Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Pertengkaran Melisa dan Natasya


__ADS_3

Natasya menatap Bobi dengan tajam. Melisa yang ketakutan menyuruh Bobi untuk pulang saja.


"Pulang kemana? Ini kan rumahku juga," jawab Bobi santai.


"Apa? Rumahmu? Sejak kapan rumah ini jadi rumahmu?" Natasya.


Bobi terlihat berpikir, "mmm... sejak beberapa bulan yang lalu."


"Jadi kamu tinggal berdua dengan anak berandalan ini?" Natasya menatap Melisa.


Melisa hanya mengangguk.


Plak...


Natasya menampar pipi Melisa.


"Tante!!!" Bobi menarik Melisa agar bersembunyi di balik badannya. Gadis itu kini benar-benar ketakutan, ia memang tak berdaya jika berhadapan dengan ibunya.


"Kamu, ga usah ikut campur. Sekarang juga angkat kaki kamu dari rumah ini!" Natasya menunjuk ke arah pintu, meminta Bobi untuk keluar dari rumah.


"Apa hak tante? Ini kan bukan rumah tante?" Jawab Bobi.


"Tentu saja aku berhak, ini rumahku. Aku masih istri resminya Gunawan. Jadi jelas aku masih berhak atas rumah ini!" Bentak Natasya.


Bobi menyeringai, "Rumah ini dibeli sebelum kalian nikah, ini rumahnya om ku. Om Gunawan yang nyuruh aku tinggal disini buat jagain Melisa. Jadi maaf ya tante, aku juga punya hak di rumah ini," Bobi tak mau kalah.


Natasya hendak menampar Bobi, namun gerak reflek Bobi lebih cepat sehingga ia bisa menangkis tamparan Natasya.


"Tante kalau mau main kasar, harus siap-siap buat masuk penjara. Aku bisa aja laporin tante ke ayahku," ancam Bobi.


"Hah? Kamu? Mau lapor ayahmu yang kepala polisi itu? Apa dia masih mengakuimu sebagai anaknya? Cih, benar-benar anak tak tau diri," cibir Natasya.

__ADS_1


"Tentu saja, ayahku pasti akan membela anaknya," jawab Bobi yakin.


"Ga usah terlalu percaya diri, jelas-jelas Bob sudah membuang kamu," Natasya.


"Terserah tante, yang jelas tante ga bisa usir aku dari sini." Bobi menarik tangan Melisa mengajaknya masuk ke kamar Melisa.


Sesampainya di kamar Melisa, Bobi mengunci pintu. Melisa yang masih terlihat ketakutan hanya diam mematung di belakang Bobi.


"Mel, sadar Mel..." Bobi mengguncang tubuh Melisa.


"Kak, gimana ini? Kalau sampe mamah tau kita liburan sama Satria. Apa yang bakal terjadi sama dia?" Melisa menatap Bobi dengan penuh kekhawatiran.


"Mel, tenang... Kamu ga usah takut, ada aku disini. Semakin kamu nunjukin rasa takut kamu, semakin curiga wanita itu," Bobi menenangkan Melisa.


"Sekarang kamu bersihin badan kamu dulu, biar aku aja yang nemuin ibumu," Bobi mencoba meyakinkan Melisa agar tidak lagi khawatir. Melisa hanya mengangguk, ia menuruti perintah Bobi masuk ke kamar mandi.


Belum lama Melisa masuk ke kamar mandi, Natasya sudah menggedor-gedor pintu kamar Melisa.


"Hey, kalian ngapain berduaan di kamar? Keluar ga kamu Bobi? Atau saya panggil ayahmu agar ia menyeret kamu ke dalam penjara," teriak Natasya dari luar kamar.


"Tante bisa ga biasa aja? Ga usah gedor-gedor juga kita denger," cibir Bobi.


"Kamu tuh jadi anak ga ada sopan santunnya ya, harusnya kamu itu ga saya kasih lulus. Biar malu keluarga kamu," ancam Natasha.


"Bebas... Kalau tante mau ga lulusin saya juga ga papa. Kan tante sendiri yang rugi, semua orang bakal bilang sekolah Puspa Tunggal ga becus ngurus anak berandalan," cibir Bobi.


Natasya benar-benar geram mendengar perkataan Bobi. Tangan sudah mengepal, ingin rasanya menghadiahi bogem mentah pada bocah tengik itu.


Bobi mendekatkan diri pada Natasya, "tante ga usah sok peduli sama Melisa. Bukannya tante sendiri ga pernah anggap Melisa ada? Sekarang tante mau apa? Manfaatin Melisa buat kepentingan tante? Buat reputasi tante bagus? Maaf tante, Bobi ga akan biarin itu. Melisa harus tau ibu yang selama ini dia tunggu-tunggu, ibu yang selama ini dia pikir masih memperdulikannya meski sangat sibuk. Ternyata tak pernah menginginkan kehadiran dia sekalipun," ucap Bobi dengan suara yang ia kecilkan sengaja agar Melisa tak mendengarnya.


Natasya menyeringai, "kamu lupa, dia ga akan ada di dunia ini kalau saya ga ngelahirin dia. Saya ibunya, apapun yang saya lakukan tidak akan mengubah fakta bahwa saya adalah ibunya Melisa."

__ADS_1


"Memang benar, anda adalah ibunya. Dan perlu tante ingat, satu-satunya kontribusi yang tante kasih buat Melisa adalah melahirkan dia. Cuma karena hal itulah yang menjadikan tante sebagai ibu Melisa. Tapi tante sama sekali ga punya hak buat mengatur hidup Melisa," Bobi menatap tajam mata Natasya.


Natasya tersenyum sinis. Ia berjalan mengitari Bobi. "Kamu ga usah buang-buang tenaga, Melisa itu anak yang penurut. Dia itu patuh pada saya, kamu ga akan bisa bikin dia berpaling melawan saya. Sebaiknya kamu simpan tenaga kamu untuk berhadapan dengan ayah kamu."


"Penurut?" Akhirnya Bobi memperbesar volume suaranya. "Dia bukan anak penurut tante. Anak penurut itu, kalau diberi aturan sama orang tuanya dia pasti akan patuh meskipun orang tuanya ga ada. Tapi Melisa? Tante percaya dia penurut?"


"Oh, tentu saja... Dia tidak mungkin membangkang seperti kamu," Natasya bicara dengan percaya dirinya.


Pintu kamar mandi terbuka, Melisa keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah kecewa. Ia dengar semua pembicaraan ibunya dan Bobi. Meski Bobi sudah sedemikian mengecilkan suaranya, namun tetap Melisa mendengar semuanya dengan jelas.


"Apa yang dibilang sama kak Bobi itu bener mah?" Melisa menatap ibunya dengan penuh rasa kecewa.


"Yang mana?" Natasya terlihat bingung dengan reaksi Melisa.


Melisa berjalan mendekati Natasya, " apa mamah pernah sekali aja kangen sama aku?"


"Tentu saja, kamu kan anak mamah," jawab Natasya.


"Tapi kenapa mamah ga pernah nemuin aku di rumah? Kenapa harus selalu di sekolah?" Melisa.


"Mel, mamah itu sibuk. Ya mamah sekalian lah, sekalian nengok sekolah sekalian nengok kamu," Natasya semakin bingung dengan sikap Melisa.


Melisa menyeringai, "sekalian?"


"Iya Mel, kamu tau kan sekolah Puspa Tunggal ga cuma ada disini, ga cuma ada SMA ada SMP dan SD juga bahkan perguruan tinggi. Ya mamah kan harus keliling sekolah itu satu-satu buat ngecek keadaan sekolah," Natasya membela diri.


"Cih, orang tua mana yang sibuknya sampe ga punya waktu buat anak? Sibuk pacaran mungkin?" Celetuk Bobi.


"Hey anak berandalan, mending kamu pergi ga usah ikut campur," bentak Natasya pada Bobi.


"Kak Bobi bisa tinggalin aku sama mamah dulu ga?" Melisa menatap Bobi dengan serius.

__ADS_1


Melihat keseriusan Melisa, Bobi hanya mengangguk menghela nafas panjang, lalu pergi keluar dari kamar Melisa meninggalkan ibu dan anak yang sedang saling menatap.


"Kalau kamu diapa-apain sama nih tante-tante, teriak aja ya," pesan Bobi pada Melisa sebelum ia keluar membuat Natasya membelalakkan matanya.


__ADS_2