Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Pengalaman


__ADS_3

Saat pintu rumah Melisa diketuk, Satria bergegas untuk membukakan pintu.


"Kalian balik lagi?"


"Iya, mana Melisa? Udah bangun?" Tanya Amanda.


"Sudah kak, lagi sarapan," jawab Satria.


"Aku ketemu boleh ya?"


"Iya kak, masuk aja." Satria mempersilahkan Amanda untuk masuk ke dalam.


"Kita ngobrol di luar yuk!" Ajak Bobi pada Satria.


Satria mengangguk, ia mengikuti Bobi duduk di teras rumah.


Satria mulai grogi karena melihat ekspresi Bobi yang mulai serius.


"Ada apa kak?"


"Jawab jujur ya Sat, kamu semalem ngapain sama Melisa?"


"Mmm... Kita," Satria bingung bagaimana harus mengatakannya.


"Gue gak percaya elu ngelakuin itu sama Melisa. Padahal gue percaya sama elu Sat," nampak wajah kecewa pada raut wajah Bobi.


Satria menundukkan kepalanya.


"Maaf kak," hanya itu yang bisa Satria katakan.


Bobi mendesah, mencoba memahami mengapa seorang Satria bisa melakukan hal itu pada Melisa.


"Kamu dalam pengaruh alkohol?"


"Iya, aku minum setengah kaleng doang sih. Tapi kayanya aku jadi gak bisa mengontrol diri," Satria masih menunduk.


"Elu gak pernah minum begituan kan?"


Satria menggeleng.


"Kok bisa-bisanya elu minum begituan pas lagi sama Melisa?"


"Melisa yang kasih kak, maaf!"


"Haishhh... Mel, Mel..." Bobi menggelengkan kepalanya tak percaya. "Terus kamu pakai pengaman gak semalam?"


Satria terdiam.


"Gak pake?" Bobi melotot ke arah Satria.


Satria menggeleng.


Bobi menepuk keningnya sendiri.


"Kalau Melisa hamil gimana Sat?"


Satria terdiam, ia memikirkan perkataan Bobi.


"Ya udah, aku akan tanggung jawab," jawab Satria akhirnya.


"Yakin lu berani menghadap ayahnya Melisa?"


Satria mengangguk yakin.


"Ya udah, semoga aja Melisa gak hamil. Gue yakin kalian juga belum siap kalau harus jadi orang tua."


Satria terdiam, dalam hatinya ada rasa sesal yang begitu besar. Seharusnya ia bisa menjaga Melisa, meski Melisa menggodanya.


Padahal selama ini Satria sangat percaya diri, bahwa dirinya tak akan mudah tergoda oleh rayuan wanita. Tapi nyatanya setengah kaleng alkohol mampu meruntuhkan benteng pertahanannya.

__ADS_1


Satria mengusap wajahnya dengan kasar.


"Udah Sat, gak usah disesali. Udah terjadi juga," Bobi menepuk pundak Satria.


"Kak, aku boleh tanya sesuatu gak?"


"Apa?"


"Itu, Melisa... sakitnya bakal berapa lama ya?"


"Sakit apa?"


"Sakit itu, kalau jalan sakit katanya," Satria memelankan suaranya.


"Elu mainnya gimana sih bisa sampe kaya gitu?"


Satria berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi semalam.


"Pake pemanasan gak?"


"Pemanasan? Peregangan otot gitu?"


"Haishhh... Bukan lah, ya bikin dia terang sang lah."


Satria tak mengerti maksud Bobi.


"Sini ya, gue kasih tau caranya sebelum elu ngelakuian itu."


Bobi menceritakan pengalamannya pada Satria, ia sendiri juga sebenarnya baru-baru ini saja melakukan hal itu bersama Amanda. Semenjak mereka resmi bertunangan.


Itupun Amanda yang mengajarinya harus bagaimana saat melakukan hal itu.


Sedangkan di dalam rumah, Amanda juga menceritakan hal yang sama seperti Bobi. Melisa mendengarkan dengan seksama pengalaman yang diceritakan oleh Amanda.


"Oh jadi gitu ya kak?"


"Iya, supaya kamu gak sakit kaya gini."


"Nanti juga mendingan. Terus ini kita jadi pulang hari ini gak?"


"Besok aja ya kak! Aku masih sakit nih kalau jalan, tadi aja bulak balik digendong Satria," Melisa memohon pada Amanda.


"Ya ampun, romantis banget sih Satria. Kamu beruntung Mel, Satria itu sosok yang bertanggung jawab. Kan ada aja cowok yang masa bodo ngeliat ceweknya begini padahal itu juga karena ulah dia," gerutu Amanda.


"Iya ya kak," Melisa merasa tersanjung dengan sikap Satria padanya.


"Kamu yakin, mau terusin pertunangan kamu sama Dion?"


"Ya kalau bisa sih aku maunya udahan. Tapi apa ayah aku ngijinin?"


"Eh Mel, gini aja. Aku punya ide," Amanda membisikkan sesuatu di telinga Melisa.


"Bener juga ya kak," Melisa seolah mendapat pencerahan.


"Semoga aja dengan cara ini, pertunangan kamu dan Dion bisa batal," ucap Amanda.


Melisa mengangguk paham. Ia juga berharap bisa lepas dari pertunangan ini tanpa harus memohon pada ayahnya.


...***...


Sore hari, Satria sudah kembali ke asramanya. Ia terus saja memikirkan nasihat dari Bobi.


"Jangan dipikirin Satria, nanti kamu malah kepengen!" Satria menggeleng-gelengkan kepalanya.


Cerita pengalaman Bobi yang ia dengar, membuat Satria terus saja memikirkan peristiwa yang terjadi semalam. Meski ada rasa sesal yang mengganjal di hatinya, tapi Satria tak memungkiri ia juga merasa senang.


Ini adalah pengalaman pertamanya bersama orang yang ia cintai. Terlebih Melisa juga belum pernah melakukannya. Jadi bagi mereka ini sama-sama pengalaman pertama mereka.


Saat tengah asik melamun, ponsel Satria tiba-tiba berdering.

__ADS_1


"Melisa?"


Satria menerima panggilan masuk itu.


"Iya Mel?"


"Sat, kamu lagi apa?"


"Aku... Lagi gak ngapa-ngapain, kenapa Mel?"


"Sat, sehari lagi ya!"


"Apanya?"


"Jadi kekasihku sehari lagi aja. Besok aku kan mau pulang," pinta Melisa.


"Mmm... Boleh, tapi ada syaratnya."


"Syarat? Apa itu?"


"Jangan kita ulangi lagi apa yang terjadi semalam," ucap Satria.


"Iya iya," jawab Melisa.


"Ya udah, terus kita mau kemana?"


"Temenin aku makan yuk! Kamu mau?"


"Boleh, kemana?"


"Gak tau aku juga. Kak Bobi sama kak Amanda yang ngajakin aku. Aku gak mau jadi obat nyamuk diantara mereka berdua. Jadi makanya aku ajak kamu," cerita Melisa.


"Oh, oke deh. Jam berapa Mel?"


"Jam tujuh malam Sat, kamu siap-siap ya!"


"Oke!"


Mereka lalu mematikan sambungan teleponnya.


Satria bergegas untuk mandi, karena waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Itu artinya satu jam lagi mereka akan datang untuk menjemputnya.


Tepat pukul tujuh malam, mobil Bobi sudah bertengger di depan asrama. Satria yang melihat kedatangan mereka segera menghampiri.


"Ayo Sat, langsung naik aja!" Pinta Bobi.


"Sini, duduk di belakang sama aku!" Melisa membukakan pintu belakang mobil.


Bobi lalu melajukan mobilnya menuju sebuah rumah makan yang cukup sederhana, tapi selalu ramai akan pengunjung.


"Sejak pertama kali gue datang ke sini. Gue selalu penasaran sama rumah makan itu," ucap Bobi.


"Kenapa?" Reflek Amanda, Melisa, dan Satria bertanya.


"Kompak banget! Hahahaha..." Bobi bukannya menjawab malah tertawa.


"Malah ketawa," Amanda kesal melihat tingkah Bobi.


"Apa sih sayang, kok kamu kesel begitu?" Bobi mencolek dagu Amanda.


"Yah kamu lagian gak jelas, ditanya apa malah ketawa?"


"Kamu kok marah-marah terus sih sayang dari tadi siang? Lagi dapet atau lagi pengen?"


"Apa sih? Udah deh cepetan parkir aku udah lapar nih!"


"Oh, udah lapar. Pantas aja marah-marah," cibir Bobi.


Amanda hanya bisa menghela nafas saat digoda oleh Bobi.

__ADS_1


"Tuh kan Satria, coba kalau aku gak ajak kamu. Bisa kebayangkan bete nya kaya apa aku di sini?" Bisik Melisa.


Satria hanya tersenyum sambil menatap wajah Melisa.


__ADS_2