Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Kemarahan Satria


__ADS_3

Kini Melisa tersudut di antara pintu kaca yang menuju balkon dan Dion yang sebentar lagi sampai. Satu detik kemudian, seseorang membuka pintu kamar Dion.


"Kalian sedang apa?"


"Satria?" Melisa merasa lega melihat kedatangan Satria.


Ia tak mau kehilangan kesempatan untuk lari dari Dion, saat Dion menoleh ke arah Satria. Melisa mendorong tubuh Dion hingga jatuh tersungkur ke lantai.


Melisa berlari menghampiri Satria yang masih berdiri di depan pintu, ia heran melihat Melisa yang mendorong tubuh Dion dan segera berlari ke arahnya.


"Ada apa?"


Melisa tak menjawab, ia malah bersembunyi di balik punggung Satria.


"Hahaha... Kau datang di waktu yang tidak tepat Satria," ucap Dion sambil berusaha berdiri dengan bantuan tiang tempat infusnya tergantung.


"Apa yang kau lakukan Dion?"


Satria memilih masuk ke kamar dan menutup pintu kamar, sementara itu Melisa tetap bersembunyi di balik punggung Satria.


"Satria, kau jangan curang! Melisa itu tunanganku, aku berhak atas tubuhnya," ucap Dion sambil berjalan dengan tertatih-tatih menuju ranjangnya.


Darah Dion di selang infusan sudah naik akibat terlalu banyak bergerak.


"Berhak? Kau hanya tunangan dan belum berhak atas apapun pada Melisa," Satria memperjelas maksud dari ucapan Dion.


"Hahaha... Jika aku yang tunangannya saja tak berhak, apalagi kamu yang bukan siapa-siapa!"


"Aku memang tidak berhak, tapi Melisa berhak atas tubuhnya sendiri. Ia bebas menentukan akan memberikan tubuhnya pada siapa?"


"Cih, munafik! Kau berlagak sok suci padahal buaya juga kan? Akuilah, kau tak hanya melakukannya dengan Melisa kan? Aku tau banyak gadis yang menggodamu di sana, kau pasti pernah tidur dengan salah satu dari mereka kan?"


Satria diam tak menjawab, ia tak mau meladeni ocehan Dion.


"Ah, benar!" Dion seperti teringat sesuatu. "Kau juga pasti pernah tidur dengan tante Natasya kan? Benar! Kau tak mungkin menolak tubuh seksi itu," Dion berbicara semakin tak tau arah.


Satria tetap diam, ia menunggu hingga Dion benar-benar selesai bicara.


"Kamu kenapa diam saja? Apa yang ku katakan tadi benar?"


"Aku sama sekali tak peduli dengan pikiranmu. Kamu bebas berpikir apapun tentang diriku!"

__ADS_1


"Hahaha... Jadi benar? Mel, tidak kah kau dengar itu? laki-laki pujaanmu adalah seorang gigolo yang menjadi simpanan ibumu sendiri?"


Deg...


Tentu saja ucapan Dion barusan membuat Melisa teringat kembali pada masa itu, saat ibunya terang-terangan mengibarkan bendera perang untuk bersaing merebut hati Satria.


Satria menoleh ke arah Melisa, dan meminta gadis itu tetap diam di tempatnya saat ini. Lalu Satria berjalan perlahan mendekati Dion.


"Bagaimana rasanya menjadi seorang simpanan tante-tante? Kau pasti sangat senang, karena tak hanya harta yang kau dapat, tapi juga kepuasan."


"Kamu jangan banyak bergerak, tuh liat. Darahnya naik ke selang infusan," Satria mengambil selang infus yang menempel pada tangan Dion.


"Tak usah pedulikan itu, jawab saja pertanyaanku. Kenapa kau mengalihkan pembicaraan? Kau tak ingin Melisa mendengarnya? Baiklah, kemari... Bisikkan saja padaku!"


Satria lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Dion.


"Kau berani menyentuh Melisa, aku tak segan-segan menghabisimu!" bisik Satria.


Dion menyeringai mendengar bisikkan Satria. Ia menoleh ke arah Satria.


"Memang kau bisa apa?"


Satria yang sejak tadi malam sudah merasa sangat marah pada Dion tak sanggup menahan emosinya lagi. Ia mengambil selang infus yang ukurannya cukup panjang itu lalu melilitkannya di leher Dion.


"Aaa... Aaa..." Dion gelagapan, mencoba meraih sesuatu namun Satria terus menyeretnya sambil mengencangkan lilitan di leher Dion ke arah kamar mandi.


Melisa yang terkejut melihat itu segera menutup mulutnya agar tidak berteriak. Ia takut Satria akan terkena masalah jika ia berteriak saat ini.


Di dalam kamar mandi, Dion masih gelagapan karena sulit bernafas. Saat ia merasa nyawanya hampir di ujung tanduk, Satria melepaskan jeratan di leher Dion.


"Bagaimana rasanya?"


"Uhuk... Uhuk.." Dion terbatuk-batuk saat Satria melepaskan lilitan di lehernya. Infusan yang semua menancap di tangannya, kini sudah terlepas. Darah yang berasal dari tangan Dion berceceran dimana-mana.


"Kau pikir aku tak bisa melakukan apapun?" Bisik Satria.


"Kau.. Uhuk.. Telah melakukan... Uhuk uhuk... kesalahan Satria!"


"Kenapa? Kau mau menuntutku? Tuntut saja! Aku tak takut, aku tinggal datang lagi padamu dan melakukan hal ini lagi," Satria mendekatkan wajahnya tepat di hadapan wajah Dion.


Aura yang nampak dari raut wajah Satria saat itu, seolah ingin menerkam habis tubuh Dion. Nafas Dion seolah tertahan saat melihat ekspresi itu.

__ADS_1


"Kau pikir aku tak tau tentangmu?" Satria menyeringai.


Dion menatap tajam, ia tak mau merasa terintimidasi oleh Satria. Ia berusaha kuat untuk terus melawan melalui tatapannya.


"Kau bertunangan dengan Melisa? Jangan mimpi! Orang tuamu bahkan tak tau kau sudah melamar Melisa, pertunangan apanya?"


Dion terkejut mendengar Satria sudah tau bahwa orang tuanya tak pernah tau ia melamar Melisa.


"Haruskah ku katakan pada Melisa bahwa sebenarnya kau sudah punya tunangan? Tunangan yang asli yang saat ini selalu bersama orang tuamu?" Bisik Satria di telinga Dion.


Dion terpaku, ia tak tau sampai sejauh apa Satria tau tentang dirinya.


"Putuskan hubunganmu dengan Melisa, atau aku akan memberi tahu kelakuanmu selama di sini pada kedua orang tuamu dan tunanganmu yang asli," ancam Satria.


"Hah, kau tau apa? Kau jangan sok tau Satria!"


"Aku tau, kau menggelapkan dana perusahaan orang tuamu. Lalu uangnya kau pakai untuk bersenang-senang dengan menyewa banyak kupu-kupu malam. Hampir setiap malam."


Dion terdiam, kali ini ia tak bisa berkata apa-apa.


"Jadi siapa yang munafik?"


Dion tak menyangka Satria tau sampai hal itu juga. Ia menatap Satria dengan ketakutan kali ini, ia baru menyadari bahwa Satria bukan orang biasa. Ia bahkan tak mengira Satria bisa mengancam balik dirinya seperti ini.


"Bagaimana? Kau masih mau menuntutku?"


Dion masih terdiam, ia tak tau harus berkata apa.


"Yang melakukan kesalahan besar bukan aku, tapi kamu! Kau sudah membuatku marah, hingga harus melakukan ini. Lain kali, berusahalah menghindariku! Jangan pernah mencari-cari masalah denganku, hingga aku harus melakukan hal ini padamu."


Setelah berkata begitu, Satria keluar dari kamar mandi. Ia menggandeng tangan Melisa dan keduanya keluar dari ruangan VIP tersebut.


Di luar kamar, ternyata Fredy dan asisten Dion sudah menunggu. Mereka memang mendengar keributan di dalam kamar, namun mereka tak bisa masuk karena ternyata Melisa menguncinya dari dalam.


"Apa yang terjadi?" Tanya Fredy yang khawatir saat Melisa dan Satria keluar.


"Dion hampir memperkosa Melisa," jawab Satria.


Asisten Dion segera masuk ke dalam untuk melihat kondisi Dion saat ini.


"Benarkan nona?"

__ADS_1


Melisa hanya mengangguk, ia tak mau mengatakan apapun saat ini.


__ADS_2