
Sejak sore hari, Satria terlihat sangat sibuk di dapur. Steve yang baru saja datang segera menghampiri Satria.
"Sedang apa kamu?"
"Lagi masak yah," jawab Satria.
"Masak? Masak besar kayanya nih, siapa yang mau datang?"
"Melisa."
Steve mengangguk-anggukkan kepalanya.
Satria sangat cekatan saat berada di dapur, ia bahkan terlihat seperti koki profesional. Tentu saja semua itu karena ia terbiasa mengurus masakannya sendiri selama kuliah di luar negeri.
Tak hanya itu, Satria juga mempelajari bagaimana cara memasak yang baik dan enak. Semua itu ia pelajari dari teman-teman satu asramanya.
"Perlu ayah bantu?"
"Tidak yah, ayah jaga ibu saja di kamar."
"Ibumu sudah tau kalau Melisa mau datang?"
"Tentu saja, aku memberi tahunya."
"Baiklah, kalau begitu Natasya harus berdandan cantik malam ini. Aku akan mengajaknya berbelanja baju," Steve hendak melangkahkan kaki meninggalkan Satria.
"Yah..." Panggil Satria.
"Ada apa?"
"Bukankah nanti ibu akan lelah jika harus pergi keluar rumah."
"Satria, aku tau kamu pasti khawatir. Tapi kita harus menghargai keputusan Natasya. Jika bukan kita orang terdekatnya, siapa lagi?"
"Aku tau, tapi..."
"Mari kita sama-sama menemani Natasya menikmati hari-harinya, jangan lagi berdebat mengenai masalah pengobatannya. Itu hanya akan membuat Natasya semakin stres, dan sel-sel kankernya akan semakin cepat berkembang."
Satria terdiam, ia merenungi perkataan Steve. Memang benar, sejatinya semua orang pasti akan meninggalkan dunia ini. Namun apa salahnya berusaha untuk kesembuhan saat tau bahwa kita memiliki penyakit yang parah.
Padahal kemungkinan untuk sembuh masih ada, namun mengapa Natasya memilih untuk menyerah pada penyakitnya?
"Satria, kamu juga perlu tau. Pengobatan yang kelak akan dialami Natasya jika ia setuju untuk melanjutkan pengobatan, justru akan lebih sakit dibanding sakit yang kini ia derita."
"Lalu, menurut ayah. Menyerah jauh lebih baik?"
"Natasya tidak menyerah, ia hanya ingin menikmati sisa hidupnya. Jika mengikuti pengobatan, bisa-bisa seluruh sisa hidupnya akan ia habiskan di rumah sakit. Tanpa bisa menikmati hidupnya lagi."
Satria menghela nafas panjang. Ia sebenarnya sangat ingin Natasya sembuh, namun benar apa yang dikatakan Steve. Saat ini ia tak boleh egois. Meski kemungkinan untuk sembuh itu kecil, tapi setidaknya Natasya bisa menikmati masa tuanya bersama dengan orang-orang yang ia cintai.
"Kalau begitu, belikan pakaian yang cantik untuk ibu," Satria tersenyum menatap Steve.
Steve membalas senyuman itu, ia lalu meninggalkan Satria seorang diri di dapur. Membiarkan anak angkatnya itu berkreasi di sana.
Hingga malam pun tiba, waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Satria sudah selesai dengan menu istimewanya.
__ADS_1
Tak hanya Satria yang siap, Natasya pun sudah berdandan dengan sangat cantik. Terlihat raut wajah bahagia dari aura yang terpancar di wajah Natasya.
"Bu, aku mau cari angin dulu ya," ucap Satria setelah melihat Natasya sudah rapih dan cantik.
"Mau kemana?"
"Ke warung depan," jawab Satria sambil berlalu.
"Jangan lama-lama, Melisa sebentar lagi datang," pinta Natasya.
Satria hanya mengacungkan jempolnya tanda setuju tanpa menoleh atau berkata apapun.
"Mau kemana itu anak?" Tanya Steve yang tiba-tiba muncul dengan setelan jas rapih.
"Kamu mau kemana?"
"Makan malam."
Natasya mengernyitkan dahinya.
"Memangnya kamu saja yang boleh tampil cantik? Aku juga mau berdandan di depan anakmu dan calon suaminya," Steve merapihkan dasinya.
"Calon suami apanya? Tuh calon suaminya baru pergi."
"Hah?"
"Calon suami Melisa, itu baru aja pergi. Mau kabur kayanya dia, ga tahan mungkin kalau harus lihat Melisa bersama laki-laki lain," ucap Natasya.
"Nat, apa kamu tidak merestui hubungan Melisa dan Dion?" Tanya Steve penasaran.
"Kenapa? Dia kan juga putrimu?"
"Justru karena dia putriku, aku semakin tak tega jika putriku harus menyakiti putraku," Natasya memperlihatkan mimik wajah sedihnya.
"Sudahlah Nat, ingat... Sebagai orang tua, kita harus tetap menghargai pilihan anak-anak kita," nasihat Steve.
Natasya hanya mengangguk lemah.
Tak lama bel rumah pun berbunyi, Natasya dan Steve segera keluar untuk menyambut kedatangan Melisa dan Dion.
"Kalian sudah datang?" Sambut Natasya. Wanita itu lalu memeluk putri semata wayangnya.
Melisa tentu saja merasa sedikit canggung, meski begitu ia merasa sangat senang. Karena ini pertama kalinya ia merasakan pelukan hangat dari ibu kandungnya sendiri.
Setelah bersalaman, mereka segera masuk menuju ruang makan.
"Wah, menunya lengkap banget tante," puji Dion.
"Iya dong, siapa dulu kokinya," Natasya tersenyum bangga.
"Ini tante masak sendiri?"
"Aku mana bisa masak?"
"Lalu siapa yang masak?" Dion menoleh ke arah Steve.
__ADS_1
"Bukan aku juga," Steve mengangkat kedua tangannya.
"Ini semua Satria yang masak, dia itu jago masak loh!" Natasya membanggakan Satria di depan Dion dan Melisa.
"Satria? Dia udah pulang tante?"
"Sudah, kemarin lusa."
"Oh, lalu dimana dia sekarang?" Dion terlihat celingukan mencari sosok Satria di rumah itu.
"Dia sedang keluar," jawab Natasya sambil melirik Melisa.
Dion mengangguk mendengar jawaban Natasya. Sedangkan Melisa malah menunjukkan ekspresi bingung.
"Bagaimana kalau kita makan dulu, setelah itu kita baru ngobrol-ngobrol?" Usul Natasya.
"Gak nunggu Satria mah?" Tanta Melisa.
"Dia pasti pulang malam," jawab Natasya.
"Wah, sayang banget. Padahal jarang-jarang kita bisa makan bersama," ucap Dion.
"Gak apa-apa, Satria memang begitu. Dia lebih suka memasak dari pada makan, aduuhhh... beruntung banget deh yang jadi istrinya kalau punya suami jago masak begitu," ucap Natasya sambil sesekali melirik Melisa.
"Iya bener tante, beruntung banget nanti yang jadi istrinya," Dion menyetujui.
"Lebih beruntung ibunya, karena setiap hari dimasakin apa aja yang dia mau sama Satria," Steve tak mau kalah.
"Kamu benar sayang," Natasya tertawa geli mendengar ucapan Steve.
Sementara yang lainnya asik memuji Satria, Melisa sibuk dengan pikirannya sendiri. Awalnya ia merasa sangat bersemangat karena akan bertemu Satria jika ia datang ke rumah ibunya.
Namun harapannya harus pupus, nyatanya Satria lebih memilih untuk keluar entah kemana dibanding bertemu dengan dirinya.
"Jadi benar, kalau aku bukan prioritas," batin Melisa.
Mereka melanjutkan makan malam dengan menu mewah itu, sambil berbincang-bincang santai.
Setelah selesai makan, Steve mengajak Dion keluar untuk merokok.
"Aku gak ngerokok om," ucap Dion.
"Ya udah, temenin om aja!" Steve merangkul pundak Dion. Bersama-sama mereka berjalan menuju halaman depan.
Sementara itu, Melisa dan ibunya tengah sibuk membereskan meja makan.
"Terima kasih ya Mel, kamu sudah mau datang ke sini," ucap Natasya di sela-sela aktivitas mereka.
"Itu karena seseorang terus saja memintaku untuk datang, tapi dia malah pergi," gerutu Melisa.
Natasya menghampiri Melisa dan memeluk putri semata wayangnya itu.
"Maklum saja, dia mungkin tidak sanggup jika melihat kamu bersanding dengan laki-laki lain," bisik Natasya.
Melisa tertegun, ia tak berpikir sampai ke sana. Jadi Satria memang sengaja menghindar karena alasan itu? Entah mengapa Melisa merasa tersipu malu mendengarnya.
__ADS_1