Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Liburan Semester Ganjil


__ADS_3

Ujian akhir semester ganjil sudah berakhir, rapot para murid juga sudah dibagikan. Kali ini Satria berhasil mengalahkan Mia mendapat juara umum pertama berkat kerja kerasnya belajar siang dan malam.


Hari ini keluarga Satria sudah bersiap untuk kembali ke kampungnya, karena akan ada hajatan nikahan sepupu Satria. Rencananya keluarga Satria akan ada di kampung halaman selama satu minggu.


Meski sangat ingin hadir di acara itu, namun Satria tak bisa. Karena Natasya sudah membelikannya tiket pesawat. Besok Satria akan ikut Natasya untuk studi tour ke negara tempatnya akan bersekolah nanti.


Tak hanya Satria, Mia dan salah seorang teman lagi yang beruntung mendapat tiket pesawat itu juga akan ikut berangkat. Rencananya mereka akan berkeliling di negara maju itu, melihat universitas tempat mereka akan mendaftarkan diri nanti. Mereka juga akan melihat berbagai tempat bersejarah dan tempat menarik di sana.


Natasya meminta sekertarisnya Reni untuk membuat dokumentasi studi tour mereka, dan menguploadnya di media sosial nanti.


Satria mengantar kepergian ayah, ibu dan adiknya itu di depan halaman rumah. Keluarga pak Joni akan pergi dengan mengendarai mobil dinas milik perusahaan.


"Titip salam buat keluarga di sana ya bu. Maaf aku tidak bisa datang karena bu Natasya sudah membelikan aku tiket pesawat," ucap Satria dengan sedih.


"Tidak apa, kamu bisa bertemu mereka lain kali. Kamu hati-hati selama di negara orang nanti ya, jaga diri. Nurut sama bu Natasya," bu Lastri memeluk putra sulungnya itu.


"Titip salam ibu juga sama bu Natasya, bilang terima kasih karena sudah menjaga dan merawat kamu selama ini," bu Lastri menitikkan air matanya. Membuat Satria bingung kenapa ibunya bisa sesedih ini.


Satria mengusap air mata yang mengalir di pipi ibunya, lalu memeluk dengan erat orang yang telah melahirkannya ke dunia ini. Entah mengapa saat itu bu Lastri terlihat sangat berat meninggalkan putra sulungnya itu.


"Iya bu, tenang saja. Ibu tau aku anak yang penurut kan? Dan aku juga anak yang mandiri, aku pasti bisa jaga diri di sana nanti," Satria mengusap punggung ibunya. Berusaha menenangkan hati bu Lastri.


Bu Lastri mencium kedua pipi Satria, lalu beralih ke keningnya. Saat mencium kening Satria, bu Lastri menahannya sangat lama. Bu Lastri kembali menitikkan air matanya, ia lalu menatap wajah putra sulungnya sangat lekat.


"Titip salam juga buat Melisa, akhir-akhir ini ibu sebenarnya ingin sekali bertemu dengan Melisa. Tapi kamu bilang dia sangat sibuk, bahkan sekarang juga dia sudah berada di luar negeri bersama ayahnya. Padahal ibu sangat ingin bertemu," bu Lastri nampak sangat merindukan putri angkatnya itu.

__ADS_1


Memang sejak hubungan Satria dan Melisa merenggang, Melisa sudah tak lagi datang ke rumah Satria. Padahal bu Lastri sering menanyakan Melisa, tetapi selalu dijawab oleh Satria bahwa Melisa sangat sibuk seperti dirinya.


"Ayo bu, kita berangkat sekarang," ajak pak Joni pada istrinya yang terlihat sangat berat meninggalkan Satria seorang diri.


"Ibu pergi ya nak, jaga diri baik-baik," pesan terakhir bu Lastri pada Satria.


Bu Lastri kemudian naik ke dalam mobil, Satria melihat wajah bahagia adiknya yang akhirnya bisa pergi jalan-jalan meski hanya pulang kampung. Namun Rian terlihat sangat bahagia. Satria juga melihat wajah ayahnya, yang meski terlihat lelah namun penuh dengan semangat karena akan bertemu dengan sanak saudara yang jarang sekali mereka temui sejak datang ke kota A.


Perlahan mobil yang dikendarai pak Joni meninggalkan halaman rumah. Satria melambaikan tangan saat mereka sudah keluar dari halaman rumah. Ada perasaan sedih dalam hati Satria, seolah akan ditinggal lama oleh mereka.


Tanpa Satria sadari air matanya mulai menganak di sudut mata Satria, dan berhasil lolos begitu saja. Satria mengusap air mata itu, ia tak menyangka akan menangis karena ditinggal ibu dan ayahnya serta adiknya pulang kampung.


Setelah mengantar kepergian keluarganya, Satria kembali masuk ke dalam rumah. Ia merapihkan beberapa pakaian untuk dimasukkan ke dalam koper. Hari ini juga rencananya ia akan dijemput Reni untuk mengurus dokumen keberangkatan ke luar negeri.


Satria merasa sangat berdebar, pasalnya ini adalah pertama kalinya ia naik pesawat. Tak hanya Satria, Mia dan juga Astrid, salah satu murid beruntung lainnya juga merasa sangat bersemangat.


Setelah semua dokumen lengkap, Reni mengajak ketiga murid SMA Puspa Tunggal itu untuk makan siang di sebuah restoran. Natasya sudah menunggu di sana.


"Bagaimana persiapannya sudah beres?" Tanya Natasya saat mereka semua sudah duduk dihadapan Natasya.


"Sudah nyonya, semua sudah siap. Kita tinggal berangkat besok," jawab Reni.


"Baguslah, Kalian persiapkan diri kalian ya. Kita akan berlibur besok. Jangan pikirkan pelajaran atau apapun, nikmati saja waktu liburan kalian. Segarkan pikiran kalian sebelum menghadapi ujian kelulusan dan ujian masuk universitas nanti," ucap Natasya pada ketiga muridnya.


"Iya nyonya, terima kasih," jawab ketiganya kompak.

__ADS_1


Natasya tersenyum senang melihat Satria yang bersemangat karena akan diajak tour ke negara tempatnya bersekolah nanti.


"Tentu saja kalian layak mendapatkan ini, kalian sudah belajar dengan sangat keras demi membangun citra sekolah Puspa Tunggal," ucap Natasya dengan bangga.


Semuanya membungkukkan badan, seraya berterima kasih pada Natasya atas kebaikannya memberikan kesempatan pergi berlibur ke luar negeri.


Sementara itu, di tempat lain. Melisa dan Gunawan juga sedang menikmati waktu liburan mereka. Kali ini Gunawan mengajak putrinya ke sebuah pulau di luar negeri. Tempat yang sangat nyaman dan tentram untuk menikmati waktu liburan mereka.


"Kamu nanti mau kuliah dimana Mel?" Tanya Gunawan.


"Entahlah, dimana pun tak masalah," jawab Melisa. Ia memang terlihat tak peduli dengan masa depannya, membuat Gunawan merasa khawatir.


"Kau mau mengambil jurusan manajemen?" Tanya Gunawan hati-hati.


"Terserah ayah, aku ikut saja. Aku sendiri juga tak tau harus mengambil jurusan apa?"


Gunawan menghela nafas, "kau ini. Baiklah kalau kau tak punya keinginan, ayah akan daftarkan kamu di universitas negara kita saja ya. Tak usah jauh-jauh keluar negeri, di negara kita juga banyak universitas yang bagus."


"Ya, terserah ayah saja," jawab Melisa cuek.


Melisa terlihat sangat menikmati liburan kali ini. Ia yang biasanya hanya berdiam diri di kamar hotel saat berlibur bersama ayahnya, kini memilih untuk mencoba berbagai aktifitas luar.


Menyelam, berselancar, menaiki perahu boat, berkeliling dari satu pulau ke pulau lain, berenang. Dan banyak aktifitas lainnya yang sebelumnya tak pernah ia coba.


Melisa sengaja membuat dirinya sibuk saat liburan, ia tak ingin memikirkan Satria yang ia tau Satria akan pergi ke luar negeri bersama ibunya. Meski Satria tak hanya pergi berdua dengan Natasya, namun Melisa merasa gelisah jika mengingat Satria akan pergi bersama ibunya.

__ADS_1


Sesaat, Melisa teringat pada bu Lastri, ibunda Satria. Melisa sudah menggenggam ponselnya dan ingin menghubungi bu Lastri, namun ia urungkan niat itu. Melisa takut, Satria masih berada di rumah. Dan Melisa tak mau Satria tau bahwa ia menghubungi ibunya.


__ADS_2