Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Sakit Hati


__ADS_3

Dion yang semalaman menangis sambil meringkuk di atas lantai hingga ketiduran, kini sudah bangun dengan mata yang sembab. Ia merasa badannya sangat sakit, terlebih tangannya.


Tadi malam saat ia meninju tembok kamar mandi di saat emosinya meluap-luap, ia tak merasakan sakit sama sekali. Terlebih karena tadi malam ia tidur dengan baju yang basah, kini badannya terasa demam.


Dion beranjak bangun, ia duduk di tepi ranjangnya. Dion mengambil ponsel di atas meja, dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.


Diperiksanya notifikasi yang masuk, dan tak ada satu pesan atau panggilan masuk dari Melisa. Yang ada hanya beberapa panggilan tak terjawab dari Gunawan dan Fredy.


Dion menghela nafas, ia kembali berbaring di atas ranjangnya yang empuk.


Tok... tok... tok


Suara pintu kamarnya di ketuk, Dion kembali bangun untuk membukakan pintu. Dengan langkah kaki yang berat, ia berjalan ke arah pintu.


"Tuan muda, sudah jam tujuh anda harus segera bersiap-siap."


Ternyata itu adalah pelayannya di rumah.


"Aku tidak enak badan, biarkan aku izin kerja hari ini," ucap Dion dengan suara lemah.


"Tuan muda sakit? Perlu saya panggilkan dokter?"


"Tidak, aku hanya butuh istirahat," Dion menolak untuk memeriksakan dirinya pada dokter keluarga.


"Tapi, wajah anda pucat sekali tuan muda. Biar dokter memeriksa anda dan memberikan anda obat agar anda segera sembuh dan bisa kembali bekerja."


Dion terdiam, ia tak mau kalau sampai orang tuanya tau ia sedang sakit saat ini. Bisa-bisa panjang urusannya nanti. Kedua orang tuanya yang saat ini ada di luar negeri pasti segera pulang untuk memeriksa keadaan putra semata wayang mereka.


"Aku tak apa, kau tak perlu memanggil dokter. Aku tetap akan bekerja hari ini, hanya izinkan aku datang terlambat karena aku ingin istirahat sebentar lagi," pinta Dion.


"Perlu saya ambilkan obat?"


"Tidak perlu, kau datanglah satu jam lagi!"


Dion lalu menutup pintu kamarnya dan kembali merebahkan diri di atas ranjangnya. Ia berusaha memejamkan mata agar bisa tertidur kembali, namun pikirannya tentang ia yang menampar Melisa tadi malam terus berkelebat dalam ingatannya.


Dion terduduk, ia menatap ponsel yang sudah ada di atas meja di samping kasurnya. Dion meraih ponsel itu dan segera menghubungi Melisa.


"Halo?" Ternyata Melisa segera mengangkat panggilan darinya.


"Mel..." Ucapan Dion terhenti karena ia tak tau harus mengatakan apa.


"Ada apa?"


"Kamu baik-baik saja Mel? Maafkan aku semalam..."


"Aku baik-baik saja, aku juga minta maaf karena semalam sudah berkata seenaknya padamu tanpa memikirkan perasaanmu," Melisa terdengar sudah jauh lebih baik dan tak lagi emosi seperti tadi malam.

__ADS_1


"Apa masih sakit Mel?"


"Tidak, suaramu kenapa? Kau sakit?"


"Aku baik-baik saja," padahal terdengar jelas bahwa suara Dion tidak baik-baik saja.


"Baiklah kalau begitu, aku harus siap-siap untuk berangkat kerja," Melisa ingin mengakhiri panggilan tersebut.


"Mel..."


"Ya?"


"Semalam kamu pulang sama siapa?"


"Satria."


Deg...


Hati Dion kembali seperti dihujam oleh pisau, rasa sakit yang semalam belum sembuh kini harus bertambah semakin dalam. Bodohnya ia meninggalkan Melisa tadi malam.


Tentu saja kejadian semalam pasti akan semakin memberi peluang pada Satria untuk semakin mendekati Melisa. Berbagai pikiran negatif datang seketika memenuhi isi kepalanya.


"Dion, kau baik-baik saja?" Suara Melisa membuyarkan lamunan Dion.


"Aku tidak baik-baik saja, baiklah Melisa aku bersyukur kau sudah selamat sampai rumah. Aku pikir sekarang kamu masih ada di pinggir jalan, maafkan aku tadi malam aku meninggalkanmu sendirian di sana, seharusnya aku tak melakukan itu."


"Baiklah, aku juga ingin bersiap untuk berangkat kerja," Dion segera memutus panggilan sebelum mendengar jawaban dari Melisa.


Tanpa pikir panjang, Dion bergegas menuju kamar mandi dan bersiap untuk berangkat ke kantornya. Ia berpikir akan gila jika terus berada di kamar seharian. Mungkin pikiran negatif tentang apa yang dilakukan Satria dan Melisa tadi malam akan terus datang menghantui pikirannya.


Tak peduli dengan suhu tubuhnya yang tinggi, Dion tetap mandi pagi itu dan bersiap untuk pergi ke kantornya.


Di tempat lain, di kediaman Natasya.


Natasya tengah sibuk membantu Satria menyiapkan sarapan pagi. Wanita yang sudah tak lagi muda itu merasa bersemangat sekali saat pagi tadi ia bangun, dan mengetahui bahwa Melisa kembali ke rumahnya dan menginap.


"Apa yang bisa aku bantu Satria?"


"Ibu duduk saja di sana," Satria menunjuk kursi di ruang makan.


"Tapi aku ingin membantu," Natasya bersikukuh.


"Kalau begitu ibu siapkan saja piring, sendok, dan gelasnya."


"Baiklah," Natasya bergegas mengikuti instruksi dari Satria. Ia menyiapkan empat piring, beserta alat makan lainnya di atas meja makan.


"Kamu masak apa?" Suara Melisa terdengar saat mereka sedang sibuk menyiapkan sarapan.

__ADS_1


"Nasi goreng aja ya, yang praktis," jawab Satria sambil tersenyum menatap Melisa.


"Nasi goreng buatan Satria tuh enak banget loh Mel," puji Natasya.


"Oh ya?" Melisa menghampiri Satria, ia ingin melihat lebih dekat Satria yang memasak untuk sarapan semua orang di rumah ini.


"Kamu duduk saja," Satria melihat Melisa yang sudah rapih namun masih dengan pakaian yang ia pakai tadi malam.


"Kamu mau kemana?" Tanya Satria.


"Kerja," jawab Melisa.


"Kamu tetap berangkat kerja?"


"Tentu saja, aku tak mungkin membiarkan Fredy mengurus perusahaan sendiri. Ia mungkin akan dipecat oleh ayahku," Melisa jadi sedih mengingat bagaimana Fredy berjasa selama ini.


Ia tak mungkin tega membiarkan ayahnya memecat orang yang paling bisa dipercaya di perusahaan.


"Baiklah, biar aku antar nanti," ucap Satria.


Melisa mengangguk sambil tersenyum.


Setelah sarapan, Satria mengantar Melisa sampai ke kantornya.


"Hari ini apa kegiatan kamu?" Tanya Melisa


"Aku mau mengantar ibu ke sekolah, katanya mulai hari ini Mia sudah mulai bekerja di sekolah," jawab Satria.


"Ah benar, aku sudah lama tak bertemu dengannya. Aku harus menemuinya dalam waktu dekat ini," ucap Melisa.


"Baiklah, selamat bekerja. Kalau ada apa-apa hubungi aku ya," pesan Satria.


Melisa mengangguk. Satria lalu pergi meninggalkan Melisa di depan lobi kantornya. Melisa melambaikan tangannya.


Saat Melisa berbalik, Fredy sudah menunggunya di dalam lobi.


"Nona semalam tak pulang?"


"Maafkan aku," hanya itu kata yang bisa Melisa katakan saat ini.


"Tidak apa nona, sepertinya nyonya Silvana berhasil membuat tuan Gunawan meredakan emosinya," ucap Fredy dengan santai.


"Syukurlah kalau begitu, apa jadwal kita hari ini padat?"


"Tidak nona, hanya ada rapat dengan klien sore nanti. Selebihnya anda akan berada di kantor," Fredy menjabarkan pekerjaan yang harus Melisa lakukan hari ini.


Melisa hanya mengangguk paham, ia lalu berjalan menuju ruangannya di lantai paling atas.

__ADS_1


__ADS_2