
Jenazah keluarga Satria sudah dibawa pulang, dan hari ini mereka akan menguburkan jenazah pak Joni, bu Lastri, dan juga Rian.
Semua sanak keluarga yang berada di luar kota sudah berdatangan di rumah Satria. Rekan kerja pak Joni, para tetangga, teman sekolah Satria dan Rian juga sudah datang untuk mengikuti prosesi pemakaman.
Semua yang hadir tentu nampak sangat terkejut dengan peristiwa yang menimpa pak Joni beserta istri dan anak bungsunya. Satria terlihat sangat terpukul, sepanjang proses pemakaman ia hanya diam saja. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya, sampai kembali ke rumah.
Satria tak percaya akan musibah yang kini menimpa dirinya, kehilangan seluruh anggota keluarganya. Sebenarnya ada sedikit penyesalan dalam dirinya, seandainya ia tak pergi ke luar negeri dan ikut bersama dengan keluarganya. Mungkin ia juga sudah tak ada lagi di dunia ini, sehingga Satria tak perlu merasa kehilangan karena ditinggal seorang diri oleh keluarganya di dunia ini.
Satria tau, menyesal saat ini pun tak ada gunanya. Semua sudah terjadi, dan ia adalah satu-satunya orang yang selamat karena tak ikut pulang kampung bersama keluarganya. Namun tetap saja, semua terasa bagaikan mimpi.
Satria masih merasa kesal karena dirinya telat mendapat informasi tentang kecelakaan yang dialami keluarganya. Seharusnya ia tak tidur saat di pesawat, seharusnya Natasya juga tak mematikan ponselnya sehingga berita itu bisa cepat ia terima.
Tapi mau bagaimana lagi, saat itu polisi sulit mengidentifikasi para korban, korban juga sangat banyak yang terhimpit di dalam kendaraan. Jadi membutuhkan waktu untuk proses evakuasinya.
Ponsel Satria berdering, Satria mengambilnya dari saku celananya. Melisa menelponnya. Satria tanpa pikir panjang segera mengangkatnya.
"Halo, Satria?" Sapa Melisa dengan sedikit canggung.
"Mmm?"
"Maaf mengganggu, aku baru saja sampai di rumah. Kamu ada dimana? Apa kamu ada di rumah?"
"Mmm..."
"Begitu, aku tidak bisa menghubungi Rian sejak kemarin. Apa ponselnya rusak?"
"Mmm..."
"Oh pantas saja, tapi kenapa bisa rusak?"
"Entahlah," jawab Satria singkat.
"Apa aku mengganggumu?"
"Tidak."
"Apa aku boleh mampir ke rumahmu? Kemarin ibumu memintaku membelikannya bunga," Tanya Melisa.
"Ibuku?"
"Mmm..." Melisa mengangguk meski Satria tak dapat melihatnya.
__ADS_1
Satria mendesah, ia tak tau bahwa ibunya meminta dibelikan bunga pada Melisa. Mungkin itu suatu pertanda yang sudah dirasa oleh bu Lastri, bahwa umurnya sudah tak lama lagi.
"Aku hanya akan memberikan bunga yang sudah ku beli ini pada ibumu, setelah itu aku akan pulang," ucap Melisa.
"Mmm... datanglah."
Sambungan telepon terputus, Satria termenung di depan teras rumahnya. Beberapa pelayat sudah pergi, hanya tinggal beberapa sanak saudara yang masih ada di dalam rumah.
Natasya datang menghampiri Satria, lalu duduk tepat di samping Satria.
"Kamu makan dulu ya, dari kemarin kamu belum makan," pinta Natasya.
Satria hanya terdiam menatap Natasya.
"Ayolah Satria, aku ambilkan ya. Makan sedikit saja," Natasya menatap Satria dengan sedih.
Sejak Natasya tau bahwa keluarga Satria mengalami kecelakaan, Natasya segera menyusul Satria ke rumah sakit. Di saat Satria masih syok dengan musibah yang menimpa keluarganya, saat itu juga dengan sigap Natasya mengurus kepulangan jenazah.
Bahkan Natasya juga yang mengurus proses pemakaman, dengan bantuan Reni. Natasya juga memesan makanan untuk para tamu yang datang, sehingga pihak keluarga dan tetangga tak perlu repot karena kini mereka pasti tengah berduka.
Natasya sengaja membiarkan Satria menikmati masa dukanya, ia hanya akan mengurus hal-hal yang dibutuhkan selama proses pemakaman hingga surat-surat kematian keluarga Satria juga kompensasi dari perusahaan pemilik trus tronton. Uang kompensasi akan Natasya berikan jika Satria sudah mulai membaik.
"Terima kasih nyonya, maaf aku sudah merepotkan," ucap Natasya.
"Kamu hari ini aku biarkan, besok aku tak mau lagi melihatmu sedih. Makanlah," Natasya menyerahkan nasi kotak pada Satria.
Satria menerimanya, wajahnya masih nampak sangat sedih dan tak bersemangat.
"Aku pergi dulu, kamu jangan banyak melamun ya. Besok aku akan datang lagi ke sini," Natasya memberikan senyuman hangat pada Satria.
"Baik nyonya, terima kasih banyak," Satria membungkukkan kepalanya. Ia sangat berterima kasih pada Natasya, berkat bantuannya ia jadi tak perlu repot mengurus banyak hal.
Setelah Natasya pergi, seorang sepupu Satria yang masih ada di rumah mendekati Satria.
"Siapa wanita itu? Cantik sekali," tanya Arya sepupu Satria.
"Dia pemilik yayasan tempat ku sekolah," jawab Satria.
"Oh ya? Dia baik sekali mau mengurus semuanya sendiri. Ah tidak sendiri, tadi ada beberapa utusannya juga yang datang membantu," ucap Arya.
Satria hanya mengangguk. Ia tau Natasya memang sangat peduli padanya. Namun ia merasa sedikit canggung, karena kini ada banyak keluarga besar yang datang dan memperhatikan kepedulian Natasya padanya.
__ADS_1
Untung saja, Natasya tidak melakukan tindakan yang membuat Satria risih. Sehingga ia hanya membiarkan Natasya melakukan hal-hal yang mau dilakukannya.
"Kau tak ikut pulang?" Tanya Satria.
"Aku disini saja temenin kamu, boleh ga?"
Satria mengangguk. Ia memandangi nasi kotak pemberian Natasya.
"Makanlah, ini enak banget loh," ucap Arya.
Satria tersenyum, ia lalu membuka kotak makanan itu. Dan memakannya sedikit demi sedikit.
"Enak kan?" Tanya Arya.
Satria tersenyum mengangguk.
"Kamu ga boleh terus bersedih, kamu harus semangat. Ibu dan ayah pasti juga akan sedih kalau liat kamu begini," Arya memberi semangat pada Satria.
Satria hanya tersenyum mendengar ucapan Arya, tak terasa ia sudah memakan separuh nasi kotak itu sambil terus mendengarkan ocehan Arya yang melantur kemana-mana.
Hingga saat makanannya hampir habis, tiba-tiba sebuah mobil memasuki pekarangan rumah Satria. Itu mobil Gunawan, Gunawan mengantar Melisa pergi ke rumah Satria.
Melisa tertegun melihat ada banyak karangan bunga di halaman rumah Satria. Melisa menatap Satria yang tengah memegang nasi kotak yang isinya hampir habis. Melisa sangat bingung dengan apa yang ia lihat, sebenarnya ada apa hingga banyak sekali karangan bunga di sini? Begitulah kira-kira yang ada dipikiran Melisa.
Gunawan yang juga hadir karena mengantar Melisa memperhatikan tulisan yang ada di karangan bunga. Di sana tertulis nama pak Joni, bu Lastri, dan juga Rian. Gunawan segera turun dari mobil, ia menatap Satria tak percaya.
Gunawan melangkahkan kaki semakin dekat dengan Satria, dan Satria yang didekati pun segera menaruh nasi kotaknya di pangkuan Arya.
"Tuan," sapa Satria seraya berdiri menyambut Gunawan.
"Ada apa ini Satria? Bagaimana bisa?" Gunawan menatap Satria tak percaya. Ia tak yakin pada tulisan yang tadi dibacanya.
"Apa benar keluargamu?" Gunawan tak melanjutkan kata-katanya.
Satria hanya mengangguk, ia kembali memasang raut wajah sedih. Melihat itu, Gunawan segera memeluk Satria.
"Ya ampun Satria, kamu yang sabar ya. Saya turut berduka cita," ucap Gunawan.
Sementara itu, Melisa yang masih berdiri mematung sambil membawa buket bunga pesanan bu Lastri masih mencerna apa yang sedang terjadi di tempat ini. Melihat ayahnya yang tiba-tiba memeluk Satria dan mengatakan bela sungkawa, membuat Melisa menjatuhkan buket bunga yang dipegangnya.
"Gak mungkin," ucap Melisa tak percaya.
__ADS_1