Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Tawaran Menggiurkan


__ADS_3

Hari pertama sekolah kali ini diisi dengan perkenalan para guru yang akan mengajar di kelas XII. Dan para murid juga saling memperkenalkan diri. Hari ini tidak ada jam pelajaran, sehingga kelas XI dan XII bisa pulang lebih awal. Sedangkan kelas X masih harus mengikuti masa orientasi sekolah.


Saat bersiap untuk pulang, seorang guru meminta Satria dan Mia untuk ke ruang guru. Mereka akan mengambil buku-buku yang akan diberikan oleh mereka dari pihak sekolah.


"Aku tunggu di gerbang sekolah ya," ucap Melisa sebelum ditinggal oleh Satria yang akan pergi ke ruang guru.


Satria mengangguk, lalu pergi bersama Mia ke ruang guru.


"Kamu pacaran sama Melisa?" Tanya Mia saat mereka menuruni anak tangga.


"Engga," jawab Satria singkat.


"Cuma temen? Tapi kok deket banget?" Mia semakin penasaran.


"Dia ga punya temen lain, kamu mau coba temenan sama dia?" Satria.


"Makasih, aku masih mau lanjut kuliah dengan beasiswa," jawaban Mia seolah menyinggung Satria. Dia tak mungkin dapat beasiswa jika terus dekat dengan Melisa.


"Emang kalau dekat dengan Melisa kita ga akan bisa dapat beasiswa?" Satria.


"Kau waktu itu pernah dipanggil dan dipindah kelas karena dekat dengan dia kan?" Mia.


Satria tak menjawab, ia hanya menatap lekat pada Mia.


"Menjauhlah darinya jika kau masih ingin dapat beasiswa," Mia memberi saran.


Satria hanya diam.


Mereka sudah sampai di depan ruang guru. Menemui seorang guru yang biasa mengurus beasiswa. Di sana sudah ada beberapa murid penerima beasiswa lainnya sudah menunggu di depan meja guru tersebut.


Setelah menerima berbagai penjelasan tentang benefit apa saja yang akan mereka terima. Mereka akhirnya diberi beberapa buku pelajaran.


"Belajarlah dengan baik, jangan sampai nilai kalian turun. Ingat, jika nilai turun kalian akan kehilangan beasiswa kalian. Dan juga jangan macam-macam. Fokus saja belajar, mengerti?" ucap guru itu saat menyerahkan buku.


"Satria, setelah ini kau temui bu Desti di ruangannya," guru itu memberi tahu Satria sebelum Satria pergi.


Mia yang mendengar itu menoleh sebentar, lalu kembali melangkah keluar. Gadis itu menunggu Satria di depan pintu masuk ruang guru. Saat Satria keluar, Mia menarik tangan Satria.


"Sudah ku bilang kan? Kau harus menjauhi anak itu. Lihat, baru sehari kau sudah dipanggil oleh bu Desti," ucap Mia dengan serius.


Satria memilih tak menggubris ucapan Mia. Satria berlalu begitu saja meninggalkan Mia. Meski yang diucapkan Mia benar, tetapi Satria tidak takut. Di sekolah ini sudah tidak ada Bobi dan Amanda. Maka kini dialah yang bertugas menjaga Melisa.


Jika Satria memilih menjauh, lalu dengan siapa Melisa akan berteman? Kali ini ia memilih untuk tidak mundur. Ia tidak merasa melakukan hal yang salah. Apakah salah berteman dengan orang yang bukan levelnya? Jika keduanya merasa nyaman, bukankah itu tak mengapa?


Satria membulatkan tekad, ia menarik nafas panjang sebelum mengetuk pintu ruang BP.

__ADS_1


Tok tok tok.


"Masuklah," terdengar suara seseorang dari dalam.


Satria perlahan membuka pintunya, dan betapa kagetnya ia karena bukan bu Desti yang ada di ruangan itu melainkan bu Natasya yang sedang menunggunya. Wajah Satria seketika menegang. Ia hanya siap menghadapi bu Desti, bukan bosnya.


Tapi ia tak gentar, meski dengan hati yang tak karuan ia memasuki ruangan itu. Mencoba untuk terlihat biasa saja di depan Natasya.


"Hai, sudah lama tidak bertemu. Kau pasti baik-baik saja?" Sapa Natasya saat Satria sudah berdiri di depan mejanya.


Satria hanya mengangguk.


Natasya menghela nafas panjang. Wanita itu duduk bersandar di kursi besar milik bu Desti.


"Kau tahu? Aku bahkan bertengkar dengan anakku, dan kini aku sedang digugat cerai oleh suamiku," Natasya menatap tajam pada Satria. "Kau sepertinya sudah lupa dengan cita-citamu, kau tak takut kehilangan beasiswa?"


"Aku lebih takut kehilangan Melisa," jawab Satria yakin.


Natasya tertawa mendengar jawaban Satria.


"Kenapa?"


"Karena tidak mudah baginya untuk mendapat teman. Akulah satu-satunya teman yang ia punya kini. Jika aku pergi, lalu dia akan kembali sendiri. Aku tak tega melakukan itu," jawab Satria.


"Cabutlah, jika memang aku tak layak mendapatkannya. Namun jika anda mencabutnya hanya karena aku berteman dengan putri anda, maka aku kan menyebarkannya pada publik. Betapa egoisnya anda," Satria menantang Natasya.


Natasya tersenyum mengejek mendengar perkataan Satria.


"Tapi kali ini aku memanggilmu bukan untuk mengancammu," Natasya bangun dari duduknya, wanita itu berjalan mendekati Satria.


Satria mengamati setiap gerak gerik Natasya.


"Aku mau memberikan penawaran padamu," Natasya akhirnya berdiri tepat di depan Satria.


Satria hanya diam, ia menunggu kalimat selanjutnya dari Natasya.


"Apa kau tak sadar aku sudah membiarkan kau dekat dengan Melisa?" Tanya Natasya.


Satria mengernyitkan dahinya.


"Kau sekelas dengan Melisa. Bagaimana? Apa kau senang?" Natasya duduk di sofa yang tak jauh dari mereka. Wanita itu juga meminta Satria duduk dengan menggerakkan tangannya.


Satria sudah duduk di hadapan Natasya.


"Apa yang anda mau dari saya nyonya?" Satria akhirnya bertanya.

__ADS_1


Natasya tersenyum, "bisakah kau buat Melisa menerimaku lagi? Atau, bisakah kau buat Gunawan mencabut gugatan cerainya?"


Satria terlihat berpikir.


"Jika kau bisa melakukan salah satunya, maka akan ku ijinkan kau dekat dengan Melisa. Aku tak akan mencabut beasiswamu," ucap Natasya.


"Dan jika kau bisa melakukan keduanya. Aku akan memberikan apapun yang kau mau," Natasya melanjutkan tawarannya.


"Jika aku tidak bisa melakukan keduanya?" Satria.


Natasya menghela nafas, "entahlah, sebaiknya hukuman apa yang harus kuberikan padamu?"


Wanita itu terlihat memikirkan sesuatu. Sejak pertemuannya terakhir kali dengan Gunawan hatinya menjadi tak karuan. Ia terus saja memikirkan Gunawan. Seolah tak rela jika Gunawan menceraikannya. Natasya bahkan menjauhi Steve, pria yang selama ini selalu setia menemaninya saat suka maupun duka.


Natasya tak mengerti, mengapa saat Gunawan meminta perceraian hatinya terasa sakit? Padahal selama ini ia tak peduli dengan suaminya itu.


Natasya melirik Satria yang terus menatapnya.


"Tak bisakah kau buat mereka kembali padaku?" Natasya bicara dengan nada lemah, membuat tatapan Satria tak lagi tegang.


Satria tau wanita di hadapannya itu kini sedang gundah gulana. Wanita yang selama ini angkuh, seolah tak butuh kehadiran suami dan anaknya. Kini terlihat lemah tak berdaya.


Memang benar, kehadiran seseorang baru akan terasa setelah mereka tiada. Tapi bukankah selama ini mereka tak tinggal bersama, mengapa Natasya harus merasa kehilangan?


"Baiklah nyonya, saya akan berusaha membuat Melisa menerima anda kembali. Tapi saya melakukan ini bukan karena takut beasiswa saya akan anda cabut. Tapi karena saya tak ingin melihat Melisa harus bermusuhan dengan ibunya, orang yang sudah melahirkannya ke dunia ini," ucap Satria.


Natasya hanya mengangguk. Wanita itu memperhatikan Satria dari ujung kepala hingga ujung rambut.


"Apa kau pernah berbicara dengan Gunawan?" Natasya.


Satria mengangguk.


"Apa kau punya saran agar aku bisa mengambil kembali hatinya?" Natasya.


"Setau saya, tuan Gunawan sangat menyayangi Melisa. Bukankah lebih baik anda memperbaiki hubungan anda dengan Melisa lebih dulu?" Satria.


"Benar, lalu bagaimana aku harus bersaing dengan kekasihnya?" Natasya.


"Bukankah kekasih tuan Gunawan juga belum pernah bertemu dengan Melisa? Ada baiknya anda mengambil langkah lebih dulu agar kekasih tuan Gunawan tak mendahului anda," saran Satria.


Natasya terlihat berpikir. Ia melirik Satria yang sekarang sudah terlihat lebih santai.


"Baiklah, kau boleh pergi." Natasya memalingkan wajahnya.


Satria pamit, lalu pergi keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2