras Melisa di detik-detik terakhir sebelum ujian. Teman-teman sekelas Melisa lah saksi bahwa Melisa memang mengalami perubahan yang sangat drastis di beberapa hari sebelum ujian. Dapat dilihat dari tes-tes sederhana yang di berikan oleh para guru di kelas, tak hanya Satria dan Mia yang mampu menjawab jawaban dengan benar. Melisa juga tak kalah hebat dari dua murid terpintar itu.
Gunawan yang mendengar bahwa Melisa berhasil masuk peringkat umum ketiga tentu saja merasa sangat bangga. Ia menyuruh Fredy segera mengurus berkas pendaftaran di universitas ternama dunia. Gunawan sangat ingin Melisa bisa kuliah di universitas tempat ia kuliah dulu.
Satria, Mia, dan Melisa yang berhasil mendapat peringkat tiga besar tentu saja mendapat apresiasi dari sekolah. Mereka akan di undang makan malam bersama para guru dan staf sekolah. Makan malam di sebuah restoran di hotel bintang lima.
Ketiganya kini sudah duduk manis di tengah-tengah restoran bersama para guru. Mereka semua memuji nilai-nilai yang di dapat oleh mereka bertiga. Terutama pada Satria yang mendapat nilai sempurna.
“Jarang sekali ada murid yang berhasil mendapat nilai sempurna sepertimu Satria,” ucap bu Desti.
“Benar, biasanya kebanyakan dari mereka akan mendapatkan nilai maksimal seperti Mia dan Melisa,” balas pak Wilson.
Satria hanya tersenyum ramah mendengar pujian dari para guru. Tak hanya dari para guru, Mia yang menjadi saingannya juga ikut memberi selamat dengan terus mengacungkan ibu jarinya. Namun ada satu orang yang terlihat sama sekali tak peduli, yaitu Melisa.
Melisa sama sekali tak memberi ucapan selamat pada Satria ataupun Mia, padahal tadi saat nama Melisa di umumkan masuk ke peringkat tiga, Satria segera memberikan ucapan selamat. Meski begitu, Satria mencoba untuk mengerti. Mereka memang tak bisa bebas berinteraksi saat ada banyak orang di sana.
__ADS_1
Melisa yang saat itu duduk di depan Satria terlihat hanya fokus pada makanannya. Ia memang gadis dingin yang selama ini mereka kenal. Mendapat banyak pujian dari para guru dan staf sekolah, Melisa hanya membalasnya dengan senyum kecil. Ia bahkan terlihat tak nyaman berada di sana.
Di penghujung acara makan malam, Natasya datang membawa tiga buket bunga. Satu ia berikan kepada Satria sebagai ucapan selamat, Natasya sangat tau betapa kerasnya usaha Satria demi mencapai titik itu. Kini hanya tinggal satu langkah lagi agar Satria bisa meraih mimpinya sekolah di luar negeri.
Satu bunga Natasya pada Mia yang tak kalah hebat dari Satria. Dan satu bunga lagi Natasya berikan pada putrinya sendiri, Melisa. Natasya sama sekali tak menyangka Melisa juga bisa masuk peringkat ketiga. Padahal selama ini gadis itu sama sekali tak menunjukkan dirinya mampu bersaing dalam bidang akademik. Natasya duduk tepat di samping Melisa, dan mengamati gadis itu dengan seksama.
“Selamat Melisa, aku tak menyangka ternyata kau hebat juga,” puji Natasya.
Melisa hanya menyeringai mendengar pujian dari ibunya.
“Kau mau ikut mendaftar beasiswa ke luar negeri juga seperti Satria dan Mia?”
“Kau pikir ayahku tak mampu membiayai sekolahku?”
Natasya tertawa. “Tentu saja ayahmu pasti mampu membiayaimu,” Natasya berusaha untuk bersikap ramah pada Melisa karena ada banyak pasang mata yang melihat mereka.
“Hah... kenapa kau iri?” Melisa menatap Natasya sinis.
Natasya menaikkan kedua bahunya. “Untuk apa? Aku sudah bahagia sekarang, bisa terus bersama dengan orang yang ku cintai. Terlebih sekarang dia sudah lulus sekolah, jadi aku bisa dengan leluasa melakukan apapun padanya,” Natasya masih berbisik di telinga Melisa sambil mengusap paha Melisa seolah memberi contoh apa yang akan ia lakukan pada Satria.
Melisa menepis tangan Natasya, seketika ia merasa jijik dengan wanita yang duduk di sebelahnya ini. “Menjijikkan,” ucap Melisa.
Natasya menaikkan kedua alisnya, ia nampak tak peduli dengan tatapan jijik Melisa. Natasya memang sangat senang menggoda Melisa, hingga gadis itu marah dan semakin membencinya.
__ADS_1
Melihat pemandangan di hadapannya, Satria tentu paham apa yang sedang terjadi. Ia harus segera mencegah agar keduanya tidak berlarut-larut dalam perang dingin itu.
“Ehem...” Satria memberi kode agar keduanya berhenti. Dan berhasil, keduanya kini menoleh ke arah Satria.
“Ada apa Satria?” Tanya Natasya dengan ramah.
“Maaf nyonya, kalau boleh tau kapan ujian masuk univertas dilaksanakan?” Satria berusaha mengambil alih perhatian Natasya.
“Kamu belum dapat beritanya? Bukankah besok?”
“Ah iya benar, maaf nyonya aku lupa.”
“Kamu pasti terlalu senang sekarang hingga melupakan kapan kau akan ikut tes masuk universitas,” Natasya tertawa kecil.
“Kamu juga ikutan tes besok Mel? Kita akan masuk ke universitas yang sama kan?” Tanya Satria pada Melisa.
“Aku tak perlu ikut tes, ayah bilang aku sudah mendapat kursi di sana. Aku hanya tinggal menyerahkan berkas pendaftaran,” jawab Melisa datar.
“Wah hebat sekali, aku lupa kalau Gunawan adalah orang yang bisa melakukan hal itu,” sindir Natasya. Berita tentang masuknya Melisa ke univeritas ternama dunia tanpa mengikuti tes lagi tentu saja membuat semua orang yang berada di sana berpikir bahwa Gunawan sengaja menyogok agar Melisa bisa masuk ke universitas favorit itu. Bahkan beberapa orang menduga Melisa bisa berada di peringkat ketiga karena bisa mendapatkan kunci jawaban, berkat uang ayahnya.
Mendengar Natasya mengatakan itu, Melisa segera menghentikan makannya. Ia menoleh ke arah Natasya dengan sinis, dan memintanya untuk ikut dengannya.
Natasya dengan suka rela mengikuti Melisa menuju ke luar restoran. Tentu saja seketika suasana menjadi canggung. Satria yang khawatir mengikuti Melisa dan Natasya yang berjalan keluar restoran.
__ADS_1
Ini loh juara umum kita 😍