
Pagi-pagi sekali, Satria dan Melisa sudah pamit pada Steve. Mereka berniat untuk pergi ke negara tempat Gunawan berada saat ini.
Tekad Satria sudah sangat bulat ingin segera mempersunting Melisa menjadi istrinya.
"Semoga urusan kalian lancar ya," Steve mendoakan Melisa dan Satria agar mereka bisa segera bertemu dengan Gunawan.
Pukul dua belas siang, keduanya tiba di bandara. Mereka sudah membeli dua tiket pesawat.
Melisa sebelumnya sudah memberi kabar pada Gunawan bahwa ia akan datang untuk bertemu dengan ayahnya.
Melisa sengaja tak mengatakan bahwa ia datang bersama dengan Satria, karena setiap kali ia mengatakan bahwa Satria akan menemuinya, Gunawan pasti selalu memberikan berbagai alasan agar ia tidak bisa ditemui.
"Kamu bilang apa pada ayahmu?" Tanya Satria.
"Ku bilang, aku ingin berlibur di tempatnya selama beberapa hari," jawab Melisa.
"Kamu tak bilang kalau aku ingin menemuinya?"
"Kamu tau kan Satria? Ayah pasti tak akan mau dan selalu memberi alasan jika aku mengatakan kamu mau menemuinya."
"Kamu benar, aku tak mengerti kenapa ayahmu masih saja menghindariku?"
"Bukan kah sudah jelas? Itu karena ayahku merasa bersalah padamu."
Satria hanya mengangguk paham, meski sebenarnya dalam hatinya masih menyimpan rasa kesal, Satria berusaha untuk tetap memaafkan perbuatan Gunawan.
Itu semua ia lakukan agar ia bisa menjalani hidup dengan tenang tanpa menyimpan dendam pada siapapun. Lagi pula, ia dididik sejak kecil oleh kedua orang tuanya bukan untuk menjadi orang yang pendendam.
Ayah dan ibunya pasti lebih suka ia memaafkan kesalahan Gunawan saat itu.
Dua jam perjalanan, mereka akhirnya tiba di negara tempat tinggal Gunawan.
Gunawan memang tidak tinggal di negara yang jauh, agar ia masih bisa memantau Melisa meski tidak lagi tinggal bersama.
Setelah mereka tiba di bandara, ternyata mereka dijemput oleh Widia.
"Hai kak Melisa, apa kabarmu?"
Widia terlihat jauh lebih ceria saat ini. Meski Melisa sudah beberapa kali datang menjenguk ayahnya, namun baru kali ini ia bisa bertemu dengan Widia.
Itu karena Widia kuliah di kota yang berbeda dengan tempat tinggal Gunawan. Dan kali ini, kebetulan Widia sedang libur kuliah.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja, kabarmu sendiri bagaimana?"
"Aku juga baik kak, Loh... Kak Melisa datang bersama kak Satria?"
"Iya, ayah mana?"
"Ayah ada di rumah, aku juga baru sampai rumah pagi tadi. Dan ketika ayah mengatakan bahwa kakak akan datang, tentu aku merasa bersemangat dan mengajukan diri untuk menjemputmu," Widia memang terlihat sangat antusias.
"Kamu pasti merindukanku ya?"
"Jelas dong kak, sejak tinggal denganmu dulu aku sudah menganggap mu seperti kakakku sendiri," ucap Widia.
Melisa tersenyum mendengar ucapan Widia. Mereka bertiga lalu menaiki mobil yang dikendarai oleh Widia.
Melisa memilih untuk duduk di belakang bersama Satria, sedangkan Widia yang mengendarai mobil duduk seorang diri di kursi depan.
"Aku ini sudah seperti supir pribadi ya?" Celoteh Widia.
"Ya, siapa suruh kamu mau datang menjemput aku?"
Widia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah kakak tirinya yang bucin sekali karena terus saja menempel pada Satria.
"Kak Satria, mau melamar kak Melisa ya?" Tanya Widia.
"Kok kamu tau?" Satria balik bertanya.
"Ayah sudah sering mengatakan bahwa kak Satria ingin melamar kak Melisa, namun sampai saat ini kak Satria belum juga datang menemui ayah," jawab Widia.
"Ayah berkata seperti itu?" Tanya Melisa tak percaya.
"Iya kak, memang kak Satria takut bertemu ayah? Ayah Gunawan orang yang baik kok," ucap Widia.
Satria hanya tersenyum mendengar ucapan Widia, sedangkan Melisa mendesah kesal. Bisa-bisanya ayahnya mengatakan hal seperti itu pada Widia.
Padahal Melisa sudah sering mengatakan pada ayahnya bahwa Satria ingin datang menemuinya, namun Gunawan selalu menolak dengan berbagai alasan.
"Kak, apa kakak tidak lapar? Bagaimana kalau kita makan dulu sebelum pulang ke rumah?" Usul Widia.
"Memangnya rumah kalian masih jauh?" Tanya Satria.
"Tidak sih, hanya tinggal beberapa menit lagi saja. Tapi tadi ibuku tidak masak, jadi lebih baik kita isi perut dulu baru kita pulang ke rumah."
__ADS_1
"Boleh deh, aku juga sudah lapar," jawab Melisa.
"Loh, bukannya tadi di pesawat kamu makan banyak?"
"Hehe... Aku masih lapar," ucap Melisa.
Sebenarnya ia hanya merasa sedikit grogi karena akan mempertemukan Satria dengan Gunawan. Melisa hanya ingin mengulur waktu untuk menenangkan hatinya.
Satria yang nampaknya tau bahwa kini Melisa sedang gelisah, segera menggenggam tangan kekasihnya itu.
"Kamu gak usah khawatir, semua pasti berjalan dengan lancar," ucap Satria menenangkan Melisa.
"Bagaimana aku tidak khawatir, kamu dengar sendiri kan tadi apa yang ayahku katakan pada Widia? Dia bilang kalau kamu belum juga datang menemuinya, itu semua kan karena dia selalu menolak jika tau kamu mau datang," gerutu Melisa.
"Tidak apa Mel, lagi pula itu memang benar. Aku memang belum juga datang menemui ayahmu, terlepas dari berbagai alasan dia menolak kedatanganku, seharusnya aku lebih gigih lagi dan menunjukkan pada ayahmu bahwa aku sangat serius ingin melamar kamu."
"Kamu bijak sekali sih Satria," Melisa jadi merasa tersanjung akan sikap Satria yang selalu dewasa dan bijaksana sejak mereka pertama kali bertemu.
Hal inilah yang membuat Melisa betah berlama-lama dengan Satria. Tak hanya memiliki wajah yang tampan dan otak yang cerdas. Satria juga pandai dalam bersikap dan menjaga perasaan orang-orang di sekitarnya.
"Kita makan di sini saja y?" Widia menepikan mobilnya masuk ke dalam wilayah restoran cepat saji.
"Kita makan di dalam aja ya!" Ajak Widia.
Melisa dan Satria hanya menuruti saja kemauan Widia. Mereka bertiga turun dari dalam mobil, lalu masuk ke dalam restoran.
Widia dengan sigap memesankan menu makanan untuk mereka bertiga.
"Kalian mau makan apa saja kan?" Tanya Widia.
Keduanya mengangguk, karena memang sebenarnya mereka tidak merasa terlalu lapar saat ini. Melisa hanya ingin mengulur waktu agar hatinya terasa lebih tenang sebelum bertemu dengan ayahnya.
Sedangkan Satria, yang selalu nampak santai di depan Melisa dan Widia. Padahal di dalam hati Satria sudah gugup tak karuan.
Ini pengalaman pertamanya bertemu dengan orang tua kekasihnya secara resmi. Terlepas dari bagaimana pun Gunawan sebenarnya, Satria tetap merasa gugup karena akan melamar seorang gadis yang ia cintai.
"Ini pesanan kalian," Widia datang membawa tiga porsi makanan dan juga minuman untuk mereka bertiga.
Sambil menikmati makanan, mereka bertiga berbincang-bincang ringan sambil bersenda gurau.
Ketegangan yang tadi nampak di raut wajah Melisa, kini sudah tidak ada lagi. Melisa sudah lebih siap untuk mempertemukan kekasihnya dengan ayahnya.
__ADS_1