Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Rencana Lain


__ADS_3

Hari-hari normal yang penuh dengan perjuangan dan kerja keras kembali bagi para murid beasiswa SMA Puspa Tunggal. Mulai minggu ini mereka sudah kembali mengikuti kelas tambahan. Demi mempertahankan nilai mereka agar tidak turun mereka belajar dengan sangat giat.


Diantara murid beasiswa itu ada Satria yang sebenarnya sedang diambang kegalauan. Di satu sisi ia merasa tak peduli jika memang sudah tak mendapat beasiswa lagi karena bu Natasya yang mencabutnya. Tapi di sisi lain, ia merasa ini tak adil, ia sudah berusaha keras mempertahankan nilainya. Jika memang bu Natasya tetap mencabut beasiswanya karena ia tak sanggup menjalankan misi meluluhkan hati Melisa agar memaafkan ibunya. Satria tak tau lagi harus bagaimana.


Di tengah kegalauannya itu, tiba-tiba guru yang sedang membimbing murid kelas XII memanggil Satria.


"Satria, bisakah kau menemui bu Desty sekarang?"


"Sekarang?"


Guru itu mengangguk. Satria merapihkan buku dan alat tulis di atas mejanya. Lalu ia pergi keluar kelas, menuju ruangan bu Desty.


Sampai di depan ruang bu Desty, Satria mengetuk pintu.


Tok tok tok...


"Ya masuk," bu Desty mempersilahkan Satria masuk ke dalam.


"Ada apa ibu memanggil saya?" Tanya Satria saat ia sudah berada di dalam ruangan.


"Duduklah," bu Desty mempersilahkan Satria duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Setelah Satria duduk, ia pun menyusul duduk di hadapan Satria.


"Baru saja Natasya menghubungiku."


Deg...


"Ada apa bu?"


"Natasya bilang, kau berhasil menjalankan satu misimu," ucap bu Desty.


Satria terdiam sejenak, dia nampak berpikir. Mungkinkah Melisa sudah memaafkan ibunya? Syukurlah jika memang begitu.


"Ini, hadiah dari Natasya," bu Desty menyerahkan sebuah amplop putih pada Satria.


Dengan ragu Satria mengambil amplop putih tersebut.


"Bukalah,"


Perlahan Satria membuka amplop itu, isinya adalah sebuah surat. Surat itu merupakan surat yang ditulis oleh tangan Natasya.


Terima kasih karena telah membuat Gunawan kembali padaku. Sesuai janji aku tak akan mencabut beasiswamu, meski kini kau dekat dengan Melisa. Tapi jangan melampaui batas, aku hanya mengijinkan kalian berteman. Kau adalah orang yang cerdas, aku harap kau mengerti maksudku.


Satria selesai membaca, ia melihat bu Desty yang duduk dengan tenang di hadapannya. Wanita itu bahkan seperti tak peduli pada surat yang ada di tangan Satria.


"Apa tadi bu Natasya datang ke sini?" Tanya Satria.


"Tidak, dia hanya menghubungiku melalui telepon," jawab bu Desty.


"Lalu ini?" Satria mengangkat surat yang ada di tangannya.


"Sekertaris Natasya yang mengantarnya ke sini."


Satria mengangguk.


"Apa ada yang mau kau tanyakan?" Bu Desty


"Sepertinya untuk saat ini, tidak ada," Satria.


"Baguslah, Natasya menitipkan pesan padamu. Ia ingin kamu menyelesaikan misi yang kedua secepatnya," bu Desty.

__ADS_1


"Jika saya tidak bisa menjalankan misi itu?" Satria.


"Entahlah, Natasya masih memikirkan hukuman yang tepat untukmu," bu Desty.


Satria terdiam, sesaat ia menyadari tak mudah meluluhkan hati Melisa. Bagi Satria, usahanya selama ini menasihati Melisa sudah cukup. Sepertinya memang harus Natasya sendiri yang meminta maaf langsung pada Melisa.


"Bu, bolehkah saya menemui bu Natasya?" Tanya Satria.


"Sekarang?" Bu Desty.


"Setelah selesai kelas," Satria.


"Baiklah, aku akan bertanya pada Natasya. Jika memang ia mengijinkan, aku akan mengabari," bu Desty.


Dirasa cukup, Satria segera pamit pada bu Desty untuk bisa kembali ke kelasnya.


Saat dalam perjalanan kembali ke kelas, terdengar suara seseorang memanggil Satria.


"Satria..."


Satria menoleh ke arah sumber suara.


"Melisa?"


Melisa berlari menghampiri Satria.


"Kamu dari mana?" Tanya Melisa.


"Dari ruang guru," jawab Satria sedikit berbohong. "Kok kamu di sini? Katanya tadi lagi di mall sama kak Amanda."


"Sengaja aku tinggalin kak Amanda sama kak Bobi. Biar mereka akur lagi," Melisa.


Melisa mengangguk.


"Emang mereka berdua kenapa?" Satria.


"Gak tau ah, ga peduli juga. Kamu pulang jam berapa?" Melisa.


"Masih dua jam lagi," Satria.


"Masih lama ya? Ya udah deh aku tunggu di atap ya, kamu kalau udah selesai susul aku ke atap ya," pinta Melisa.


"Kamu ngapain di atap? Mending ikut belajar aja, atau nunggu di perpustakaan," Satria.


"Enggak ah, lebih nyaman di atap," Melisa.


"Ya udah nanti aku susul kamu kalau udah selesai," Satria.


Melisa tersenyum senang.


Akhirnya mereka berdua berpisah. Satria kembali ke kelas dan Melisa berjalan menuju atap sekolah.


Tak terasa dua jam berlalu. Kelas tambahan untuk murid penerima beasiswa kelas XII sudah selesai. Sebelum menyusul Melisa ke atap, Satria pergi ke ruang bu Desty terlebih dahulu. Namun ternyata bu Desty sudah tak ada di ruangannya.


"Kamu cari bu Desty?" Tanya salah seorang guru yang saat itu berada di depan ruang guru.


"Iya pak," jawab Satria.


"Bu Desty sudah pulang. Kamu Satria kan?" Tanya guru itu lagi.

__ADS_1


"Iya benar pak," jawab Satria.


"Ini ada pesan dari bu Desty," guru itu lalu memberikan sebuah kertas berisi catatan kepada Satria.


Satria menerima catatan itu, dan membacanya.


Datanglah ke Grand hotel lantai dua belas, di kamar 1201.


Setelah membaca pesan itu, Satria berterima kasih pada guru yang memberinya catatan tadi.


"Terima kasih pak, saya pergi dulu. Permisi," Satria pergi setelah membungkukkan kepalanya.


"Aneh, kenapa Desty memintanya datang ke hotel? Hmmm... Mencurigakan," gumamnya.


Satria berlari menaiki tangga. Ia akan menyusul Melisa di atap. Mendadak Satria terpikirkan sebuah rencana.


Awalnya ia memang ingin menemui Natasya seorang diri. Namun karena kini Melisa mendatanginya, Satria berniat untuk pergi menemui Natasya bersama Melisa.


Belum sampai di atap, Satria sudah berpapasan dengan Melisa.


"Aku pikir kamu udah pulang, soalnya aku tadi liat temen-temen yang lain udah keluar tapi aku belum liat kamu," Melisa.


Satria tak menjawab, ia malah menarik tangan Melisa menuruni tangga hingga lantai dasar.


"Kita mau kemana?" Tanya Melisa.


Satria masih belum menjawab. Bukan ia tak mau menjawabnya, hanya saja Satria tau jika Melisa mengetahui kemana Satria akan membawanya pergi, Melisa pasti tak akan mau. Dan tak segan untuk menolak mentah-mentah ajakan Satria.


"Ayo naik," Satria memberikan helm pada Melisa saat mereka sampai di depan motor Satria.


"Mau kemana?" Tanya Melisa lagi.


"Udah ikut aku aja, ga usah banyak tanya." Setelah Satria memakai helmnya, dan Melisa sudah naik di belakangnya. Satria segera melajukan motornya menuju Grand hotel.


Meski bingung dengan sikap Satria, Melisa tetap mengikuti kemana Satria akan membawanya. Ia bahkan tak bertanya dan berbicara apapun selama perjalanan.


Sampai di depan Grand hotel, Melisa semakin bingung.


"Mau apa datang ke sini?" Tanya Melisa.


Lagi-lagi Satria tak menjawabnya. Satria menggandeng tangan Melisa, memasuki gedung dan segera menaiki lift. Menekan tombol 12.


"Sat, kita mau ngapain ke hotel? Kamu juga kenapa sih, dari tadi aneh banget," Melisa melepaskan genggaman tangan Satria.


Satria menoleh ke arah Melisa.


"Kita mau ketemu ibumu," jawab Satria.


"Mau apa?" Melisa terlihat panik.


"Menurutmu?"


"Sat, jangan macem-macem. Aku gak suka," Melisa terlihat marah pada Satria.


"Kalian harus bicara Mel, kamu bilang kamu ingin ibumu meminta maaf langsung padamu," Satria.


"Ya tapi ga begini," Melisa benar-benar merasa marah.


Sampai di lantai yang dituju. Satria keluar dari lift. Namun Melisa tetap berdiri tak bergerak dari tempatnya semula.

__ADS_1


"Tolong ngertiin aku Sat, aku belum siap ketemu wanita itu," Melisa menutup pintu lift. Ia menekan tombol untuk kembali ke ke lobby hotel.


__ADS_2