Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Tidak Tau Apapun


__ADS_3

Di dalam ruangan, asisten Dion yang melihat Dion terkapar di dalam kamar mandi segera memanggil perawat untuk meminta bantuan.


Perawat yang dipanggil pun berlarian menuju ruangan Dion.


"Anda menghajarnya?" Tanya asisten Dion pada Satria.


"Tentu saja, apa aku harus diam saja?"


"Kalau sampai terjadi sesuatu pada tuan Dion, saya akan menuntut anda!"


"Silahkan saja, saya tidak takut! Lalu setelah itu saya akan melaporkan majikan anda itu, bahwa dia telah melakukan pelecehan pada Melisa," ancam Satria.


Melisa hanya tertunduk, seolah Dion memang telah melakukan sesuatu yang membuatnya trauma.


Satria lalu menarik tangan Melisa dan mengajaknya keluar dari rumah sakit. Diikuti Fredy di belakangnya.


"Sudah ku bilang kan, kamu tidak usah menemui Dion!" Kenapa kau tak mau menurut?" Bentak Satria.


Melisa terdiam, ia masih menundukkan wajahnya.


Satria menghela nafas. Ia lalu memeluk Melisa.


Fredy yang melihat kejadian itu hanya diam saja. Ia malah pergi meninggalkan keduanya, menunggu di parkiran mobil.


"Maaf," ucap Melisa.


"Tidak, aku yang minta maaf. Kau pasti terguncang karena kejadian barusan. Apa kau terluka?" Satria memperhatikan tubuh Melisa dengan seksama.


Melisa menggelengkan kepala dengan lemah.


"Apa yang dia lakukan padamu?"


"Dia ingin aku tidur dengannya," jawab Melisa.


"Di tempat itu?"


Melisa mengangguk.


"Sudah gila dia, sudah jangan temui dia lagi! Oke?"


Melisa kembali mengangguk.


"Apa kamu masih ada pekerjaan lain? Sepertinya Fredy menunggu di parkiran."


"Mungkin," jawab Melisa singkat.


"Kalau begitu kamu harus kembali ke kantor. Ayo!"


Satria menggandeng tangan Melisa mengajaknya pergi ke parkiran. Satria mengantar Melisa hingga masuk ke dalam mobil.


"Tadi kamu bilang, kamu lagi ada di sekolah. Kok sekarang tiba-tiba ada di sini?"

__ADS_1


"Aku ceritakan pada ibu apa yang sudah Dion lakukan padamu tadi malam, dan saat tau kau ada di sini untuk menemui Dion, ibu memintaku untuk segera menyusulmu."


"Jadi sekarang kamu mau kembali ke sekolah?"


"Mmm..." Satria mengangguk.


"Baiklah, nanti jangan lupa jemput aku ya! Aku belum mau pulang ke rumah," pinta Melisa.


"Oke, kabari saja kalau sudah pulang."


Melisa tersenyum. Satria lalu menutup pintu mobil. Fredy lalu melajukan mobil perlahan meninggalkan area rumah sakit.


"Apa ayahku sudah gila menjodohkan aku dengan Dion yang sudah punya tunangan?" Tanya Melisa dengan wajah kesal.


"Tuan Dion sudah punya tunangan?" Tanya Fredy.


"Kau juga tidak tau?"


"Maaf nona, saya seharusnya mengecek lebih dulu."


"Sudahlah, toh aku dan dia sudah putus. Kembalikan cincin ini ke ayahku!" Melisa melepas cincin yang melingkar di jarinya.


"Nona belum mau pulang?"


"Aku tak akan pulang sampai ayah menyetujui hubunganku dengan Satria. Dan sampai saat itu aku akan tinggal dengan ibuku."


"Tapi di sana ada Satria juga," Fredy merasa khawatir Gunawan akan sangat marah mendengar kabar ini.


"Nona ingin saya dipecat?"


"Kau mengundurkan diri saja dulu sebelum dipecat, apa kau tak tau atau pura-pura tak tau perangai ayahku?"


"Maksud nona?"


"Ibuku mungkin sombong dan arogan, tapi dia tidak membunuh orang!"


Fredy memikirkan kata-kata Melisa. Mungkinkah Gunawan pernah membunuh seseorang? Hubungan Fredy dan Gunawan memang hanya sebatas hubungan bisnis, satu-satunya hal pribadi yang pernah Fredy bantu hanyalah mencari keberadaan Silvana.


"Jadi kau benar-benar tak tau ayahku pernah membunuh orang?"


"Nona, jaga bicara anda. Tidak mungkin tuan Gunawan seperti itu," Fredy tak percaya pada ucapan Melisa.


"Aku tak peduli kau percaya atau tidak, yang pasti ayahku lah penyebab kematian keluarga Satria."


Deg...


Ucapan Melisa membuat Fredy mengingat satu hal, saat itu Gunawan tengah sibuk mengembangkan bisnisnya di luar negeri. Dan ketika itu ia mendapat kabar dari orang suruhannya yang memata-matai Melisa.


Melisa kini dekat dengan seorang murid baru, bahkan orang itu sudah berhasil membuat Melisa berubah sikap menjadi gadis yang ceria.


Sontak hal itu membuat Gunawan geram, ketika tau murid yang dekat dengan Melisa adalah murid beasiswa. Gunawan memaki Natasya dan mengatakan bahwa Natasya tak becus menjadi seorang ibu. Dan ia meminta Natasya untuk menyingkirkan Satria.

__ADS_1


Namun saat Gunawan bertemu dengan Satria secara langsung, sikap Gunawan berubah drastis seratus delapan puluh derajat. Itu hal yang membuat Fredy bingung. Tapi saat itu Fredy berpikir, mungkin Gunawan sudah berubah pikiran setelah bertemu dengan Satria.


"Kalau kau tak percaya tanya saja pada ayahku!"


Fredy tak menjawab, ia masih mencoba mengingat-ingat sikap baik Gunawan pada Satria. Di matanya saat itu Gunawan terlihat tulus, namun jika diperhatikan dengan seksama, mungkin ada tujuan lain dibalik sikap ramahnya itu.


"Jangan diam saja, katakan sesuatu," Melisa sebenarnya penasaran apakah Fredy benar-benar tidak tau atau hanya pura-pura.


"Saya benar-benar tidak tau nona," jawab Fredy akhirnya.


"Lalu kenapa kau tidak cari tau? Sekalian kau cari tau apakah ayahku tau bahwa Dion sudah bertunangan?"


"Baik nona," Fredy mengangguk paham.


Mereka akhirnya tiba di kantor. Namun saat di lobi, Gunawan sudah menunggu mereka berdua dengan senyuman lebar.


"Melisa, dari mana saja kamu? Kenapa semalam tidak pulang? Ayah sangat khawatir," Gunawan berjalan memeluk Melisa.


Sama sekali tidak terlihat raut wajah marah seperti yang Melisa bayangkan sejak tadi malam.


"Kamu baik-baik saja?" Gunawan memeriksa tubuh Melisa dengan pandangan matanya.


"Aku tidak baik-baik saja, orang yang ayah jodohkan denganku hampir saja memperkosaku," jawab Melisa.


"Tidak mungkin, Dion bukan orang yang seperti itu," Gunawan tak percaya pada ucapan Melisa.


Melisa hanya mendesah kesal, ia lalu berjalan meninggalkan Gunawan. Setelah Melisa pergi, Gunawan beralih pada Fredy yang sejak tadi berdiri di belakangnya.


"Benarkah yang dia katakan?"


"Benar tuan," meski Fredy tak tau apa yang sebenarnya terjadi di dalam ruangan itu saat ia keluar. Namun Fredy mencoba menuruti permintaan Melisa, ia juga ingin tau apa Gunawan memang memiliki sifat kejam yang tidak ia ketahui?


"Saya permisi tuan, masih ada banyak kerjaan yang harus saya selesaikan," setelah membungkukkan badan, Fredy pergi meninggalkan Gunawan, menyusul Melisa kembali ke ruangannya.


"Benarkah?" Batin Gunawan, ia mengepalkan tangannya. Emosinya kembali memuncak mengetahui putri semata wayangnya hampir dilecehkan oleh orang yang ia percaya bisa menjaga Melisa.


"Kurang ajar, biar kuberi pelajaran dia!" Gunawan berlalu pergi meninggalkan kantornya. Ia pergi entah kemana, sepertinya di kepalanya sudah tersusun sebuah rencana untuk kembali mencelakai orang lain.


"Apa ayahku sudah pergi?" Tanya Melisa saat melihat Fredy masuk ke ruangannya.


"Sepertinya sudah nona," jawab Fredy. "Kenapa nona mengatakan itu pada tuan?"


"Mengatakan apa? Tentang Dion?"


"Iya nona."


"Kenapa? Apa seharusnya aku tak mengatakannya?"


"Kelihatannya tuan sangat marah, jika ucapan nona mengenai tuan Gunawan yang mencelakai keluarga Satria benar. Bisa saja saat ini tuan Dion dalam bahaya," ucap Fredy.


Melisa terdiam, ia tak berpikir sampai ke sana.

__ADS_1


__ADS_2