Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Ketahuan Sudah


__ADS_3

Steve dan Melisa sudah turun dari mobil, mereka berdiri di depan pintu masuk setelah menekan bel rumah menunggu penghuninya membukakan pintu.


Beberapa menit kemudian, Natasya muncul dari balik pintu. Ia menatap jengah pada Steve.


"Bukankah sudah ku bilang akan ku kirimkan barang-barangmu melalui kurir," ucap Natasya sinis.


"Tapi aku ingin mengambilnya sendiri," balas Steve santai.


Melisa yang berdiri di belakang Steve, terkejut dengan suara yang ia kenal. Tubuhnya saat ini terhalang oleh Steve, jadi baik Natasya ataupun Melisa tidak melihat satu sama lain.


"Tunggulah di sini, akan ku ambilkan," Natasya hendak masuk dan menutup pintu. Namun gerak tangan Steve lebih cepat, tangannya lebih dulu menghalangi pintu sehingga Natasya tak jadi menutupnya.


"Apa kau tak memperbolehkan aku masuk?" Steve tersenyum licik pada Natasya.


"Kenapa kau harus masuk? Aku ada tamu di dalam, jadi tunggulah di luar," lagi-lagi Natasya hendak menutup pintu namun kali ini badan Steve sudah masuk setengahnya.


"Kenapa memangnya jika ada tamu? Bukankah aku juga tamu? Atau ada sesuatu yang ingin kau sembunyikan?" Cibir Steve.


Natasya menghela nafas panjang, "masuklah!" Natasya membuka pintu masuk lebar-lebar. Saat Steve berjalan masuk, ia melihat Melisa masih terdiam di tempatnya semula.


"Melisa? Sedang apa kau di sini?" Natasya terkejut melihat Melisa yang datang bersama Steve.


"Kami habis makan malam tadi, sebelum mengantarnya pulang aku memintanya untuk mengantarku ke tempat ini," jawab Steve.


"Makan malam?" Natasya menatap tak suka pada Steve. "Sudah ku bilang kau tak punya hubungan apapun dengan anak itu kenapa kau dekati dia?"


"Tentu saja karena dia adalah anakmu, aku ingin lebih dekat dengannya," bisik Steve di telinga Natasya.


Natasya menatap tajam pada Steve, sementara Steve sudah masuk semakin dalam. Ia melihat Satria yang sedang fokus pada laptopnya, Steve menyeringai.


"Kau mau menunggu di luar?" Tanya Natasya pada putrinya. Melisa sebenarnya tak suka jika harus berlama-lama dengan ibunya itu, tapi ia juga penasaran. Ada apa di rumah itu? Dan kenapa Steve mengajaknya ke sana? Bukankah ini rumah yang sama dengan rumah yang dimasuki Satria saat itu?


Melisa masuk ke dalam rumah.


Setelah menutup pintu, Natasya tetap berdiri di tempatnya. Ia memperhatikan Melisa dari sana.


Melisa terus berjalan masuk menghampiri Steve, gadis itu menoleh ke arah pandangan Steve. Betapa terkejutnya Melisa, melihat Satria ada di sana. Laki-laki yang ia sukai berada di rumah yang sama dengan ibunya.


Namun sepertinya Satria tak menyadari keberadaan Steve maupun Melisa. Matanya fokus tertuju pada laptop, telinganya juga ditutup oleh headphone. Ia sesekali terlihat mengangguk, lalu menulis beberapa catatan di bukunya.


Melisa dan Steve terus memandangi Satria.

__ADS_1


Natasya yang melihat itu segera menghampiri keduanya.


"Jangan ganggu, dia sedang fokus belajar. Ikut aku!" Natasya mengajak keduanya untuk mengikutinya. Namun hanya Steve yang berjalan mengikuti Natasya, Melisa masih diam mematung memandang Satria.


Sampai di kamar belakang, Natasya mengajak Steve masuk.


"Barang-barangmu ada di sini. Kemana Melisa?" Tanya Natasya yang tidak melihat adanya Melisa di belakang Steve.


"Biarkan dia, Melisa tak akan mengganggu Satria," jawab Steve.


Setelah di dalam kamar, Natasya mengambil satu kotak besar yang ada di dalam lemari.


"Ini, punyamu," ucap Natasya menunjuk kotak besar yang ia maksud.


"Aku tak tau kau dekat dengan Satria," ucap Steve.


"Kau sengaja membawa Melisa ke sini?" Tanya Natasya.


"Tentu saja, kenapa? Kau tak suka?" Steve balik bertanya.


Natasya duduk di tepi ranjang yang ada di kamar itu. Ia terus menatap lekat mata Steve. Wanita itu seolah sedang mencari tau maksud kedatangan Steve bersama Melisa ke rumah ini.


Melihat Natasya yang hanya terdiam, Steve menyeringai. Ia berjalan ke arah pintu, lalu menutup pintu dan menguncinya.


Melisa berjalan mendekati Satria.


Satria mengira itu adalah Natasya yang berjalan mendekat. Ia masih tetap pada posisinya.


"Saya lelah sekali nyonya, izinkan saya istirahat sebentar setelah itu saya akan pulang," ucap Satria.


Melisa menghentikan langkah kakinya tepat di samping Satria.


"Kau benar-benar hutang penjelasan padaku Satria," ucap Melisa.


Mendengar suara Melisa, Satria terlonjak kaget. Ia kembali duduk dengan tegap. Kursinya sudah berputar menghadap Melisa.


"Mel, kok kamu bisa ada di sini?" Satria celingukan. Melihat sekeliling, namun tak menemukan siapapun di sana.


"Harusnya aku yang tanya itu, kenapa kamu bisa ada di sini?" Tanya Melisa dengan dingin.


"Apa aku harus menjelaskannya padamu?" Tanya Satria pelan.

__ADS_1


"Tentu saja," jawab Melisa geram.


"Kenapa? Kenapa aku harus menjelaskan semua ini padamu?" Satria terlihat sangat lelah sekali. Ia benar-benar tak tau harus bagaimana menjelaskan pada Melisa.


"Karena kau bilang padaku, kau tak punya hubungan apa-apa dengan ibuku," ucap Melisa.


"Aku memang punya hubungan apa-apa dengan ibumu," Satria masih terlihat lelah. Ia merasa sangat malas jika harus menjelaskan pada Melisa dari awal hubungannya dengan Natasya.


Melisa menghela nafas panjang. Ia menatap Satria dengan tajam.


"Apa yang kau lakukan barusan?" Melisa melihat laptop yang masih menyala. Di layarnya tertera panggilan video yang sudah tertutup.


"Belajar," jawab Satria santai.


"Belajar apa? Kenapa ada panggilan video?" Tanya Melisa tak mengerti.


"Ini pembelajaran jarak jauh Mel, orang yang membimbingku kini berada di luar negeri," jawab Satria.


"Kenapa harus di sini? Kenapa tidak di rumahmu? Lalu tempat apa ini?" Melisa melihat sekeliling.


"Ini tempatku belajar, tempat ini jauh lebih menunjang untuk kegiatan belajarku dibanding di rumah," Satria masih menjawab dengan santai.


Memang tak perlu ada yang di khawatirkan sebenarnya, Satria merasa tidak melakukan sesuatu yang salah. Ia hanya tidak mengatakan pada Melisa, dan lagi ia dengan Melisa tak memiliki hubungan apa-apa. Jadi tak ada kewajiban baginya untuk melaporkan apa yang ia lakukan kini.


"Jadi apa sebenarnya hubungan kamu dengan ibuku?" Melisa kembali menatap tajam pada Satria.


Satria juga menatap Melisa, namun dengan tatapan yang sedikit lembut. Saat keduanya saling menatap, terdengar suara teriakan dari arah kamar belakang.


Satria yang tak tau kedatangan Steve segera berlari menuju sumber suara. Saat berada di depan pintu kamar yang tertutup, Satria mengetuk pintu kamar.


"Nyonya... Anda baik-baik saja?" Tanya Satria dengan khawatir.


Namun bukan jawaban yang di dapatnya, ia malah mendengar suara benda-benda jatuh juga suara kaca yang pecah. Di susul teriakan Natasya.


"Lepaskaaaaannnn!!!!!"


Satria yang panik menggedor-gedor pintu kamar.


"Nyonya... Ada apa di dalam?" Satria berusaha membuka pintu kamar yang dikunci dari dalam. Terus menggedor-gedor, namun hanya suara teriakan dan tangis Natasya yang terdengar.


Tidak ada jalan lain, Satria memilih untuk mendobrak pintu. Berkali-kali ia mencoba akhirnya pintu itu bisa terbuka.

__ADS_1


Pemandangan di kamar itu sangat berantakan. Banyak barang-barang yang berhamburan di lantai. Bahkan ada pecahan kaca juga. Satria melihat Steve yang menjambak rambut Natasya.


Mata merah Steve menatap tajam pada Satria. Dan Natasya yang sudah berurai air mata menatap iba pada Satria, meminta agar Satria segera menolongnya. Bajunya sudah compang camping dan rambutnya berantakan.


__ADS_2