
Acara pesta sudah hampir masuk ke acara inti. Pembawa acara meminta para tamu yang hadir untuk turun ke lantai dansa, karena acara puncak yaitu berdansa dengan pasangan yang mereka bawa akan segera dimulai.
Satria mengajak Melisa turun ke lantai dansa.
"Aku gak bisa dansa Satria," bisik Melisa.
"Aku juga gak bisa," balas Satria sambil tersenyum nakal.
Meski begitu, Melisa tetap mengikuti permintaan Satria untuk turun ke lantai dansa.
Di lantai dansa, Satria meletakkan tangan Melisa ke pundaknya. Setelah itu, Satria meletakkan tangannya di pinggang Melisa. Keduanya berdiri sangat dekat, hingga tak ada jarak di antara mereka.
Sebuah alunan musik jazz sudah diputar, semua pasangan yang sudah berada di lantai dansa bergerak seirama dengan musik yang diputar.
Satria menatap lembut mata Melisa, dan juga sebaliknya. Mereka berdua saling menatap dan saling melempar senyum.
"Aku mencintaimu Melisa," ucap Satria dengan tatapan penuh cinta pada Melisa.
Melisa terharu mendengar ungkapan cinta Satria padanya, kata-kata itu memang sudah sejak lama ia tunggu-tunggu. Meski Melisa sendiri tak tau kedepannya hubungan mereka akan seperti apa?
"Aku juga mencintaimu Satria," Melisa membalas pernyataan cinta Satria.
Keduanya tersenyum setelah menyatakan perasaan masing-masing. Mereka masih terus berdansa mengikuti irama lagu.
Hingga waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Pembawa acara sudah undur diri, dan acara pesta pun selesai.
Beberapa diantara para peserta pesta ada yang melanjutkan pesta di tempat lain. Ada juga yang segera pulang karena hari sudah sangat larut, dan ada juga yang memilih tetap berada di taman menikmati langit malam bersama dengan pasangan mereka.
Satria memilih untuk mengajak Melisa pulang, karena hari sudah terlalu larut. Mereka berdua berjalan beriringan menuju asrama putri. Tadi Melisa menitipkan mobilnya di sana.
Sampai di asrama putri, Melisa segera berjalan menuju tempat dimana mobilnya terparkir.
"Biar aku antar ya Mel," Satria menawarkan diri untuk mengantar Melisa sampai ke tempat tinggalnya.
"Kamu gak papa nganter aku malam-malam begini?"
"Gak papa, justru aku khawatir kalau sampai kamu pulang sendirian malam-malam begini," jawab Satria.
Melisa tersenyum, "baiklah."
Satria meminta kunci mobil yang kini tengah di pegang Melisa.
"Emang kamu bisa nyetir?" Tanya Melisa.
"Aku sekarang udah bisa nyetir Mel," jawab Satria dengan bangganya.
"Oh ya? Baguslah," Satria lalu menggandeng tangan Melisa. Mengajaknya untuk masuk ke dalam mobil, di sisi tempat duduk penumpang di samping kemudi. Setelah Melisa masuk, Satria lalu menutup pintu dan kemudian ia berjalan menuju kursi kemudi.
"Kita berangkat ya, jangan lupa sabuk pengamannya!"
"Oke!"
Satria lalu melajukan mobil Melisa dengan perlahan. Mereka berlalu meninggalkan lingkungan kampus menuju rumah Melisa.
Sampai di rumah Melisa, Satria kembali turun terlebih dahulu untuk membukakan pintu mobil sebelum Melisa keluar. Tentu saja Melisa sangat senang mendapatkan perlakuan istimewa itu dari Satria.
"Kamu melakukan ini karena malam ini aku adalah kekasihmu?" Tanya Melisa.
"Tentu saja, aku seringkali mendambakan akan melakukan hal-hal yang romantis pada kekasihku nanti," jawab Satria membuat Melisa tersipu malu.
"Kalau begitu sangat disayangkan kalau kita lewatkan malam ini begitu saja, sementara besok kita harus segera putus," gerutu Melisa.
"Jadi kami mau aku mampir dulu ke rumahmu?"
__ADS_1
Melisa mengangguk.
"Baiklah, ayo kita nonton satu film dulu sebelum aku pulang," ajak Satria.
"Oke," Melisa segera menyetujui ajakan Satria.
Mereka berdua lalu masuk ke dalam rumah Melisa, rumah sederhana namun tetap terlihat mewah untuk ukuran Satria.
Melisa mengganti bajunya dengan setelan baju tidur agar lebih nyaman. Setelah berganti pakaian, Melisa juga mengambil dua kaleng minuman beralkohol dan juga beberapa camilan.
"Kita mau nonton film apa?" Tanya Melisa.
"Apa saja, terserah kamu."
"Kalau begitu aku akan pilihkan satu film bergenre romantis ya," Melisa sudah mengambil remot TV dan bersiap untuk mencari film yang dirasa pas untuk momen mereka saat ini.
Sebuah film sudah diputar, Satria dan Melisa duduk bersebelahan. Melisa memberikan sekaleng minuman beralkohol itu pada Satria.
"Kamu pernah minum ini?" Tanya Melisa.
Satria melihat minuman kaleng itu, lalu menggelengkan kepalanya.
"Aku sesekali meminumnya, saat aku merindukanmu. Karena malam ini kamu adalah kekasihku, kamu mau kan meminum minuman ini?"
Satria terdiam tak menjawab, tapi tetap mengambil minuman itu dari tangan Melisa lalu membukanya dan menenggak minuman itu sampai setengah kaleng.
Melisa tersenyum, ia pun ikut meminum minuman yang ada ditangannya.
"Kamu penurut ya sekarang?" Goda Melisa.
"Tentu saja, karena malam ini aku adalah kekasihmu," jawab Satria dengan senyum manisnya.
Melisa menyandarkan kepalanya di bahu Satria. Satria pun dengan sigap mengangkat tangannya, dan merangkul pundak Melisa. Hingga kini, kepala Melisa berada di dada Satria.
"Satria, apa kamu pernah berkencan selama kuliah di sini?"
"Tidak," jawab Satria.
"Tapi aku sering melihat kamu dikelilingi banyak gadis cantik," gerutu Melisa.
"Kamu cemburu?"
Melisa hanya mengangguk dengan bibir yang mengerucut.
Satria hanya tersenyum melihat tingkah Melisa.
"Kok kamu diem aja?"
"Cemburuan mana sama aku yang tiba-tiba denger kamu udah tunangan?"
"Ihhh... Kamu jangan bahas itu lagi ah," Melisa semakin merengut.
"Oke.. oke.. jadi kita bahas apa?" Satria tergelak melihat tingkah Melisa yang menggemaskan.
"Bahas tentang kita aja," jawab Melisa.
"Ya udah, kalau begitu kamu mau tanya apa tentang aku?"
"Mmm... ga ada tuh!"
"Yakin gak ada?"
Tiba-tiba ponsel Satria berdering. Melisa melihat nama yang tertera di layarnya.
__ADS_1
"Stefy?"
"Oh, dia temen sekelas ku," Satria menjawab pertanyaan Melisa.
"Mau apa dia jam segini nelpon kamu?"
"Dia memang sering menghubungiku di jam segini," jawab Satria dengan polosnya.
"Kenapa?"
"Mana ku tau, aku tak pernah mengangkatnya."
"Sekalipun?"
Satria mengangguk.
"Kenapa?"
"Jam segini biasanya aku udah tidur Mel," jawab Satria sambil mengacak-acak rambut Melisa.
"Kan sekarang kamu belum tidur, kenapa gak diangkat?"
"Kamu mau aku terima panggilan itu?"
"Mmm..." Melisa mengangguk.
"Angkatlah kalau begitu," pinta Satria.
Melisa mengambil ponsel Satria yang tergeletak di atas meja, lalu menjawab panggilan yang masuk ke ponsel itu.
"Halo? Satria? Akhirnya kamu terima juga panggilanku, Satria... Aku sangat mencintaimu, kamu mau kan menjadi kekasihku?" Suara Stefy terdengar seperti orang yang sedang mabuk.
"Sepertinya dia sedang mabuk," bisik Satria.
"Cih, malam-malam begini dapat pengakuan cinta," gerutu Melisa.
"Satria... kamu masih di sana? Satria..."
Melisa mematikan panggilan itu karena kesal.
"Itulah kenapa aku tak pernah mengangkatnya," ucap Satria.
"Pasti kamu sering dapat pernyataan cinta seperti ini!"
Satria berpikir sambil menganggukkan kepalanya.
"Cih, aku tau itu. Aku sering liat bagaimana penggemarmu tergila-gila padamu," ucap Melisa dengan ketus.
"Memang kamu sendiri tidak punya penggemar?" Satria semakin gemas dengan tingkah Melisa.
"Enggak punya tuh, mana ada?"
"Ada!"
"Mana?"
"Nih, ada di sini," Satria menunjuk dirinya sendiri.
"Apaan sih... gak percaya aku," Melisa memalingkan wajahnya.
"Ya terserah, yang jelas aku ini fans kamu nomor satu," ucap Satria dengan bangganya.
Melisa tersipu malu mendengar ucapan Satria barusan. Mereka kembali melanjutkan menonton film, tapi sebelumnya Melisa mematikan ponsel Satria agar tak ada yang menghubunginya lagi.
__ADS_1