
Setelah menghabiskan makanan, Melisa dan Amanda pergi melihat-lihat pakaian di butik langganan Amanda. Saat keduanya asik memilih, seseorang datang menghampiri mereka.
"Hai," Bobi menepuk pundak Amanda.
Amanda menoleh, kaget melihat Bobi yang tiba-tiba ada di belakangnya.
"Eh, elu Bob. Kok ada di sini?" Dengan canggung Amanda berusaha membalas sapaan Bobi.
Melisa yang saat itu berada sedikit jauh dari Amanda, memandang keduanya dengan tersenyum.
"Gue kebetulan lewat, terus liat kalian ada di dalem sini. Boleh gabung gak?" Tanya Bobi penuh keraguan.
Amanda melirik Melisa, dan Melisa hanya mengangkat kedua bahunya. 'Terserah', mungkin itu kata yang tersirat dari sorot mata Melisa.
Akhirnya Amanda hanya mengangguk menjawab pertanyaan Bobi.
Bobi tersenyum.
Amanda melanjutkan kegiatannya memilih pakaian yang akan ia beli. Meski sedikit canggung karena kehadiran Bobi, namun ia tetap berusaha bersikap biasa saja.
Aneh memang, sebelumnya Bobi sudah sering mengantar Amanda berbelanja. Dan sama sekali tak ada kecanggungan diantar mereka, bahkan Bobi seringkali membantu Amanda memilih baju-baju yang cocok untuk dipakai Amanda.
Namun kini, keduanya benar-benar merasa canggung. Dan Melisa menyadari itu. Melisa diam-diam mengetik pesan pada Satria agar bisa menyusulnya datang ke mall. Jujur ia tak tahan berada di tengah kecanggungan Amanda dan Bobi.
Namun ternyata, Satria malah tak bisa datang. Ia sedang ada kelas tambahan di akhir pekan ini.
Melisa mendesah kesal.
"Kok bisa sih, akhir pekan gini ikut kelas tambahan? Lagi pula ini kan baru awal semester, bisa-bisanya udah ambil kelas tambahan," gumam Melisa.
"Ga ngajak Satria Mel?" Tanya Bobi.
"Ga bisa ikut kak, dia udah ikut kelas tambahan," gerutu Melisa.
"Rajin ya Satria," ucap Amanda kagum.
"Ga usah kesel Mel, Satria kan lagi berusaha buat mempertahankan beasiswanya. Kalau sampai nilainya turun, bisa-bisa beasiswanya terancam dihapus kan?" Hibur Bobi.
"Sekarang aja beasiswanya sudah terancam dihapus," batin Melisa.
"Kak, aku tinggal ya," ucap Melisa.
"Loh, mau kemana?" Amanda terlihat panik karena akan ditinggal Melisa. Itu artinya ia hanya akan berduaan dengan Bobi.
"Mau nyusul Satria di sekolah," jawab Melisa.
"Ya kan Satria juga lagi belajar," Amanda berusaha agar Melisa tak pergi meninggalkannya.
__ADS_1
"Ya ini bentuk dukungan aku buat usahanya dia kak." Sebenarnya Melisa merasa bersalah karena tak bisa membantu Satria menjalankan misinya. Karena memang tak mudah memberikan maaf kepada ibunya.
Setelah pamit pada Amanda dan Bobi, Melisa pergi meninggalkan mall. Menggunakan taksi menuju SMA Puspa Tunggal.
Kini Amanda hanya berdua dengan Bobi. Rasa canggung diantara mereka berdua benar-benar tak bisa dihindari.
"Mau kemana sekarang?" Tanya Bobi.
"Gak tau, pulang aja kali," jawab Amanda datar.
"Loh kok pulang? Udah lu mau beli apa? Biar gue temenin," Bobi.
Amanda diam tak menjawab, ia berjalan perlahan melewati beberapa toko pakaian. Bobi mengikutinya di belakang.
"Terulang lagi," ucap Bobi, Amanda berhenti dan menoleh ke arah Bobi.
"Apa?" Tanya Amanda.
"Situasi kita yang kaya begini," jawab Bobi.
Amanda mengernyitkan dahinya.
"Lupa ya? Kita kan pernah ada di situasi kaya begini di pulau Y," ucap Bobi seraya tersenyum pada Amanda.
"Oh ya?" Amanda berlagak cuek, gadis itu kembali melanjutkan perjalanannya.
Bobi mengejar Amanda, lalu berhenti tepat di depannya. Amanda berhenti melangkah, keduanya kini saling bertatapan.
"Maksudnya?" Amanda pura-pura tak tau maksud Bobi.
"Man," kali ini Bobi memegang kedua tangan Amanda. "Maafin gue ya."
"Emang lu punya salah apa?" Tanya Amanda, ia sama sekali tak berani menatap Bobi.
"Justru itu gue gak tau salah gue apa? Gue nih orang yang gak peka, tapi lihat sikap lu yang kaya begini gue yakin gue punya salah ke elu," ucap Bobi.
Mendengar ucapan Bobi, Amanda memberanikan diri untuk menatap mata Bobi.
"Elu gak salah Bob, gue yang salah. Gue begini karena gue emang sengaja menghindar. Karena gue..." Amanda tak melanjutkan ucapannya.
"Karena lu apa?" Bobi penasaran.
"Karena gue gak pantes buat deket sama elu. Gue nih udah kotor, bukan gadis suci lagi. Gue nih cewek bego yang mau aja memberikan keperawanan gue ke cowok yang belum resmi jadi suami gue. Gue nih..." Belum selesai Amanda bicara, Bobi sudah memeluknya.
"Maafin gue Man, elu jadi merasa kaya gini pasti karena gue kan? Maaf ya Man, maafin gue," Bobi membenamkan wajah Amanda di dadanya. Sebenarnya Amanda merasa tersipu dengan perlakuan Bobi. Untung saja Bobi tak melihatnya karena wajahnya yang sudah merona tertutup oleh badannya.
"Elu mau maafin gue ga Man?" Tanya Bobi setelah melepaskan pelukannya.
__ADS_1
Malu-malu Amanda mengangguk pelan.
"Bener lu mau maafin gue?" Mata Bobi sudah mulai berbinar.
"Iya," jawab Amanda, masih tak berani menatap Bobi.
"Yes," Bobi melompat kegirangan. Beberapa pengunjung mall melihat ke arah mereka, membuat Amanda segera menarik tangan Bobi karena malu melihat tingkah Bobi.
"Loh, mau kemana Man?" Meski bingung tak tau dirinya akan dibawa kemana oleh Amanda, namun Bobi merasa sangat senang.
Kini hubungan mereka yang canggung perlahan mencair.
"Bener lu ga mau belanja?" Tanya Bobi.
"Emang lu mau bayarin?" Amanda balik bertanya.
"Hehe, sekarang-sekarang ini gue lagi gak bisa beliin elu baju. Mungkin lain kali kalau gue udah punya penghasilan sendiri, gue janji bakal beliin apapun yang lu mau," ucap Bobi.
"Beneran?" Amanda terlihat sumringah.
Bobi mengangguk, "asal lu mau nungguin gue," bisik Bobi.
"Nungguin apa?" Tanya Amanda bingung.
"Nunggu sampe gue mapan, terus ngelamar elu. Nanti kalau lu udah jadi istri gue, bakal gue usahain buat memenuhi semua kebutuhan elu," jawab Bobi serius.
"Emang lu mau jadi suami gue, gue kan..." Amanda terlihat lesu mendengar jawaban Bobi.
"Mau Man, mau banget. Lu juga mau ya nungguin gue," Bobi segera memotong ucapan Amanda yang sudah terlihat tidak percaya diri.
Akhirnya Amanda mengangguk, membuat Bobi tersenyum senang.
"Tapi Bob, gue juga kan mau kuliah di luar negeri," ucap Amanda ragu-ragu.
"Ya udah ga papa, kan gue juga sebentar lagi mau masuk akademi. Jadi bakal dikarantina. Sekarang kita sama-sama fokus belajar buat ngejar impian kita. Sementara gak ketemu gak papa kan?" Bobi.
Amanda mengangguk.
Bobi tersenyum senang.
"Makasih Man," ucap Bobi.
"Gue yang makasih Bob, lu udah mau terima gue apa adanya," Amanda.
"Sekarang kita puas-puasin main, Lusa gue udah mulai masuk karantina. Jadi udah gak akan bisa ketemu lu lagi," Bobi.
"Yang bener lusa udah masuk? Yah, waktu kita cuma sebentar lagi dong. Apa lu mau nemenin gue malam ini?" Amanda.
__ADS_1
Bobi tersenyum, "Man, gue ga mau jadi kaya Hendry. Gue mau kaya Satria yang tegas sama dirinya sendiri. Cowok keren yang bisa jaga perempuan yang dia suka dari nafsunya sendiri."
Amanda terharu mendengar ucapan Bobi. "Makasih Bob, makasih," Amanda memeluk Bobi dengan erat.