
Gunawan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh, ia terus membunyikan klakson saat ada mobil yang menghalanginya.
Tiiinnn... Tiiinnn...
Saat ini ia bagai penguasa jalanan, Gunawan yang sangat emosi tentu ingin segera sampai di tempat dimana Dion berada saat ini.
Gunawan tau saat ini Dion sedang berada di rumah sakit, hal itu ia dapat dari satpam di perusahaannya saat mengetahui bahwa Melisa dan Fredy tak ada di kantor.
Tiba di rumah sakit, Gunawan sudah memarkirkan kendaraannya. Ia masih terdiam di dalam mobil, memejamkan matanya sambil berusaha meredakan emosinya.
Setelah beberapa saat, ajaibnya wajah Gunawan yang semula berapi-api seketika berubah. Ia mampu tersenyum ramah dan tidak nampak sedikitpun amarah di wajahnya.
Gunawan turun dari mobilnya, sebelum masuk ke dalam rumah sakit ia sempatkan membeli buah tangan untuk Dion.
Di lantai empat ruang VVIP, Dion yang masih syok mendapat perlakuan kasar dari Satria berusaha menenangkan dirinya. Ia masih menebak-nebak dari mana Satria tau bahwa dirinya sudah memiliki tunangan?
Padahal keluarganya tak pernah menyelenggarakan pesta pertunangan, dan hanya anggota keluarga inti saja yang tau.
Saat dirinya sedang sibuk melamun, pintu kamar Dion diketuk seseorang dari luar.
Tok... Tok... Tok...
Dion menoleh ke arah pintu masuk, dan tak lama pintu pun terbuka. Sosok Gunawan muncul dari balik pintu. Ia datang membawa sekeranjang buah-buahan di tangannya.
"Kau sakit apa?" Tanya Gunawan sesaat setelah ia masuk dan menutup pintu. Pria itu meletakkan keranjang buah yang ia bawa di meja yang berada di depan sofa yang jaraknya lumayan jauh dari ranjang pasien.
"Hanya kelelahan om. Om tau dari mana aku sakit? Apa Melisa yang memberi tahu?"
"Tentu saja, siapa lagi?"
Gunawan tersenyum ramah, seolah semuanya baik-baik saja.
Meski begitu, Dion merasa ada yang aneh dengan senyum Gunawan.
Ia jadi teringat ucapan Steve tadi malam, dan jika memang apa yang dikatakan Steve benar, berarti ia dalam bahaya saat ini.
Dion mengambil ponselnya, dan mengetik pesan pada asistennya untuk segera datang ke ruangannya.
"Maaf om, semalam aku tak mengantar Melisa sampai rumah," Dion masih berusaha mencari tau maksud kedatangan Gunawan ke sini. Yang pasti, bukan sekedar untuk menjenguknya.
Jika memang Gunawan tau dirinya dirawat dari Melisa, bisa saja Gunawan juga tau apa yang akan ia lakukan pada Melisa tadi. Tapi seingat Dion, tadi malam Melisa sedang bertengkar dengan ayahnya. Berarti bisa saja Gunawan belum tau apapun.
__ADS_1
"Tidak apa, kamu pasti tidak enak badan tadi malam. Makanya kamu tidak bisa mengantar Melisa pulang kan?" Gunawan terus tersenyum ramah pada Dion.
Namun entah mengapa, senyuman itu terlihat mengerikan di mata Dion. Suasana ruangan seketika berubah, ia tak merasakan suasana hangat yang biasa ia rasakan saat bersama Gunawan.
Hawa di sekitarnya menjadi lebih dingin dan mencekam. Padahal Gunawan tak sedikitpun menunjukkan kemarahannya pada Dion.
"Iya om," takut-takut Dion menjawab.
"Apa Melisa sudah datang menjenguk?"
"Tunggu! Jika om Gunawan tau aku dirawat dari Melisa, lalu kenapa ia tak tau Melisa sudah menjenguk atau belum?" Batin Dion.
"Sudah om," jawab Dion.
"Sudah? Kapan?" Gunawan berjalan semakin dekat ke arah Dion.
"Beberapa menit yang lalu, Melisa baru saja pergi," Dion menjawab sambil mengecek ponselnya. Asistennya itu belum juga membaca pesannya.
Dion diam-diam kembali mengetik pesan, yang entah tertuliskan apa di sana. Karena matanya terus menatap ke arah Gunawan.
"Melisa datang sendiri?"
"Bersama sekertarisnya om."
Takut-takut Dion menganggukkan kepalanya.
Gunawan juga ikut mengangguk-anggukan kepala. Entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.
"Kamu baik-baik saja? Kenapa wajahmu pucat sekali?" Gunawan duduk di tepi ranjang pasien.
"Aku baik-baik saja om," Dion berusaha untuk menutupi rasa takutnya. Aura yang saat ini terpancar dari tubuh Gunawan seolah ingin membunuhnya.
"Apa Melisa lama di sini?"
"Tidak om," jawab Dion cepat.
Gunawan menatap lekat mata Dion. Senyum di wajahnya hilang hanya dalam hitungan detik.
Dion berusaha menggeser duduknya tapi tidak mungkin, tanpa ia sadari ia sudah berada di tepi ranjang saat ini. Dion terus berusaha menghubungi asistennya, ia tak peduli lagi jika Gunawan tau ia menghubungi seseorang, yang pasti ia ingin asistennya segera kembali sekarang.
"Kamu menghubungi siapa?" Gunawan melihat ke arah ponsel yang Dion pegang.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak menghubungi siapapun!" Dion menyembunyikan ponselnya di bawah selimut.
"Kenapa kau ketakutan? Apa kau berbuat salah?"
Dengan cepat Dion menggelengkan kepalanya.
"Dion, kau tau kenapa aku menjodohkan kamu dengan putriku?"
Dion kembali menggelengkan kepala, namun ritmenya lebih lambat kali ini.
"Itu karena aku pikir kamu bisa menjauhkan Satria dari Melisa," bisik Gunawan.
Dion terdiam, ia berusaha untuk terlihat biasa saja. Padahal wajahnya jelas menunjukkan bahwa ia ketakutan setengah mati saat ini.
Dibanding ancaman dari Satria tadi, kali ini jauh lebih menakutkan.
"Jadi, aku harap kamu tau di mana posisimu. Kau tak berhak sedikitpun atas tubuh Melisa," kini sorot mata Gunawan sudah mulai terlihat marah.
"Tapi aku tak melakukan apapun om, Satria yang sudah memperkosa Melisa! Mereka bahkan..."
Belum selesai Dion bicara, Gunawan sudah menarik kerah baju Dion agar mendekat dengannya.
"Jangan bawa-bawa orang lain. Kau pikir aku tak tau kelakuanmu setiap malam?"
Deg...
Dion seketika membeku, ia tak tau bahwa dirinya yang suka bermain wanita di malam hari ternyata sudah diketahui oleh banyak orang.
Tak hanya Satria, bahkan Gunawan pun tau. Jika begini, bisa saja orang tuanya juga sudah tau.
"Jangan pernah dekati Melisa lagi, aku memilihmu bukan untuk menjadikanmu menantuku. Kau hanya tameng yang seharusnya bisa melindungi Melisa, tapi nyatanya setelah bertunangan denganmu Melisa masih saja bertemu dengan Satria."
Gunawan mendekatkan wajah Dion ke hadapan wajahnya. Tentu saja hal itu membuat Dion gemetar ketakutan. Tapi dia tak mau disalahkan sendiri, Dion yang tau bahwa Melisa dan Satria sudah pernah melakukan hubungan intim tentu saja tak bisa tinggal diam.
"Tapi om, apa yang aku katakan itu sungguhan. Melisa dan Satria sudah pernah tidur bersama," Dion mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan hal itu.
"Kau jangan bohong, kau pikir aku membiarkan putriku kuliah di luar negeri tanpa pengawasan? Jika memang mereka pernah melakukannya, berita itu pasti sudah sampai ke telingaku lebih dulu!"
Dion terdiam. Benar! Gunawan pasti sudah menaruh mata-mata di sekitar Melisa. Dan jika yang dikatakan Melisa itu benar, pasti Gunawan sudah tau lebih dulu.
"Apa mungkin Melisa berbohong padaku supaya aku memutuskan hubungan dengannya?" Batin Dion.
__ADS_1
"Mulai sekarang, jauhi Melisa. Hubungan kalian berdua, berakhir!"
Gunawan melepaskan cengkraman di baju Dion. Pria itu lalu pergi meninggalkan ruangan Dion dengan wajah datar, tanpa senyum, tanpa amarah.