Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Fakta


__ADS_3

Melisa yang sudah terlanjur kecewa pada Satria, kini sudah kembali bersikap dingin pada Satria. Tentu saja sikap dinginnya kali ini adalah sungguhan, bukan lagi akting. Melisa bahkan sudah mengembalikan ponsel milik Natasya yang diberikan oleh Satria padanya.


Melihat sikap Melisa yang semakin dingin dan menjauh, Satria hanya bisa diam menerima perlakuan Melisa. Satria lebih memilih untuk fokus pada ujian yang hanya tinggal hitungan hari lagi akan segera dilaksanakan.


Begitu juga dengan Melisa, ia benar-benar tak mau terus memikirkan cerita yang baginya hanya akal-akalan ibunya saja. Cerita yang membuatnya akan membenci ayahnya. Melisa berusaha untuk tak mempercayai itu. Melisa menghabiskan waktunya untuk ikut berbagai kegiatan bimbingan belajar di berbagai tempat.


Melisa juga tak mau kalah dari Satria, ia juga ingin bisa masuk ke universitas ternama yang sama dengan Satria. Bukan karena Melisa ingin terus berada dekat dengan Satria, namun Melisa merasa tak ingin kalah dengan Satria. Dirinya juga ingin menunjukkan kemampuannya dalam belajar. Melisa ingin menunjukkan pada ibunya, bahwa ia juga mampu masuk ke universitas yang sama dengan Satria tanpa bantuan ibunya.


Sebenarnya ada hal lain yang ingin Melisa buktikan juga pada Satria dan Natasya. Melisa ingin membuktikan bahwa anggapan mereka tentang ayahnya adalah salah. Gunawan adalah orang yang baik, dan sampai kapan pun akan selalu menjadi orang baik. Melisa berusaha untuk tak memperdulikan berbagai omongan yang mengatakan bahwa ayahnya lah penyebab penderitaan Satria.


Namun sepertinya usaha itu tak berjalan lancar, bukti yang ia cari untuk membersihkan nama ayahnya tak juga ia dapatkan. Justru yang ada malah sebaliknya. Melisa terus saja menemukan keterlibatan ayahnya pada kecelakaan yang menimpa pak Joni dan keluarganya.


Malam itu, entah mengapa Melisa ingin sekali datang ke kantor ayahnya. Sebuah gedung pencakar langit yang berdiri kokoh di tengah kota A. Sebenarnya Gunawan sendiri jarang berada di kantor, tapi malam itu seolah alam memang ingin memberi petunjuk pada Melisa. Gunawan datang ke kantornya sebelum pulang ke rumah.


Tanpa sepengetahuan Gunawan, Melisa sudah duduk manis menunggu kedatangan Gunawan di ruang kerjanya. Malam itu, Melisa berniat ingin memberi kejutan pada ayahnya. Melisa bersembunyi di balik lemari yang berisi tumpukan berkas-berkas. Sebelumnya Melisa juga sudah menitip pesan pada staf sekertaris yang berjaga di depan ruangan Gunawan, agar tak memberi tahu pada ayahnya soal kedatangannya.


Gunawan masuk ke ruangan nya tanpa tau di dalam sudah ada Melisa yang menunggunya. Tak lama Gunawan masuk ke dalam ruangan, ponselnya berdering. Sebuah nomor tak dikenal menghubunginya. Meski begitu, Gunawan sepertinya tau siapa yang menghubunginya.


“Halo?”

__ADS_1


“Selamat malam tuan, maaf saya mengganggu malam-malam begini. Saya hanya mau mengucapkan terima kasih karena sudah membebaskan saya dalam waktu kurang dari enam bulan,” ucap seseorang di seberang sana.


“Mmm... uang mu sudah ku kirimkan lewat kurir sore ini, mungkin akan sampai besok pagi. Setelah ini, pergilah yang jauh. Jangan pernah menunjukkan wajahmu di hadapanku lagi, apalagi di depan anakku!” Perintah Gunawan.


“Baik tuan, terima kasih!”


Sambungan telepon terputus, Gunawan sudah meletakkan ponsel di atas meja kerjanya. Ia lalu merebahkan tubuhnya di atas kursi kerjanya. Melisa yang tadi ingin segera keluar dari tempat persembunyiannya begitu Gunawan masuk, kini harus mengurungkan niatnya.


Melisa bisa mendengar dengan jelas percakapan antara ayahnya dan seseorang yang entah siapa itu, di ruangan yang sepi ini. Entah bagaimana suara di telepon itu bisa terdengar oleh Melisa, namun dari percakapan itu Melisa menjadi sedikit merasa curiga pada ayahnya.


Melisa mengintip dari balik lemari, Gunawan tak akan bisa melihat keberadaan Melisa karena tempat Melisa bersembunyi itu lumayan gelap. Melisa melihat ayahnya yang sedang tersenyum sambil memejamkan matanya, membuat Melisa mengernyitkan dahi.


Melisa masih terus memantau tingkah ayahnya dalam diam. Gunawan menegakkan posisi duduknya, kini posisinya sudah berubah serius. Gunawan mengambil sebuah foto dari dalam lacinya.


“Andai dari dulu kau menjauhi putriku, aku tak harus melakukan ini,” ucap Gunawan seraya memandangi foto tersebut.


Deg...


Jantung Melisa seolah mendadak terhenti mendengar apa yang diucapkan oleh Gunawan barusan, hal itu membuat kecurigaan Melisa semakin besar pada ayahnya. Melisa jadi sangat penasaran siapa sosok dibalik foto yang kini tengah dipegang oleh Gunawan.

__ADS_1


Beruntung, saat itu Fredy masuk dan menghampiri Gunawan.


“Semua sudah beres tuan, apa kita mau pulang sekarang?” Tanya Fredy.


“Baiklah, ayo kita pulang!” Gunawan segera bangkit dari tempat duduknya. Sebelum itu ia meletakkan kembali ke dalam laci foto yang sejak tadi dipegangnya .


Saat keduanya sudah pergi, Melisa perlahan keluar dari persembunyiannya. Sambil mengendap-endap Melisa berjalan menuju meja kerja ayahnya. Melisa tampak ragu-ragu saat hendak membuka laci meja, ada perasaan takut di dalam hatinya. Takut jikalau apa yang ia khawatirkan selama ini benar, takut jika memang apa yang dikatakan oleh orang-orang tentang ayahnya adalah benar.


Melisa mengumpulkan keberaniannya menarik tangannya untuk membuka laci meja. Laci yang sudah terbuka itu kini memperlihatkan sebuah foto yang terbalik. Perlahan Melisa mengambil foto tersebut dan membaliknya.


Bagai disambar petir, foto itu berhasil membuat Melisa terkulai lemas. Ia merasa tak sanggup lagi untuk terus berdiri, dengkulnya terasa linu dan tak mampu menopang berat tubuhnya. Melisa masih memegang foto yang diambilnya dari laci meja.


“Gak mungkin... ini bukan seperti apa yang ku pikirkan kan?” Melisa masih berusaha menepis pikiran buruk tentang ayahnya.


Foto Satria yang ia temui di laci meja kerja ayahnya seolah menampakkan bukti yang sangat jelas bahwa ayahnya memang tak sebaik yang ia kira. Dugaan bahwa ayahnya adalah orang yang munafik, yang selama ini hanya bepura-pura baik pada Satria ternyata adalah benar.


Dengan perasaan tak menentu Melisa mencoba untuk mengembalikan foto ke tempatnya semula. Melisa masih mencerna baik-baik apa yang sebenarnya terjadi. Melisa juga berusaha untuk berpikir secara positif, berbagai kemungkinan bisa saja terjadi. Tapi otaknya seakan buntu, ia tak dapat menemukan alasan yang tepat untuk mematahkan bukti bahwa ayahnya lah dalang di balik peristiwa kecelakaan itu.


“Kenapa? Kenapa ayah melakukan itu?” Tangan Melisa gemetar membayangkan betapa kejamnya Gunawan pada Satria. “Apa yang harus ku lakukan Satria?” Melisa kini sudah terduduk lemah di kursi yang tadi di duduki Gunawan.

__ADS_1


Melisa seperti tak punya tenaga lagi untuk sekedar keluar dari ruangan itu, tenaganya seolah terkuras habis sejak mengetahui fakta bahwa ayahnya memiliki peran penting atas penderitaan yang dialami Satria. Melisa benar-benar tak habis pikir, bagaimana bisa ayahnya sekejam itu? seketika rasa bersalah muncul dalam hati Melisa, pada akhirnya mau tak mau ia harus percaya pada ucapan ibunya. Bahwa yang menginginkan Satria menjauhi dirinya adalah ayahnya, bukan ibunya.


__ADS_2