Si Gadis Dingin

Si Gadis Dingin
Keanehan


__ADS_3

Akhir-akhir ini, Satria terlihat lebih pendiam dari biasanya. Melisa melihat ada yang aneh pada Satria, namun ia tak berani bertanya.


Keanehan pertama, saat Melisa melihat ponsel Satria yang berganti dengan model terbaru. Saat itu Satria tak langsung menjawab, Satria terlihat memikirkan jawaban yang tepat untuk diutarakan pada Melisa.


"Ponselku pecah, ini aku membelinya secara kredit," jawaban asal Satria tentu saja membuat Melisa tak percaya.


Melisa teringat saat Satria membeli ponsel darinya yang harganya sudah ia turunkan, Satria menyicilnya dalam jangka waktu yang lama. Satria bahkan tak memilih jenis ponsel yang dia inginkan. Seingat Melisa saat itu yang penting Satria memiliki ponsel yang bisa berfungsi.


Dan kini, Satria menggunakan ponsel dengan model terbaru. Ponsel dengan kualitas super dan spesifikasi yang luar biasa. Harganya juga pasti tak murah, lebih mahal dari ponsel yang pernah ia berikan pada Satria.


Satria juga tak memperbolehkan Melisa melihat-lihat ponselnya, hingga kini Satria sangat jarang mengeluarkan ponselnya. Padahal sebelumnya ponsel Satria selalu tergeletak di atas meja. Dan Melisa dengan leluasa bisa membuka dan menggunakan ponsel Satria tanpa rasa canggung sekalipun.


Namun kini, Satria benar-benar menyimpan ponselnya rapat-rapat. Ia bahkan mengunci ponselnya, seolah ada yang disembunyikan di dalam ponsel itu.


Selain itu, saat hari dimana Satria memiliki jadwal kelas tambahan. Satria selalu meminta Melisa untuk pulang lebih dulu. Satria bahkan tak segan meminta Dion untuk mengantar Melisa pulang.


Dan keanehan lainnya, saat Melisa bertemu dengan Mia. Melisa bertanya apa Mia selalu meminta Satria untuk mengantarnya pulang saat ada kelas tambahan. Karena kesaksian pak Dedi, sang penjaga sekolah. Satria kerap kali berboncengan dengan Mia saat pulang dari kelas tambahan.


Saat itu Dion mengira Satria diam-diam menjalin hubungan dengan Mia. Dion beranggapan, berhubungan dengan Mia jauh lebih mudah dibanding dengan Melisa.


Mia sama seperti Satria yang merupakan murid beasiswa. Selain itu keduanya sangat pintar, mereka pasti bisa nyambung satu sama lain. Dan lagi keluarga Mia pasti sudah merestui hubungan keduanya, Satria juga tak akan mendapat gangguan dari siapapun jika menjalin hubungan dengan Mia.


Namun teori Dion itu dibantah oleh Mia. Gadis itu berkata, "aku tak pernah memintanya mengantarku pulang. Satria yang selalu mengajakku. Dia bilang karena searah jadi biar sekalian, tapi setahuku rumahnya dan rumahku berbeda arah. Apa dia sudah pindah?"


Mendengar perkataan Mia, hati Melisa menjadi semakin gelisah.


"Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan dariku?" Batin Melisa.


Sore itu sepulang sekolah, Melisa menunggu Satria yang sedang mengikuti kelas tambahan. Melisa menunggu di luar lingkungan sekolah.


Melisa sengaja meminta Dion untuk membawa motor saat sekolah, agar sepulang sekolah nanti mereka bisa membuntuti Satria dengan mudah.


Bagi Dion, ini adalah kesempatan emas. Meski tak ia tunjukkan, Dion berharap ada sesuatu yang akan mereka temui dari hasil membuntuti Satria hari ini.


"Semoga saja setelah hari ini hubungan Melisa dan Satria semakin menjauh," doa Dion dalam hati.


Jam pulang kelas tambahan sudah berlalu. Namun Melisa dan Dion belum melihat satu anakpun yang keluar dari gedung sekolah.


"Mereka lama banget," keluh Dion.


"Emang kadang suka lama," jawab Melisa.

__ADS_1


Dion mengangguk.


Beberapa menit kemudian, murid-murid yang mengikuti kelas tambahan satu per satu sudah keluar dari dalam gedung. Melisa dan Dion memperhatikan satu-satu murid-murid yang keluar itu.


Baik Satria maupun Mia keduanya belum keluar kelas. Melisa sudah hafal, Satria biasanya keluar paling terakhir. Karena biasanya masih ada materi yang harus ia diskusikan dengan guru pengajar.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Satria dan Mia keluar secara bersamaan.


"Itu mereka," Dion siap-siap untuk mengendarai sepeda motornya.


"Buntuti mereka, jangan sampai tertinggal dan juga jangan sampai ketahuan!" Perintah Melisa.


Dion mengangguk siap.


Saat motor yang dikendarai Satria sudah keluar dari area sekolah, Dion mengikuti dari jarak yang tidak terlalu jauh. Namun cukup aman, agar tak diketahui oleh Satria.


Satria menghentikan motornya di tepi jalan, di tempat yang sama saat pertama kali Melisa dan Dion mengikuti Satria. Tak terlihat ada basa basi dari keduanya, setelah turun Mia hanya tampak mengucapkan terima kasih lalu ia segera pergi meninggalkan Satria.


Begitu juga dengan Satria, setelah ia menurunkan Mia, ia segera melajukan motornya. Tak ada interaksi layaknya orang yang memiliki hubungan spesial. Mereka malah tampak seperti tukang ojek dan penumpang.


Sedikit kecewa, Dion kembali melajukan motornya mengikuti arah kemana Satria pergi.


Sedangkan Melisa melihat Mia yang memasuki sebuah gang. Ia sedikit heran kenapa Satria tak mengantar Mia sampai depan rumahnya?


Satria masuk ke sebuah rumah yang tak terlalu besar, namun memiliki desain yang sangat elegan. Melisa tak tau rumah siapa itu?


Satria memarkirkan motornya di halaman rumah. Ia lalu masuk ke dalam rumah yang pintunya dikunci menggunakan kode seperti rumah Melisa.


Rumah ini tampak sepi, tak terlihat aktifitas apapun dari luar. Mungkinkah penghuninya sedang tidak ada di rumah? Atau memang rumah itu tak berpenghuni?


Namun, rumah ini tak seperti sudah ditinggalkan oleh penghuninya. Dari halamannya saja sudah terlihat bahwa penghuninya merawat rumah ini dengan baik.


"Rumah siapa ini Mel?" Tanya Dion.


"Entahlah," jawab Melisa.


"Ini bukan rumah Satria?" Yang Dion liat, Satria masuk ke rumah ini secara natural, seolah ini adalah rumahnya yang ia datangi setiap hari.


"Bukan, setau aku Satria tidak pindah rumah," ucapan Dion sebenarnya sedikit membuat Melisa berpikir apa mungkin Satria sudah pindah rumah? Tapi kenapa ia tak tau? Kenapa Satria tak memberi tahunya?


"Apa kita ketuk saja pintunya? Kalau ini benar rumah Satria tak masalah kan?" Usul Dion.

__ADS_1


Melisa menolak ide itu, ia khawatir jika seandainya memang rumah ini adalah rumah Satria, Melisa takut Satria akan marah karena ia membuntutinya. Terlebih bersama Dion.


"Kita tunggu aja, aku mau coba telepon Satria," Melisa mengeluarkan ponselnya, dan menghubungi Satria.


Tak butuh waktu lama, Satria sudah mengangkat sambungan teleponnya.


"Halo?"


"Satria, kamu sudah pulang?" Melisa.


"Mmm..." Satria.


"Kamu sekarang ada di rumah?" Melisa.


"Mmm..." Satria.


"Bolehkah aku ke rumahmu? Aku sangat merindukan ibumu," Melisa.


"Besok saja, ibuku hari ini sedang tidak ada di rumah," Satria.


"Tapi aku ingin bertemu denganmu," rengek Melisa.


"Ada apa?" Satria.


"Ada PR matematika yang tidak aku mengerti," Melisa mencari alasan.


"Kirimkan padaku bagian mana yang tidak kamu mengerti, nanti aku akan menjelaskannya padamu," Satria.


"Aku tak mau, aku maunya langsung ketemu kamu. Biar bisa paham," Melisa.


"Baiklah, kalau begitu aku yang akan datang ke rumah mu," Satria.


"Sekarang?" Melisa malah panik.


"Iya, kau mau aku datang besok?" Tanya Satria.


"Ah... Tidak, baiklah. Aku tunggu," Melisa segera mematikan ponselnya. Ia meminta Dion untuk cepat mengantarnya kembali ke rumah.


"Gawat, dia mau ke rumahku. Ayo cepat antar aku pulang?" Melisa menepuk-nepuk bahu Dion.


"Hah? Kok bisa? Waduh, gawat ini kalau kita masih di sini," Dion segera menyalakan mesin motornya. Dan langsung tancap gas menuju rumah Melisa.

__ADS_1


Di dalam rumah yang baru saja ditinggal oleh Melisa dan Dion, Satria mengintip dari balik jendela. Melihat Melisa dan Dion yang sudah pergi, Satria nampak bernapas lega.


__ADS_2