
Melisa sudah pergi meninggalkan kedua orang tuanya, menghampiri Amanda yang berjalan menjauhi restoran. Mata Gunawan mengikuti langkah kaki putrinya, hingga gadis itu berhasil mensejajarkan langkahnya dengan Amanda.
Saat Gunawan sibuk memperhatikan putrinya, Natasya malah sibuk memperhatikan Gunawan.
Merasa dirinya diperhatikan, Gunawan menoleh ke arah Natasya.
"Kau lihat kan anak kita, bahkan dia sudah berani tak menyapa ibunya," cibir Natasya.
"Melisa menjadi seperti itu kan karena salahmu juga," ucap Gunawan.
"Apa? Kau menyalahkan aku?" Natasya terlihat tidak suka disalahkan oleh Gunawan.
"Lalu, kau tak merasa bersalah?" Gunawan balik bertanya.
Natasya mendelik tak suka. "Kau selalu saja membelanya."
"Tentu saja, dia kan anakku," ucap Gunawan.
Natasya menghela nafas panjang.
"Ada perlu apa kau kemari?" Gunawan.
"Tentu saja aku mau makan, mau apa lagi aku datang ke restoran?" Natasya.
"Apa tidak bisa ke restoran lain?" Gunawan.
"Kenapa? Kau tak suka melihatku di sini? Baiklah, aku akan makan di kamarku saja," Natasya melengos pergi meninggalkan Gunawan.
Gunawan menghela nafas. "Apa yang harus ku lakukan pada kalian berdua," Gunawan ikut bangkit dan menyusul ke arah Natasya pergi.
Di depan pintu lift yang tertutup, Natasya meringis kesal. Ia sebenarnya memang sengaja datang ke restoran untuk menemui Gunawan dan Melisa. Saat selesai mengantarnya tadi, Reni melihat ayah dan anak itu sedang makan di dalam restoran di Grand hotel.
Setelah memberi tahu dirinya, Natasya dengan senang hati segera turun ke restoran meski sebenarnya ia sudah makan. Natasya berniat untuk menyapa suami dan anaknya, meski ia tak mengharapkan bisa berbaikan dengan Melisa, tapi setidaknya ini kesempatan dia untuk mengambil kembali hati Gunawan.
Pintu lift terbuka, Natasya masuk ke dalam lift dengan hati yang dongkol. Ia bahkan berjalan sambil menghentakkan kakinya. Di dalam lift, Natasya menekan tombol angka 12, lalu menekan tombol agar lift segera tertutup.
Namun sebelum lift tertutup sempurna, sebuah tangan menghadang pintu lift agar kembali terbuka. Gunawan berdiri di hadapan Natasya. Pria itu lalu masuk ke dalam lift.
"Kenapa pergi? Padahal aku sengaja makan di restoran ini agar bisa bertemu denganmu," ucap Gunawan tanpa menoleh.
Natasya tertegun. Ia melirik Gunawan yang berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Bertemu denganku? Ada apa?" Natasya bingung.
"Hanya pengen ketemu saja, memang tidak mau bertemu denganmu?" Gunawan menoleh, mata mereka kini saling beradu.
"Kau merindukanku?" Natasya.
"Sepertinya begitu," Gunawan.
Keduanya terus saling menatap hingga tiba di lantai dua belas. Pintu lift sudah terbuka, Natasya menarik tangan Gunawan menuju kamarnya.
Pintu kamar tertutup setelah kedua orang itu masuk ke dalamnya.
Di gedung yang sama, di lantai yang berbeda. Dua orang gadis sedang bercengkrama di sebuah kamar hotel, melepas rindu, sudah beberapa minggu memang mereka tak bertemu. Hanya sesekali berkomunikasi melalui pesan singkat.
"Jadi kakak mau kuliah di luar negeri?" Tanya Melisa.
"Mmm..." Amanda mengangguk, "gue harus bisa move on dari Hendry." Amanda tersenyum getir.
"Emang nanti ga akan kangen sama kak Bobi?" Ledek Melisa.
"Haha, kangen? Ya gak lah, siapa dia?" Amanda tersipu malu mendengar nama Bobi.
"Hubungan kakak sama kak Bobi baik-baik aja kan?" Melisa penasaran.
"Makanya, gue mutusin buat kuliah di luar Mel," jawab Amanda.
"Kakak mau ngehindarin kak Bobi?" Melisa tak mengerti.
"Bukan begitu," Amanda menggelengkan kepalanya perlahan. "Gue cuma mau menata hati aja, semoga setelah kita berpisah dan ketemu lagi suatu saat nanti. Kita jadi lebih mengerti apa arti kebersamaan kita."
Melisa diam sana, ia gak begitu paham maksud Amanda. Lagi pula Melisa memang tak punya pengalaman tentang hubungan seperti itu. Ia hanya mengangguk saat Amanda menjelaskan maksudnya.
"Lu sendiri gimana hubungan sama Satria?" Amanda balik bertanya tentang hubungan Melisa dan Satria.
"Kita sekarang sekelas kak," jawab Melisa.
"Wah, bagus dong. Kok bisa sih?" Amanda penasaran.
"Ya, begitulah..." Melisa terlihat sedih.
"Kenapa? Ayo cerita ke gue," Amanda mengambil posisi menghadap Melisa. Ia siap mendengarkan cerita Melisa.
__ADS_1
Melisa menatap Amanda, "aku harus mulai dari mana ya kak?"
"Mmm... Dari mana ya? Kok tanya gue sih?" Amanda malah kebingungan.
Melisa tersenyum, ia tau Amanda memang peduli padanya. Kehadiran Amanda dalam hidupnya bagai angin segar. Melisa bahkan sudah menganggap Amanda seperti kakaknya sendiri.
Melisa akhirnya menceritakan semua peristiwa yang dialaminya. Mulai dari kepulangan mereka dari berlibur. Hingga ibunya yang menggunakan Satria agar bisa berbaikan dengannya.
Amanda mendengarkan semua cerita Melisa tanpa menyela. Ia berusaha menjadi pendengar yang baik bagi Melisa. Amanda bahkan ikut emosi saat mengetahui sikap ibunya. Tapi setelah Melisa menceritakan apa yang diceritakan Fredy, Amanda jadi semakin emosi.
"Bisa-bisanya ayahmu begitu?" Amanda sudah menunjukkan wajah kesal.
"Tapi kak, bagiku ayah sudah menebus kesalahannya. Kakak tau kan seberapa perhatiannya ayah padaku?" Melisa menenangkan Amanda.
"Iya sih," Amanda merebahkan tubuhnya di atas kasur. Melisa mengikuti.
"Kak, apa menurutmu aku salah meminta mereka bercerai?" Melisa menatap langit-langit kamar.
"Kau menyesali permintaanmu?" Amanda menoleh ke arah Melisa.
"Entahlah, tapi sepertinya ayahku tak ingin bercerai," Melisa menutup matanya. Gadis itu berpikir haruskah membiarkan mereka mempertahankan rumah tangga mereka?
"Kalau boleh gue kasih saran nih, mending lu ga usah ikut campur urusan rumah tangga mereka. Kalaupun memang pada akhirnya mereka bercerai, ya itu karena kemauan mereka sendiri. Tapi kalaupun engga, ya lu harus belajar menerima," Amanda mencoba menasihati.
"Tapi kak," Melisa terlihat ragu.
"Gue tau lu benci banget sama ibu lu. Tapi lu ga boleh egois. Lu juga harus mikirin perasaan ayah lu," Amanda kini sudah memiringkan badannya ke arah Melisa.
"Begitu ya?" Gumam Melisa.
Keduanya saling menatap, lalu Melisa kembali melihat ke langit-langit kamar. Keduanya terdiam. Hanyut dalam pikiran masing-masing.
Waktu terus berlalu. Kedua gadis yang baru saja saling mencurahkan isi hati mereka masing-masing kini sudah mulai terlelap.
Sedangkan di ruangan lainnya, sepasang suami istri yang kini sedang menunggu jadwal sidang perceraian mereka baru saja selesai bergelut di atas ranjang. Keduanya kini terbaring di bawah selimut.
Gunawan memeluk Natasya dari belakang, ia mencium pundak Natasya.
"Benarkah kau sudah putus dengan Steve?" Bisik Gunawan.
"Aku harus mengatakan berapa kali lagi agar kau percaya?" Natasya bicara sambil memejamkan matanya.
__ADS_1
Gunawan tersenyum. "Tidurlah, aku sangat lelah," Gunawan mempererat dekapannya. Membuat Natasya tersenyum senang.
Bagaikan gayung bersambut, keinginannya untuk tidak bercerai ternyata bukan hanya dirasakan olehnya. Gunawan juga merasakan hal yang sama. Meski begitu, Natasya ragu Gunawan akan mencabut gugatan cerainya, mengingat dirinya yang belum bisa berbaikan dengan Melisa.