Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Bukan Benci


__ADS_3

Sepulang sekolah, Melisa berniat untuk membuntuti Satria. Supaya tidak ketahuan, ia sengaja menukar mobilnya dengan mobil Dion.


“Biar aku antar saja,” ucap Dion setelah mendengar Melisa yang ingin meminjam mobilnya.


“Bukankah sore ini kau ada pelajaran tambahan?” Tanya Melisa.


“Tak apa, aku hanya akan bolos hari ini,” jawab Dion.


Mau tak mau, Melisa akhirnya menyetujui tawaran Dion untuk mengantarnya membuntuti Satria. Mereka bergegas menuju parkiran karena Satria juga sudah siap di motornya. Melisa dan Dion mengikuti Satria dari jarak yang aman, kebetulan Dion hari itu memakai mobil milik kakaknya sehingga Satria tidak tau bahwa Melisa dan Dion sedang mengikutinya.


Jalan yang mereka lalui adalah jalan yang sama seperti saat mereka membuntuti Satria saat itu. Melisa menebak, Satria saat ini pasti tinggal di rumah ibunya. Dan benar saja, motor Satria terus melaju ke arah yang mereka tau. Jalan itu menuju rumah Natasya.


Motor Satria sudah memasuki pekarangan rumah Natasya. Satria memarkirkannya di halaman samping rumah. Setelah memarkirkan motornya, Satria masuk ke rumah melalui pintu samping. Mobil yang dikendarai Dion berhenti tepat di depan rumah Natasya. Dion sebenarnya belum tau siapa pemilik rumah itu. Yang Dion tau, itu adalah rumah Satria.


“Dia pulang ke rumahnya,” ucap Dion yang tak tau apa-apa.


“Mmm...” Melisa menjawab singkat. Ia tak mau menjelaskan lebih rinci pada Dion.


“Kamu bilang dia pindah rumah?” Tanya Dion.


“Kamu tunggu di sini ya, aku mau menemui Satria,” pinta Melisa.


“Kamu yakin mau menemuinya sendiri?”


“Tentu saja, aku takut dia tak mau mengatakan yang sebenarnya jika ada kamu. Jadi kamu tunggu saja di sini,” jawab Melisa.


“Baiklah, kalau dia macam-macam kau bisa teriak. Aku akan segera datang ke sana,” pesan Dion pada Melisa.


Melisa tersenyum, “kau pikir Satria orang seperti apa?”


“Kita tidak pernah tau Mel,” Dion menatap Melisa dengan serius.


Melisa mendesah kasar. Ia mencoba menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan sebelum keluar dari dalam mobil. Setelah keluar dari mobil, Melisa segera memasuki halaman rumah menuju pintu masuk. Melisa menekan bel yang ada di samping pintu masuk.


Tak butuh waktu lama, Satria keluar membukakan pintu. Satria terkejut melihat Melisa yang kini ada di hadapannya.


“Mel?”

__ADS_1


“Jadi ternyata kamu masih berhubungan dengan ibuku?” Melisa tersenyum getir.


Satria hanya terdiam, ia tak menjawab pertanyaan Melisa.


“Apa kau tak mau menyuruhku masuk?” Tanya Melisa.


“Ah, masuklah..” Satria memberi jalan masuk untuk Melisa. Setelah menutup pintu, Satria mengikuti Melisa yang berjalan terus semakin dalam.


Melisa tak menemukan siapapun di rumah itu kecuali Satria. Semua bentuk dan isi rumah pun tak jauh beda dari terakhir kali ia masuk ke dalam rumah itu.


“Kau pindah ke tempat ini?”


“Mmm...”


“Tak ada sesuatu yang mau kau katakan padaku? Aku lebih suka tau langsung darimu dari pada dari orang lain,” Melisa melipat kedua tangannya di dada. Ia sudah berdiri menghadap Satria, seolah tengah menginterogasinya.


Satria hanya terdiam, ia memikirkan apa maksud perkataan Melisa.


Melisa menghela nafas, "kau tak mengerti maksudku?” Melisa melihat kebingungan di wajah Satria.


Satria hanya mengangguk.


“Maaf, aku hanya tak ingin terlihat akrab denganmu di sekolah,” Satria mengatakannya sambil menundukkan wajahnya. Seolah ia tak berani menatap Melisa, berbeda sekali dengan sikapnya saat di sekolah.


Melisa melihat keanehan itu, ia berjalan semakin dekat dengan Satria.


“Kamu kenapa? Apa yang salah dengan kita? Kenapa kamu takut terlihat akrab denganku? Apa ibuku melarangmu?” Melisa memberondong Satria dengan banyak pertanyaan.


Satria menggeleng. “Aku tak tau, mungkin di sekolah ada orang yang memata-matai kita.”


“Siapa? Kenapa?” Melisa semakin tak paham dengan ucapan Satria.


“Aku tak tau,” jawab Satria sambil menggelengkan kepalanya perlahan.


“Lalu kenapa kamu bisa beranggapan begitu?”


“Mel, maaf aku tak bisa menceritakan semuanya saat ini. Aku mohon beri aku waktu, setidaknya percayalah. Hanya di tempat ini aku merasa lebih aman,” Satria menggenggam tangan Melisa.

__ADS_1


“Di tempat ini? Merasa aman?” Melisa mengernyitkan dahinya. Ia semakin tak paham dengan ucapan Satria.


Satria mengangguk meyakinkan Melisa. “Kamu ke sini tidak sendirian kan? Jika ada yang bertanya, katakan saja aku tak menjawab apapun semua pertanyaanmu.”


“Kenapa?”


“Aku tak bisa mengatakannya sekarang, aku akan mencari cara untuk mengatakannya. Tapi tidak sekarang, bersabarlah!” Satria menatap Melisa dengan wajah yang memelas.


Melihat itu, Melisa hanya mengangguk setuju.


“Sekarang kamu pulanglah,” pinta Satria.


“Tapi kamu yakin di sini tempat yang aman? Ibuku tidak melakukan sesuatu yang aneh padamu kan?” Melisa tampak khawatir.


“Kamu tenang saja Mel, ibumu bahkan hampir tidak pernah datang ke rumah ini semenjak aku tinggal di rumah ini,” Satria memegang kedua bahu Melisa. Satria tak ingin Melisa mengkhawatirkannya.


“Syukurlah kalau begitu,” Melisa merasa lega mendengar ucapan Satria.


“Sekarang kamu pulang dulu ya,” Satria kembali meminta Melisa untuk segera meninggalkan tempat tinggalnya saat ini.


Melisa hanya mengangguk, dan berlalu menuju pintu masuk diikuti oleh Satria di belakangnya. Namun tepat saat Melisa hendak membuka pintu, Melisa membalikkan badan membuat Satria kaget dan hampir terjatuh. Beruntung Melisa segera menariknya, namun tarikan Melisa terlalu kuat sehingga tubuh Satria membentur tubuh Melisa hingga menyudutkannya pada pintu.


Dengan sigap kedua tangan Satria menekan pintu, menahan tubuhnya agar tidak menghimpit Melisa. Melisa kini berada dalam kukungan Satria, mereka berdua saling menatap. Jantung Melisa berdegup sangat cepat, begitu juga Satria. Ia terlihat berusaha mengatur nafasnya yang memburu.


“Satria...” ucap Melisa dengan suara yang pelan nyaris tak terdengar.


“Mmm...”


“Jadi kamu tak membenciku kan?”


“Tidak, bagaimana aku bisa membencimu?”


Melisa merasa lega, ia tersenyum manis sambil terus menatap Satria. Posisi keduanya masih sama, Satria seperti tak ingin melepaskan Melisa. Sebenarnya di posisi ini, mata Melisa terus tertuju pada bibir Satria. Melisa berusaha mengalihkan pandangannya ke kanan dan ke kiri.


Namun sia-sia, Satria belum beranjak dari posisinya membuat Melisa tak bisa melihat apapun kecuali tubuh Satria. Melisa terus menatap bibir Satria yang sepertinya sudah berhasil membuat Melisa tergoda. Dengan mengumpulkan keberanian, Melisa memejamkan mata dan sedikit berjinjit ia mencium bibir Satria.


Cukup lama Melisa mencium Satria, dan yang dicium pun sama sekali tak terlihat menolak. Melisa melepaskan ciuman itu, ia tertunduk malu tak berani menatap Satria.

__ADS_1


Satria tersenyum melihat tingkah Melisa yang malu-malu setelah menciumnya, meski sebenarnya ia kaget dengan tindakan mendadak Melisa namun Satria merasa senang. Satria meraih dagu Melisa dan menghadapkan wajah Melisa ke hadapan wajahnya.


“Kamu nakal ya sekarang?” Satria tersenyum menyeringai.


__ADS_2