
Satu minggu telah berlalu, sejak pertemuan Gunawan dan Satria. Sampai saat ini Gunawan masih juga belum bisa menemui Natasya.
Gunawan sempat meminta bantuan Satria, jika saja Natasya datang mengunjunginya di rumah belajar. Ia harap Satria mau memberitahu dirinya.
Satria sendiri memang sudah tak pernah bertemu dengan Natasya, sesekali Natasya hanya menghubungi Satria melalui pesan singkat. Satria sudah memberi tahu Natasya bahwa saat ini Gunawan tengah mencarinya. Namun Natasya hanya mengatakan dirinya sedang ada urusan di luar negeri jadi tak bisa dihubungi untuk sementara ini.
Gunawan tak menyerah, ia yang sudah mendengar dari Satria bahwa Natasya saat ini sedang berada di luar negeri. Segera bersiap-siap untuk menemuinya. Gunawan seakan tau sedang berada dimana Natasya saat ini.
Pesawat yang ditumpangi Gunawan sudah berangkat sejak tadi malam. Ia menyusul istrinya yang kini tengah berlibur di sebuah villa di negara beriklim tropis.
Beberapa kali Gunawan pernah memergokinya sedang berjemur di sana. Dengan alasan ada urusan di luar negeri, Natasya selalu memberikan alasan yang sama pada sekertaris yang kini sedang menggantikan pekerjaannya.
Dan benar saja, Gunawan melihat Natasya sedang berjemur di tengah teriknya matahari di pinggir pantai. Dengan pakaian yang sangat minim, hampir memperlihatkan tubuh polosnya.
"Natasya..." panggil Gunawan seraya duduk di samping kursi santai Natasya.
Natasya menoleh sekilas, lalu ia kembali menikmati teriknya matahari pagi itu. Seakan Natasya tidak terganggu sama sekali dengan kehadiran Gunawan.
"Kau berhasil menemukanku?" Hanya itu tanggapan Natasya setelah melihat wajah Gunawan.
"Aku tau kau pasti pergi ke tempat ini jika sedang ada masalah," ucap Gunawan.
"Hebat kau Gunawan, aku tak tau ternyata kau sangat mengenal diriku," Natasya tersenyum bahagia mendengar Gunawan yang paham sekali dirinya.
"Kenapa kau kabur ke sini? Bukankah seharusnya kau selesaikan dulu urusan kita baru kau pergi ke sini?" Tanya Gunawan.
"Kau benar, aku memang pengecut. Aku selalu lari dari masalah, tak pernah berani menghadapinya," jawab Natasya mengakui dirinya yang selalu kabur saat ada masalah.
"Kau menyukai Satria?" Gunawan tak mau berbasa-basi.
Natasya tersenyum, ia membuka kacamata hitam yang sejak tadi bertengger di depan matanya.
"Kenapa kau bisa berkata begitu?"
"Jawab saja pertanyaanku," ucap Gunawan tanpa menoleh ke arah Natasya.
__ADS_1
"Kau benar, aku menyukainya. Bukan sebagai temannya Melisa, tapi sebagai pria," jawab Natasya dengan jujur.
"Jujur sekali kamu," Gunawan segera menoleh ke arah Natasya. Ia tak percaya istrinya dengan begitu mudah akan mengakuinya.
Natasya hanya mengangkat kedua bahunya, ia seolah tak peduli apa yang akan terjadi berikutnya akibat dari kejujurannya ini.
"Jika kamu bisa menjawab sejujur ini, kenapa sejak awal tak memberi tahuku? Kenapa kau harus kabur dulu ke tempat ini?"
"Karena aku malu padamu," jawab Natasya.
"Malu?" Gunawan mengernyitkan dahinya.
"Mmm..." Natasya mengangguk. "Aku malu karena tak bisa menjadi istri yang baik bagimu. Padahal kau memberiku kesempatan untuk bisa memperbaiki diri, menjadi istri dan ibu yang baik."
"Jadi karena itu kau lari ke tempat ini?"
Natasya kembali mengangguk.
Gunawan tersenyum menatap Natasya.
"Kau benar-benar menyukai Satria?"
"Aku menyukainya, aku sendiri tak tau mengapa aku bisa seobsesi ini padanya? Aku bahkan rela melakukan apapun agar Satria bisa terus berada di sisiku," jawab Natasya.
"Meski Satria tak menyukaimu?"
Natasya tersenyum getir.
"Kau tau? Aku bahkan sudah menjatuhkan harga diriku di depan dia. Namun Satria tetap tak bergeming. Ia tetap pada pendiriannya menyukai Melisa, bahkan setelah semua yang ku lakukan demi dirinya. Satria tetap tak melirikku. Dia hanya menganggap hubungan ini hanyalah hubungan bisnis."
"Tak bisa kah kau merelakannya saja? Satria dan Melisa saling menyukai, dulu kau memisahkan mereka karena status Satria yang berasal dari keluarga tak mampu. Dan kini kau memisahkan mereka karena kau malah menyukai Satria. Tak bisakah kau mengalah saja pada anakmu?"
Natasya terdiam, ia nampak berpikir sejenak.
"Apa jika aku menyerah pada Satria Melisa akan bisa kembali menerimaku? Dia itu keras kepala sepertiku, dia pasti tak akan mau menerimaku kembali apalagi Satria. Itulah sebabnya aku mengajaknya bersaing jika memang ia sangat menyukai Satria. Namun apa? Melisa menyerahkan Satria secara cuma-cuma padaku," Natasya tertawa geli.
__ADS_1
"Itu karena Melisa menghargai pilihan Satria, ia mau mendukung Satria agar bisa menggapai mimpinya," ucap Gunawan.
"Tapi aku kan tak melarang mereka berhubungan, aku hanya mengajak Melisa untuk bersaing. Kenapa dia harus mundur padahal sudah jelas dia pemenangnya," gerutu Natasya.
"Karena Melisa tak mau bersaing denganmu," ucap Gunawan lagi.
"Bukankah Melisa seharusnya berterima kasih padaku? Aku akan membantu Satria agar naik derajatnya, sehingga dia tak perlu malu akan status sosial Satria," Natasya menyeringai.
Gunawan menghela nafas. "Sejak awal Melisa tak mempermasalahkan status sosial Satria."
"Kau benar, akulah yang mempermasalahkannya," ucap Natasya dengan santainya.
"Nat, bagaimana jika aku saja yang menjadi investor bagi Satria. Kau menyerah saja padanya, biarkan dia menjadi milik Melisa. Bukankah jika Satria bersama dengan Melisa kau juga bisa bertemu dengannya?" Usul Gunawan.
"Tidak mau! Nanti kau akan membuatku jauh dari Satria," Natasya menolak mentah-mentah usul Gunawan.
"Lalu kau bersikukuh untuk mempertahankan Satria di sampingmu?"
Natasya mengangguk yakin.
"Baiklah, maka kau akan kehilangan aku dan Melisa," wajah Gunawan tampak sangat berharap Natasya bisa merubah keputusannya untuk merelakan Satria setelah mengancam Natasya.
"Kau mau menceraikan aku?"
Gunawan mengangguk perlahan, ia memperhatikan setiap detail perubahan ekspresi Natasya.
"Baiklah kalau begitu, mari kita bercerai. Tak perlu ada persidangan. Aku akan menandatangani surat perceraian, dan kita tak perlu membagi harta gono gini. Kita bawa saja milik kita masing-masing," ucap Natasya dengan sangat tenang.
Gunawan nampak sangat kecewa dengan keputusan yang diambil oleh Natasya. Bahkan wanita itu sudah merelakan harta dan status sosialnya hanya demi seorang bocah yang kini sudah berhasil mengambil hati istrinya itu.
Gunawan menghela nafas panjang, ia segera berdiri dan menghadap Natasya.
"Surat cerai akan aku urus, nanti Fredy yang akan mengantarnya padamu. Kau beri tahu saja padaku kapan kau akan pulang?"
Natasya tersenyum mengetahui Gunawan sudah merelakannya. Memang rumah tangga mereka sudah berusia seperempat abad, namun ternyata cinta mereka tak cukup kuat untuk bisa mempertahankan mahligai rumah tangga yang selama ini terpaksa di pertahankan.
__ADS_1
Gunawan sudah merelakan Natasya, ia sadar wanita yang ia nikahi ini bukan wanita biasa. Jika ia tetap mempertahankannya, suatu saat ia akan melakukan hal yang sama.
Hanya saja Gunawan tak menyangka, Satria orang yang dicintai anaknya lah yang membuat rumah tangga mereka berakhir. Bukan Steve, orang yang selama ini jadi orang ketiga diantara Gunawan dan Natasya.