Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Amukan Steve


__ADS_3

Setelah mengunci pintu, Steve ikut duduk di tepi ranjang bersama Natasya.


"Kau tak suka aku datang dengan Melisa? Atau kau tak suka karena Melisa tau kau menyembunyikan Satria di sini?" Tanya Steve.


"Keduanya," jawab Natasya. Natasya masih menatap tajam pada Steve.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Steve membelai wajah Natasya.


Natasya terdiam.


"Aku merindukanmu Nat," Steve membelai rambut Natasya. Perlahan ia mendekatkan wajahnya, mengecup bibir Natasya yang merah merona.


"Kau bilang sudah merelakan aku, kenapa kau seperti ini?" Natasya masih tak bergeming.


"Aku besok akan pergi keluar kota untuk waktu yang lama, biarkan aku menghabiskan malam ini di sini denganmu Nat," bisik Steve di telinga Natasya.


"Untuk apa?"


"Aku mohon Nat, untuk yang terakhir kalinya," Steve sudah menempatkan bibirnya di leher Natasya. Natasya memejamkan matanya, ia terlihat menikmati kecupan yang diberikan Steve di lehernya.


"Kau tak bisa melupakanku? Kau bilang di sekitarmu ada banyak wanita yang mengincarmu," ucap Natasya masih sambil menikmati kecupan yang semakin dalam di lehernya.


"Kau bebas berkencan dengan wanita manapun, asal jangan Melisa. Aku akan membunuhmu jika kau berani menyentuhnya," bisik Natasya.


Mendengar itu, Steve menghentikan aktivitasnya. Steve menatap dalam mata Natasya. Wanita itu sudah membuka matanya, ia juga menatap mata Steve.


"Kenapa selalu tak memperbolehkan ku mendekati Melisa?"


"Karena kau adalah pria yang selalu penuh nafsu, aku tak ingin kau menyentuh Melisa," jawab Natasya.


"Kenapa? Bukankah kau benci dengan anakmu itu?"


"Tapi aku lebih benci jika kau menggodanya," Natasya menatap dengan serius membuat Steve tertawa.


"Tenang saja, aku tak tertarik dengan daun muda seperti itu. Aku lebih suka dengan yang sudah berpengalaman sepertimu," goda Steve.


Steve melihat baju yang dikenakan Natasya, ia menatap dengan heran. Ini seperti bukan Natasya, biasanya ia hanya menggunakan pakaian yang seksi. Namun kali ini Natasya menggunakan kaos lengan panjang, dan rok panjang hingga ke mata kaki.


"Kau tumben sekali memakai baju seperti ini," komentar Steve.


"Tentu saja, Satria tak suka jika aku mengenakan pakaian yang terbuka," ucap Natasya.


Steve mengernyitkan dahinya. "Kenapa?"


"Dia bilang tak nyaman untuk dilihat," jawab Natasya.


"Kau tak seperti dirimu," Steve menatap Natasya dengan heran.

__ADS_1


"Apanya? Aku masih sama seperti diriku yang dulu," Natasya memalingkan wajahnya dari Steve.


Steve tersenyum licik, ia menatap dada Natasya. Meski Natasya memakai kaos panjang, tapi kaos itu sedikit tipis dengan warna agak gelap sehingga tak terlihat menerawang. Namun yang ada dalam pikiran Steve adalah ia ingin melihat Natasya nya yang dulu, yang selalu anggun, seksi, dan mempesona.


"Kau ada hubungan apa dengan Satria? Kenapa ia harus belajar di tempat ini?" Tanya Steve, matanya masih menatap dada Natasya.


"Tentu saja karena aku adalah pemilik yayasan yang mendukungnya untuk mendapat beasiswa ke luar negeri. Satria adalah siswa yang cerdas, sayang jika harus melewatkan kesempatan ini. Lagi pula itu akan mengangkat nama baik sekolahku jika ia berhasil mendapatkan beasiswa luar negri. Bukan cuma sekedar universitas biasa yang ada di luar negeri, tapi ini universitas nomor satu dunia," Natasya menjelaskan panjang lebar.


Steve mengangguk. "Aku tak tau kau begitu perhatian pada murid-murid di sekolahmu."


"Tentu saja aku harus perhatian, karena Satria akan membawa nama baik sekolah. Ini semua demi kemajuan yayasan juga kan?" Natasya ingin Steve percaya dengan kata-katanya.


Namun Steve terlihat sangat tak peduli, ia terus menatap dada Natasya.


"Apa kau tak merindukanku Nat?" Ada aura sendu dari tatapan mata Steve kali ini.


"Tidak," jawab Natasya singkat. Tentu saja jawaban ini membuat hati Steve sakit.


"Kenapa? Apa Gunawan selalu bisa memuaskan nafsumu seperti aku?"


"Tentu saja, dia sangat hebat di ranjang," jawab Natasya memanas-manasi Steve.


"Baguslah, jadi kau tak perlu mencari laki-laki lain di luar sana. Aku menyerah hanya pada Gunawan Nat, jika ada laki-laki lain aku tak akan segan menghabisinya," bisik Steve.


"Kenapa?"


Natasya terdiam sejenak. Ia lalu menyeringai. "Aku bosan dengan Gunawan, aku juga bosan denganmu. Aku mau sesuatu yang baru, sesuatu yang menggoda, sesuatu yang membuatku penasaran. Aku rela menahan nafsuku saat ini demi mendapatkan sesuatu itu."


"Siapa laki-laki itu? Satria?" Steve mulai emosi, ia tau arah pembicaraan Natasya.


Natasya hanya tersenyum tipis.


"Jadi kau menutup badanmu itu hanya demi dia? Agar kau bisa terus dekat dengannya? Dan semua yang ada di rumah ini, hanya alasan agar kau bisa menggodanya?" Steve semakin emosi.


Natasya kembali tak menjawab, ia hanya memberikan senyum mengejek pada Steve.


"Lalu kau membuangku hanya untuk dia? Bukan Gunawan?" Steve hampir diambang batas.


Natasya hanya mengangguk, masih dengan senyum mengejeknya.


"Baiklah, mari kita lihat. Apa Satria mau jika dia tau kau yang sebenarnya," Steve mencengkram baju di dada Natasya. Ia lalu merobeknya membuat Natasya berteriak.


Steve terus merobek baju Natasya, dia juga menarik rok yang dipakai Natasya.


"Apa-apaan kau!?" Bentak Natasya.


"Aku mau laki-laki pujaanmu itu melihat kau yang sebenarnya. Ayo cepat lepas pakaianmu!!" Steve masih terus menarik baju Natasya.

__ADS_1


Terdengar suara pintu diketuk. "Nyonya... Anda tidak apa-apa?" Suara Satria terdengar dari sana.


"Dia bahkan sudah pernah melihatku tanpa sehelai benang pun," ucapan Natasya semakin membuat Steve geram. Ia lalu menampar Natasya.


"Kau... Sudah ku bilang, jangan sebut laki-laki lain di hadapanku," Steve mencekik leher Natasya.


Natasya bukannya takut, ia malah tersenyum licik. "Aku mencintai Satria," ucap Natasya dengan santainya.


Plaaakkk...


Steve kembali menampar Natasya, ia bahkan mendorong Natasya ke arah meja di samping tempat tidur. Membuat barang-barang yang ada di sana terjatuh.


Tak cukup sampai disitu, Steve menjambak rambut Natasya dan mendorongnya ke arah rak-rak yang berisi pernak pernik. Beberapa barang jatuh dan yang terbuat dari kaca pun pecah. Steve kembali menarik rambut Natasya dan melemparnya ke sudut lemari.


"Lepaskaaannnn!!!!" teriak Natasya.


Gedoran di balik pintu terus terdengar, bahkan suara dobrakan juga mulai terdengar. Natasya hanya pasrah diperlakukan seperti itu oleh Steve.


Steve tak tahan, melihat tatapan Natasya yang seolah mengejek dirinya. Ia kembali melayangkan tamparannya pada Natasya. Tepat setelah Steve menampar Satria berhasil mendobrak pintu.


Steve dengan amarah yang sangat menatap Satria. Ia masih mencengkram erat rambut Natasya.


Satria yang melihat itu tentu segera berlari menghampiri Natasya. Ia berusaha melepaskan cengkraman tangan Steve.


"Om, apa yang kau lakukan? Lepaskan!!!" Tak ada pilihan akhirnya Satria melayangkan bogem mentah pada Steve karena pria itu tak kunjung melepaskan cengkramannya.


Membuat Steve jatuh tersungkur. Sehingga tangannya yang mencengkram rambut Natasya pun terlepas.


"Anda tidak apa-apa nyonya?" Satria terlihat panik. Wajah Natasya sudah babak belur, ada darah keluar dari hidung dan bibirnya.


"Satria, tolong aku," Natasya menyandarkan diri di pelukan Satria.


"Cih, dasar wanita murahan! Hei Satria, apa kau tertarik pada wanita yang gila **** itu?" Steve menunjuk Natasya yang sudah menenggelamkan wajahnya di dada Satria.


"Ini sudah keterlaluan om!" Bentak Satria.


"Hahaha... Kau lihat Melisa, ternyata Satria juga pria normal yang tak mungkin tak tergoda oleh rayuan maut ibumu," Steve menatap Melisa yang berdiri di depan pintu.


Melisa melihat Satria yang memeluk ibunya, dia terdiam. Tak memberikan reaksi apapun.


"Sebaiknya anda pergi dari sini om, sebelum saya panggil polisi untuk menahan anda!" Ancam Satria.


Steve tertawa lepas mendengar ancaman itu.


"Baiklah, silahkan nikmati wanita gila penuh nafsu birahi itu. Kau tak perlu jual mahal Satria, dijamin dia pasti bisa memuaskanmu," cibir Steve.


Steve sudah berdiri sekarang, ia bejalan keluar kamar. Tepat di depan Melisa ia berhenti.

__ADS_1


"Bagaimana hadiah terakhir dariku? Mencengangkan bukan?" Steve lalu meninggalkan Melisa yang masih mematung di sana.


__ADS_2