Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Kuat


__ADS_3

Melisa tak tau harus kemana malam ini? Ia sedang tak ingin pulang ke rumah. Melisa tak ingin melihat wajah ayahnya dulu saat ini, ia takut akan mengatakan hal yang tidak-tidak nantinya. Melisa terus melajukan mobilnya di tengah sunyinya malam, hingga tanpa ia sadari ia sudah sampai di kediaman Satria.


Melisa menghentikan mobilnya tepat di depan rumah itu, rumah milik Natasya yang kini ditempati Satria. Dengan wajah sedih ia terus menatap rumah itu. Mungkin Satria saat ini sudah tidur, namun hati kecilnya sangat ingin menemui Satria.


Melisa ingin tau lebih banyak tentang ayahnya. Bagaimana pun ia tak boleh menutup mata jika memang ayahnya bersalah. Seketika Melisa jadi teringat om Bob.


Jika dipikir lebih dalam lagi, seharusnya om Bob lah sebagai anak tertua yang menjadi penerus dari Laksmana Grup. Namun mengapa posisi itu jatuh ke tangan ayahnya? Mengapa om Bob sama sekali tak berkeinginan untuk mendapatkan posisi itu? Bahkan istri dan anaknya pun tak pernah ada yang membahas soal posisi di perusahaan. Padahal jika mereka mau, mereka bisa mendapatkannya dengan mudah.


Saat dirinya masih asik melamun, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk kaca mobil. Melisa terkejut melihat siapa yang mengetuk kaca mobilnya.


“Satria?” Melisa menurunkan kaca mobilnya.


“Kamu sedang apa?”


Melisa terlihat gelagapan, ia tak menyangka akan bertemu Satria. Melisa pikir Satria sudah tidur, tapi ternyata Satria baru saja pulang entah dari mana.


“Kamu mau masuk?” Karena sudah larut malam, Satria mengajak Melisa masuk ke dalam rumah.


Melisa yang tak tau harus bagaimana, menurut saja saat Satria mengajaknya masuk ke dalam rumah. Kini mereka berdua sudah duduk bersebelahan di sofa ruang tengah, Satria memberikan segelas teh hangat pada Melisa.


“Kau sedang apa di depan rumahku?” Tanya Satria saat mereka sudah berada di dalam rumah.


“Entahlah, aku hanya berkendara tanpa sadar ternyata aku sudah ada di depan rumahmu,” jawab Melisa dengan canggungnya.


“Apa ada sesuatu yang terjadi padamu?”


Melisa hanya diam mendapat pertanyaan itu dari Satria, ia tak mungkin mengatakan pada Satria bahwa ia baru saja menemukan foto Satria di dalam laci meja kerja ayahnya.

__ADS_1


“Kenapa kamu berkendara malam-malam?” Satria kembali bertanya.


Namun Melisa masih diam tak menjawab. Gadis itu hanya terus menatap Satria dengan ekspresi yang tak bisa dijabarkan.


“Kamu lagi banyak pikiran? Atau Stres karena beberapa hari lagi akan ujian?” Satria berusaha menebak mengapa Melisa bisa keluar malam-malam begini.


Melisa hanya mengangguk, ia tak ingin Satria mengetahui bahwa kini Melisa ingin menguak lebih banyak informasi tentang ayahnya dari Satria. Lebih tepatnya karena Melisa merasa malu, ayahnya yang selama ini ia anggap paling baik ternyata bisa menyakiti orang yang ia cintai.


“Aku pikir hanya aku yang stres,” ucap Satria tiba-tiba. Melisa menoleh ke arah Satria.


“Stres?”


“Mmm...” Satria mengangguk. “Entah berapa buku yang kubaca setiap harinya, jujur saja aku jenuh. Namun mengingat keluargaku yang selalu mendukungku bahkan sampai akhir hayat mereka, membuatku kembali bersemangat.”


Melisa terdiam, ia nampak memikirkan ucapan Satria.


“Maafkan aku Satria,” Melisa jadi merasa sedih mengingat Satria jadi harus ditinggal seorang diri. Ini semua karena ayahnya, mungkin ayahnya tak suka jika ia dekat dengan keluarga Satria. Tapi mengapa harus seperti ini? Bukankah lebih baik ayahnya berterus terang jika memang ia tak suka melihat anaknya dekat dengan keluarga tak mampu. Mengapa harus pakai cara seperti ini?


Perlahan air mata Melisa jatuh membasahi pipinya. Satria terkejut melihat Melisa yang tiba-tiba menangis.


“Kamu kenapa?” Satria memegang kedua pipi Melisa. Mengusap air mata Melisa yang tak henti mengalir di pipinya.


Namun bukannya menjawab, Melisa malah menangis semakin kencang. Rasa bersalah yang teramat besar ada di dalam hati Melisa. Ia tak menyangka, orang yang paling ia percaya akan menyakiti orang yang dicintainya.


Melihat Melisa yang menangis semakin kencang, Satria segera memeluknya. Ia sendiri tak tau harus mengatakan apa pada Melisa. Satu hal yang Satria pikirkan, Melisa sudah tau bahwa ayahnya memang tak sebaik yang Melisa pikirkan. Ada gurat kekecewaan di wajah Melisa saat Satria melihatnya tadi.


“Jika memang dia tak menyukaimu, kenapa tak mengatakannya sejak awal? Kenapa dia terlihat dengan senang hati menerimamu? Kenapa juga dia terlihat ramah dan baik pada keluargamu? Kenapa harus memakai cara ini untuk memisahkan aku dan kamu Satria? Apa dia tidak bisa mengatakannya saja bahwa dia tidak ingin aku dekat denganmu? Aku benar-benar kecewa Satria...”

__ADS_1


Satria mengelus punggung Melisa, menenangkan gadis itu.


“Aku juga tak menyangka, dan merasa sangat kecewa. Tapi aku mencoba mengerti mengapa ayahmu melakukan itu, ia hanya terlalu menyayangimu Mel. Ayahmu sampai tak berani menentang semua keinginanmu. Meski ia sendiri tak menyukai apa yang kau sukai. Maka dari itu, dari pada harus melukai hatimu ia lebih memilih untuk melukai ku Mel,” Satria dengan bijaknya menasihati Melisa.


Satria berusaha tegar di hadapan Melisa, meski sebenarnya hatinya sangat hancur. Ingin sekali ia membalas semua perbuatan Gunawan padanya. Jika saja waktu itu Natasya tak menahannya, mungkin saat ini Satria sudah berada di balik jeruji besi karena menuruti keinginannya membunuh Gunawan.


Satria mencoba menuruti nasihat Natasya.


“Balas dendam terbaik, adalah menjadi lebih baik. Jangan kau kotori tanganmu hanya untuk menuruti nafsu untuk balas dendam. Buktikan padanya bahwa kau jauh lebih baik dari orang yang menyakiti dirimu.” Saat itu Satria sungguh tak menyangka kata-kata itu bisa keluar dari mulut Natasya.


Melisa masih menangis di dalam pelukan Satria.


“Sudah cukup Melisa, mulai sekarang kamu harus jadi orang yang kuat. Kamu sudah pernah kecewa pada ibu dan ayahmu, itu artinya kedua orang tuamu pun tak ada yang bisa kau jadikan pegangan. Kamu harus bisa berdiri di atas kaki sendiri. Jangan lagi mengandalkan siapapun,” Satria berusaha untuk memberikan semangat untuk Melisa.


Melisa mengusap air matanya. Ia bertekad tidak ingin menjadi wanita yang cengeng.


“Aku benar Satria, tidak ada waktu untuk meratapi diri sendiri.”


“Tapi ingat Mel, apapun yang dilakukan kedua orang tuamu. Kamu tak boleh membenci mereka,” nasihat Satria.


“Kenapa?”


“Bagaimana pun mereka adalah orang tuamu. Ibumu meski pun terkesan tak peduli, tapi dia sudah mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkanmu. Ayahmu juga, kau tau sendiri bagaimana sayangnya tuan Gunawan padamu.”


Melisa terdiam, apa yang dikatakan Satria memang benar. “Tapi...”


“Aku tahu Mel, pasti tak mudah bagimu untuk memaafkan mereka. Tapi setidaknya kamu tak boleh memusuhi mereka,” Satria membelai lembut rambut Melisa.

__ADS_1


__ADS_2