Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Keputusan Melisa


__ADS_3

“Aku tahu Mel, pasti tak mudah bagimu untuk memaafkan mereka. Tapi setidaknya kamu tak boleh memusuhi mereka,” Satria membelai lembut rambut Melisa.


“Kenapa?”


“Setidaknya kamu masih memiliki orang tua, tidak seperti aku yang sudah tidak memiliki siapa-siapa,” mata Satria mulai berkaca-kaca. Ia teringat akan ayah, ibu, dan juga adiknya.


Melisa terkejut melihat perubahan mimik muka Satria, ia sempat lupa bahwa kini Satria hanya sebatang kara tinggal di kota ini. Satria benar, mungkin ibunya memang bukan ibu yang baik. Tapi ibunya tak sejahat itu, buktinya ia masih mau menampung Satria di tempat ini. Walaupun mungkin ada sesuatu yang diharapkan Natasya sebagai imbalan. Tapi setidaknya, saat ini Satria bisa tinggal dengan nyaman di kota yang jauh dari keluarga besarnya.


“Kamu mau menginap di sini?”


Melisa mengangguk, ia memang merasa sudah sangat lelah malam ini. Lagi pula ia sedang tak ingin pulang ke rumah, Melisa merasa malas jika harus bertemu dengan Gunawan di rumah nanti.


“Kau tidurlah di kamar depan, biar aku tidur di kamar belakang,” ucap Satria.


Sekali lagi Melisa mengangguk, ia lalu berjalan menuju kamar yang letaknya dekat dengan ruang tamu. Begitu pun Satria, ia juga bergegas menuju kamar belakang. Besok mereka masih harus sekolah, dan besok adalah hari terakhir mereka belajar di sekolah sebelum akhirnya mereka menghadapi ujian akhir.


Keesokan harinya, sebelum matahari terbit Melisa sudah pergi meninggalkan rumah Satria. Saat itu Satria masih terlelap dalam tidurnya. Melisa sengaja tak membangunkan Satria karena ia tak mau mengganggu waktu istirahat Satria.


Sesampainya di rumah, Melisa melihat mobil ayahnya yang terparkir di garasi rumah. Melisa bergegas masuk ke dalam rumah, dan betapa terkejutnya ia saat melihat ayahnya sudah menunggunya di ruang tamu yang gelap.


“Ayah... Kau mengagetkan ku,” Melisa mengusap dadanya karena terlalu kaget melihat Gunawan yang sudah duduk di kursi ruang tamu yang gelap.


“Kamu dari mana saja? Kenapa baru pulang sekarang?”


“Aku... aku habis menenangkan pikiran,” jawab Melisa.


“Memangnya kenapa pikiranmu?”

__ADS_1


“Akhir-akhir ini aku merasa stres, mungkin karena ujian akhir yang hanya tinggal hitungan hari saja,” Melisa berusaha menjawab dengan tenang meski dalam hatinya sangat gugup.


“Kenapa ponselmu tak bisa dihubungi?”


“Ponsel? Ah... aku lupa mengisi baterainya.” Padahal Melisa memang sengaja mematikan ponselnya.


“Katakan sejujurnya pada ayah, kamu habis dari mana?”


Melisa menghela nafas, ia tau bahwa dirinya tak bisa membohongi ayahnya. Serapat apapun ia menutupi kebenaran ayahnya pasti akan tau.


“Maaf ayah, aku habis dari rumah Satria,” Melisa tertunduk tapi matanya masih berusaha mengintip ke arah Gunawan.


“Satria?” Tentu saja jawaban itu mampu merubah mimik wajah Gunawan meski hanya sekejap. Dan sayangnya Melisa melihat perubahan itu.


“Kamu masih berhubungan sama dia? Ayah pikir kalian sudah tidak saling komunikasi,” Gunawan sudah kembali pada ekspresi ramahnya. Ekspresi yang biasa ia tunjukkan pada putri semata wayangnya.


“Apa saja yang kalian bicarakan sampai subuh begini?” Gunawan masih berusaha menahan dirinya agar tetap tenang.


“Ah, sebenarnya kami hanya mengobrol sampai tengah malam. Lalu Satria mengijinkan aku untuk menginap di rumahnya.”


“Menginap? Kalian tak melakukan apa-apa kan?” Gunawan mencurigai Melisa.


“Ayolah ayah, Satria bukan orang yang seperti itu.”


“Tapi bagaimana pun dia juga laki-laki, dan kalian hanya berdua di rumah Satria,” Gunawan tak bisa lagi menyembunyikan rasa curiganya.


Kali ini Melisa dapat melihat dengan jelas, wajah asli ayahnya. Namun Melisa lebih memilih untuk bersikap biasa saja, seolah ia tak tau rahasia apapun tentang Gunawan. Selama di perjalanan pulang tadi, Melisa bertekad akan terus mengikuti permainan ayahnya. Ia akan pura-pura tidak tau apapun, dan berusaha untuk menuruti ayahnya.

__ADS_1


Melisa takut, jika Gunawan akan melakukan hal yang lebih kejam pada Satria jika dirinya membangkang perintah Gunawan. Melihat dirinya yang dekat dengan keluarga Satria saja sudah bisa membuat keluarga Satria kehilangan nyawanya, apalagi jika ia tetap nekad terus berhubungan setelah kejadian itu. Melisa tak mau membuat Satria semakin menderita karena dirinya.


“Maafkan aku ayah, tapi sungguh kami tak melakukan apapun semalam,” Melisa menundukkan wajahnya.


Gunawan kembali tersenyum ramah, ia bahkan berjalan mendekati Melisa.


“Iya, ayah percaya padamu. Sekarang hari masih gelap, kau tidurlah sebentar. Nanti jika hari mulai terang ayah akan membangunkanmu,” Gunawan membelai lembut rambut putrinya.


Melisa mengangguk, ia segera berjalan menuju kamarnya. Sesampainya di dalam kamar, Melisa sudah bisa bernafas dengan lega. Sebelumnya udara yang ia hirup saat bersama ayahnya terasa sangat berat.


Melisa tak tau apa ia akan sanggup menjalani hari-harinya bersama Gunawan, setelah mengetahui sifat asli ayahnya. Namun itu jauh lebih baik, dari pada ia harus bertindak gegabah yang mengakibatkan orang yang ia cintai hidup menderita.


Mulai saat ini, Melisa bertekad untuk menutup hatinya rapat-rapat. Ia tak akan menceritakan apapun tentang apa yang ia rasakan pada siapapun, termasuk pada ayahnya kini. Melisa benar-benar harus berhati-hati, ia tau ayahnya melakukan semua ini karena menyayangi dirinya.


***


Akhirnya hari yang di tunggu-tunggu murid kelas XII pun tiba, hari ini adalah ujian akhir bagi murid kelas XII. Setelah ujian ini selesai, mereka sudah tak lagi belajar di sekolah. Sebagian dari mereka akan mengikuti kursus untuk mengikuti ujian masuk universitas. Sebagian lagi akan langsung mengikuti ujian masuk universitas.


Melisa juga sudah kembali memfokuskan diri untuk mengikuti ujian akhir. Ia tak mau kalah dari murid beasiswa lainnya. Mereka yang terlahir dari keluarga tak mampu, tapi bisa meraih nilai yang sangat baik.


Melisa akan menunjukkan kepada kedua orang tuanya, bahwa ia juga mampu bersaing di bidang akademik. Melisa akhir-akhir ini juga sudah memutuskan untuk menjadi penerus ayahnya di Laksmana Grup.


“Baiklah ayah, aku akan mengikuti jejakmu. Menjadi orang berkuasa! Agar aku bisa melakukan apapun hal yang aku suka,” tekad Melisa dalam hatinya.


Mengetahui bahwa putri semata wayangnya akan bersedia untuk menjadi penerus dirinya di perusahaan. Tentu saja membuat Gunawan sangat bahagia, ia sudah menyiapkan kursi untuk Melisa di sebuah universitas di luar negeri. Tempat ia belajar dulu.


Gunawan bahkan sudah menyewa beberapa guru untuk mengajari Melisa tentang bisnis, sesekali Gunawan juga akan mengajak Melisa ke pertemuan-pertemuan dan rapat dengan para klien dan juga pemegang saham.

__ADS_1


Gunawan ingin agar Melisa mulai memahami dunia bisnis yang ia geluti selama ini.


__ADS_2